Home » Tesis Magister Hukum bisnis » PERLINDUNGAN HUKUM PARA PIHAK DALAM FORMAT BISNIS FRANCHISE (WARALABA) DI KOTA MAKASSAR

PERLINDUNGAN HUKUM PARA PIHAK DALAM FORMAT BISNIS FRANCHISE (WARALABA) DI KOTA MAKASSAR

Statistik

  • 1,573,804 Kunjungan


st1\:*{behavior:url(#ieooui) }

/* Style Definitions */ table.MsoNormalTable {mso-style-name:”Table Normal”; mso-tstyle-rowband-size:0; mso-tstyle-colband-size:0; mso-style-noshow:yes; mso-style-parent:””; mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; mso-para-margin:0cm; mso-para-margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:10.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-ansi-language:#0400; mso-fareast-language:#0400; mso-bidi-language:#0400;}

BAB I

PENDAHULUAN

 

A.  Latar Belakang Masalah

Globalisasi ekonomi dunia sebagai suatu fenomena pada dekade terakhir ini tidak bisa dihindari. Kehadiran Indonesia dalam peta ekonomi dunia, menuntut kemampuan untuk berkembang sebagai suatu kekuatan ekonomi  baru dari dunia ketiga. Perkembangan ekonomi yang begitu cepat menuntut kesiapan dan kemampuan pranata hukum dalam mengikuti perkembangan ekonomi sebagai akibat dari globalisasi ekonomi dunia tersebut.

Salah satu fenomena yang nyata dari pertumbuhan ekonomi akibat  globalisasi ekonomi dunia adalah meningkatnya kebutuhan perusahaan-perusahaan terhadap modal dan kebutuhan tersebut menuntut struktur permodalan yang lebih kompleks. Investasi dalam era globalisasi ekonomi dunia bukan hanya dalam bentuk direct investmen ataupun equity investment (investasi dalam bentuk penyertaan saham secara formal) tetapi investasi dalam bentuk penyertaan modal secara informal.

Telah diketahui bahwa bentuk-bentuk usaha persekutuan dan perseroan merupakan “Assosiasi Modal” yang dibentuk karena suatu aktivitas usaha yang akan dijalankan secara terus menerus, memerlukan modal yang besar yang mungkin tidak dapat dipikul oleh seseorang saja, sehingga  modal usaha tersebut perlu dikumpulkan dari beberapa orang.

Penyertaan modal usaha dalam bentuk primair merupakan bentuk penyertaan modal/saham yang dipenuhi setorannya dengan uang tunai. Kemudian bentuk penyertaan modal/saham tersebut memperlihatkan variasinya  bukan hanya dalam bentuk setoran tunai bahkan dapat pula dilakukan setoran dalam bentuk barang (inbreng). Pasal 27 ayat (1) dan (2) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1995 tentang Perseroan Terbatas menentukan bahwa :

1.  Penyetoran atas saham dapat dilakukan dalam bentuk uang dan atau dalam bentuk lainnya.

2.  Dalam hal penyetoran saham dilakukan dalam bentuk lain sebagaimana dimaksud dalam ayat 1, penilaian harga ditetapkan oleh ahli yang tidak terikat pada perseroan.

Perkembangan lebih lanjut dari penyertaan modal tersebut adalah dalam bentuk penyertaan modal secara informal seperti dalam bidang Licensing, Franchising maupun Technical Assistance.  Salah satu bentuk penyertaan modal secara informal tersebut yang akan penulis angkat sebagai bahan penulisan tesis dalam rangka memenuhi syarat penyelesaian studi pada program magister kenotariatan, yaitu masalah Franchising (Waralaba).

Pada bentuk penyertaan modal ini pihak yang akan melakukan investasi dalam suatu usaha/perusahaan tidak lagi melakukan penyertaan modal/saham dalam bentuk setoran tunai ataupun memasukkan sesuatu barang/benda yang berwujud, melainkan cukup menyerahkan penggunaan hak milik intelektual (Intelectual Property Right) kepada suatu perusahaan/badan usaha berdasarkan suatu perjanjian.  Bentuk penyertaan modal inilah yang saat ini dikenal dengan nama Waralaba (Franchise).

Waralaba  atau Franchising  adalah salah satu strategi pemasaran dari banyak kemungkinan cara memasarkan usaha. Waralaba adalah sebuah bentuk jaringan bisnis, jaringan yang terdiri dari banyak pengusaha yang bekerja dengan sebuah sistem yang sama.

Pada format bisnis ini, perusahaan yang menerima penyertaan modal secara informal tersebut diberi izin oleh pemilik hak milik intelektual untuk menggunakan dan memanfaatkan hak atas merek, logo perusahaan atau nama dagang atau paten termasuk proses produksi dan proses pengoperasian bisnis.  Pada bisnis dengan format Franchise ini yang diinvestasikan adalah hak untuk memakai proses produksi, proses pengoperasian bisnis, merek atau nama dagang atau paten yang sudah terkenal dan teruji kecangihannya.

Salah satu keuntunagan bisnis franchise ini adalah Penerima Waralaba (Franchisee) tidak perlu lagi bersusah payah mengembangkan usahanya dengan membangun citra yang baik dan ternama. Ia cukup menumpang pada pamor yang sudah terkenal dari pemilik waralaba (franchisor), sehingga dengan demikian penerima waralaba (franchisee) yang pada umumnya (relative) adalah pengusaha kecil akan dapat menikmati kesuksesan dan keberuntungan dari perusahaan yang berskala besar tanpa harus melaksanakan sendiri suatu riset dan pengembangan, pemasaran dan promosi yang biasanya memerlukan biaya-biaya yang sangat besar yang tidak mungkin dipikul oleh pengusaha kecil tersebut.

Oleh karena sistem yang disediakan tersebut, seorang pemilik modal/perusahaan tidak harus memulai usahanya dari nol, sehingga risiko kegagalan usaha dari pemilik modal/perusahaan  menjadi sangat kecil. Dengan keuntungan dan keunggulan yang ditawarkan oleh model bisnis dengan format Franchise tersebut sehingga banyak masyarakat pemilik modal yang memang pada mulanya sudah menyiapkan dananya untuk berusaha menjadi tertarik untuk menginvestasikan modalnya ke dalam format bisnis ini tanpa memperhatikan lagi sisi-sisi kelemahan dan risiko atas bisnis ini. Meskipun risiko kegagalan usaha dari pemilik modal sangat kecil namun bukan berarti bahwa format bisnis ini bebas dari risiko.

Bisnis waralaba ini didasarkan atas suatu perjanjian, yaitu perjanjian kerjasama antara Terwaralaba (Franchisee) dengan Pewaralaba (Franchisor), sehingga sering menimbulkan konflik karena hal-hal yang sudah diperjanjikan yang sudah disetujui bersama tidak dipenuhi oleh salah satu pihak, misalnya janji Franchisor untuk memberikan training, melakukan pendampingan manajemen dalam hal pembukuan ataukah Franchisee yang tidak memenuhi kewajaiban membayar royalty tepat waktu  dan tidak mematuhi sistem operasional perusahaan (SOP) yang dapat mengakibatkan rusaknya standardisasi yang telah ditetapkan oleh Franchisor, yang jika hal tersebut tidak dipenuhi, maka akan timbul masalah.

Waralaba pada prinsipnya adalah kerjasama investasi dalam menjalankan bisnis, sehingga keberhasilannya sangat tergantung pada kerjasama yang baik antara si penerima waralaba (franchisee) dan pemberi waralaba (franchisor) dengan saling memperhatikan hubungan antara keduanya yang menyangkut hak dan kewajiban. Untuk itu pemilihan franchisee sebagai mitra/partner menjadi titik penentu berhasil tidaknya  bisnis  ini karena franchisee yang akan menjalankan usaha franchisor,  sehingga franchisee haruslah orang yang tepat dan dapat dipercaya,  harus ikut terlibat bersama-sama dan maju bersama dalam satu visi dan misi usaha yang sama dengan kata lain yang mempunyai cara pandang (paradigma) yang sama dalam mengembangkan usaha,  sebab salah memilih franchisee bisa berbahaya karena franchisee yang tidak tepat bisa menjadi faktor penghambat dalam mengembangkan usaha, bisa merusak citra merek franchisor, mencuri sistem bisnis franchisor dan menerapkannya dalam usaha yang sejenis,  sehingga menjadi kompetitor bagi franchisor.

Di sisi lain hal-hal yang dapat merugikan dan tidak disadari oleh franchisee adalah jika franchisor membuka usaha baru dengan merek yang baru namun jenis usaha yang sama sehingga menjadi pesaing dan berkompetisi dengan usaha franchise yang telah diserahkan kepada penerima waralaba (franchisee). 

Memasuki dekade millenium baru ini, bisnis waralaba sangat marak. Perkembangan bisnis waralaba di Indonesia menunjukkan pertumbuhan yang pesat dan signifikan dan kontribusinya terhadap perekonomian   nasional tidak diragukan, namun harus diakui bahwa yang maju pesat adalah waralaba asing yaitu mencapai 300% pertahun, sedangkan lokal hanya sekitar 10% pertahun (Kompas Minggu tanggal 4 Mei 2006). Mengenai hal ini perlu dipertanyakan tentang sejauh mana kesiapan dan ketangguhan hukum negara ini dengan segenap pranatanya di dalam melindungi kepentingan pengusaha nasional untuk bersaing di forum internasional.

Dalam era pembangunan seperti  yang sedang digalakkan oleh bangsa Indonesia dewasa ini, maka perlindungan hukum bagi masyarakat pelaku usaha  ~ khususnya investor ~ perlu mendapat perhatian  agar pemerataan hasil-hasil pendapatan dapat dinikmati dengan aman, sah dan tidak perlu menimbulkan masalah hukum dikemudian hari. Ini berarti bahwa format bisnis waralaba (franchise) sesungguhnya memiliki satu aspek yang didambakan baik oleh pengusaha pemberi waralaba (franchisor) maupun mitra usahanya yaitu penerima waralaba (franchisee) yaitu masalah kepastian dan perlindungan hukum.

Berdasarkan masalah-masalah yang dikemukakan tersebut, menunjukkan bahwa format bisnis waralaba  ini menyimpan potensi konflik.

 

B.  Perumusan Masalah

Bertitik tolak dari uraian latar belakang masalah seperti tersebut diatas, maka permasalahan pokok yang dapat dikemukakan adalah sebagai berikut :

1. Bagaimanakah bentuk perlindungan hukum bagi pemberi waralaba  (franchisor) atas kekayaan intelektual yang dimilikinya.

2.  Sejauh mana peraturan perundang-undangan yang mengatur mengenai bisnis waralaba dalam memberikan perlindungan hukum bagi penerima waralaba (franchisee) sebagai investor yang menginvestasikan modalnya pada bisnis ini.

3.  Bagaimana sistem pertanggung jawaban dalam format bisnis franchcise ini.

 

C.  Tujuan Penelitian

Mengacu kepada pokok masalah seperti yang telah diuraikan di atas, maka tujuan penelitian  ini adalah :

1.  Untuk mengetahui bentuk perlindungan hukum yang diberikan kepada pemberi waralaba (franchisor) atas kekayaan intelektual yang dimilikinya.

2.  Untuk mengetahui sejauh mana ketentuan hukum yang mengatur mengenai bisnis waralaba memberikan perlindungan hukum bagi penerima waralaba (franchisee) sebagai investor

3.  Untuk mengetahui sistem pertanggung  jawaban dalam format bisnis Franchcise.

 

D.   Keaslian Penelitian

Penulis tidak mengetahui secara pasti apakah penelitian mengenai masalah perlindungan hukum bagi masyarakat/investor sebagai pelaku bisnis khususnya terhadap masyarakat pelaku bisnis yang terlibat dalam bisnis franchise ini sudah pernah ditulis, namunpun demikian jika ternyata sudah pernah ada yang  melaksanakan penelitian dengan objek yang sama, diharapkan hasil penelitian ini dapat melengkapinya, sehingga saling melengkapi satu dengan yang lainnya.

 

E.   Kegunaan Penelitian

Kegunaan Penelitian ini adalah :

1.  Secara praktis, hasil penelitian ini dapat digunakan oleh: (1) pelaku dunia usaha memperoleh gambaran yang jelas tentang bagaimana konsep bisnis franchise ini  dijalankan dalam praktek, dan perusahaan franchise yang bagaimana yang layak untuk mewaralabakan  merek dagangnya/usahanya. Apakah hanya dengan memahami dan menjalankan sistem yang diberikan  oleh pemberi waralaba sudah merupakan jaminan keberhasilan usaha yang dipilih oleh franchisee.  Selain itu untuk mendapatkan gambaran sejauh mana peraturan perundang-undangan yang mengatur tentang bisnis franchise ini di Indonesia memberikan perlindungan hukum kepada penerima waralaba; dan (2) bagi Pemerintah Repulik Indonesia sebagai masukan dalam penentuan kebijakan hukum di bidang ekonomi, khususnya peraturan perundang-undangan yang berhubungan dengan bisnis franchcise, dalam rangka penciptaan perangkat hukum dan perlindungan para pihak yang terlibat dalam format bisnis franchise.

2.  Dalam bidang akademik, hasil penelitian ini dapat berguna bagi pengembangan ilmu hukum dan ekonomi, khususnya  dalam bidang hukum bisnis yang dapat mendorong peningkatan kinerja perusahaan dalam rangka pengembangan usaha dengan konsep waralaba (franchise).

 

 


Leave a comment

  1. dhita says:

    Saya pesan judul :
    mengenai hukum politik untuk pembuatan tugas makalah

    PS:

  2. wirman says:

    sorry, tahun 2003 tentang perburuhan

  3. wirman says:

    salam kenal, bisa kirimkan ke saya tentang gambaran umum atau tulisan tentang pelabuhan dan buruh pelabuhan berkaitan dengan Undang-Undang Nomor 13 Tahun 1999 tentang perburuhan. kalau memang perkenalan ini kita awali dengan baik maka kita bisa kerjasama.
    t. kasih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: