Home » Skripsi Psikologi

Category Archives: Skripsi Psikologi

HUBUNGAN ANTARA PENGETAHUAN TENTANG ABORSI DENGAN SIKAP PROLIFE PADA REMAJA PUTRI



/* Style Definitions */ table.MsoNormalTable {mso-style-name:”Table Normal”; mso-tstyle-rowband-size:0; mso-tstyle-colband-size:0; mso-style-noshow:yes; mso-style-parent:””; mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; mso-para-margin:0cm; mso-para-margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:10.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-ansi-language:#0400; mso-fareast-language:#0400; mso-bidi-language:#0400;}

BAB I

PENDAHULUAN

                                          

A.   Latar Belakang Permasalahan

Zaman globalisasi membuat nilai –nilai moral yang ada dalam masyarakat menjadi semakin berkurang. Pergaulan menjadi semakin bebas sehingga melanggar batas-batas nilai moral dan agama. Hubungan seks yang seharusnya hanya boleh dilakukan dalam ikatan perkawinan sudah dianggap wajar dalam status berpacaran. Pergaulan remaja membuat kekhawatiran tersendiri bagi orang tua karena tak jarang mereka sering terjerumus dalam perbuatan menyesatkan seperti yang akhir-akhir ini banyak diberitakan di media massa.

Remaja yang sudah berkembang kematangan seksualnya, jika kurang mendapatkan pengarahan dari guru atau orang tua, akan dapat mudah terjebak dalam masalah. Masalah yang dimaksud dalam hal ini terutama dapat terjadi apabila remaja tidak dapat mengendalikan perilaku seksualnya. Akibatnya remaja cenderung untuk melakukan hubungan seks di luar nikah, hubungan seks bebas, melakukan aborsi bagi remaja putri dan melakukan tindak perkosaan.

Berbicara mengenai aborsi akan menimbulkan berbagai tanggapan dan penilaian yang berbeda-beda pada masing-masing individu karena adanya perbedaan pengetahuan dari diri mereka sehingga sikap yang ditimbulkannya pun berbeda. Sarwono (1989) menyatakan mempertahankan kegadisan merupakan hal yang paling utama sebelum pernikahan karena kegadisan pada wanita sering dilambangkan sebagai “mahkota” atau “tanda kesucian” atau “tanda kesetiaan” pada suami. Hilangnya kegadisan bisa menimbulkan depresi pada wanita yang bersangkutan. Terlebih lagi bila menimbulkan kehamilan.

Masa remaja secara global berlangsung antara usia 13 sampai dengan 21 tahun. Masa remaja ini dibagi menjadi dua, yaitu masa remaja awal usia 13-18 tahun dan masa remaja akhir usia 18-21 tahun (Hurlock, 1992). Pertumbuhan dan perkembangan fisik dan seksual berlangsung sekitar usia 12 tahun. Pada remaja awal khususnya bagi remaja putri rahimnya sudah bisa dibuahi karena ia sudah mendapatkan menstruasi (datang bulan) yang pertama (Zulkifli, 1986). Menurut Mappiere (1982) seorang remaja akhir mengalami kematangan seksual (dalam kondisi seks yang optimum) dan telah membentuk pola-pola kencan yang lebih serius dan mendalam dengan lawan jenis atau berpotensi aktif secara seksual, terutama remaja putri akan lebih sensitif dorongan seksualnya dan memiliki rasa ingin tahu sangat besar dari pada remaja putra.

Perilaku aborsi yang akhir-akhir ini banyak terkuak menyebabkan masalah ini menarik untuk diangkat mengingat bahwa tidak semua remaja putri memiliki pengetahuan tentang aborsi. Azwar (dalam Kompas, 2000) menyebutkan bahwa aborsi merupakan permasalahan yang kini sedang mendapat sorotan tajam dari berbagai pihak.

Aborsi berasal dari kata abortus yang artinya gugur kandungan/keguguran (Frater, 1991). Aborsi adalah suatu proses pengakhiran hidup dari janin sebelum diberi kesempatan untuk tumbuh. Menurut Frater dalam dunia kedokteran dikenal tiga macam aborsi, (1) Aborsi buatan, yaitu pengakhiran kehamilan sebelum usia kandungan 28 minggu sebagai akibat tindakan yang disengaja dan disadari oleh calon ibu maupun si pelaksana aborsi (dalam hal ini dokter, bidan atau dukun beranak). (2) Aborsi terapeutik atau medis adalah pengguguran kandungan buatan yang dilakukan atas dasar indikasi medis. Sebagai contoh seorang ibu yang sedang hamil tetapi mempunyai penyakit darah tinggi menahun yang dapat membahayakan calon ibu dan janin yang dikandungnya sehingga aborsi dapat dilakukan atas dasar pertimbangan medis yang matang dan tidak tergesa-gesa. (3) Aborsi spontan yang berlangsung tanpa tindakan apapun. Kebanyakan disebabkan karena kurang baiknya kualitas sel telur dan sel sperma (www.aborsi.net).

Dalam kenyataannya, usia pelaku aborsi secara spesifik sulit didapatkan karena aborsi yang dilakukan remaja pada umumnya adalah aborsi ilegal yang dilarang oleh pemerintah dan dilakukan dengan cara-cara yang tidak aman, misalnya dengan meminta bantuan dukun beranak, minum ramuan peluntur, dan lain-lain. Oleh karena itu aborsi yang dilakukan sering kali mengancam keselamatan wanita yang melakukan aborsi. Hal tersebut menyebabkan tingginya angka kematian wanita akibat aborsi. BKKBN memprediksikan dari 2,5 juta kasus aborsi per tahun, 1,5 juta diantaranya dilakukan oleh remaja. Hasil survey yang dilakukan Bali Post tahun 2000 di 12 kota di Indonesia menyebutkan bahwa terdapat penerimaan angka kasar sebesar 11% remaja di bawah usia 19 tahun pernah melakukan hubungan seksual dan berpotensi melakukan aborsi, sedangkan 59,6% remaja di atas 19 tahun juga pernah melakukan hubungan seksual dan berpeluang lebih besar untuk melakukan aborsi (www.balipost.com).

Senada dengan hal tersebut, Palembang Post (www.palembangpost.co.id.) menuliskan bahwa aborsi merupakan bukti dari semakin gawatnya seks bebas dikalangan remaja putri. Mereka cenderung lebih bebas mengekspresikan cinta kepada lawan jenisnya sehingga memungkinkan terjadinya kehamilan yang tidak diinginkan, yang dapat mengarah kepada dilema aborsi. Dari hasil wawancara penulis kepada seorang bidan pada suatu klinik didapatkan hasil bahwa dalam kasus aborsi per tahun, 35% diantaranya dilakukan oleh remaja berusia di atas 19 tahun sedangkan 25% dilakukan oleh remaja berusia di bawah 18 tahun.

Sikap terhadap aborsi pada remaja putri diteliti karena selama ini terjadi kontroversi dalam menyikapi perilaku aborsi. Gunjingan tentang aborsi di kalangan remaja putri selalu berkembang dengan berbagai macam versi, misalnya aborsi dilakukan karena terjadinya kehamilan di luar nikah dan konsep unwanted children (anak yang tidak diinginkan) dengan berbagai alasan. Hasil survey yang dilakukan oleh pihak kepolisian dan TNI pada bulan September 2002 di Kota Baturaja Sumatera Selatan terdapat banyaknya tempat-tempat hiburan dan “tempat-tempat persinggahan” atau “peristirahatan” seperti diskotik, tempat karaoke, dan lain-lain yang dihuni oleh remaja dengan usia 18-24 tahun. Berdasarkan penggeledahan yang dilakukan setiap bulan, didapatkan informasi 70% remaja di tempat-tempat tersebut melakukan sex intercourse (hubungan kelamin) dan ketika terjadi kehamilan yang tidak diinginkan mereka cenderung untuk melakukan aborsi, selebihnya yang 30% bersikap kontra terhadap aborsi dan lebih memilih meneruskan kehamilannya dengan berbagai macam alasan yang bersifat individual (Dokumentasi Kepolisian Baturaja, Tahun 2002). Mendukung hal tersebut pada tahun 2003 Kabid Pengendalian Keluarga Berencana dan Kesehatan Reproduksi BKKBN Jawa Barat, Danu Wisastra, mengadakan survey pada 5 kota di Indonesia yaitu Kupang, Palembang, Singkawang, Tasik Malaya, dan  Cirebon.  Hasil  penelitian  menunjukkan  bahwa

36,35% remaja berusia di atas 18 tahun telah melakukan hubungan seks pranikah dan dari jumlah tersebut 40,1% diantaranya tidak menggunakan alat kontrasepsi dan siap melakukan aborsi jika terjadi kehamilan (www.bkkbn.go.id). Hal tersebut menunjukkan bahwa aborsi dianggap merupakan alternatif pemecahan masalah yang banyak dipilih remaja ketika dihadapkan pada masalah kehamilan di luar nikah. Padahal pilihan tersebut mempunyai risiko kematian yang tinggi dan terbukti telah banyak memakan korban meninggal akibat aborsi tidak aman.

Berdasarkan data tersebut Persatuan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) ingin memperjuangkan aborsi dilegalkan di Indonesia agar tercipta aborsi aman dan kondusif. Jika aborsi sudah dilegalkan, maka aborsi bukan dianggap tindak pidana sepanjang dipenuhi alasan-alasan yang disyaratkan (Bertens, 2002). Nurwati (dalam Kompas, 2001) menyatakan hal ini akan membawa konsekuensi bahwa pemerintah harus menyediakan tempat aborsi yang aman bagi perempuan yang akan menggugurkan kandungannya, yaitu klinik khusus yang dilengkapi berbagai peralatan medis yang menunjang. Adanya klinik khusus akan menekan angka kematian akibat aborsi tidak aman. Pandangan demikian disebut pandangan sikap prochoice.

Keinginan untuk melegalisasi aborsi sangat ditentang oleh golongan agamawan dan kelompok konservatif yang berpegang pada norma agama, moral, dan etika. Menurut mereka melegalkan aborsi bukan merupakan tindakan yang tepat karena pengguguran kandungan tidak diperbolehkan dengan alasan bahwa janin yang dikandung juga mempunyai hak untuk hidup (Bertens, 2002). Menurut Nurlita (dalam Kompas 2000) hal ini terkecuali apabila ada indikasi medis dimana aborsi menjadi satu-satunya pilihan untuk menyelamatkan nyawa wanita yang sedang mengandung tersebut. Hal tersebut merupakan pandangan sikap prolife.

Mulyana (dalam Suara Merdeka, 1997) menyatakan memilih bersikap prochoice atau prolife tergantung kepada pengetahuan yang dimiliki remaja putri tentang aborsi. Pengetahuan tentang aborsi didefinisikan sebagai pemahaman tindakan pengeluaran hasil konsepsi dari rahim sebelum waktunya (sebelum dapat dilahirkan secara alamiah) yang merupakan proses kelahiran yang dipaksakan karena kehamilan yang tidak dikehendaki.

Armiwulan (2004) mengungkapkan bahwa pengetahuan tentang aborsi mencakup bentuk-bentuk antara lain pengertian aborsi, jenis-jenis aborsi, risiko aborsi, aborsi aman (safe abortion), norma agama tentang aborsi, serta pandangan hukum positif Indonesia tentang aborsi.

Hasil survey yang dilakukan tim Rumah Sakit DKT Baturaja Sumatera Selatan tahun 2000 terhadap 226 responden remaja putri memperlihatkan bahwa 83% remaja tidak tahu tentang konsep aborsi yang benar, 61,8% tidak tahu persoalan di seputar masa subur dan haid, 40,6% tidak tahu risiko kehamilan remaja , dan 42,4% tidak tahu risiko aborsi. Survey tersebut juga mengungkapkan bahwa rendahnya pemahaman remaja tentang aborsi karena mereka tidak memperoleh informasi yang cukup dan benar mengenai aborsi (Dokumentasi, 2000).

Gambaran minimnya pengetahuan remaja tentang aborsi juga tercermin dalam penelitian yang dilakukan oleh Mardiana pada tahun 2002 terhadap 237 responden usia 18-22 tahun di Palembang. Hasil penelitian menunjukkan 67% remaja tidak memiliki pengetahuan tentang aborsi. 78% dari remaja yang tidak memiliki pengetahuan tentang aborsi tersebut memilih akan melakukan aborsi jika terjadi kehamilan remaja (Mardiana, 2002).

Penelitian yang dilakukan oleh Armiwulan (2004) mengungkapkan bahwa ada hubungan negatif antara pengetahuan tentang aborsi dengan tingkat aborsi. Hal tersebut menunjukkan bahwa semakin tinggi tingkat pengetahuan tentang aborsi maka tingkat aborsi akan semakin rendah.

Cukup atau tidaknya pengetahuan tentang aborsi yang dimiliki seseorang tidak terlepas dari pengaruh lingkungan sosial. Seksolog dan androlog Pangkahila (1981) menyatakan bahwa kondisi lingkungan sosial yang berkembang sangat pesat mengakibatkan terjadinya perubahan pola hidup masyarakat yaitu berkembang luasnya pergaulan bebas yang tidak dibarengi pengetahuan tentang aborsi yang benar. Menurut Pangkahila (1981) pengetahuan tentang aborsi dapat diperoleh remaja dari 2 sumber yaitu formal dan nonformal. Dari segi formal remaja memperoleh pengetahuan tentang aborsi melalui program-program pendidikan mengenai aborsi seperti penyuluhan, seminar, dan lain-lain. Dari segi nonformal remaja memperoleh pengetahuan tentang aborsi dari teman, orang tua, dan media massa. Sikap orang tua yang sering menabukan pertanyaan remaja tentang risiko aborsi membuat remaja tidak mempunyai pengetahuan yang cukup tentang aborsi. Orang tua cenderung “negative thinking” bila remaja bertanya mengenai aborsi. Timbul rasa takut pada orang tua bahwa dengan memberikan pengetahuan tentang aborsi justru akan mendorong remaja putri untuk melakukan hubungan seksual pranikah yang dapat mendorong ke arah terjadinya aborsi.

Penelitian yang dilakukan BKKBN pada tahun 2002 menyebutkan bahwa 70% remaja mendapat pengetahuan tentang aborsi dari teman dan media massa, sedangkan 30% lainnya mendiskusikan masalah aborsi dengan orang tua atau pihak-pihak yang tidak berkompetensi (www.bkkbn.go.id).

Hal tersebut menunjukkan bahwa masih banyak remaja yang memiliki pengetahuan tentang aborsi yang rendah dan pada akhirnya ia akan melakukan tindakan yang berbahaya bagi dirinya sendiri. Sebagai contoh, seorang yang mengalami masalah kehamilan diluar nikah apabila ia tidak memiliki pengetahuan tentang aborsi, ia akan cenderung memilih melakukan aborsi. Perubahan sikap dan persepsi remaja terhadap masalah seks menciptakan sikap sosial baru di kalangan remaja untuk melegalkan aborsi (Hurlock, 1992).

Seharusnya remaja putri diberi bimbingan dari lingkungan yang kecil yaitu keluarga supaya remaja terhindar dari perilaku seksual pranikah yang memungkinkan bisa menyebabkan terjadinya kehamilan. Salah satu cara untuk menghindari hal tersebut adalah remaja harus mempunyai pengetahuan tentang aborsi.

Berdasarkan uraian di atas dapat dilihat bahwa pengetahuan tentang aborsi merupakan faktor penting dalam menentukan sikap penolakan remaja putri terhadap aborsi. Tingginya pengetahuan tentang aborsi akan memungkinkan remaja menolak aborsi. Oleh karena itu perlu kiranya dilakukan penelitian guna melihat hubungan antara pengetahuan tentang aborsi dengan sikap prolife pada remaja putri.

 

B.  Tujuan dan Manfaat Penelitian

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui hubungan positif antara pengetahuan  tentang  aborsi  dengan  sikap  prolife remaja  putri di Kota Baturaja Sumatera Selatan.

Penelitian ini secara teoritis akan memberikan informasi tentang hubungan antara pengetahuan tentang aborsi dengan sikap prolife remaja putri dan memperkaya khasanah ilmu psikologi terutama psikologi klinis dan psikologi sosial. Apabila penelitian ini terbukti akan dapat dipergunakan sebagai masukan untuk memberikan informasi bagi remaja, orang tua, konselor, pendidik dan psikolog untuk membantu remaja putri memperoleh pengetahuan tentang aborsi yang benar dan tepat sehingga remaja putri menjauhi tindakan aborsi sehingga terhindar dari risiko aborsi.

HUBUNGAN STRES KERJA DENGAN PERILAKU SELINGKUH PADA SUAMI

BAB I

PENDAHULUAN

 

A.   Latar Belakang Masalah

Pada umumnya orang pernah mengalami ketegangan, walau sering tidak dirasakannya, karena ketegangan ini berkisar dari sedikit kegelisahan sampai rasa cemas yang melumpuhkan. Seseorang yang mengalami sedikit rasa gelisah, tidak menyadari kalau hal itu merupakan ketegang­an yang bisa menjadi semakin parah.

Pada dasarnya ketegangan merupakan suatu perasaan yang tidak mudah digambarkan. Ketegangan timbul karena ada masalah yang harus ditanggulangi. Ketegangan yang berkepanjangan memang dapat mengganggu kehidupan, namun demikian dalam kehidupan sehari-hari tidak adanya ketegangan sama sekali belum tentu dan bahkan bukan merupakan suatu tanda kebahagiaan, tetapi malah menunjukkan adanya kelesuan atau ketidaktahuan mengenai apa yang tengah terjadi.

Seseorang yang mengalami ketegangan pada umumnya menunjukkan tingkah laku atau kegiatan yang tidak biasanya dilakukan, yang dilakukan tanpa mereka sadari atau bahkan dengan sengaja. Misalnya merokok terus menerus, terlalu tergantung pada minuman keras maupun berbagai macam pil, kepala selalu pusing tanpa sebab yang nyata, rasa lelah tanpa sebab yang dapat dibenarkan, tidak bisa tidur, perut selalu murus dan mual, gelisah, terlalu mengandalkan pekerjaan untuk kepuasan, terlalu perasa (emosional), murung dan tidak percaya diri, tidak bisa konsentrasi dalam menyelesaikan pekerjaan, takut dan cemas, serta berbagai tingkah laku yang menyimpang dari kebiasaan lainnya.

Apabila tingkah laku semacam itu seringkali dilakukan sedangkan sebelumnya tidak pernah atau jarang sekali dilakukan, maka ada baiknya untuk berkonsultasi pada seorang ahli yang bisa membantu menanganinya. Atau bisa juga orang tersebut menengok kembali upaya apa yang telah dilakukannya untuk menanggulangi ketegangan itu.

Di dalam lingkungan kerja, ketegang­an yang sering dialami oleh karyawan akan mengganggu situasi kerja serta konsentrasi dalam menyelesaikan tugasnya. Keadaan itu bisa mengakibatkan menurunnya prestasi kerja yang tentunya sangat merugikan diri karyawan dan perusahaan.

Timbulnya ketegangan seperti digambarkan di atas pada hakikatnya disebabkan oleh tiga faktor, yakni masalah organisasi di lingkungan kerja, faktor si karyawan, dan hal lain yang berhubungan dengan masyarakat. Bisa terjadi seorang karyawan mengalami ketegangan karena ketiga faktor atau salah satu faktor saja.

Faktor di lingkungan kerja yang dapat menyebabkan ketegangan pada diri seseorang antara lain masalah administrasi, tekanan yang tidak wajar untuk menyesuai­kan diri dengan pekerjaan dan situasi kerja, struktur birokrasi yang tidak tepat, sistem manajemen yang tidak sesuai, perebutan kedudukan, persaingan yang semakin ketat untuk memperoleh kemajuan, anggaran yang terbatas, perencanaan kerja yang kurang baik, jaminan pekerjaan yang tidak pasti, beban kerja yang semakin bertambah dan segala sesuatu yang ada kaitannya dengan pekerjaan.

Faktor dalam diri individu juga dapat menyebabkan tim­bulnya ketegangan. Berbagai masalah yang menyangkut individu dan dapat mengakibatkan ketegangan antara lain adalah keinginan dan cita-cita yang tidak masuk akal, sikap yang merusak diri, rintangan karier, masalah keuangan, masalah ketidakcocokan status, konflik antara masalah pekerjaan dengan masalah rumah tangga, umur yang semakin meningkat, kegagalan dalam meningkatkan kemampuan dan segala masalah yang menyangkut diri karyawan tersebut.

Masalah yang menyangkut diri karyawan sering mengakibatkan timbulnya masalah dalam pekerjaan, apalagi jika pribadi karyawan itu tidak kokoh, sehingga mudah sekali terpengaruh oleh hal-hal yang mestinya bisa dihindari. Selain itu, lingkungan masyarakat yang dapat menyebabkan ketegangan ini antara lain adat istiadat yang tidak sesuai dengan hati nurani, cara hidup masyarakat dan sebagainya. Apabila ketiga faktor tersebut mempengaruhi seseorang, maka dapat dipastikan bahwa ketegangan akan semakin lama dialami dan dapat merugikan. Yang pasti dengan timbulnya ketegangan ini kehidupan seseorang akan terganggu, dan hal ini dapat meluas serta menimbulkan ketegangan dalam rumah tangga, baik dengan istri, anak-anak, maupun anggota keluarga yang lain.

Sebagai suatu hal yang sangat esensial, pekerjaan mengandung sesuatu yang luhur, yang amat penting dan tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia. Melalui pekerjaannya manusia dapat menyadari eksistensi dirinya. Melalui aktivitas pekerjaan dan karya sebagai hasilnya, manusia dapat membuktikan dirinya sebagai makhluk rohani yang mengatasi alam, melahirkan dan membuktikan bakat-bakat, cita-cita, sebagai nyata dan ada. Juga segala potensi diri dapat dikembangkan melalui pekerjaan yang akhirnya akan mampu mencerminkan sampai sejauh mana potensi kemanusiaan itu melahirkan suatu kreativitas manusia, sehingga mutu kehidupan meningkat sejalan dengan kreativitas.

Pekerjaan sebagai suatu kegiatan yang luhur marta­batnya seharusnya membuat manusia yang melakukannya merasakan pengakuan kehadirannya dan mencintai peker­jaannya. Semangatnya selalu bergelora bila melaksanakan pekerjaan, penuh gairah dan simpati. Namun dalam kenyataannya yang sering terjadi justru hal yang sebaliknya. Banyak orang yang mengeluh terhadap pekerjaannya. Mereka mengeluh tidak merasakan kebahagiaan dalam bekerja, merasa dihinggapi rasa bosan dalam keseharian, merasa di­rendahkan dan ditindas serta diremukkan oleh pekerjaan itu sendiri. Seorang pegawai kantor berangkat ke tempat kerja dengan wajah murung dan saat yang dinantikan selama di kantor adalah saat pulang kerja. Kepulangan dari tempat kerja seakan merupakan saat ke luar dari penjara yang tidak menyenangkan. Pekerjaan menjadi suatu aktivitas yang dilakukan dengan penuh keterpaksaan, tidak ada kecintaan terhadap pekerjaan. Dengan kata lain pekerjaan dapat membuat orang mengalami gejala stres.

Gejala stres pada pekerja antara lain berupa keletihan, sering pilek, gangguan tidur, napas pendek, sakit kepala, sakit kepala sebelah (migrain), kaki dan tangan dingin, nyeri kuduk dan pundak, gangguan menstruasi, gangguan pencernaan, mual, muntah, alergi, serangan asma, diabetes bahkan kanker. Hal itu menimbulkan absenteisme (tidak masuk kerja) cukup tinggi pada karyawan (Sudaryanto, 2001).

Selain gangguan–gangguan tersebut, stres juga dapat menimbulkan penyakit fisik yang diinduksi stres, misalnya penyakit jantung koroner, hipertensi, tukak lambung. Stres pekerjaan juga bisa menimbulkan kecelakaan kerja, terutama pada pekerja dengan tuntutan beban kerja tinggi, perhatian kurang, bekerja gilir (shift) pada hari pertama dan akhir minggu serta penyalahgunaan zat. Dari data, 90 persen kecelakaan kerja disebabkan tindakan kurang berhati-hati (unsafe act) dan 4 persen karena kondisi tidak aman (unsafe condition). Dari tindakan kurang berhati-hati, 80 persen akibat kondisi kesehatan jiwa yang kurang optimal saat terjadi kecelakaan (Meliawati, 2003).

Stres juga bisa menyebabkan terjadinya gangguan mental yang terus menerus. Gangguan mental yang dimaksud antara lain mudah gugup, mudah marah, tersinggung, tegang, kurang konsentrasi, dan apatis (Meliawati, 2003). Gejala stres dalam kerja ini sangat tidak menyenangkan bagi orang yang merasakannya dan bisa berbahaya bagi keutuhan kepribadiannya. Kelanjutan yang gawat adalah bila akhirnya merembet pada aspek kehidupan yang lain. Bagi laki-laki yang telah berumah tangga, stres di tempat kerja dapat berakibat terhadap kehidupan seksualnya.

Seks merupakan bagian dari kehidupan perkawinan itu sendiri. Seks merupakan kebutuhan sekaligus kewajiban bagi pasangan suami isteri. Salah satu faktor yang menentukan kebahagiaan rumah tangga adalah adanya kehidupan seks yang sehat. Perilaku seksual pasangan sangat mempengaruhi terciptanya hubungan yang sehat antara suami isteri.

Aspek psikologis suami dapat mempengaruhi perilaku seksualnya. Seorang suami yang mengalami stres di tempat kerja akan mempunyai kemungkinan mengalami disfungsi seksual yang disebabkan besarnya tekanan psikologis yang berasal dari pekerjaannya. Disfungsi seksual ini berupa impotensi (ketidakmampuan untuk ereksi), ejakulasi dini, bahkan dapat sampai pada taraf sama sekali tidak memiliki nafsu seks. Akan tetapi dapat pula stres kerja yang dialami oleh suami justru meningkatkan keinginan seksualnya.

Sebuah studi di Universitas British Columbia yang dilakukan oleh Quick (2004) meneliti hubungan stres dan gairah laki-laki. Rata-rata responden baru saja menyelesaikan perjalanan melintasi medan berat, seperti naik gunung, merambah hutan, dan sebagainya. Saat itulah mereka dipertemukan dengan seorang wanita, yang sebenarnya sering ditemuinya di tempat biasa. Ternyata gairah para pria tadi menjadi lebih besar di medan berat ketimbang di tempat pertemuan pertama, sehingga mereka melakukan hubungan seks.

Demikian juga dengan penelitian yang dilakukan oleh Lubis (2004), dari penelitian yang dilakukannya didapatkan kesimpulan bahwa secara fisik, stres justru bisa membuat gairah seksual meningkat. Hal ini terutama karena dipicu oleh meningkatnya adrenalin. Hal ini merupakan sebuah proses alamiah yang yang merupakan reaksi tubuh untuk menetralisir pengaruh stres tersebut.

Menurut Lubis (2004) saat stres, jantung berdetak lebih cepat, darah mengalir lebih kencang, membuat adrenalin meningkat. Naiknya adrenalin ini membuat gairah seksual melonjak. Kalau dimanfaatkan untuk melakukan hubungan seks yang sehat, dapat mengurangi kadar stres itu sendiri. Tidak hanya itu, orgasme setelah berhubungan seks membuat tubuh lebih rileks, karena pada saat mengalami orgasme tubuh melepaskan endorfin, zat yang fungsinya mirip obat penenang. Orgasme juga membuat orang mudah tertidur dan beristirahat total, salah satu cara terbaik untuk menghilangkan stres. Hal ini menjelaskan mengapa banyak suami jadi lebih bergairah di ranjang, setelah beberapa saat sebelumnya mengalami stres hebat.

Terkait dengan adanya fenomena seperti yang diuraikan di atas, sekarang ini di kota-kota besar yang sangat sibuk seperti di kota-kota metropolitan, ternyata terjadi kecenderungan karyawan yang mengalami stres kerja untuk melakukan hubungan seks dengan karyawan lain yang ditemuinya di tempat kerja. Karyawan lain tersebut bisa jadi suami atau isteri orang lain dan dia sendiri merupakan orang yang sudah berumah tangga, sehingga dapat dikatakan telah terjadi perselingkuhan. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Quick (2004) yang menyatakan bahwa seorang pria yang baru saja mengalami beban berat kemudian dipertemukan dengan wanita yang telah sering ditemuinya di tempat biasa (teman sekantor) akan merasakan gairah seks yang tidak pernah ditemuinya sebelumnya, dan akhirnya membuat mereka melakukan hubungan seks. Hubungan seks tersebut dapat berlangsung di kantor dalam waktu yang relatif cepat dan terjadi begitu saja atau dapat pula dilakukan di luar kantor sesuai dengan kesepakatan para pihak. Kadang-kadang hubungan seks tersebut juga dilakukan beberapa saat setelah karyawan yang bersangkutan melakukan makan siang bersama, sehingga dikenal istilah sex after lunch (http://www.vbulletin.com.).

Fenomena seperti yang diuraikan terbentuk karena irama kantor yang bergerak di lorong waktu yang ketat dan serba cepat oleh pekerjaan. Perilaku atau keinginan seksual karyawan tersebut mengadaptasikan diri dengan lingkungan. Karyawan yang sedang stres karena pekerjaannya berusaha mencari pelepasan dari stres yang dialaminya dengan melakukan hubungan seks di tempat kerja. Sehabis melakukan hubungan seks tersebut karyawan merasa lebih segar ketika menghadapi kembali pekerjaannya. Akan tetapi bukan tidak mungkin seks yang dilakukan karyawan untuk melepas stresnya bukan dilakukan dengan rekan sekantor, tetapi dengan wanita lain yang menjadi WIL-nya (Wanita Idaman Lain) atau PIL-nya (Pria Idaman Lain) atau dapat pula dilakukan dengan wanita penjaja seks komersial (PSK). Siapapun yang menjadi pasangan melakukan hubungan seksual, tetapi apabila hubungan seks tersebut dilakukan dengan pria atau wanita lain yang bukan suami atau isterinya, dan apapun alasan dilakukannya hubungan tersebut, baik karena dilandasi perasaan cinta ataupun hanya karena iseng, tetapi itu berarti telah terjadi perselingkuhan di dalam rumah tangga.

Dilihat dari aspek-aspek perilaku seksual pada pasangan yang melakukan hubungan seksual, menurut Pangkahila (2003) seksualitas mempunyai empat aspek, yaitu rekreasi, relasi, prokreasi, dan institusi. Pasangan yang melakukan hubungan seksual didasari oleh salah satu atau lebih dari aspek tersebut. Aspek rekreasi mengandung pengertian kesenangan, yang berhubungan dengan kenikmatan dan kepuasan seksual. Hubungan seksual karena alasan ini cenderung bersifat pemuasan hawa nafsu. Aspek relasi yang berarti kehidupan seksual berfungsi sebagai pengikat yang akan lebih mempererat hubungan batin pasangan yang melakukan hubungan seks. Aspek prokreasi artinya hubungan seksual dilakukan untuk menghasilkan keturunan atau anak sebagai generasi penerus. Aspek institusi, yaitu bahwa perilaku seksual dilakukan sebagai pemenuhan kewajiban dalam sebuah lembaga perkawinan.

Aspek hubungan seksual yang dilakukan untuk melepas stres dapat dikategorikan sebagai aspek rekreasi. Dengan demikian hubungan seks yang dilakukan tersebut semata-mata dilakukan untuk kesenangan yang berhubungan dengan kenikmatan dan kepuasan seksual.

Penelitian Budijanto dan Wijiartini (2001) dilakukan terhadap laki-laki beristeri yang melakukan pekerjaan relatif berat. Hasil penelitian menemukan 77,5% responden menyatakan pernah melakukan hubungan seksual di luar nikah. Alasan melakukan hubungan seksual di luar nikah yang dikemukakan, antara lain sebagai obat stres karena melakukan pekerjaan berat, butuh variasi, iseng, dan diajak teman. Apapun alasan dilakukannya hubungan seks oleh apra suami pekerja itu, akan tetapi dia telah melakukan perselingkuhan.

Menurut Poerwodarminto (1989), selingkuh dapat diartikan sebagai perbuatan tidak berterus terang ; tidak jujur ; menyembunyikan sesuatu untuk kepentingan sendiri ; curang ; serong. Lawson (1988) mengatakan bahwa pengertian selingkuh dapat dimulai dari pergi bersama seseorang yang bukan suami atau istrinya. Kedekatan yang kuat dengan orang lain baik secara fisik maupun emosional, sexual intercourse secara sukarela antara seseorang yang sudah menikah dengan orang lain yang bukan pasangannya. Dapat pula dikatakan bahwa perselingkuhan dalam perkawinan berarti suami atau istri memiliki hubungan di luar perkawinannya, di mana hubungan ini bukan sekedar hubungan seksual semata tetapi juga hubungan emosi yang serius sampai ke adegan yang cukup panas (Melly dalam Tiara, 1993). Rutherford (1999) mendefinisikan perselingkuhan sebagai ketidaksetiaan terhadap pasangan yang sudah terikat dalam perkawinan.

Berdasarkan beberapa pengertian selingkuh di atas dapat disimpulkan bahwa perselingkuhan adalah perbuatan tidak menghormati kepercayaan pasangan dan mengkhianati perkawinan dengan menjalin kedekatan baik secara fisik maupun secara emosional dengan orang lain yang bukan pasangannya. Suatu perbuatan dapat dikatakan selingkuh apabila pelakunya sudah terikat dalam perkawinan.

Berdasarkan uraian di atas dapat diduga bahwa stres kerja mempunyai hubungan dengan perilaku selingkuh pada suami. Dugaan ini perlu dibuktikan kebenarannya. Oleh karena itu dianggap perlu untuk dilakukan penelitian guna melihat kuat hubungan antara stres kerja dengan perilaku selingkuh pada suami.

B.  Tujuan dan Manfaat Penelitian

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui hubungan antara stres kerja  dengan  perilaku selingkuh pada suami di Kota Yogyakarta.

Penelitian ini secara teoritis akan memberikan informasi tentang hubungan antara pengetahuan stres kerja dengan perilaku selingkuh suami dan memperkaya khasanah ilmu psikologi terutama psikologi klinis dan psikologi sosial. Apabila penelitian ini terbukti akan dapat dipergunakan sebagai masukan untuk memberikan informasi bagi pasangan suami isteri, konselor, dan psikolog untuk membantu pasangan suami isteri yang mengalami masalah selingkuh yang disebabkan stres kerja.

 

 

 

HUBUNGAN ANTARA PERSEPSI PROFESIONALISME POLISI PARIWISATA DENGAN RASA AMAN PADA WISATAWAN DI YOGYAKARTA


st1\:*{behavior:url(#ieooui) }

/* Style Definitions */ table.MsoNormalTable {mso-style-name:”Table Normal”; mso-tstyle-rowband-size:0; mso-tstyle-colband-size:0; mso-style-noshow:yes; mso-style-parent:””; mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; mso-para-margin:0cm; mso-para-margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:10.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-ansi-language:#0400; mso-fareast-language:#0400; mso-bidi-language:#0400;}

BAB  I

PENDAHULUAN

 

A.  Latar Belakang Masalah

Pariwisata adalah suatu fenomena yang ditimbulkan oleh bentuk kegiatan manusia, yaitu kegiatan melakukan perjalanan (travel) (Kodhyat, 1996). Berdasarkan hal itu maka perjalanan yang dikategorikan sebagai kegiatan wisata dapat dirumuskan sebagai berikut; “….Perjalanan dan persinggahan yang dilakukan oleh manusia di luar tempat tinggalnya untuk berbagai maksud dan tujuan, tetapi bukan untuk tinggal menetap di tempat yang dikunjungi atau disinggahi, atau untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan dengan mendapatkan “upah“ (Hunziker dan Krapf dalam Kodhyat, 1996).

Dari pengertian pariwisata di atas, dapat diketahui bahwa pariwisata bukan merupakan kegiatan yang menghasilkan upah, sebaliknya dengan mengadakan perjalanan pariwisata, maka seseorang akan mengeluarkan biaya. Biaya-biaya dimaksud antara lain biaya konsumsi, biaya menginap, biaya transportasi, dan biaya-biaya lainnya. Biaya ini dikeluarkan sesuai dengan sarana yang digunakan oleh wisatawan ketika melakukan kunjungan wisata.

Berkaitan dengan itulah, maka kunjungan wisatawan mempunyai dampak ekonomi kepada daerah tujuan wisata yang didatangi, baik secara langsung maupun tidak langsung. Dampak langsung adalah dengan adanya kunjungan wisatawan, dan akan menciptakan permintaan terhadap fasilitas-fasilitas  yang berkaitan dengan jasa industri pariwisata seperti hotel/losmen, rumah makan, sarana angkutan/travel biro dan jenis hiburan lainnya. Dengan adanya kegiatan pemenuhan kebutuhan wisatawan ini, akan meningkatkan pendapatan masyarakat (Yoeti, 1999). Dampak tidak langsung adalah perkembangan di bidang pariwisata akan meningkatkan juga bidang-bidang lainnya.

Pengembangan kepariwisataan membawa banyak manfaat dan keuntungan. Oleh karena itu dalam Garis-garis Besar Haluan Negara (GBHN) tahun 1993, dinyatakan bahwa pembangunan kepariwisataan diarahkan pada peningkatan pariwisata menjadi sektor andalan yang mampu menggalakkan kegiatan ekonomi, termasuk kegiatan sektor lain yang terkait, sehingga lapangan kerja, pendapatan masyarakat, pendapatan daerah dan pendapatan negara serta penerimaan devisa meningkat melalui upaya pengembangan dan pendayagunaan berbagai potensi kepariwisataan Nasional (www.bapedajambi.go.id, 2007).

Pengembangan kepariwisataan merupakan kegiatan lintas sektoral. Memperhatikan hal tersebut suksesnya pembangunan kepariwisataan nasional sangat ditentukan oleh adanya dukungan serta partisipasi aktif seluruh lapisan masyarakat, baik pemerintah, pihak swasta, maupun anggota masyarakat lainnya (www.bapedajambi.go.id, 2007).

Dalam rangka memperoleh dukungan dan partisipasi aktif seluruh lapisan masyarakat, diperlukan penyebaran informasi tentang arti pentingnya pengembangan kepariwisataan yang dilakukan secara berkesinambungan melalui Buku Bimbingan Masyarakat Sadar Wisata dan Sapta Pesona Wisata (www.bapedajambi.go.id, 2007).

Senada dengan pendapat tersebut PBB, Bank Dunia dan World Tourism Organization (WTO) mengakui bahwa kegiatan kepariwisataan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan umat manusia terutama menyangkut kegiatan sosial dan ekonomi. Hal tersebut ditunjukkan dengan datangnya wisatawan ke obyek-obyek wisata, sehingga berakibat pada meningkatnya pendapatan bagi masyarakat obyek wisata tersebut yang bergerak dalam bidang-bidang yang berhubungan dengan sektor kepariwisataan, seperti: jasa penginapan, penjualan cindera mata, dan penjual makanan khas daerah setempat (Santosa, 2002).

Hal tersebut sesuai dengan pendapat Memet (dalam www.kompas.com, 2000) yang mengemukakan bahwa wisatawan mancanegara yang berkunjung pada obyek wisata yang menggunakan waktu rata-rata lima hari di tempat wisata tersebut akan membelanjakan 110 Dollar AS per hari pada tiap wisatawan, sedangkan wisatawan lokal akan membelanjakan uang rata-rata Rp 100.000 per individu, dalam waktu rata-rata dua hari. Menurut Memet, kenyataan tersebut berlaku sama di hampir semua daerah kunjungan wisata. Berdasarkan hal tersebut dapat diketahui bahwa semakin banyak jumlah kunjungan wisatawan maka akan semakin banyak pula pendapatan yang diperoleh masyarakat dari penyediaan jasa pendukung pariwisata.

Uang yang dihabiskan wisatawan digunakannya untuk keperluannya selama di lokasi wisata, antara lain untuk makan, minum, transportasi, belanja souvenir, dan lain-lain. Kegiatan inilah yang meningkatkan pendapatan bagi masyarakat obyek wisata tersebut.

Yogyakarta dari dulu sudah terkenal sebagai salah satu Daerah Tujuan Wisata yang banyak dikunjungi oleh wisatawan asing, baik wisatawan nusantara (domestik) maupun mancanegara. Potensi wisata yang dimiliki daerah Yogyakarta terbentuk dari kondisi geografis, sejarah dan budaya yang dimilikinya.

Potensi wisata yang berasal dari kondisi geografis meliputi obyek wisata alam, obyek wisata laut/bahari, dan obyek wisata buatan. Obyek wisata alam yang berasal dari pemandangan alam Gunung Merapi yang terkenal di Yogyakarta antara lain kawasan wisata alam Kaliurang, Kaliadem dan kawasan Lava Tour. Kawasan Lava Tour terkenal sejak Gunung Merapi memuntahkan lava dan bahan-bahan lain dari perut Gunung Merapi. Kawasan wisata pantai yang terdiri dari Pantai Parangtritis, Parangkusumo, Parangendog, dan Pandansimo yang terkenal dengan legenda Nyi Roro Kidul, Pantai Glagah Indah yang terkenal dengan ombak besar dari Samudera Hindia, Pantai Krakap dan Pantai Baron yang terkenal dengan Tempat Pelelangan Ikan (TPI) dan pasir pantainya yang berwarna putih, Pantai Samas, Pantai Sanden, dan Pantai Bugel yang terkenal karena budaya masyarakatnya, dan juga Pantai Trisik dan Pantai Congot yang terkenal dengan TPI-nya. Selain itu masih banyak lagi lokasi wisata  alam lainnya antara lain Goa Kiskendo yang terkenal dengan legenda wayangnya, Goa Selarong yang merupakan goa tempat persembunyian Pangeran Diponegoro pada waktu melawan Belanda, Goa Maria yang merupakan tempat wisata agama Katholik, Goa Cermai, Goa Bribin, Goa Lowo, dan lain-lain. 

Obyek wisata buatan yang ada di Yogyakarta adalah Waduk Sermo yang merupakan waduk buatan yang banyak dikunjungi wisatawan lokal yang ingin menyaksikan kecanggihan teknologi waduk dan juga menikmati makan ikan di atas rakit yag dibuat oleh penduduk di kawasan waduk. Selain waduk Sermo ada juga Kebun Binatang Gembiraloka yang selain dijadikan obyek wisata juga sering dijadikan sebagai tempat penelitian untuk bidang biologi dan penangkaran hewan langka. Ada juga lokasi wisata buatan yang berbentuk agrowisata, antara lain Agrowisata Kalibawang, Agrowisata Congot, dan juga Agrowisata Salak di Turi. Wisata buatan lainnya yang juga tidak kalah terkenal sebagai tempat para wisatawan untuk mendapatkan cinderamata khas Jogja adalah kawasan Malioboro, Pasar Ngasem dan Kota Gede yang terkenal dengan kerajinan peraknya.

Potensi wisata yang berasal dari sejarah meliputi obyek wisata peninggalan-peninggalan sejarah dan budaya, antara lain Candi Prambanan (yang sering disebut juga Candi Sewu dan Candi Roro Jonggrang), Candi Kalasan, Candi Sari, Candi Gebang, Candi  Ijo, Candi Banyunibo, Candi  Morangan, Candi  Barong, Candi  Abang, Candi  Rejo, Candi Ratu Boko, Candi Watu Gudig, dan Candi Sambisari. Selain itu yang juga dikategorikan sebagai potensi wisata sejarah adalah Kraton Yogyakarta, Kraton Pakualaman, Makam Panembahan Senopati, Museum Sonobudoyo, Museum Sasmitaloka, Museum Ulen Sentalu, Museum Panglima Sudirman, Benteng Vredeburg, dan lain-lain.

Banyaknya obyek wisata dengan daya tarik yang mempesona membuat banyak wisatawan asing dan lokal berkunjung ke Yogyakarta. Hal ini dapat dilihat dari data jumlah kunjungan wisatawan yang tercatat di Dinas Pariwisata Provinsi DIY.

Tabel 1

Perkembangan Kunjungan Wisatawan di Provinsi DIY

Sumber :  Dinas Pariwisata Provinsi DIY, 2007.

 

 Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui bahwa jumlah wisatawan asing dan lokal yang berkunjung ke Yogyakarta berjumlah ribuan setiap tahunnya. Akan tetapi ada beberapa fenomena menarik dari data yang terlihat tersebut, yaitu sejak adanya krisis moneter 1997 kunjungan wisatawan cenderung meningkat terus. Hal ini dikarenakan pada saat itu banyak sekali program promosi yang dilancarkan pemerintah Jogja untuk menarik kunjungan wisatawan, antara lain Program Jogja Never Ending Asia yang diluncurkan untuk menarik turis, khususnya turis asing. Program ini cukup berhasil, terbukti dari meningkatnya kunjungan wisatawan asing yang datang ke Yogyakarta.

Akan tetapi dapat dilihat pula bahwa pada tahun 2003 terjadi penurunan jumlah wisatawan, baik wisatawan asing maupun mancanegara. Penurunan jumlah wisatawan asing adalah sebesar 21,61% untuk wisatawan asing dan 22,26% untuk wisatawan lokal. Penurunan jumlah wisatawan sampai sebesar lebih dari 20% ini disebabkan pada akhir tahun 2002, tepatnya pada tanggal 2 Oktober 2002 terjadi peristiwa Bom Bali yang membawa korban ratusan orang tewas, sebagian besar korban adalah turis asing yang tengah menikmati wisata di Bali. Bali yang dibangga-banggakan sebagai wilayah yang aman dan tenteram ternyata dijadikan target oleh teroris. Sektor pariwisata Bali langsung terpukul. Ribuan turis asing membatalkan kunjungan ke Bali. Warga asing pun diminta Pemerintahnya masing-masing untuk hati-hati ke Bali yang dinilai tidak aman. Akibatnya, jumlah kunjungan wisatawan ke Bali langsung turun drastis selama beberapa bulan. Tingkat hunian hotel melorot sampai hanya menjadi 5,89 persen saja (Karsadi, dkk., 2002).

Dampak dari teror Bom Bali tersebut tidak hanya mengenai Bali saja, tetapi Indonesia pada umumnya. Apalagi lembaga internasional PBB, menetapkan Indonesia sebagai salah satu negara sarang teroris, yaitu Jamaah Islamiyah. Kenyataan ini sangat memukul dunia wisata Indonesia. Sektor pariwisata yang sejak lama menjadi pahlawan karena banyak mendatangkan devisa dan juga menciptakan lapangan kerja bagi banyak orang, menjadi terpukul.

Pemerintah kemudian bekerja keras untuk mengembalikan kepercayaan internasional bahwa Indonesia aman. Dilakukan langkah-langkah strategis untuk memulihkan keamanan di Indonesia. Jika keamanan kembali stabil seperti semula, maka diharapkan jumlah kunjungan wisatawan ke beberapa daerah tujuan wisata di Indonesia kembali meningkat.

Dari uraian di atas dapat diketahui bahwa masalah keamanan sangat penting bagi wisatawan. Tujuan mereka berwisata adalah untuk melepas lelah dari segala rutinitas sehari-hari dan mendapatkan kesenangan, sehingga jika perjalanan wisata mereka diwarnai keresahan karena tidak amannya daerah tujuan wisata yang mereka kunjungi, maka pastilah mereka tidak mau mengunjungi daerah wisata yang tidak aman itu.

Selain dipengaruhi oleh situasi dan kondisi keamanan secara global di negara tujuan, kondisi keamanan di lokasi obyek wisata juga ikut menentukan tingkat keamanan yang dirasakan wisatawan. Adanya perasaan takut dan tidak aman yang dirasakan wisatawan di sebuah obyek wisata tertentu, membuat mereka tidak mau mengunjungi obyek wisata tersebut.

Berdasarkan data yang diperoleh dari Direktorat Pengamanan Pariwisata Polda DIY pada tahun 2003 – 2007 diketahui bahwa terjadi peningkatan tindak kriminal yang terjadi pada wisatawan khususnya wisatawan mancanegara (Dokumen Dit. Pam Par Polda DIY, 2007).

Hal ini sejalan dengan hasil wawancara yang dilakukan penulis pada tanggal 21 Oktober 2007 terhadap dua orang wisatawan asing, dua orang wisatawan lokal serta dua orang pelaku usaha wisata yang ada di Malioboro Jogjakarta. Pertanyaan yang diajukan adalah hal apa yang membuat wisatawan merasa enggan berkunjung ke suatu obyek wisata. Dari hasil wawancara diketahui bahwa penyebab keengganan wisatawan untuk berkunjung ke obyek wisata tertentu adalah kurang amannya obyek wisata tersebut. Mereka mengetahui masalah keamanan itu dari informasi dan pengalaman teman mereka terdahulu yang pernah menjadi korban kriminal pada obyek wisata yang bersangkutan. Berdasarkan informasi itu para wisatawan memutuskan untuk tidak mengunjungi lokasi wisata tersebut. Di lain pihak dari hasil wawancara dengan pelaku usaha di Malioboro Jogja diketahui bahwa masyarakat pelaku usaha di Malioboro berharap kawasan Malioboro dijamin keamanannya, sehingga dapat menentramkan bagi para wisatawan yang sedang berwisata dan juga dapat menentramkan masyarakat sekitar yang mencari penghasilan dari kegiatan wisata.

Untuk memberikan rasa aman bagi wisatawan dan juga pengelolaannya, maka di tempat wisata perlu didirikan beberapa fasilitas, sarana dan prasarana penting antara lain: Gedung Pengelolaan, Pusat Informasi Wisatawan, Poliklinik Kesehatan, Pos Polisi, Pemadam Kebakaran, Gardu Listrik, serta Stasiun Radio (www.tamanmini.com., 2007). Selain itu ditambahkan Mardana (dalam www.sinarharapan.com, 2007) bahwa pembenahan pariwisata dimulai dari pengamanan aset-aset wisata, sehingga dapat memberikan rasa aman saat berwisata dan diharapkan akan merangsang para wisatawan untuk berkunjung.

Atas dasar keinginan untuk meningkatkan keamanan para wisatawan yang berkunjung ke daerah kunjungan wisata, maka diadakanlah Polisi Pariwisata. Polisi Pariwisata ini merupakan polisi yang khusus ditugaskan untuk mengamankan dan memperlancar kegiatan wisata yang dilakukan oleh para wisatawan.

Menurut data Dit Pamwisata Polda DIY (2007), tugas pokok Polisi Pariwisata adalah 1) memberikan pengamanan dalam bentuk perlindungan dan pertolongan pertama kepada wisatawan, 2) memberikan pelayanan dalam bentuk pemberian informasi, petunjuk yang diperlukan wisatawan, 3) pengawasan terhadap lalulintas wisatawan, dan 4) memberikan bimbingan pada seluruh potensi yang bergerak di bidang usaha kepariwisataan (pemerintah/swasta) untuk berpartisipasi aktif dalam pengamanan pariwisata.

Dalam melaksanakan tugas pokoknya itu, Polisi Pariwisata mempunyai lingkup tugas : 1) pengamanan, penertiban, perlindungan, dan pertolongan kepada wisatawan serta penyelamatan obyek-obyek wisata, 2) pembentukan pusat informasi, pos-pos polisi di kawasan obyek wisata dan kawasan fasilitas kepariwisataan, 3) pembentukan dan pembinaan satuan pengamanan dalam kawasan obyek wisata maupun kawasan fasilitas kepariwisataan. Semua tugas yang dibebankan kepada polisi pariwisata itu dilakukan dalam bentuk: 1) pengaturan, 2) penjagaan, pengawalan, patroli, dan pembinaan (Dit Pamwisata Polda DIY, 2007).

HUBUNGAN TINGKAT RELIGIUSITAS DENGAN KECEMASAN MORAL MAHASISWA FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS WANGSA MANGGALA

BAB  I

PENDAHULUAN

 

A.      Latar Belakang Masalah

Sektor pariwisata sebagai salah satu sektor andalan (leading sector) disamping industri kecil dan agro industri, merupakan suatu instrumen untuk menghasilkan devisa dan sekaligus diharapkan akan memperluas dan meratakan kesempatan berusaha, lapangan kerja serta memupuk rasa cinta tanah air.  Pariwisata adalah suatu fenomena yang ditimbulkan oleh salah satu bentuk kegiatan manusia, yaitu kegiatan yang disebut perjalanan (travel), maka perjalanan yang dikategorikan sebagai kegiatan wisata dapat dirumuskan sebagai berikut; “….Perjalanan dan persinggahan yang dilakukan oleh manusia di luar tempat tinggalnya untuk berbagai maksud dan tujuan, tetapi bukan untuk tinggal menetap di tempat yang dikunjungi atau disinggahi, atau untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan dengan mendapatkan “upah“. Rumusan tersebut didasarkan atas definisi tentang pengertian pariwisata yang dirumuskan oleh dua pakar pariwisata berkebangsaan Swiss, Prof. Hunziker dan Prof. Krapf (dalam Kodhyat, 1996). Kedua pakar tersebut memberikan rumusan sebagai berikut :

Pariwisata adalah keseluruhan (gejala) dan hubungan-hubungan yang ditimbulkan oleh perjalanan dan persinggahan manusia di luar tempat tinggalnya dengan maksud bukan untuk tinggal menetap (di tempat yang disinggahinya) dan tidak berkaitan dengan pekerjaan-pekerjaan yang menghasilkan upah.

Dari pengertian pariwisata di atas, dapat diketahui bahwa pariwisata bukan merupakan kegiatan yang menghasilkan upah, sebaliknya dengan mengadakan perjalanan pariwisata, maka seseorang akan mengeluarkan biaya. Biaya-biaya dimaksud antara lain biaya konsumsi, biaya menginap, biaya transportasi, dan biaya-biaya lainnya. Biaya ini dikeluarkan sesuai dengan sarana yang digunakan oleh wisatawan ketika melakukan kunjungan wisata.

Berkaitan dengan itulah, maka kunjungan wisatawan mempunyai dampak ekonomi kepada daerah tujuan wisata yang didatangi, baik secara langsung maupun tidak langsung. Dampak langsung adalah dengan adanya kunjungan wisatawan, maka akan menciptakan permintaan terhadap fasilitas-fasilitas  yang berkaitan dengan jasa industri pariwisata seperti hotel/losmen melati, rumah makan, sarana angkutan/travel biro dan jenis hiburan lainnya. Dengan adanya kegiatan pemenuhan kebutuhan wisatawan ini, akan meningkatkan pendapatan masyarakat (Yoeti, 1999). Dampak tidak langsung adalah perkembangan di bidang pariwisata akan meningkatkan juga bidang-bidang lainnya.

Fenomena peningkatan pendapatan yang diperoleh dari kunjungan wisatawan dapat dilihat dari pengalaman Bali sebagai daerah tujuan wisata yang banyak dikunjungi wisatawan mancanegara. Dari tahun ke tahun jumlah wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Bali semakin bertambah sejak lebih dari tiga dasawarsa. Sektor pariwisata dinilai sangat besar kontribusinya dalam pembangunan Bali. Peningkatan pendapatan per kapita penduduk Bali, mulai dari sekitar 70 dolar AS per kapita di tahun 1969 menjadi rata-rata 1200 dolar AS dimasa sebelum krisis ekonomi, dan sekarang sekitar 500 dolar AS. Hal ini membuktikan betapa besar pengaruh industri pariwisata bagi penduduk Bali (Karsadi, dkk., 2002).

Pariwisata dan sektor pendukungnya selama ini memang menjadi lokomotif ekonomi Bali. Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Bali banyak dihasilkan dari sektor pariwisata. Wisatawan asing yang datang ke Bali mencapai jutaan orang per tahun. Mereka pada umumnya tinggal selama rata-rata 10 hari. Uang yang dibelanjakan antara 80 – 200 dolar AS per hari, dan untuk tempat tinggal mereka selama di Bali, mereka menginap di hotel, penginapan, dan pondok wisata. Tingkat hunian masing-masing jenis penginapan tersebut rata-rata mencapai 61 persen (Karsadi, dkk., 2002).

Namun sejak ledakan bom Sabtu malam tanggal 12 Oktober 2002 di Kuta Bali segalanya berubah. Ratusan orang tewas, sebagian besar korban adalah turis asing yang tengah menikmati kegembiraan. Bali yang dibangga-banggakan sebagai wilayah yang aman dan tenteram ternyata dijadikan target oleh teroris. Sektor pariwisata bali langsung terpukul. Ribuan turis asing membatalkan kunjungan ke Bali. Warga asing pun diminta Pemerintahnya masing-masing untuk hati-hati ke Bali yang dinilai tidak aman. Akibatnya, jumlah kunjungan wisatawan ke Bali langsung turun drastis selama beberapa bulan. Tingkat hunian hotel melorot sampai hanya menjadi 5,89 persen (Karsadi, dkk., 2002).

Dari uraian di atas dapat diketahui bahwa masalah keamanan sangat penting bagi wisatawan. Tujuan mereka berwisata adalah untuk melepas lelah dari segala rutinitas sehari-hari dan mendapatkan kesenangan, sehingga jika perjanlanan wisata mereka diwarnai keresahan karena tidak amannya daerah tujuan wisata yang mereka kunjungi, maka pastilah mereka tidak mau mengunjungi daerah wisata yang tidak aman itu.

Atas dasar keinginan untuk meningkatkan keamanan para wisatawan yang berkunjung ke daerah kunjungan wisata, maka diadakanlah Polisi Pariwisata. Polisi Pariwisata ini merupakan polisi yang khusus ditugaskan untuk mengamankan dan memperlancar kegiatan wisata yang dilakukan oleh para wisatawan.

pariwisata telah terbukti mampu memberi dampak positif dengan adanya perubahan yang besar dalam  kehidupan masyarakat. Secara ekonomi pariwisata memberi dampak dalam perluasan lapangan usaha dan kesempatan kerja, peningkatan income per kapita dan peningkatan devisa negara. Dalam bidang kehidupan sosial terjadi interaksi sosial budaya antara pendatang dan penduduk setempat sehingga dapat menyebabkan perubahan dalam way of life masyarakat serta terjadinya integrasi sosial.

Mengingat parisiwata memberikan kontribusi yang sangat besar terhadap pemasukan masyarakat, maka pemerintah menggalakkan sektor parisiwata dengan brusaha memenuhi apa yang menjadi kebutuhan wisatawan. Salah satu kebutuhan wisatawan adalah rasa aman dalam berwisata.

Berdasarkan uraian di atas maka penulis tertarik untuk meneliti apakah ada hubungan antara religiusitas dengan kecemasan moral di kalangan mahasiswa, khususnya mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Wangsa Manggala Yogyakarta.

 

B.  Tujuan dan Manfaat Penelitian

            Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan adanya hubungan antara tingkat religiusitas dengan kecemasan moral mahasiswa. Adapun manfaat yang diharapkan dalam penelitian ini adalah mampu memberikan manfaat baik secara teoritis maupun manfaat praktis, yaitu:

1.   Manfaat Teoritis

Penelitian ini diharapkan mampu menambah khasanah teoritis khususnya dalam bidang psikologi klinis dan psikologi islami.

 

2.   Manfaat Praktis

Hasil   penelitian   ini   dapat   digunakan  sebagai  pengetahuan  praktis  untuk

mengetahui tingkat kecemasan moral dan religiusitas di kalangan mahasiswa Universitas Wangsa Manggala pada khususnya, dan remaja pada umumnya.

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERSELINGKUHAN DALAM KELUARGA


st1\:*{behavior:url(#ieooui) }

/* Style Definitions */ table.MsoNormalTable {mso-style-name:”Table Normal”; mso-tstyle-rowband-size:0; mso-tstyle-colband-size:0; mso-style-noshow:yes; mso-style-parent:””; mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; mso-para-margin:0cm; mso-para-margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:10.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-ansi-language:#0400; mso-fareast-language:#0400; mso-bidi-language:#0400;} table.MsoTableGrid {mso-style-name:”Table Grid”; mso-tstyle-rowband-size:0; mso-tstyle-colband-size:0; border:solid windowtext 1.0pt; mso-border-alt:solid windowtext .5pt; mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; mso-border-insideh:.5pt solid windowtext; mso-border-insidev:.5pt solid windowtext; mso-para-margin:0cm; mso-para-margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:10.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-ansi-language:#0400; mso-fareast-language:#0400; mso-bidi-language:#0400;}

BAB I

PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang Masalah

Perkawinan untuk membentuk dan membangun rumah tangga yang bahagia pasti didambakan oleh setiap pasangan suami isteri. Tidak ada orang yang ketika melakukan perkawinan mengharapkan terjadi sesuatu yang buruk dalam perkawinannya.

Pasal 1 Undang-Undang Nomor 1 (Tahun 1974) tentang Perkawinan menyebutkan bahwa tujuan perkawinan adalah mewujudkan keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Berdasarkan pengertian itu sebenarnya tidak perlu ragu lagi apakah yang sebenarnya dituju dalam perkawinan itu. Di lain pihak ada kemungkinan terdapat tujuan yang tidak sama antara suami-isteri. Tujuan yang tidak sama antara suami-isteri akan merupakan sumber permasalahan dalam keluarga.

Berbicara mengenai tujuan perkawinan memang merupakan hal yang tidak mudah, tetapi ini tidak berarti bahwa tidak dapat dilaksanakan. Tujuan yang sama harus benar-benar diresapi oleh masing-masing pasangan dan harus disadari bahwa tujuan itu hanya dapat dicapai secara bersama-sama, bukan hanya oleh isteri atau suami saja.

Tujuan perkawinan itu di samping membentuk keluarga yang bahagia, juga untuk membentuk keluarga yang kekal. Ini berarti bahwa dalam perkawinan perlu disadari bahwa perkawinan berlaku untuk seumur hidup, untuk selama-lamanya. Karena itu diharapkan agar pemutusan ikatan suami-isteri itu tidak terjadi kecuali karena kematian; sedangkan pemutusan lain diberikan kemungkinan yang sangat ketat. Pemutusan ikatan antara suami-isteri dalam bentuk perceraian hanyalah merupakan jalan yang terakhir, setelah usaha-usaha lain memang benar-benar telah tidak dapat memberikan pemecahan.

Salah satu goncangan yang menyebabkan terjadinya perpecahan dalam kehidupan rumah tangga suami isteri adalah adanya perselingkuhan yang dilakukan oleh salah satu pihak atau kedua belah pasangan. Perselingkuhan ini terjadi jika suami atau isteri yang telah terikat di dalam perkawinan menjalin hubungan dengan laki-laki/wanita lain. Perselingkuhan ini sering berakhir pada perceraian antara suami isteri. Dengan terjadinya perceraian tersebut maka hancurlah mahligai rumah tangga yang telah terbina. Hal ini terungkap dari penyebab perceraian yang terjadi di Denpasar, yaitu pada tahun 2000, Kantor Agama Denpasar mencatat ada 200 perkara perceraian masuk ke Pengadilan. Dari jumlah tersebut 75 persen karena kasus perselingkuhan. Berdasarkan  data tersebut, tampak jelas bahwa perceraian di Bali didominasi karena perselingkuhan. Tahun 2001 sampai dengan Juni, jumlah kasus perceraian kian meningkat menjadi 200 kasus. (Anonim, 2003).

Hal yang sama juga terjadi pada Pengadilan Agama Yogyakarta dan Samarinda. Dari kasus perceraian yang terjadi di Pengadilan Agama Yogyakarta diketahui bahwa perceraian yang terjadi di Pengadilan Agama Yogyakarta pada tahun 2003 disebabkan oleh banyak faktor. Faktor-faktor tersebut adalah sebagai berikut :

  1. Perselingkuhan, baik yang dilakukan oleh suami maupun oleh isteri.
  2. Terjadi pertengkaran terus-menerus antara suami dan isteri.
  3. Masalah ekonomi keluarga.
  4. Suami tidak memberi nafkah lahir batin kepada isteri dan anak-anaknya.
  5. Suami suka memukul isteri.

Dari kelima faktor penyebab perceraian yang ada di Pengadilan Agama Yogyakarta, perselingkuhan menduduki 50 persen penyebab terjadinya perceraian, sehingga merupakan penyebab perceraian tertinggi di antara keempat penyebab lainnya yang hanya menduduki 16 persen untuk perceraian akibat terjadi pertengkaran terus-menerus antara suami dan isteri, 24 persen akibat masalah ekonomi keluarga, 3 persen karena suami tidak memberi nafkah lahir batin kepada isteri dan anak-anaknya, dan 7 persen karena suami suka memukul isteri. Dengan demikian urutan penyebab perceraian di Pengadilan Agama Yogyakarta dari yang paling banyak  sampai  yang paling sedikit  adalah :

  1. Perselingkuhan, menempati 50 persen.
  2. Masalah ekonomi keluarga menempati 24 persen.
  3. Pertengkaran terus-menerus antara suami dan isteri, menempati 16 persen.
  4. Suami suka memukul isteri, menempati 7 persen.
  5. Suami tidak memberi nafkah lahir batin kepada isteri dan anak-anaknya, menempati 3 persen.

Seluruh jumlah perceraian yang terjadi di Pengadilan Agama Yogyakarta pada tahun 2003 adalah 568 perceraian. Karena penyebab perselingkuhan menempati 50 persen, berarti ada 284 perceraian yang terjadi karena perselingkuhan.

Perselingkuhan yang dimaksud baik dilakukan oleh suami maupun oleh isteri. Menurut Hakim Pengadilan Agama Yogyakarta, perselingkuhan menjadi penyebab utama perceraian karena kunci kebahagiaan rumah tangga adalah adanya kesetiaan dari masing-masing pihak, karena jika sudah terikat sebagai suami isteri berarti bahwa para pihak harus sudah melepaskan diri dari rasa cinta kepada lawan jenis yang lain selain suami atau isterinya. Selain itu sifat orang yang mencintai biasanya secara psikologis paling merasa tersakiti jika orang yang dicintainya mencintai orang lain. Oleh karena itulah banyak pasangan yang memutuskan untuk bercerai saja jika salah satu pihak sudah dihinggapi penyakit selingkuh tersebut.

Selain itu ada pula faktor penyebab perceraian yang lain yaitu masalah ekonomi. Masalah ekonomi yang sering muncul adalah pihak suami tidak mampu mencukupi kebutuhan rumah tangganya, sehingga keluarganya hidup dalam serba kekurangan. Untuk mencukupi kebutuhan yang ada maka isteri ikut bekerja. Yang sering jadi masalah adalah jika penghasilan isteri melebihi penghasilan suami, maka isteri merasa lebih tinggi derajatnya dari suami karena merasa berjasa sebagai penyelamat keluarga. Bermula dari perasaan seperti inilah maka suami kemudian menjadi merasa tidak nyaman berada di dekat isteri dan kemudian sering terjadi pertengkaran yang akhirnya berakhir pada perceraian.

Penyebab lain perceraian di Pengadilan Agama Yogyakarta adalah pertengkaran terus-menerus antara suami dan isteri. Pertengkaran ini bisa bersumber dari masalah apa pun. Biasa masalah ekonomi, masalah kecemburuan pada pihak lain, masalah anak, dan masalah-masalah lainnya. Dalam hal ini sebenarnya yang menjadi sumber masalah adalah tidak adanya saling pengertian antara masing-masing pihak, semua pihak mau menang sendiri, sehingga akhirnya keduanya saling menyalahkan dan terlibat dalam pertengkaran. Banyak pendapat mengatakan bahwa pertengkaran di dalam keluarga adalah bumbu penyedap rumah tangga yang akan menambah akrab suasana di dalam rumah tangga. Pendapat ini bisa jadi memang benar jika pertengkaran yang dilakukan tersebut tetap melibatkan akal sehat untuk mencari kebenaran, sedangkan jika pertengkaran itu hanya dilakukan untuk mencari kebenarannya sendiri, maka pepatah itu tidak berlaku. Oleh karena itulah banyak rumah tangga yang bercerai akibat seringnya terjadi pertengkaran antara suami isteri.

Penyebab perceraian yang lain adalah suami suka memukul isteri. Pemukulan di dalam keluarga seharusnya tidak pernah terjadi, karena rumah tangga merupakan sumber kebahagiaan dan bukan sebagai tempat pertarungan. Apalagi jika perterungan itu berat sebelah, yaitu salah satu pihak lebih kuat dari pihak lainnya. Oleh karena itulah seringkali pemukulan yang dilakukan oleh suami terhadap isteri menjadi sumber penyebab perceraian di Pengadilan Agama Yogyakarta.

Penyebab perceraian terakhir di Pengadilan Agama Yogyakarta adalah suami tidak memberi nafkah lahir batin kepada isteri dan anak-Setelah terikat dalam kehidupan rumah tangga, seorang suami mempunyai kewajiban untuk memberi nafkah lahir dan batin bagi keluarganya. Akan tetapi sering terjadi seorang suami tidak melakukan hal tersebut sehingga seorang isteri terpaksa harus bekjerja keras guna mencukupi kebutuhan keluarganya. Padahal sang suami sendiri sebenarnya mampu untuk memenuhi nafkah lahir dan batin bagi keluarganya. Hal yang seperti ini sering membuat isteri menjadi tidak dianggap sebagai isteri oleh suami, dan akhirnya memutuskan lebih baik bercerai daripada mempunyai suami yang tidak memperhatikan keluarganya.

Selanjutnya, dari penelitian yang dilakukan di Pengadilan Agama Samarinda diketahui bahwa ada 10 alasan penyebab perceraian yang sering dikemukakan oleh suami isteri yang bercerai, yaitu :

  1. Poligami tidak sehat
  2. Krisis akhlak
  3. Cemburu
  4. Kawin paksa
  5. Ekonomi
  6. Tidak ada tanggung jawab
  7. Kawin di bawah umur
  8. Penganiayaan
  9. Gangguan pihak ketiga
  10. Tidak ada keharmonisan

Dari ke-10 penyebab perceraian tersebut, pada tahun 2003 jumlah perceraian yang terjadi karena alasan-alasan tersebut adalah sebagai berikut :

Tabel 1. Penyebab Perceraian di Pengadilan Agama Yogyakarta.

Penyebab Perceraian

Jumlah

Persentase (%)

1.      Poligami tidak sehat

2.      Krisis akhlak

3.      Cemburu

4.      Kawin paksa

5.      Ekonomi

6.      Tidak ada tanggung jawab

7.      Kawin di bawah umur

8.      Penganiayaan

9.      Gangguan pihak ketiga

10.  Tidak ada keharmonisan

4

50

62

2

148

120

1

13

74

152

0,63

7,98

9,90

0,31

23,64

19,16

0,15

2,07

11,82

24,28

Jumlah

626

100

Sumber : Pengadilan Agama Samarinda, Tahun 2003.

Berdasarkan data yang diperoleh di atas, dapat diketahui bahwa urutan penyebab perceraian dari yang paling banyak sampai yang paling sedikit di Pengadilan Agama Samarinda adalah sebagai berikut :

1.      Tidak ada keharmonisan, menempati 24,28 persen.

2.      Ekonomi, menempati 23,64 persen.

3.      Tidak ada tanggung jawab, menempati 19,16 persen.

4.      Gangguan pihak ketiga, menempati 11,82 persen.

5.      Cemburu, menempati 9,90 persen.

6.      Krisis akhlak, menempati 7,98 persen.

7.      Penganiayaan, menempati 2,07 persen.

8.      Poligami tidak sehat, menempati 0,63 persen.

9.      Kawin paksa, menempati 0,31 persen.

10.  Kawin di bawah umur, menempati 0,15 persen.

Berdasarkan alasan-alasan penyebab perceraian di Pengadilan Agama Samarinda di atas, dapat diketahui bahwa penyebab perceraian karena perselingkuhan memang tidak disebutkan secara persis, akan tetapi dari hasil wawancara dengan Bapak Ketua Pengadilan Agama Samarinda, Bapak Drs. Jalal Aromi, S.H. dapat diketahui bahwa alasan penyebab perceraian yang sebenarnya disebabkan oleh perselingkuhan adalah :

1.      Tidak ada keharmonisan, menempati 24,28 persen.

2.      Gangguan pihak ketiga, menempati 11,82 persen.

3.      Cemburu, menempati 9,90 persen.

4.      Poligami tidak sehat, menempati 0,63 persen.

Keempat alasan perceraian di atas, menempati jumlah 46,64 persen dari total perceraian yang ada di Pengadilan Samarinda atau sama dengan 292 kasus.

Jika dibandingkan jumlah perceraian karena perselingkuhan di Pengadilan Agama Yogyakarta yang mempunyai 284 kasus dan jumlah perceraian karena perselingkuhan di Pengadilan Agama Samarinda yang mempunyai 292 kasus, maka dapat diketahui bahwa jumlah perceraian karena perselingkuhan di kedua Pengadilan Agama tersebut hampir sama jumlahnya dan menempati jumlah tertinggi dari berbagai alasan penyebab perceraian yang terjadi di dalam masyarakat.

Para suami isteri yang bercerai karena adanya perselingkuhan biasanya berakhir dengan hubungan yang kurang baik. Hal ini dikarenakan mereka merasa dihianati oleh pasangannya sehingga mereka merasa benci dengan pasangannya. Selain perasaan benci ada juga perasaan sedih dari pasangan yang bercerai itu. Di lain pihak anak-anak yang telah lahir dari perkawinan itu juga menunjukkan kecenderungan yang sama, yaitu perasaan marah dan sedih. Perasaan marah ditunjukkan pada orang tua mereka yang melakukan perselingkuhan, sedangkan perasaan sedih ditunjukkan kepada orang tua mereka yang menjadi korban perselingkuhan.

Banyaknya kasus perceraian karena perselingkuhan ini merupakan suatu kenyataan yang sangat menarik untuk dikaji. Khususnya mengenai faktor-faktor penyebab perselingkuhan. Dalam prakteknya, perselingkuhan ini lebih sering dilakukan oleh pihak suami daripada pihak isteri. Perlu diteliti mengapa hal itu terjadi.

Berdasarkan atas uraian tersebut di atas, maka peneliti tertarik untuk meneliti tentang Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perselingkuhan dalam Keluarga.

 

B.   Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian disini ialah untuk mengetahui apa yang menyebabkan perselingkuhan yang dilakukan oleh seorang suami di dalam kehidupan rumah tangga, bagaimana perselingkuhan itu dilakukan, dan selain itu juga ingin diketahui akibat dari perselingkuhan itu dan penyelesaiannya, sehingga penelitian ini bisa mendeskripsikan secara gamblang aspek-aspek yang berkaitan dengan perselingkuhan oleh suami secara keseluruhan.

 

C.   Manfaat Penelitian

1.   Secara Teoritis

Diharapakan penelitian ini mampu memberikan sumbangan yang berguna untuk perkembangan ilmu psikologi, khususnya dalam bidang kajian psikologi klinis yang mempelajari masalah perselingkuhan oleh suami.

2.  Secara Praktis

Mampu    memberikan   informasi   tentang   aspek-aspek   yang   berkaitan  dengan perselingkuhan pada suami, sehingga dapat dijadikan sebagai pengetahuan untuk dapat mencegah terjadinya perselingkuhan yang dilakukan oleh suami.

PERBEDAAN MOTIVASI BERPRESTASI ANTARA KARYAWAN KONTRAK DAN KARYAWAN TETAP DI PT. BANK RAKYAT INDONESIA (PERSERO) CABANG ….

/* Style Definitions */ table.MsoNormalTable {mso-style-name:”Table Normal”; mso-tstyle-rowband-size:0; mso-tstyle-colband-size:0; mso-style-noshow:yes; mso-style-parent:””; mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; mso-para-margin:0cm; mso-para-margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:10.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-ansi-language:#0400; mso-fareast-language:#0400; mso-bidi-language:#0400;}


BAB I

PENDAHULUAN

 

A.     Latar Belakang Masalah

Manusia dalam sebuah organisasi memiliki peran sentral dalam menggerakkan roda perkembangan dan laju produktivitas organisasi. Mengingat peran yang cukup dominan tersebut, maka segala upaya yang dilakukan untuk menentukan sebuah sistem yang mengatur kinerja manusia agar lebih efektif dan efisien dalam organisasi akan terus dilakukan. Belum lagi menghadapi laju modernisasi dan perkembangan teknologi yang menuntut institusi organisasi untuk peka dan responsif terhadap tuntutan jaman. Kualitas sumber daya manusia mempunyai pengaruh yang signifikan dengan kemampuan dan kemajuan organisasi. Sumber daya manusia merupakan aset penting yang sangat berharga untuk menunjang keberhasilan organisasi. Oleh karena itu, agar sebuah organisasi atau perusahaan dapat lebih berkembang secara optimal, maka rekrutmen terhadap orang-orang potensial bermotivasi tinggi untuk mengembangkan sumber daya manusia, menjadi pilihan strategis yang harus dilakukan pengelola organisasi. Manusia sebagai sumber daya potensial merupakan sumber kekuatan suatu organisasi, sebab manusialah yang menggerakkan organisasi. Begitu pula sebaliknya, menggerakkan organisasi berarti harus menggerakkan manusianya.  

Produktivitas dan kinerja yang tinggi akan lebih terjamin, jika organisasi mempunyai cara yang tepat untuk menjaga produktivitas karyawan. Melalui pemeriksaaan psikologis dalam rekrutmen dan seleksi, organisasi akan memperoleh karyawan potensial yang sesuai dengan tuntutan pekerjaan. Demikian pula halnya untuk evaluasi potensi dan promosi karyawan, dapat dilakukan pemeriksaan psikologik yang berkaitan dengan prestasi kerja sehingga manajemen dapat mengambil keputusan dan penanganan yang tepat dalam mengembangkan SDM organisasi atau perusahaan (Ubaya, 2002).

Dunia perbankan misalnya, sejak bulan Juli 1997 menunjukkan kondisi yang sangat memprihatinkan, ditandai dengan semakin memburuknya kinerja karyawan dan melambatnya kegiatan bank dalam menjalankan fungsinya. Faktor penyebabnya antara lain adalah melemahnya manajemen bank (tidak profesional) dan minimnya kepatuhan karyawan terhadap kode etik. Dampak dari krisis perbankan yang dapat dilihat dari sektor riil adalah meningkatnya pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap karyawan dan banyaknya sektor usaha yang mengalami kemacetan (Warta BRI, 2002).

Sebagaimana layaknya sebuah organisasi, salah satu fungsi strategis yang memegang peranan penting dalam perbankan adalah sumber daya manusianya. Mengingat peran karyawan bank yang cukup dominan terhadap tingkat resiko operasional bank maka, kualitas dan lingkungan kerja bank harus terus ditingkatkan. Ketidakmampuan manajemen bank dalam mengelola sumber daya manusia dengan baik akan mengakibatkan tingkat resiko operasional yang berbahaya. Investasi pada sumber daya manusia memang tidak dapat diukur keuntungannya dalam jumlah rupiah, tetapi akan dapat diamati dan dirasakan keberadaannya.

Program-program   pendidikan   dan  pelatihan,  perbaikan  kompensasi  dan pemberian punishment, serta penetapan jenjang karier yang jelas pada sejumlah karyawan dapat digunakan  untuk  meningkatkan  kualitas  sumber  daya  manusia (Warta BRI, 2002).

Fenomena terbaru yang tengah mencuat ke permukaan baru-baru ini, khususnya di dunia perbankan adalah munculnya istilah karyawan kontrak. Kebijakan organisasi atau perusahaan tersebut, banyak menimbulkan persoalan, khususnya di kalangan karyawan kontrak. Karena aktivitas kerja dalam organisasi selalu dibayangi perasaan ketidakpastian, khususnya menjelang kontrak berakhir. Luapan dari perasaan ketidakpastian ini tak jarang berakhir dengan aksi demonstrasi karyawan kontrak yang menuntut kepastian nasib mereka kedepan. Seperti yang terjadi pada Bank BNI ’46, di mana 200 karyawan yang tergabung dalam tim perjuangan karyawan honorer, kontrak, borongan dan outsourcing BNI 1946 melakukan unjuk rasa menuntut kepastian nasib mereka kedepan (Tempo Interaktif, 2003)

Mengingat berkecamuknya perasaan dan pikiran penuh ketidakpastian yang terus datang, maka implikasi psikologis terhadap kinerja karyawan akan nampak pada motivasi karyawan kontrak. Namun demikian, ketidakpastian masa depan juga bisa menambah semangat kerja atau motivasi kerja karyawan kontrak untuk semakin produktif dan mendapatkan penilaian lebih dari perusahaan. Hal ini karena produktivitas dan kinerja karyawan kontrak, merupakan penilaian utama diperpanjangnya masa kontrak mereka oleh perusahaan. Salah satu faktor yang harus dimiliki para karyawan adalah motivasi berprestasi dalam bekerja, yang berfungsi untuk memacu semangat kerja dan prestasi kerja karyawan. Kecenderungan terbesar perusahaan atau organisasi menggunakan karyawan kontrak lebih disebabkan adanya kontrol perusahaan terhadap produktivitas dan kinerja karyawan.

Motivasi merupakan pendorong yang menyebabkan seseorang rela untuk menggerakkan kemampuan tenaga dan waktunya untuk menjalankan semua kegiatan yang telah menjadi tugas dan tanggung jawabnya agar kewajibannya terpenuhi serta sasaran dan tujuan yang ingin dicapai perusahaan terwujud. Manusia memiliki banyak motivasi dasar yang berperan penting dalam dunia kerja yaitu motivasi yang diberikan perusahaan dan asuransi. Sedangkan imbalan yang non finansial lebih kepada situasi lingkungan kerja yang tercipta dengan baik dan fasilitas-fasilitas yang mendukung kegiatan karyawan di tempat bekerja, sehingga karyawan merasa nyaman dan dapat bekerja dengan baik.

Dalam dunia kerja, motivasi menempati unsur terpenting yang harus dimiliki karyawan. Sebab motivasi merupakan kemampuan usaha yang dilakukan seseorang untuk meraih tujuan dan disertai dengan kemampuan individu untuk memuaskan kebutuhan-kebutuhannya. Menurut McClelland (1987), manusia memiliki banyak motivasi dasar yang berperan penting dalam dunia kerja yaitu motivasi berprestasi (n – Ach), motivasi berkuasa (n – Pow), dan motivasi berafiliasi (n – Aff). Dari ketiga motivasi dasar tersebut, motivasi berprestasi memiliki peranan yang sangat besar dalam dunia kerja karena dengan usaha yang terus-menerus meraih prestasi, secara empiris terbukti memberikan sumbangan yang besar terhadap munculnya bentuk-bentuk perilaku berwiraswasta serta pertumbuhan ekonomi negara (McClelland, 1987).

Motivasi berprestasi karyawan dalam bekerja di suatu perusahaan (dalam hal ini bank) yang baik akan memberikan dampak positif, baik bagi diri individu maupun pihak bank. Sikap positif yang ditunjukkan karyawan terhadap perusahaan, merupakan cerminan motivasi berprestasi pada diri karyawan tinggi. Pengelola bank, dalam konteks ini harus memberikan jalan terbaik, dengan jalan lebih memperhatikan para karyawan agar mereka dapat bekerja secara efektif. Motivasi berprestasi menjadi komponen yang sangat berperan dalam mewujudkan sumber daya manusia yang berkualitas. Karyawan memiliki motivasi berprestasi yang tinggi akan mempunyai semangat, keinginan dan energi yang besar dalam diri individu untuk bekerja seoptimal mungkin. Motivasi berprestasi karyawan yang tinggi akan membawa dampak positif bagi perusahaan dan meningkatkan daya saing para karyawan.

Berkaitan dengan motivasi berprestasi yang sangat penting dalam operasi perusahaan, dewasa ini kerugian yang dialami PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) merupakan akibat dari resiko operasional yang disebabkan oleh lemahnya sumber daya manusia perusahaan, serta sistem dan prosedur yang ada, antara lain Peraturan Pemerintah mengenai ketenagakerjaan belum kondusif dengan keadaan perusahaan. Di lain pihak, adanya persaingan antar perusahaan bank yang semakin meningkat, menuntut perusahaan untuk beroperasi secara efektif dan efisien.

Kerugian yang dialami Bank BRI dalam hal rekrutmen adalah perusahaan seringkali menanggung berupa pembayaran biaya pesangon yang cukup tinggi pada saat akan melaksanakan operasi perusahaan yang lebih efektif. Adanya kenyataan ini mendorong perubahan sistem rekrutmen sumber daya manusia PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero). Salah satu alternatifnya yaitu mengadakan sistem kontrak karyawan. Di dalam sistem kontrak ini, pihak PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) memberikan syarat-syarat dalam penerimaan karyawan yang memiliki dedikasi tinggi dan berpengalaman (Warta BRI, 2002).

Pihak Bank menerapkan sistem kontrak terhadap beberapa karyawan di bagian-bagian tertentu. Salah satu sistem kayawan kontrak yang telah diterapkan di BRI adalah selama 1 (satu) tahun, jika karyawan tersebut memiliki dedikasi yang tinggi selama bekerja maka ada kemungkinan dapat diangkat menjadi karyawan tetap apabila memenuhi kriteria di atas, pihak Bank akan memperpanjang kontraknya. Jika selama masa kontrak 1 (satu) tahun karyawan tersebut tidak bekerja dengan baik maka setelah kontraknya habis langsung dilakukan pemutusan kerja kepada yang bersangkutan (Warta, BRI 2000).

Lebih lanjut, dalam Warta BRI (2000) disebutkan bahwa para karyawan yang bekerja di PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) dan terikat sistem kontrak adalah karyawan pada bagian teller, unit pelayanan nasabah (customer service), pemasaran dan pekerja di bagian out service seperti satpam, pramubakti  (cleaning service) dan sopir, karyawan di bagian teller dan unit pelayanan nasabah memiliki peluang lebih besar untuk diangkat menjadi karyawan tetap pihak Bank merasa puas dan mempertimbangkan perpanjangan kontrak mereka atau mengangkat menjadi karyawan tetap.

Dapat dikatakan secara umum, pihak Bank menginginkan para karyawannya untuk berkarya pada perusahaan bersangkutan selama masa aktif kontraknya. Dengan kata lain pihak Bank tidak menginginkan terjadinya pemutusan kerja setelah masa kontraknya habis dengan berbagai alasan, sebagai akibatnya pihak Bank harus kembali merekrut karyawan kontrak baru dan akan memerlukan waktu lebih lama untuk proses perekrutan tersebut.

Pembaharuan kontrak diadakan hanya pada karyawan kontrak yang dinilai mempunyai prestasi kerja yang tinggi. Hal ini berakibat tingginya motivasi karyawan kontrak untuk berprestasi, karena mereka tidak menginginkan prestasi kerjanya dinilai rendah oleh perusahaan, sehingga berakibat terjadi pemutusan kontrak oleh pihak bank. Adanya situasi seperti ini membuat penggunaan karyawan kontrak menjadi alternatif yang disukai oleh pihak bank, karena mendapatkan prestasi kerja yang tinggi dari karyawan.

Berbeda dengan karyawan tetap, secara umum karyawan tetap yang bekerja dalam sebuah perusahaan cenderung lebih merasa aman. Sebab kepastian masa depan kerja sangat ditentukan oleh sikap positif yang ditunjukkan selama bekerja, dan tidak dibatasi oleh waktu atau masa kontrak. Salah satu faktor yang akan membuat mereka termotivasi dalam bekerja adalah pencapaian jenjang karier atau jabatan dalam perusahaan tersebut. Namun sebaliknya, jika sikap positif yang ditunjukkan karyawan tetap dalam bekerja sangat minim, maka motivasi berprestasi karyawan tetap tersebut akibatnya menjadi sangat rendah. Adanya rasa aman menjadi karyawan tetap, tak jarang menjadikan karyawan yang bersangkutan terlena dan tidak terpacu dengan target-target perusahaan. Kondisi ini menciptakan situasi tidak produktif dalam diri karyawan dan tentunya akan sangat berpengaruh terhadap pencapaian target dan produktivitas perusahaan. 

Selain itu dalam perjalanan karier, karyawan selalu memerlukan pembinaan sistematik yang tidak dapat di dekati dengan cara-cara mekanistik, tetapi juga dengan memperhitungkan faktor-faktor motivasional yang berarti melakukan pendekatan-pendekatan yang bersifat psikologis. Salah satu hal yang sangat penting adalah kejelasan tangga karier, karena setiap orang yang bekerja pada suatu perusahaan ingin mencapai kemajuan dalam kariernya, baik dalam pangkat maupun jabatan. Kejelasan tangga karier dinilai sangat penting, sehingga karyawan harus memiliki pengetahuan yang jelas mengenai prosedur jenjang karier apa saja yang terbuka apabila memenuhi persyaratan yang ditetapkan oleh pihak Bank untuk masing-masing bagian yang terdapat di lingkungan kerjanya. Dalam meniti kariernya, seorang karyawan dinilai dari prestasi kerjanya dan bukan dari kriteria-kriteria yang subyektif seperti nepotisme dan kriteria lain sejenisnya, tetapi lebih kepada pertimbangan kemampuan seorang karyawan memberikan kontribusinya untuk kepentingan perusahaan secara keseluruhan.

Hal ini sangat penting karena persepsi karyawan tentang adil dan tidaknya kriteria-kriteria itu sangat mempengaruhi motivasi kerjanya. Penilaian seseorang mengenai kejelasan tangga karier menjadi bagian yang sangat penting jika dihubungkan dengan pemuasan berbagai kebutuhan seseorang, baik yang bersifat primer, sekunder dan intelektual psikologis. Hal itu akan membuat seseorang akan mulai membiasakan dirinya untuk hidup, berpikir, dan bertindak sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya.

Motivasi juga merupakan akibat dari interaksi seseorang dengan situasi tertentu yang dihadapinya. Oleh karena itu terdapat perbedaan kekuatan motivasi yang ditunjukkan oleh seseorang karyawan dalam menghadapi situasi tertentu dibandingkan dengan orang lain yang menghadapi situasi sama. Bahkan seseorang akan menunjukkan dorongan  tertentu dalam menghadapi situasi yang berbeda dan dalam waktu yang berlainan pula (Siagian, 1995). Begitu pula halnya antara karyawan kontrak dan karyawan tetap, perbedaan situasi yang dihadapi jelas akan sangat berpengaruh terhadap motivasi berprestasinya dalam bekerja. Karyawan kontrak yang menghadapi situasi dapat diputuskan kontraknya jika prestasi kerjanya rendah, akan termotivasi untuk meningkatkan prestasi kerjanya untuk mempertahankan kontraknya. Karyawan tetap yang menghadapi situasi tidak akan mengalami kenaikan jenjang karier jika prestasi kerjanya rendah, akan termotivasi untuk meningkatkan prestasi kerjanya untuk mencapai kenaikan jenjang karier yang diinginkannya.

Adanya karyawan kontrak dan karyawan tetap dalam sebuah perusahaan menjadi sebuah fenomena yang menarik untuk dikaji. Terutama dari segi perbedaan motivasinya untuk berprestasi. Hal ini membuat penulis tertarik untuk meneliti apakah ada perbedaan motivasi berprestasi antara karyawan kontrak dan karyawan pada PT. Bank Rakyat Indonesia Cabang Brigjend Katamso Yogyakarta (Persero)?

 

B.        Keaslian Penelitian

Penelitian mengenai motivasi berprestasi memang sudah banyak dilakukan oleh peneliti-peneliti sebelumnya, tetapi lebih banyak meneliti tentang motivasi kerja. Misalnya tentang motivasi kerja pada karyawan garmen (Sutoyo, 2001). Sepanjang pengetahuan  peneliti,  penelitian  tentang  motivasi  berprestasi  antara

karyawan kontrak dan karyawan tetap belum pernah dipublikasikan sebelumnya.

 

C.  Tujuan dan Manfaat Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui secara empirik perbedaan motivasi berprestasi antara karyawan kontrak dan karyawan tetap pada PT. Bank Rakyat Indonesia Cabang Katamso Yogyakarta (Persero).

Adapun manfaat yang diharapkan dalam penelitian ini adalah :

1.     Manfaat teoritis

a. Secara teoritis, membangun dan mengembangkan khasanah keilmuan dan pengetahuan di bidang sumber daya manusia.

b. Memberikan sumbangan kajian yang mendalam tentang perbedaan motivasi berprestasi karyawan kontrak dan karyawan tetap.

2.     Manfaat praktis

a.  Penelitian   diharapkan   dapat  berguna  bagi  masyarakat  terutama  di

lingkungan perbankan.

b.   Sebagai informasi terhadap segala kemungkinan yang menjadi dampak dari kebijakan yang telah dikeluarkan Bank.

 

DUKUNGAN SOSIAL DAN HARGA DIRI PADA PEMBANTU RUMAH TANGGA DI YOGYAKARTA


st1\:*{behavior:url(#ieooui) }

/* Style Definitions */ table.MsoNormalTable {mso-style-name:”Table Normal”; mso-tstyle-rowband-size:0; mso-tstyle-colband-size:0; mso-style-noshow:yes; mso-style-parent:””; mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; mso-para-margin:0cm; mso-para-margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:10.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-ansi-language:#0400; mso-fareast-language:#0400; mso-bidi-language:#0400;}

BAB I

PENDAHULUAN

 

A. Latar Belakang Masalah

Manusia adalah mahluk sosial sehingga dia tidak dapat hidup tanpa bantuan orang lain. Salah satu pekerjaan dalam bidang jasa yang sifatnya membantu pekerjaan rumah tangga adalah pembantu. Dengan kehadiran mereka tentu saja akan meringankan pekerjaan rumah tangga. Pembantu berasal dari kata dasar ‘bantu’, fungsi pembantu itu sendiri dulunya hanya sebatas orang yang membantu pekerjaan rumah tangga, walaupun kenyataannya kini peran mereka sudah tidak hanya membantu saja tapi juga menjadi pokok penyelesaian urusan rumah tangga. Mulai dari membersihkan rumah, belanja, memasak, mencuci baju sampai mengasuh anak. Dengan bantuan mereka ini, pemilik rumah mendapat banyak kemudahan dan tidak terlalu lelah.

Dalam hierarkhi jam kerja, jenis pekerjaan, dan hak-haknya, pembantu belum bisa diklasifikasikan ke dalam golongan  buruh baik yang bersifat formal maupun informal. Buruh mempunyai jam kerja yang jelas, jenis pekerjaannya jelas, ada hak-haknya yang dilindungi pemerintah dan yang pasti ada status yang jelas dalam pemerintah. Sedangkan pembantu, mereka merupakan  pekerja yang mempunyai keunikan tersendiri, yang tidak dimiliki oleh pekerja lainnya karena ia bekerja tanpa ada pembagian jam yang jelas, jenis pekerjaannnya tidak pasti, gaji yang rendah dan belum ada undang-undang yang dapat melindungi hak mereka. Pembantu bekerja mulai dari subuh sampai malam pun dia belum berhenti sampai kondisi rumah sudah tenang, jenis pekerjaannya bisa beragam tidak terpaku pada satu jenis saja misalnya mengasuh anak tetapi dia bekerja serabutan mulai dari memasak, membersihkan rumah sampai mengasuh anak, dengan gaji yang rendah.  Kondisi yang semacam ini dapat menyebabkan rendahnya harga diri pembantu.-

Contoh kasus yang terjadi, penulis mewawancarai seorang pembantu  bernama Sumi berumur 19 tahun, asal dari Wonogiri, dengan pendidikan terakhir lulusan SD. Sumi bekerja pada sebuah keluarga kecil yang tinggal di daerah jalan Patuk Yogyakarta. Sebelum bekerja di Yogya, Sumi pernah bekerja sebagai pembantu rumah tangga didaerah dekat rumahnya tetapi kemudian mendapat tawaran untuk bekerja di Yogya dengan imbalan yang cukup besar untuk ukuran orang desa akhirnya Sumi pun menyangupinya. Ketika peneliti bertanya mengenai pekerjaannya, Sumi menjawab bahwa “Ya, gajinya lebih banyak disini mbak daripada di desa, trus pekerjaannya tidak terlalu banyak, tapi saya slalu nanya yang harus saya kerjakan sama ibu (majikan perempuan) takut salah”. Dalam bekerja Sumi selalu  menunggu perintah dan petunjuk dari majikan, Sumi tidak berani mengeluarkan ide-ide walaupun dalam hal paling kecil seperti membersihkan dapur karena Sumi takut apa yang dikerjakannya akan membuat si majikan marah dan tidak berkenan. Sumi selalu merasa apa yang dia kerjakan adalah tidak benar dan Sumi selalu tergantung perintah dari majikan walaupun dalam hal yang sangat sepele.

Contoh kasus kedua melalui wawancara yang dilakukan peneliti dengan majikan sebut saja Ny. Maryati yang bertempat tinggal di kampung Notoyudan. Ny Maryati mempunyai seorang pembantu bernama Sinah, berumur 40 tahunan dan belum menikah. Sinah ini sudah lama bekerja di keluarga Ny. Maryati. Keluarga Ny Maryati senang dengan Sinah karena pekerjaan urusan rumah tangga selalu  terselesaikan dengan baik, loyalitas bekerja tinggi dan Sinah sangat jujur. Tapi dibalik kelebihannya itu, Sinah mempunyai kekurangan yaitu buta huruf dan kemampuan berbahasa Indonesia yang sangat buruk. Karena kekurangannya itu Sinah sangat tidak percaya diri dengan keadaanya  kalau harus bertemu dengan orang lain (hal ini ditunjukkan dengan ketidakmauan dia untuk keluar rumah ketika dimintai tolong oleh majikan untuk membeli sesuatu diwarung atau dipasar, walaupun ada catatan barang yang harus dibeli) dan tidak mudah menerima kehadiran orang lain di rumah majikan (disini maksudnya seorang pembantu juga dan perilaku Sinah ditunjukkan dengan uring-uringan dan berkata ketus kepada pembantu baru) karena Sinah merasa orang lain itu akan merebut perhatian majikan padahal maksud majikan mencarikan teman, agar pekerjaan Sinah cepat selesai.

Kasus ketiga mengenai ketidak mampuan seorang pembantu untuk bersosialisasi dengan lingkungan karena faktor profesi. Wawancara penulis dengan seorang pembantu rumah tangga bernama Sari, asal dari desa Giripanggung kecamatan Tepus kabupaten Gunungkidul, berumur 25 tahun. Sebenarnya Sari ingin bersosialisasi dengan lingkungan tempat bekerjanya, tetapi Sari tidak mampu melakukannya karena takut diejek oleh orang-orang sekelilingnya. Karena tidak ada rasa percaya diri dan selalu berfikir dirinya tidak berguna, membuat Sari semakin enggan untuk keluar rumah.

Dari kasus-kasus di atas tampak bahwa ada pembantu rumah tangga mempunyai harga diri yang rendah. Hal ini disesuaikan dengan pendapat Frey dan Carlock (dalam Koentjoro 1989) yang mengatakan bahwa orang yang mempunyai harga diri rendah mempunyai indikator: tidak yakin terhadap dirinya sendiri, kurang mampu mengekspresikan dirinya sendiri dan juga ide-idenya, merasa tidak diperhatikan, menganggap apa yang dilakukan akan selalu menghasilkan sesuatu yang buruk, cenderung menolak dirinya dan merasa dirinya tidak puas. Harga diri yang rendah menurut Divista dan Thomson (dalam Lector, 1999) adalah sebuah perilaku yang menunjukkan sifat tergantung, kurang percaya diri, pesimistis, dan tidak jarang mereka terbentur kesulitan dalam proses sosialisasi berdasarkan uraian di atas peneliti menyimpulkan bahwa orang yang memiliki harga diri rendah akan mempunyai ciri-ciri memandang dirinya sebagai orang yang gagal dan tidak baik, kurang realistis dalam melihat kemampuan, tidak percaya dengan kemampuan dan usaha, tidak mudah menerima kehadiran orang lain, tidak mampu mengekspresikan dirinya sendiri, pesimistis, tergantung dan kurang percaya diri.

Menurut Koentjoro (Roosmayanti, 1998), faktor yang dapat mempengaruhi harga diri seorang pembantu rumah tangga ketika bekerja pada majikannya yaitu faktor fisik, faktor pakaian, faktor nama dan panggilan, faktor intelegensi, tingkat aspirasi, faktor emosi, faktor status sosial dan faktor keluarga. Faktor fisik misalnya perlakuan secara fisik majikan kepada pembantu seperti memukul, menampar, dan mendorong, ketika si pembantu melakukan kesalahan. Faktor pakaian misalnya diberikan seragam untuk bekerja sehingga dengan seragam yang layak ia merasa dihargai. Faktor nama dan panggilan bisa berpengaruh terhadap harga diri pembantu. Biasanya pembantu senang dipanggil dengan nama yang lebih modern, misalnya namanya Saniyem, jika majikan memanggilnya dengan nama Iyem maka harga dirinya tidak akan setinggi jika ia dipanggil dengan nama Sani atau Ani.

Faktor intelegensi disini maksudnya jika seorang pembantu pernah sekolah dan mempunyai tingkat intelegensi yang baik, maka ketika di beri kepercayaan untuk menyelesaikan sesuatu, misalnya disuruh mengurusi keuangan belanja atau diminta mengajari anak majikan yang masih TK atau SD maka harga dirinya akan bertambah. Tingkat aspirasi maksudnya majikan  mau mendengarkan aspirasi dari pembantunya dan jika aspirasi itu baik, majikan mengijinkan si pembantu untuk menerapkannya, misalnya “ Bu, itu kulkasnya saya bersihkan ya soalnya sudah mulai tercium bau tidak enak”.

Faktor emosi maksudnya majikan mau mendengarkan  keluh kesah atau permasalahan si pembantu sehingga si pembantu merasa dihargai. Faktor status sosial misalnya si pembantu diijinkan ikut arisan atau kegiatan kampung dan diijinkan untuk bergaul dengan siapa saja di luar rumah. Faktor keluarga disini maksudnya keluarga si pembantu mendukung sepenuhnya kerja si pembantu dan dari pihak keluarga majikan menghargainya, karena ada dukungan dan penerimaan dari kedua pihak tersebut maka akan meningkatkan harga diri.

Manusia sebagai mahluk sosial tentunya membutuhkan bantuan atau pertolongan dari orang lain dalam segala hal. Kebutuhan akan pertolongan orang lain ini, tidak hanya dalam bentuk materi saja akan tetapi dapat juga berbentuk immateri, misalnya dukungan ( support) dalam melakukan sesuatu.

Contoh kasus yang diambil oleh penulis berdasarkan wawancara dengan seorang pembantu rumah tangga. Kamiah (35 tahun) yang bekerja di kampung Notoyudan Yogyakarta pernah menderita penyakit epilepsy (ayan). Menurut majikannya ketika diwawancarai, pada saat penyakitnya kambuh, Kamiah akan mengalami kejang-kejang, menggelepar, kepalanya dibentur-benturkan pada apa saja yang didekatnya, dari mulut keluar semacam buih putih dan kejadian ini berlangsung antara 5–10 menit. Karena majikannya peduli terhadap pembantunya, Kamiah tidak dipulangkan tetapi justru dibawa ke dokter untuk diperiksa, diobati dan diberi makan makanan yang bergizi. Sampai akhirnya Kamiah sembuh dan penyakit ayannya tidak pernah kambuh lagi. Kamiah merasa diperhatikan, dihargai, diberikan bantuan, dibesarkan hatinya, diperlakukan layaknya sebagai anggota keluarga, sehingga sampai saat ini ia mengabdi di keluarga tersebut sampai mencapai 24 tahun. Sifat dari Kamiyah sesuai dengan teori dari Koentjoro (dalam Lector, 1999) yang menyimpulkan bahwa harga diri yang tinggi muncul karena adanya penerimaan, dan perlakuan orang lain yang ditunjukkan pada dirinya serta di dalamnya terkandung adanya perasaan menyukai diri sendiri. Hal ini sesuai juga dengan pendapat Noerjiman (dalam Ester Lies, 1992) yang menyatakan bahwa harga diri muncul karena adanya perasaan diterima dan dihargai oleh orang lain, penilaian yang positif terhadap dirinya sendiri, dan merasa dirinya berharga, mempunyai arti dan nilai.

Manusia sebagai mahluk sosial tentunya membutuhkan bantuan atau pertolongan dari orang lain dalam segala hal. Kebutuhan akan pertolongan orang lain ini, tidak hanya dalam bentuk materi saja akan tetapi dapat juga berbentuk inmateri, misalnya dukungan (support) dalam melakukan sesuatu sesuai dengan pendapat Johnson dan Johnson (1991). Dengan adanya dukungan sosial ini diharapkan dapat memperkuat atau menaikkan perasaan harga diri seseorang, membantu menghadapi dan menyelesaikan masalah, Jadi fungsi dukungan sosial adalah : memberikan bantuan dalam bentuk penyelesaian masalah sehingga akan memperkuat perasaan harga diri seseorang yang kemudian dapat dengan yakin mengambil kesimpulan terhadap suatu permasalahan.

Berdasarkan wawancara dengan salah satu tokoh dari rumpun Tjoet Nya Dien bernama Dewi, yang berperan sebagai mediator, permasalahan yang terjadi bisa disebabkan oleh majikan, orang tua si pembantu atau teman-temannya. Tetapi bisa juga kebalikannya, malah mereka yang memberikan dukungan. Misalnya adalah tidak semua para majikan  memberikan kebebasan kepada pembantunya untuk bersosialisasi, misalnya tidak diperbolehkan menerima telepon atau menerima tamu untuk si pembantu, tidak memberi ijin untuk pergi dengan teman-temannya untuk rekreasi walaupun pekerjaannya telah selesai, sehingga ia merasa diperbudak oleh majikannya dan lama kelamaan muncul perasaan bahwa martabatnya lebih rendah dibanding orang lain.

Dari segi orang tua si pembantu yang dapat menurunkan harga dirinya adalah kata-kata yang sifatnya merendahkan misalnya menyangkut masalah intelektual seperti “Kamu baca tulis saja tidak bisa kok neko-neko mau bekerja di pabrik, mending jadi pembantu saja, makan tidur sudah ditanggung, dapat gaji, tidak usah mikir tempat tinggal”. Dari segi teman sekampung yang tingkat pendidikannya lebih tinggi, misalnya berupa ejekan “Kamu di kerja di kota cuma jadi pembantu tho?”. Kata-kata tersebut bisa membuat minder orang yang bersangkutan.

Kondisi yang demikian tentunya akan membuat para pembantu rumah tangga mengalami perasaan yang tertekan baik secara fisik maupun psikis. Perasaan tertekan baik secara fisik maupun psikis ini akan mempengaruhi  harga diri pembantu rumah tangga. Melihat kondisi yang dialami pembantu rumah tangga tersebut, maka ia membutuhkan dukungan dari lingkungannya, baik dukungan secara material maupun secara moral. Dukungan yang diberikan harus dapat menambah semangat hidup dan kepercayaan diri sehingga dia mampu meningkatkan harga dirinya.

Dukungan dari lingkungan dapat diperoleh dari berbagai sumber yaitu majikan, orang tua dan teman-teman. Dukungan dari majikan berupa pemberian kesempatan kepada pembantunya untuk bersosialisasi misalnya dengan ikut arisan atau kegiatan sosial di kampung, diberikan kesempatan untuk mendapatkan pendidikan seperti sekolah sore atau kursus ketrampilan. Selain dukungan dari majikan, dukungan dari orang tua dan keluarga juga dapat meningkatkan harga diri, seperti ungkapan “ pekerjaan pembantu itu halal dan mulia daripada menjadi pengangguran atau menjadi wanita nakal”.

Demikian pula peran seorang teman tidak dapat disepelekan, karena teman dapat memberikan dukungan secara moral berupa kehangatan dalam berkawan dan saling membantu dan menjadi teman curhat. Pernyataan tersebut sesuai dengan pendapat yang dikemukakan oleh Ganster dkk (dalam Gibson, 1996) yang mengatakan bahwa sumber-sumber dukungan sosial diperoleh dari keluarga, teman dan atasan (disini yang dimaksud dengan majikan).

Teori yang menunjukkan kaitan antara dukungan sosial dan harga diri yaitu: Sarason dkk (1983) mengartikan dukungan sosial adalah ada atau tidaknya seseorang yang dapat dipercaya dapat membantu sehingga individu mengetahui bahwa dirinya dihargai dan Rogers (1987) mengemukakan jika individu diterima dan dihargai secara positif oleh orang lain, individu itu akan cenderung untuk mengembangkan sikap positif terhadap diri sendiri dan lebih menerima dan menghargai diri sendiri. Arndt (dalam Roosmayanti, 1998 ) mengemukakan bahwa harga diri adalah penilaian atau evaluasi seseorang terhadap dirinya sendiri, bahwa yang bersangkutan dapat mengerjakan sesuatu, bahwa ia adalah orang yang berharga.

  Salah satu aspek yang mendukung harga diri adalah kebutuhan akan perasaan diterima oleh orang lain, dianggap dan diperhatikan oleh orang lain (dukungan sosial). Adanya hubungan antara perhatian keluarga, majikan dan teman (dukungan sosial) akan mempengaruhi terhadap keberhargaan diri seseorang Harga diri adalah apa yang dirasakan mengenai diri yang akan mempengaruhi tindakan selanjutnya.

Peneliti tertarik untuk meneliti hubungan antara dukungan sosial (social support) dan harga diri (self esteem) terhadap pembantu rumah tangga karena fenomena tersebut cukup menarik dan kurang mendapat perhatian oleh masyarakat pada umumnya. Kemudian peneliti merumuskan pertanyaan “Apakah ada hubungan antara dukungan sosial dan harga diri pada pembantu rumah tangga”.

         

B. Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara dukungan sosial (social support) terhadap harga diri (self esteem) pada pembantu rumah tangga di daerah Yogyakarta

 

C. Manfaat Penelitian

Secara teoritis, penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan ilmiah bagi ilmu pengetahuan pada umumnya dan ilmu psikologi pada khususnya yaitu psikologi sosial dan psikologi kepribadian.

Secara praktis, penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi kepada semua pihak seperti mahasiswa, dosen, rumpun Tjoet Nya Dien untuk memberikan dukungan kepada para pembantu rumah tangga dengan sistem pendampingan serta mengkampanyekan kepada para majikan supaya memberikan dukungan sosial kepada pembantu rumah tangganya.

 

D. Orisinalitas Penelitian

Penelitian tentang dukungan sosial sudah banyak dilakukan oeh para peneliti di Yogyakarta. Salah satunya dilakukan oleh Rachmadiana (2000) dengan judul Hubungan antara citra raga, dukungan sosial dengan profesionalisme kerja pada peragawati remaja. Subyeknya remaja putri dengan profesi sebagai peragawati berusia 18-22 tahun dengan hasil tidak ada korelasi antara citra raga dengan profesionalisme kerja. Wulandari (2000) meneliti Hubungan antara efikasi diri dan dukungan sosial dengan kepuasan kerja. Subyeknya karyawan non managerial PT. Telkom Distec Yogyakarta, STO Kotabaru dan STO Pugeran dengan hasil ada korelasi yang siginifikan ditunjukkan oleh dukungan sosial dari atasan.

 

Penelitian tentang dukungan sosial juga pernah diteliti oleh Restianingsih (2001) dengan judul Dukungan sosial dan stress pada mahasiswa yang sedang mengerjakan skripsi dengan hasil ada korelasi negatif antara dukungan sosial dengan stress pada mahasiswa yang sedang mengerjakan skripsi.

Sedangkan penelitian tentang harga diri pernah diteliti oleh Puspitasari (2001) dengan judul Hubungan harga diri dengan sikap terhadap pelanggaran norma kedisiplinan sekolah pada remaja dengan subyek pelajar kelas ll SMUN 6 Yogyakarta. Hasil yang diperoleh ada korelasi negatif antara harga diri dengan sikap terhadap pelanggaran norma kedisiplinan sekolah. Peneliti yang lainnya adalah Roosmayanti (1998) dengan judul Harga diri remaja yang mengunakan psikoaktif dan yang tidak menggunakan psikoaktif. Subyeknya adalah remaja usia 13 – 21 tahun di Yogyakarta yang mengunakan zat psikoaktif atau tidak, dan hasil yang diperoleh ada perbedaan yang signifikan antara pemakai dengan yang tidak.

Lector (1999) dengan judul Hubungan antara harga diri dengan stress kerja guru sekolah dasar di Kabupaten Kupang Propinsi NTT. Subyeknya guru laki-laki dan perempuan yang mengajar di kelas 1 – 6 di SD Negeri. Hasil yang diperoleh ada hubungan negatif yang signifikan antara harga diri dengan stress kerja guru SD.

Penelitian yang dilakukan oleh penulis dengan judul Hubungan antara dukungan sosial (social support) dan harga diri (self esteem) pada pembantu rumah tangga di daerah Yogyakarta, berbeda dengan penelitian yang pernah dilakukan oleh para peneliti di atas. Perbedaan itu meliputi variabel, lokasi dan subyek penelitian. Oleh karena itulah penulis yakin penelitian ini masih bersifat orisinil (asli).

 

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 94 other followers