Home » Tesis Ilmu Lingkungan » PEMANFAATAN LIMBAH TERNAK UNTUK PEMBUATAN PUPUK ORGANIK CAIR (Studi pemanfaatan limbah untuk meningkatkan pendapatan petani)

PEMANFAATAN LIMBAH TERNAK UNTUK PEMBUATAN PUPUK ORGANIK CAIR (Studi pemanfaatan limbah untuk meningkatkan pendapatan petani)

Statistik

  • 1,429,294 Kunjungan



/* Style Definitions */ table.MsoNormalTable {mso-style-name:”Table Normal”; mso-tstyle-rowband-size:0; mso-tstyle-colband-size:0; mso-style-noshow:yes; mso-style-parent:””; mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; mso-para-margin:0cm; mso-para-margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:10.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-ansi-language:#0400; mso-fareast-language:#0400; mso-bidi-language:#0400;}

BAB  I

PENDAHULUAN

 

1.1.           Latar Belakang

Tanah sangat penting artinya bagi usaha pertanian karena kehidupan dan perkembangan tumbuh-tumbuhan dan segala makhluk hidup di dunia sangat memerlukan tanah. Akan tetapi arti yang penting ini kadang-kadang diabaikan oleh manusia, sehingga tanah tidak berfungsi lagi sebagaimana mestinya. Tanah menjadi gersang dan dapat menimbulkan berbagai bencana, sehingga tidak lagi menjadi sumber dari segala kehidupan.

Manusia sebagai makhluk yang tertinggi derajatnya di dunia dituntut agar dapat melestarikan “arti penting” tanah bagi segala kehidupan di dunia. Artinya manusia tidak sepantasnya hanya mengeruk keuntungan yang terdapat dalam tanah, melainkan mempunyai kewajiban untuk memelihara tanah tersebut, agar tanah tetap dapat berfungsi memberikan atau menyediakan sumber kehidupan bagi manusia dan makhluk hidup lainnya yang tumbuh dan berkembang di dunia.

Bagi usaha pertanian tanah mempunyai arti yang penting selain iklim dan air. Segala tumbuh-tumbuhan dan hasil-hasilnya yang sangat diperlukan bagi pertumbuhan dan perkembangan hidup manusia sepanjang masa akan sangat tergantung kepada keadaan tanah. Padahal di lain pihak juga diketahui bahwa usaha pertanian menginginkan hasil yang sebanyak-banyaknya, sehingga kemudian dicari cara untuk memanfaatkan potensi tanah pertanian seoptimal mungkin melalui berbagai penelitian dan percobaan.

Salah satu hasil pemikiran mengenai peningkatan kemampuan tanah adalah revolusi hijau yang dikembangkan di Indonesia pada awal 1970-an atau tepatnya pada tahun 1968 dengan dikenal dengan program BIMAS yang telah mampu mengubah sikap petani dari anti teknologi menjadi sikap mau memanfaatkan teknologi pertanian modern, seperti pupuk kimia, obat-obatan perlindungan dari hama dan bibit unggul. Pada dasarnya penggunaan teknologi tersebut ditujukan untuk meningkatkan produktivitas tanah.

Dalam kenyataannya, memang revolusi hijau tersebut telah mampu mencapai tujuan makronya yaitu peningkatan produktivitas, khususnya pada sub sektor pangan. Akan tetapi pada tingkat mikro, revolusi hijau tersebut telah menimbulkan dampak negatif pada kondisi tanah itu sendiri yaitu adanya gangguan keseimbangan unsur hara dalam tanah, bagi kesehatan manusia kandungan residu pestisida dalam produk pangan yang menggunakan pupuk kimia membahayakan tubuh manusia, di samping itu menurut Soetrisno (1998) masalah yang sangat penting yaitu uniformitas bibit.

Dari berbagai akibat penggunaan pupuk kimia tersebut masalah yang timbul antara lain : 1) Tanaman menjadi sangat rawan terhadap hama, meskipun produktivitasnya tinggi namun tidak memiliki ketahanan terhadap hama, 2) Pembodohan terhadap petani yang diindikasikan dengan hilangnya pengetahuan lokal dalam mengelola lahan pertanian dan ketergantungan petani terhadap paket  teknologi pertanian produk industri.

Ketergantungan petani terhadap produk industri tersebut menjadikan sarana dan prasarana produksi pertanian menjadi rawan terhadap permainan harga oleh produsen maupun kondisi eksternal lain. Sebagai contoh pada saat krisis moneter di Indonesia yang mulai terjadi pada tahun 1997, maka dengan rendahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar, mengakibatkan sarana produksi pertanian seperti pupuk, pestisida harganya naik antara 200 – 400% sehingga pemakaian pupuk menurun yang mengakibatkan produktivitas pertanian menurun.

Memasuki era pasar bebas dengan diberlakukannya standar tertentu dalam setiap produk termasuk produk pertanian, pemberlakukan standard ISO dan Eco-Labelling yang mensyaratkan produksi yang ramah lingkungan, maka sektor pertanian memperoleh tantangan baru dan membutuhkan permikiran yang serius bagi ahli pertanian dan ahli yang terkait agar tetap mampu bersaing di dunia internasional. Penggunaan bahan organik yang recycleable dan ramah lingkungan dalam produksi pertanian agar diupayakan untuk tetap mempertahankan produktivitas lahan.

Berkaitan dengan hal tersebut, Wijaya (2002) mengungkapkan bahwa hampir 90% produk-produk pertanian di Indonesia diproduksi dengan menggunakan bahan anorganik seperti pupuk kimia dan pestisida, sehingga besar kemungkinan produk pertanian Indonesia tidak memenuhi standar internasional dan tidak diminati oleh pasar internasional. Kurangnya minat pasar internasional terhadap produk pertanian dalam negeri tersebut dikarenakan semakin meningkatnya kesadaran mengenai kesehatan makanan, padahal dengan penggunaan bahan-bahan kimia dalam pertanian dapat mengganggu kesehatan manusia. Oleh karena itu untuk meningkatkan keunggulan kompetitif dalam menghasilkan produk pertanian yang mampu bersaing di pasar internasional perlu diupayakan pemenuhan terhadap minat konsumen yang membutuhkan konsumsi pangan  bebas  bahan anorganik. Untuk itu perlu segera digalakkan produk-produk pertanian organik di Indonesia dengan cara meningkatkan penggunaan pupuk organik dan mengurangi penggunaan pupuk anorganik sebagai sarana produksinya yang didukung dengan keanekaragaman hayati terutama bibit dan pestisida organik.

Pupuk organik merupakan pupuk dengan bahan dasar yang diambil dari alam dengan jumlah dan jenis unsur hara yang terkandung secara alami (Musnamar, 2003). Dapat dikatakan bahwa pupuk organik merupakan salah satu bahan yang sangat penting dalam upaya memperbaiki kesuburan tanah secara aman, dalam arti produk pertanian yang dihasilkan terbebas dari bahan-bahan kimia yang berbahaya bagi kesehatan manusia sehingga aman dikonsumsi.

Secara kualitatif, kandungan unsur hara dalam pupuk organik tidak dapat lebih unggul daripada pupuk anorganik. Namun penggunaan pupuk organik secara terus-menerus dalam rentang waktu tertentu akan menjadikan kualitas tanah lebih baik dibanding penggunaan pupuk anorganik (Musnamar, 2003). Selain itu penggunaan pupuk organik tidak akan meninggalkan residu pada hasil tanaman sehingga aman bagi kesehatan manusia. Bahkan produk-produk yang dihasilkan akan diterima negara-negara yang mensyaratkan ambang batas residu yang sudah diberlakukan pada produk tertentu seperti teh dan kopi.

Saat ini ada beberapa jenis pupuk organik sebagai pupuk alam berdasarkan bahan dasarnya, yaitu pupuk kandang, kompos, humus, pupuk hijau, dan pupuk mikroba (Musnamar, 2003). Sedangkan ditinjau dari bentuknya ada pupuk organik cair dan ada pupuk organik padat. Sebagai contoh kompos merupakan contoh pupuk organik padat yang dibuat dari bahan organik padat (tumbuh-tumbuhan), sedangkan thilurine adalah pupuk organik cair yang dibuat dari bahan organik cair (urine sapi). Pupuk organik dapat dibuat dari limbah, contohnya limbah peternakan sapi perah, baik berupa feses maupun urinenya dapat dijadikan bahan pembuatan pupuk organik.

Umumnya limbah yang dibuang ke lingkungan menunjukkan kesan buruk karena sifat-sifatnya yang khas dan cenderung menurunkan mutu, fungsi dan kemampuan lingkungan. Limbah yang merupakan sisa pembuangan dari suatu proses kegiatan manusia dapat berbentuk padat, cair dan gas, dari segi estetika sangat kotor, tidak enak dipandang dan juga dari segi bau sangat mengganggu. Dengan demikian secara langsung maupun tidak langsung limbah menimbulkan ketidaknyamanan di sekitarnya sebab pembuangan limbah ke lingkungan umumnya tidak diikuti dengan upaya pengelolaan maksimal, karena selalu dikaitkan dengan teknologi dan pengelolaan yang relatif mahal.

Limbah yang dibuang terus-menerus tanpa ada pengelolaan yang maksimal dapat menimbulkan gangguan keseimbangan lingkungan. Oleh karenanya, orang cenderung mengatakan telah terjadi pencemaran, yaitu suatu keadaan di mana zat  atau energi diintroduksikan ke dalam lingkungan oleh suatu kegiatan manusia atau oleh proses alam dalam konsentrasi sedemikian rupa sehingga menyebabkan lingkungan tidak berfungsi seperti semula dalam arti kesehatan, kesejahteraan dan keselamatan hayati (Danusaputro, 1978).

Menurut Holdgate (1979) pencemaran lingkungan adalah dimasukkannya energi atau substansi ke dalam lingkungan oleh kegiatan manusia, sehingga mengganggu ekosistem kehidupan, merusak struktur lingkungan, dan melanggar peraturan perundang-undangan yang berlaku. Dix (1981), menjelaskan pencemaran sebagai suatu peristiwa perubahan lingkungan yang menyangkut pola energi dan sumber daya misalnya air, tanah, dan udara, sehingga menjadi kurang atau tidak berfungsi sama sekali sebagaimana mestinya bagi kepentingan makhluk hidup. Penyebabnya adalah manusia atau peristiwa alam itu sendiri.

Makna pencemaran lingkungan hidup dipertegas dalam Undang-Undang No. 23 Tahun 1997 tentang  Lingkungan Hidup pada Pasal 1 ayat  (12) : “Pencemaran lingkungan hidup adalah masuknya atau dimasukkanya makhluk hidup, zat, energi dan atau komponen lain ke dalam lingkungan hidup oleh kegiatan manusia, sehingga kualitasnya turun sampai ke tingkat tertentu yang menyebabkan lingkungan hidup tidak berfungsi sesuai dengan peruntukkannya”.

Dari uraian di atas dapat diketahui bahwa pada umumnya limbah menimbulkan pencemaran. Oleh karena itulah penggunaan limbah yang berupa feses dan urine sapi perah sebagai bahan dasar pupuk organik merupakan nilai tambah bagi petani, karena dengan penanganan tertentu maka limbah yang tadinya dapat menimbulkan pencemaran lingkungan, sekarang malah dapat dijadikan bahan dasar sebagai pembuatan pupuk cair, yang pada akhirnya dapat meningkatkan pendapatan petani.

Penggunaan feses sapi perah untuk pupuk telah digunakan sejak lama, namun untuk urine belum banyak dimanfaatkan. Salah satu dusun yang telah memanfaatkan limbah urine sapi perah sebagai bahan dasar pupuk organik cair adalah Dusun Ngandong Desa Girikerto yang terletak di Kecamatan Turi Sleman Yogyakarta. Populasi ternak sapi perah di Dusun Ngandong berjumlah 100 ekor yang mampu menghasilkan kurang lebih 1500 hingga 2000 liter urine setiap harinya. Jumlah yang demikian besar merupakan potensi tersendiri apabila dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan pupuk organik cair. Dimana limbah tersebut apabila tidak ditangani dengan baik dan hanya dibuang akan sangat mengganggu dan mempengaruhi lingkungan di sekitarnya.  

Dengan bantuan pengarahan dari sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat, petani ternak Dusun Ngandong dibantu untuk membuat pupuk organik cair thilurine dengan bahan dasar urine yang sebelumnya tidak dimanfaatkan. Pemanfaatan ini meningkatkan nilai limbah yang tadinya tidak berharga bahkan menimbulkan masalah lingkungan menjadi suatu barang yang berharga.

Hasil wawancara pendahuluan dengan petani ternak yang melakukan pembuatan pupuk organik cair thilurine tersebut memberikan informasi awal bahwa urine sapi yang digunakan sebagai bahan dasar pembuatan pupuk organik cair thilurine dilakukan dengan pemberian bahan campuran tertentu untuk meningkatkan kandungan unsur hara seperti N, P, K dan total koloni bakteri. Bahan campuran tersebut adalah kotoran kambing, kotoran kelelawar, bakteri rumen dan media pengembangbiakannya (terdiri dari katul, tetes tebu dan susu segar), akar bambu, pisang ambon/klutuk, dan trasi susu segar.

Langkah awal selanjutnya yang telah dilakukan Penulis adalah menganalisis kandungan unsur hara pupuk organik thilurine yang telah dihasilkan oleh petani di dusun Ngandong. Analisis laboratorium ini ditujukan untuk mengetahui secara umum pengaruh pemberian bahan campuran terhadap bahan dasar urine sapi perah, sehingga tidak diketahui secara pasti apakah bahan campuran yang satu berpengaruh secara nyata meningkatkan atau menurunkan kandungan unsur hara tertentu. Kondisi ini menimbulkan pertanyaan mengapa sesuatu bahan campuran tersebut harus diberikan, untuk meningkatkan kandungan apa, dan seberapa banyak harus diberikan. Oleh karena itu maka Penulis mengadakan penelitian lagi untuk mengetahui seberapa jauh suatu bahan campuran berpengaruh terhadap kandungan unsur hara pada pupuk organik cair yang terbuat dari bahan dasar urine, yang kemudian dapat menentukan secara pasti komposisi yang tepat dalam pembuatan pupuk organik untuk jenis tanaman tertentu. Hasil penelitian tersebut dituangkan dalam tesis berjudul “Pemanfaatan Bahan Campuran Limbah Ternak untuk Pembuatan Pupuk Organik Cair di Dusun Ngandong Desa Girikerto Kabupten Sleman Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta”.

 

 

1.2.            Perumusan  Masalah

Penerapan teknologi pertanian modern (penggunaan bibit unggul, pupuk kimiawi, dan pestisida) dan intensifikasi penggunaan lahan menimbulkan degradasi lahan yang cukup besar sehingga mengakibatkan penurunan  produktivitas tanaman pertanian. Hal ini disebabkan penggunaan pupuk kimia secara berlebihan untuk meningkatkan produktivitas telah mengakibatkan permasalahan tersendiri yaitu menurunnya kesuburan dan pemiskinan unsur hara tanah.

Permasalahan penurunan kualitas tanah dan produk pertanian dapat dipecahkan dengan penggunaan sistem pertanian organik. Pertanian organik memanfaatkan proses daur ulang unsur hara dalam produksi pertanian. Pemanfaatan pupuk organik baik dalam bentuk padat maupun cair menjadi solusi terbaik untuk mengembalikan tingkat kesuburan tanah. Pengembangan pengetahuan mengenai tingkat efektivitas dan kandungan yang mampu menyamai tingkat produktivitas dengan penggunaan pupuk kimiawi merupakan tanggungjawab bagi ahli kimia dan pertanian.

Permasalahan umum dari pupuk organik adalah rendahnya kadar unsur hara makro yang digunakan sebagai pupuk. Hal ini berbeda dengan pupuk kimiawi hasil industri dimana kandungan unsur hara makro (N, P, K) memiliki kadar yang tinggi. Oleh karena itu, menjadi tantangan bagi peneliti untuk mengetahui seberapa besar kandungan unsur hara dalam pupuk organik cair yang terbuat dari bahan dasar urine ternak sapi perah dan seberapa besar pula peningkatan kandungannya setelah diberi bahan campuran sehingga dapat menentukan komposisi yang terbaik dalam pembuatan pupuk organik cair untuk memenuhi kebutuhan tambahan unsur hara suatu jenis tanaman tertentu yang pada akhirnya dapat meningkatkan produtivitas lahan pertanian. Peningkatan produktivitas lahan pertanian yang didukung dengan penggunaan pupuk organik akan menghasilkan produk pertanian yang memenuhi standar  internasional yaitu produk yang ramah lingkungan.

Berdasarkan uraian di atas maka dirumuskan permasalahan sebagai berikut :

  1. Apakah penambahan berbagai macam bahan campuran terhadap urine ternak sapi untuk pembuatan pupuk organik cair Thilurine di Dusun Ngandong berpengaruh secara nyata terhadap komposisi kandungan unsur hara N, P, K dan  C/N rasio dan Total Koloni Bakteri  yang dihasilkan?
  2. Kombinasi bahan yang bagaimanakah yang menghasilkan pupuk organik cair dengan kandungan unsur hara paling tinggi?

 

About these ads

Leave a comment

  1. jumianik says:

    Saya pesan judul
    pupuk organik dari limbah tahu
    PS: karya ilmiah

  2. tiara says:

    Saya pesan judul : solusi pembuangan limbah yang baik agar tidak merugikan lingkungan biotik dan abiotik

    PS: terima kasih ya, saya harap dapat segera ada agar mempermudah saya dalam mencari jawabannya. sekali lgi trma ksih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 95 other followers

%d bloggers like this: