PERANAN ANALISIS BREAK EVEN SEBAGAI ALAT BANTU BAGI MANAJEMEN DALAM MENUNJANG EFEKTIVITAS LABA PERUSAHAAN (Studi Kasus pada PT MBT Utama)

21 03 2008

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang
Dengan berkembangnya dunia usaha dewasa ini, sejalan dengan kebijakan Pemerintah untuk mendorong pertumbuhan di sektor industri, maka persaingan antar perusahaan khususnya yang sejenis semakin meningkat untuk menjaga kesinambungan hidup perusahaan dalam menghadapi persaingan yang ketat tersebut diperlukan penanganan dan pengelolaan yang baik. Penanganan dan pengelolaan yang baik tersebut hanya dapat dilakukan oleh manajemen yang baik pula. Manajemen selain dituntut untuk dapat mengkoordinasi penggunaan seluruh sember daya yang dimliki perusahaan secara efektif dan efisien, juga dituntut dapat menghasilkan keputusan-keputusan yang menunjang terhadap pencapaian tujuan perusahaan serta mempercepat perkembangan perusahaan. Manajemen hendaknya dapat berfikir kritis dalam mengambil setiap keputusan, agar setiap keputusan yang diambil tersebut membawa dampak yang baik bagi perkembangan perusahaan. Kemampuan berfikir kritis inilah yang dapat mengantisipasi hal-hal yang hams dilakukan perusahaan untuk dapat bertahan dalam situasi persaingan pasar yang semakin bertingkat. Selain itu, dalam mengambil suatu keputusan, manajemen hendaknya mempertimbangkan dan menilai aspek yang ada, agar keputusan tersebut memberikan hasil yang maksimal terhadap pencapaian tujuan perusahaan dalam perkembangan perusahaan.
Manajemen memerlukan suatu pedoman berupa perencanaan yang berisikan langkah-langkah yang akan dan harus ditempuh perusahaan dalam mencapai tujuannya perencanaan dapat pula berupa alat ukur dan evaluasi atas hasil sesungguhnya. Apabila hasil sesungguhnya tidak sesuai dengan apa yang telah direncanakan, maka manajemen harus mengevaluasi ketidaksesuaian tersebut dan mengambil tindakan-tindakan yang diperlukan untuk mengatasinya. Perencanaan juga merupakan alat pengendalian terhadap kegiatan-kegiatan yang akan dilaksanakan perusahaan. Dengan demikian, perencanaan memegang peranan yang sangat penting daiam menunjang kegiatan-kegiatan perusahaan.
1

Salah satu perancanaan yang dibuat manajemen adalah perencanaan laba. Laba merupakan tujuan utama dari perusahaan karena laba merupakan sellsih antara pendapatan yang diterima (dari hasil penjualan) dengan biaya yang dikeluarkan, maka perencanaan laba dipengaruhi oleh perencanaan penjualan dan perencanaan biaya. Perencanaan laba berisikan langkah-langkah yang akan ditempuh perusahaan untuk mencapai besarnya target laba yang diinginkan. Agar perencanaan laba berisikan langkah-langkah yang akan ditempuh perusahaan untuk mencapai besarnya target laba yang diinginkan. Agar perencanaan laba dapat dilakukan secara memadai maka diperlukan alat bantu berupa analisis break even. Analisis break even adalah suatu teknik analisis untuk mengetehui penjualan minimum agar suatu usaha tidak menderita rugi, tetapi juga belum memperoleh laba (dengan kata lain labanya sama dengan nol).
Dengan melakukan analisis break even, manajemen akan memperoleh informasi tingkat penjualan minimum yang harus dicapai, agar tidak mengalami kerugian. Dari analisis tersebut, juga dapat diketahui sampai seberapa jauh volume penjualan yang direncanakan boleh turun, agar perusahaan tidak mengalami kerugian oleh karena itu, analisis break even merupakan alat yang efektif dalam menyajikan informasi bagi manajemen untuk keperiuan perencanaan laba sehingga manajemen dapat memilih berbagai usulan kegiatan yang memberikan kontribusi terbesar terhadap pencapaian laba dimasa yang akan datang.
Berdasarkan uraian diatas, maka penulis tertarik mengadakan penelitian yang berhubungan dengan analisis break even dengan judul: ”
Peranan Analisis Break Even Sebagai Alat Bantu Bagi Manajemen Dalam Menunjang Efektivitas Laba Perusahaan “.
1.2. Identifikasi Masalah
Bertitik tolak dari latar belakang yang telah diuraikan di atas, maka penulis mengidentifikasikan masalah sebagai berikut:
1 Apakah Perusahaan telah melakukan analisis break even untuk produk yang dihasilkan dengan memadai ?
2 Bagaimana peranan analisis break even dalam menunjang efektivitas laba perusahaan ?

1.3. Haksud dan Tujuan Penelitian
Maksud dan tujuan penelitian yang penulis lakukan terutama untuk mendapatkan jawaban atas masalah yang dikemukan diatas, yaitu :
1.Untuk mengetahui perusahaan telah melakukan analisis break even untuk
produk yang dihasilkan dengan memadai.
2.Untuk mengetahui peranan anaiisis break even dalam menunjang
efektivitas laba pada perusahaan.
1.4. Kegunaan Penelitian
1 Bagi Penulis Untuk menambah wawasan mengenai analisis break even dengan melihat praktiknya secara langsung di perusahaan, juga sebagai salah satu syarat dalam menempuh ujian akhir untuk meraih Sarjana Ekonomi Jurusan Akuntansi pada Universitas Widyatama.
2 Bagi Perusahaan Penulis berharap agar penelitian ini memberikan input dalam rangka perbaikan dan pengembangan perusahaan.
3 Bagi Pihak Lain Hasil penelitian ini diharapkan dapat berguna bagi bahan referensi dan menambah pengetahuan serta pemahaman analisis break even penerapannya.

1.5. Rerangka Pemikiran
Dalam usaha mempertahankan hidup serta memajukan perusahaan, manajemen dituntut bertindak kritis terhadap semua keputusan yang diambilnya. Karena setiap keputusan yang diambil manajemen akan berpengaruh terhadap keberhasilan perusahaan. Faktor utama yang mempengaruhi keberhasilan perusahaan adalah laba.
Perusahaan akan dianggap berhasil jika mampu meningkatkan laba dan melakukan ekspansi baik dalam hal volume usaha maupun pendirian pabrik baru sebagai bagian dari perusahaan itu sendiri. Laba itu sendiri dipengaruhi oleh harga jual produk, biaya produksi, biaya non produksi serta volume penjualan. Aiat yang dapat digunakan untuk menganaiisis hubungan antara biaya, volume penjualan dan laba adalah analisis break even.
Mulyadi (1993:230) menyatakan bahwa break even (impas) adalah keadaan suatu usaha yang tidak memperoleh laba dan tidak menderita rugi. Dengan kata lain, suatu usaha dikata impas jika jumlah pendapatan (revenue) sama dengan jumlah biaya, atau apabila laba kontribusi hanya dapat digunakan untuk menutupi biaya tetap saja. Grafik break even memperlihatkan hubungan antara kegiatan perusahaan, biaya-biaya, pendapatan, dan laba terutama menunjukkan besar penjualan dan trbk impas. Analisis break even dalam bentuk grafik memudahkan untuk memperoleh gambaran tentang hubungan aktivitas perusahaan dengan tingkat pendapatan dan biaya serta laba. Meski demikian, dikenal juga perhitungan analisis break even dengan menggunakan rumus matematis. Dengan penentuan titik break even, perusahaan akan mengetahui tingkat produksi dan penjualan yang harus segera dicapai agar perusahaan tidak merugi.
O’eh karena itu, jika perusahaan tidak mencapai hasil penjualan yang lebih besar dari penjualan pada titik break even, dengan kata lain hasil penjualan setelah dikurangi biaya variabel dan tidak bisa menutupi biaya tetap, maka perusahaan tersebut mengalami kerugian. Maka dari itu, manajemen akan berusaha untuk mencapai hasil penjualan yang lebih besar dari break even, sehingga dapat diperoleh laba. Analisis break even penting bagi manajemen dalam pengambilan keputusan terutama dalam hal kebijakan penjualan. Berdasarkan uraian di atas, maka penulis merumuskan hipotesis sebagai berikut: “Analisis Break Even sebagai aiat bantu manajemen yang memadai berperan dalam menunjang efektivitas laba perusahaan”.
1.6. Metode Peneiitian
Dalam melakukan peneiitian penulis menggunakan metode deskriptif analisis yaitu mengumpulkan data untuk kemudian diolah, dianalisis dan diproses lebih lanjut dengan dasar-dasar teori yang ada sehingga dapat memberikan gambaran yang jelas mengenai objek peneiitian. Adapun pendekatan yang digunakan dalam peneiitian ini adalah Studi Kasus.
Penulis mengumpulkan data dengan menggunakan dua pendekatan yaitu:
1. Peneiitian lapangan (Field Reserch) Merupakan peneiitian yang dilakukan terhadap objek peneiitian secara langsung guna mengolah data primer yang diperlukan. Teknik Peneiit
ian dapat dilakukan dengan cara :
a. Observasi
Dilakukan dengan cara mengamati secara langsung objek yang diteliti.
b. Wawancara Yaitu suatu teknik pengumpulan data dengan cara tanya jawab dengan pejabat yang berwenang atau bagian lain yang berhubungan dengan masalah yang diteliti.
c. Kuesioner Yaitu suatu tehnik pengumpulan data dengan cara menyusun pertanyaan terstruktur yang berhubungan dengan masalah yang akan diteliti.

2. Peneiitian Kepustakaan (Library Reserch) Yaitu peneiitian sebagai usaha untuk memperoleh keterangan dari data dengan cara membaca dan mempelajari bahan-bahan dari buku-buku literatur, catatan kuliah serta sumber-sumber lainnya yang berhubungan dengan masalah yang diteliti agar memperoleh pemahaman yang mendalam serta menunjang proses pembahasan mengenai masalah-masalah yang diidentifikasikan.
Sesuai dengan hipotesis yang dipilih penulis yaitu “Analisis Break Even Sebagai Alat Bantu Bagi Manajemen Yang Memadai Berperan Oaiam Menunjang Efektivitas Laba Perusahaan” terdapat dua variabel yaitu :
1 Variabel Bebas {Independen Variable). Suatu variabel digolongkan sebagai variable independen (bebas) apabila dalam hubungannya dengan variabel lain, variabel tersebut fungsinya menerangkan/mempengaruhi keadaan variabel lainnya. Variabel bebas dari hipotesis yang penulis tetapkan adalah analisis break even sebagai aiat bantu bagi manajemen yang ‘memadai karena variabel ini berdiri sendiri dan mempengaruhi efektivitas laba.
2 Variabel Terikat {Dependen Variable) Suatu variabel digolongkan variable dependen (terikat) apabila dalam hubungannya dengan variabel lain, keadaan variabel tersebut diterangkan/ dipengaruhi oleh variabel yang diharapkan. Variabel terikat dari hipotesisl yang penulis tetapkan adalah efektivitas laba perusahaan, karena ini tidak berdiri sendiri dan dipengaruhi oleh analisis break even.





PENGARUH PROMOSI JABATAN TERHADAP MOTIVASI KERJA KARYAWAN PADA PT. MULTI TOP INDONESIA DI BANDUNG

21 03 2008

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Penelitian
Sumber Daya Manusia merupakan faktor terpenting dalam setiap kegiatan perusahaan, karena bagaimanapun canggihnya teknologi yang digunakan tanpa didukung oleh manusia sebagai pelaksana kegiatan operasionalnya tidak akan mampu menghasilkan output yang sesuai dengan tingkat efisiensi yang diharapkan. Peranan sumber daya manusia dalam organisasi sebenarnya sudah ada sejak dikenalnya organisasi sebagai wadah usaha bersama dalam mencapai suatu tujuan. Dengan berbagai macam individu yang ada dalam suatu organisasi perusahaan, dimana terdapat perbedaan dalam latar belakang seseorang seperti pendidikan, pengalaman, ekonomi, status, kebutuhan, harapan dan lain sebagainya menuntut pimpinan perusahaan untuk dapat mengelola dan memanfaatkannya sedemikian rupa sehingga tidak menghambat tujuan organisasi yang ingin dicapai.
Dalam usaha mengelola dan memanfaatkan sumber daya manusia diperlukan adanya manajemen yang baik, karena manusia sebagai makhluk sosial mempunyai karakter yang sangat berbeda dengan alat produksi lainnya. Manusia sebagai makhluk sosial juga mempunyai pemikiran dan keinginan yang berbeda-beda, sedangkan perusahaan mengharapkan pegawainya dapat bekerja dengan baik, dan memiliki produktivitas yang tinggi serta mampu menjabarkan visi dan misi yang telah disepakati bersama dalam rangka pencapaian tujuan perusahaan. Hal ini dapat tercapai apabila setiap pegawai memiliki keterampilan dan motivasi kerja yang tinggi pula. Menurut Schuller, Dowling, Smart dan Hubber yang dikutip oleh Jusuf Irianto (2002:3) manajemen sumber daya manusia merupakan pengakuan tentang pentingnya tenaga kerja organisasi sebagai sumber daya manusia yang sangat penting dalam memberi kontribusi bagi tujuan-tujuan organisasi, dan penggunaan beberapa fungsi dan kegiatan untuk memastikan bahwa sumber daya manusia tersebut digunakan secara efektif dan adil bagi kepentingan individu, organisasi dan masyrakat.
Salah satu cara yang dapat ditempuh oleh manajemen adalah dengan promosi jabatan bagi mereka yang mampu memberikan prestasi kerja lebih di satu pihak dan memberikan tindakan disiplin sesuai dengan ketentuan yang berlaku bagi mereka yang tidak mampu melaksanakan kewajibannya sesuai dengan tanggung jawabnya dilain pihak, menurut Henry Simamora yang dikutip oleh Ambar Teguh & Rosidah (2003:236) menyatakan bahwa tindakan disiplin yang dilaksanakan secara tidak benar adalah destruktif bagi karyawan dan organisasi. Oleh karena itu tindakan disiplin haruslah tidak diterapkan secara sembarang, melainkan memerlukan pertimbangan yang bijak.
Dalam membuat keputusan promosi dibutuhkan berbagai pertimbangan, apabila terdapat keputusan yang salah dalam melaksanakan promosi jabatan, maka akan menimbulkan efek samping yang tidak baik bagi pegawai dan perusahaan, yang semuanya akan mengakibatkan motivasi kerja menurun sehingga harapan perusahaan untuk meningkatkan produktivitas tidak akan tercapai. Untuk tidak terjadinya efek negatif diatas pimpinan perusahaan hendaknya dalam melakukan penilaian terhadap pegawai yang akan dipromosikan dilakukan seobjektif mungkin berdasarkan standar yang telah ditetapkan.
Apabila kondisi tersebut dapat terjadi dalam implementasinya, kecenderungan adanya ketidakpuasan atas keputusan yang diambil oleh manajemen dari pihak-pihak yang berada di internal perusahaan akan dapat diminimalisir, kerena keputusan yang dibuat perusahaan dipandang sudah tepat. Dalam mempromosikan jabatan perlu adanya perencanaan kerja yang tepat seperti pendapat George Milkovich dan Paul C Nystrom yang dikutip oleh DR.A.A.Prabu Mangkunegara (2003:5) bahwa perencanaan tenaga kerja adalah proses peramalan, pengembangan, pengimplementasan, dan pengontrolan yang menjamin perusahaan mempunyai kesesuaian jumlah pegawai, penempatan pegawai secara benar, waktu yang tepat, yang sangat bermanfaat secara ekonomis. Dengan dilaksanakannya promosi jabatan dan perencanaan kerja yang secara tepat didalam perusahaan maka diharapkan motivasi kerja pegawai akan semakin meningkat. Berdasarkan atas uraian tersebut maka penulis tertarik untuk mengadakan penelitian ini dengan mengambil judul : “Pengaruh Promosi Jabatan terhadap Motivasi Kerja Karyawan pada PT. MULTI TOP INDONESIA di Bandung”

1.2 Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang pemikiran diatas, maka masalah-masalah yang akan diidentifikasikan adalah :
1. Bagaimanakah pelaksanaan promosi jabatan pada PT. MULTI TOP INDONESIA?
2. Bagaimana motivasi kerja karyawan pada PT. MULTI TOP INDONESIA?
3. Seberapa besar pengaruh promosi jabatan terhadap motivasi kerja karyawan pada PT.MULTI TOP INDONESIA?

1.3 Maksud dan Tujuan Penelitian
Penulis mengadakan penelitian ini dengan maksud untuk memperoleh data dan informasi yang relevan dengan masalah yang diidentifikasikan, kemudian dianalisis dan di tarik kesimpulan serta untuk memenuhi salah satu syarat dalam menempuh ujian sarjana Fakultas Bisnis dan Manajemen, Universitas Widyatama, Bandung.

Adapun tujuan dilakukan penelitian ini adalah :
1. Untuk mengetahui pelaksanaan promosi jabatan pada PT. MULTI TOP INDONESIA.
2. Untuk mengetahui motivasi kerja karyawan pada PT. MULTI TOP INDONESIA.
3. Untuk mengetahui seberapa besar pengaruh promosi jabatan terhadap motivasi kerja karyawan pada PT. MULTI TOP INDONESIA.

1.4 Kegunaan Penelitian
Dari penelitian yang dilakukan maka penulis mengharapkan dapat dipergunakan oleh pihak yang memerlukan antara lain :
1. Bagi penulis sendiri, diharapkan dapat menambah atau memperkaya wawasan dan ilmu pengetahuan, khususnya dalam penerapan manajemen sumber daya manusia.
2. Bagi perusahaan, diharapkan dapat menjadi bahan evalusasi dan menambah masukkan untuk program promosi jabatan yang akan dilaksanakan perusahaan dimasa akan datang.
3. Bagi pihak lain, penulisan hasil penelitian ini diharapkan menjadi bahan kajian dan bahan pembanding serta dasar penelitian lebih lanjut

1.5 Kerangka Pemikiran dan Hipotesis
1.5.1 Kerangka Pemikiran
Sehubungan dengan prinsip yang dimiliki perusahaan pada umumnya yaitu going concern dan profit motif maka unsur produktifitas kerja yang harus dapat dicapai oleh setiap individu yang ada didalam perusahaan adalah produktifitas yang maksimal. Hal ini memberikan pengertian bahwa manajemen harus selalu mampu mendorong para karyawannya untuk bekerja dengan baik dan lebih baik dari sebelumnya, serta memberikan kepastian kepada mereka promosi jabatan yang lebih tinggi bagi yang mampu memberikan kontribusi prestasi lebih bagi perusahaan.
Promosi jabatan disini akan berarti perluasan dari tugas, wewenang dan tanggung jawab yang bersangkutan sebelumnya, sekaligus peningkatan kesejahteraan bagi yang menerimanya.
Promosi mempunyai nilai sendiri karena merupakan bukti pengukuhan terhadap prestasinya. Sehingga, dengan promosi jabatan bagi pegawai yang mempunyai prestasi yang tinggi, akan dapat ditingkatkan jabatannya sesuai dengan kemampuannya.

Adapun pengertian dari promosi itu sendiri sebagaimana yang ditulis oleh Alex S. Nitisemito (1996:81) :
“Promosi adalah proses kegiatan pemindahan pegawai dari suatu jabatan ke jabatan yang lain yang lebih tinggi dari jabatan yang diduduki sebelumnya“.

Sedangkan Manullang (2000:96) mengemukakan bahwa :
“Promosi berarti penaikkan jabatan, yakni menerima kekuasaan dan tanggung jawab yang lebih besar dari kekuasaan dan tanggung jawab sebelumnya dalam struktur organisasi sesuatu badan usaha”.

Beberapa definisi mengenai promosi jabatan menurut Malayu S.P Hasibuan (2002:108) dalam bukunya yang berjudul Manajemen Sumber Daya Manusia edisi Revisi,bahwa :
“Promosi adalah perpindahan yang memperbesar outhority (wewenang) dan ressponsibility (tanggung jawab) karyawan ke jabatan yang lebih tinggi di dalam organisasi sehingga kewajiban, hak, status dan penghasilannya semakin besar ”.

Menurut Edwin
B. Flippo yang dikutip oleh Malayu S.P Hasibuan (2002:108) menyatakan bahwa :
“A promotion insolves a change from one job to another job that is better in terms status and responbility. Ordinary the change to the higher job his accompanied by increased pay and privileges, but not always”.

Artinya promosi adalah perpindahan dari satu jabatan ke jabatan lain yang mempunyai status dan tanggung jawab yang lebih tinggi. Biasanya perpindahan kejabatan yang lebih tinggi disertai dengan peningkatan gaji atau upah lainnya walaupun tidak selalu demikian.
Kesimpulan dari definisi di atas, promosi jabatan adalah perpindahan dari satu jabatan ke jabatan yang lebih tinggi, wewenang dan tanggung jawab semakin besar, status serta pendapatan yang semakin tinggi.
Menurut Malayu S.P Hasibuan (2002:127) bahwa promosi diantaranya bertujuan untuk :
• Untuk memberikan pengakuan, jabatan dan imbalan jasa yang semakin besar kepada karyawan yang berprestasi tinggi.
• Dapat menimbulkan kepuasan dan kebanggaan pribadi, status sosial yang semakin tinggi.
• Untuk menjamin stabilitas kepegawaian dengan direalisasikannya promosi kepada karyawan dengan dasar dan pada waktu yang tepat serta penilaian yang jujur.
• Merangsang peningkatan semangat kerja serta kepuasan pribadi karyawan sehingga produktivitas kerjanya meningkat,
• Untuk menambah dan memperluas pengetahuan serta pengalaman kerja para karyawan.
Untuk mencapai tujuan promosi, maka hendaknya promosi jabatan dilakukan berdasarkan azas-azas promosi jabatan sebagaimana Malayu S.P Hasibuan (2002:108-109) kemukakan bahwa :
a. Kepercayaan
Promosi hendaknya berazaskan pada kepercayaan atau keyakinan mengenai kejujuran, kemampuan dan kecakapan karyawan yang bersangkutan dalam melaksanakan tugas-tugasnya dengan baik pada jabatan tersebut.
b. Keadilan
Promosi hendaknya berazaskan kepada keadilan, mengenai penilaian kejujuran, kemampuan dan kecakapan terhadap semua karyawan. Penilaian harus jujur dan objektif jangan pilih kasih, tanpa melihat suku, golongan dan keturunannya.
c. Formasi
Promosi harus berazaskan kepada promosi yang ada, karena promosi karyawan hanya mungkin dilakukan jika ada formasi jabatan yang lowong, supaya ada uraian pekerjaan yang akan dilaksanakan karyawan tersebut.
Untuk melaksanakan promosi jabatan perusahaan harus menetapkan syarat-syaratnya terlebih dahulu yang dapat menjamin bahwa karyawan yang akan dipromosikan akan mempunyai kemampuan untuk menjabat jabatan yang lebih tinggi, seperti yang dikemukakan oleh Alex S. Nitisemito (2002:112-113) pada umumnya yaitu :
1. Pengalaman, dengan pengalaman yang lebih banyak diharapkan kemampuan yang lebih tinggi, ide yang lebih banyak dan sebagainya.
2. Tingkat pendidikan, bahwa dengan pendidikan yang lebih tinggi dapat diharapkan pemikiran yang lebih baik.
3. Loyalitas, dengan loyalitas yang tinggi dapat diharapkan antara lain tanggung jawab yang lebih besar.
4. Kejujuran, masalah kejujuran merupakan syarat yang penting, misalnya kasir pada umumnya syarat kejujuran merupakan syarat umum yang harus diperhatikan.
5. Tanggung jawab, kadang-kadang seringkali suatu perusahaan diperlukan suatu tanggung jawab yang cukup besar, sehingga masalah tanggung jawab merupakan syarat utama untuk promosi.
6. Kepandaian bergaul, untuk promosi jabatan tertentu mungkin diperlukan kepandaian bergaul, sehingga persyaratan kemampuan bergaul dengan orang lain perlu dibutuhkan untuk promosi jabatan tersebut, misalnya jabatan untuk salesman penetapan syarat tersebut adalah sangat penting.
7. Prestasi kerja, pada umumnya setiap perusahaan selalu mencantumkan syarat-syarat untuk berprestasi kerjanya dan ini dapat dilihat dari catatan-catatan prestasi yang telah dikerjakan.
8. Inisiatif dan kreatif, syarat tingkat inisiatif dan kreatif merupakan syarat yang harus diperhatikan. Hal ini disebabkan karena untuk jabatan tersebut sangat diperlukan inisiatif dan kreatif, meskipun demikian tidak setiap perusahaan menentukan hal itu sebagai syaratnya.

Sedangkan menurut Malayu S.P Hasibuan (2002:112-113) mengemukakan bahwa :
“Syarat-syarat promosi adalah kejujuran, disiplin, prestasi kerja, kerja sama, kecakapan, loyalitas, kepemimpinan, komunikatif dan pendidikan”.
Oleh karena itu, pengisian lowongan yang terjadi hanya dapat dilakukan dengan tepat apabila di satu pihak mengetahui bentuk pekerjaan atau jabatan yang lowong. Sementara dari pihak lain, karyawan yang akan dipromosikan harus memenuhi persyaratan yang telah ditetapkan pihak perusahaan sehingga dapat menjamin bahwa karyawan yang akan dipromosikan tersebut mempunyai kemampuan untuk menempati jabatan yang lebih tinggi dan dapat menjaga kestabilan atau bahkan dapat meningkatkan produktivitas kerja yang lebih baik bagi karyawan maupun perusahaan.
Dengan dilaksanakannya promosi jabatan dengan tepat diharapkan dapat meningkatkan motivasi kerja. Motivasi yaitu serangkaian proses yang memberi semangat bagi perilaku seseorang dan mengarahkannya kepada beberapa pencapaian tujuan.
Menurut Frederick Herzberg yang dikutip oleh dari Manullang (2001:177) yang mengatakan pemahaman motivasi dimana teori yang dikembangkan ada 2 (dua) rangkaian kondisi yang mempengaruhi seseorang didalam pekerjaannya. Rangkaian kondisi pertama disebut faktor motivator yang melukiskan hubungan seseorang dengan apa yang dikerjakannya (job content) sehingga mampu memuaskan dan merupakan dorongan untuk meningkatkan semangat kerja, sedangkan rangkaian yang kedua diberi nama faktor hygiene. Konsep faktor motivator dan faktor hygiene dari Herzberg dikenal dengan teori 2 faktor dari kepuasan kerja.
Apabila promosi direalisasikan kepada karyawan maka akan menghasilkan prestasi kerja yang tinggi, maka ada daya perangsang bagi para pegawai untuk mempertinggi motivasi kerjanya. Motivasi kerja adalah perlu bagi setiap badan usaha dan hal ini untuk sebagian dapat diakibatkan oleh pemberian promosi yang obyektif. Sebaliknya jika perusahaan tidak dapat memenuhi kebutuhan materi dan non materi akan menimbulkan perasaan tidak puas, dengan demikian motivasi kerjanya akan menurun pula.
Beberapa pengertian mengenai motivasi, menurut Bernand Berelson dan Gary A. Stanner yang dikutip oleh Muchdarsyah Sinungan (2000:134) bahwa motivasi adalah :
“ Keadaan kejiwaan dan sikap mental manusia yang memberikan energi, mendorong kegiatan atau gerakan dan mengarah atau menyalurkan perilaku kearah mencapai kebutuhan yang memberi kepuasan atau mengurangi ketidakseimbangan “.

Menurut Fillmore H. Stanford yang dikutip oleh Anwar Prabu Mangkunegara (2001:93) mengemukakan bahwa :
“Motivation as an energizing condition of the organism that serves to direct that organism to ward the goal of a certain class”.
Artinya motivasi adalah sebagai suatu kondisi yang menggerakan manusia kearah suatu tujuan tertentu.

Menurut Malayu S.P Hasibuan (2002:143) mengemukakan bahwa :
“Motivasi adalah pemberian daya gerak yang menciptakan kegairahan kerja seseorang agar mereka mau bekerja sama, bekerja efektif dan terintegrasi dengan segala daya upayanya untuk mencapai kepuasan”.

Jika promosi jabatan direalisasikan kepada karyawan yang berprestasi tinggi, maka akan ada pendorong bagi karyawan lainnya untuk mempertinggi motivasi kerjanya. Motivasi kerja yang tinggi merupakan sesuatu yang perlu bagi setiap perusahaan.
Dengan demikian dapat ditarik kesimpulan bahwa untuk meningkatkan produktivitas kerja perusahaan diperlukan motivasi kerja karyawan yang tinggi dan dapat diciptakan melalui pemenuhan kebutuhan materil dan non materil.
Salah satu kebutuhan tersebut adalah pengembangan karyawan,yang dapat dipenuhi melalui pelaksanaan promosi jabatan yang didasarkan pada penilaian yang objektif dan adil.

1.5.2 Hipotesis
Berdasarkan kerangka pemikiran diatas maka dapat ditarik suatu hipotesa sesuai dengan objek penelitian bahwa “Promosi jabatan berpengaruh terhada
p peningkatan motivasi kerja karyawan”.

1.6 Lokasi dan Waktu Penelitian
Untuk penyusunan skripsi ini penulis mengadakan penelitian pada PT. MULTI TOP INDONESIA yang berlokasi di Ruko Kopo Mas Regency 88 B Bandung dan waktu penelitian ini dilakukan mulai dari bulan November 2006.





PERANAN KEBIJAKAN DISPLAY DALAM MENINGKATKAN MINAT BELI KONSUMEN PADA TOSERBA KEMUKTEN DI KADIPATEN

21 03 2008

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Penelitian
Pada dasarnya, kebutuhan dan keinginan manusia sebagai individu maupun golongan selalu meningkat. Kebutuhan manusia sangat beraneka ragam antara lain: kebutuhan sandang, pangan, dan papan. Dengan adanya kebutuhan yang beraneka ragam itu, maka pertumbuhan ekonomi suatu masyarakat pun akan meningkat.
Sejalan dengan pertumbuhan ekonomi tersebut maka dunia usahapun berkembang semakin luas, komplek, dan bervariasi. hal ini ditunjukan dengan semakin banyaknya barang yang ditawarkan baik untuk konsumen industri maupun konsumen akhir.
Akibat perkembangan tersebut maka dapat menyebabkan adanya persaingan yang kompetitif antar perusahaan. Dimana perusahaan dituntut untuk dapat melihat berbagai kesempatan yang ada dan mencari strategi atau cara-cara untuk menarik konsumen atau pelanggan dan mempertahankannya, sehingga perusahaan dapat mengatasi dan dapat bertahan dalam persaingan yang dihadapinya, baik dalam jangka panjang maupun dalam jangka pendek.
Agar dapat bertahan ditengah persaingan yang ada, maka Toserba sebagai salah satu bentuk usaha eceran harus mampu untuk membaca segala peluang dan ancaman yang ada serta di tuntut untuk mampu melaksanakan strategi pemasaran dan perencanaan dengan baik. Agar perusahaan dapat bertambah dan berkembang lebih maju, salah satunya adalah dengan cara meningkatkan minat beli konsumen yaitu dengan kegiatan promosi.
Promosi merupakan sarana mengkomunikasikan toko berserta produk yang ditawarkan kepada konsumen. salah satu bagian dari usaha promosi penjualan yaitu dengan penataan interior dan eksterior display maupun layout toko.
Display merupakan salah satu aspek penting untuk menarik perhatian dan minat konsumen pada toko atau barang dan mendorong keinginan untuk membeli melalui daya tarik penglihatan langsung.
Agar konsumen atau pelanggan merasa betah berbelanja, maka diperlukan display atau tata letak produk yang menarik dengan menciptakan daya tarik penataan ruang dan penyusunan produk pada Toserba, sehingga timbul minat beli konsumen untuk membeli barang tersebut.
Minat beli merupakan rasa ketertarikan yang dialami oleh konsumen terhadap suatu produk (barang atau jasa) yang dipengaruhi oleh sikap diluar konsumen dan didalamnya konsumen itu sendiri.
Salah satu bentuk pedagang eceran atau retailer adalah Toserba, sebagai perantara Toserba mempunyai peranan yang penting dalam memasarkan produk untuk memenuhi kebutuhan konsumen, baik bagi produsen maupun bagi konsumen. Bagi produsen, Toserba merupakan perantara untuk menyampaikan barang-barang yang dihasilkan kepada konsumen akhir, sedangkan bagi konsumen, Toserba merupakan tempat dimana mereka dapat memperoleh barang-barang yang dibutuhkannya.
Toserba Kemukten merupakan toko eceran yang menjual berbagai bentuk produk mulai dari fashion sampai pada barang-barang kebutuhan sehari-hari.
Adapun masalah yang dihadapi oleh Toserba Kemukten adalah dalam hal menampilkan bentuk dan ragam toko yang dapat menarik perhatian konsumen pada barang-barang yang dipajang (display), sehingga menimbulkan keinginan untuk memiliki barang tersebut dan diharapkan dapat meningkatkan minat beli konsumen.
Dari penjelasan tersebut maka penulis akan menemukan suatu hubungan yang erat antara minat beli yang akan muncul karena dipengaruhi oleh sikap dari luar konsumen yaitu karena adanya display yang berdaya tarik dan untuk berusaha menarik minat beli konsumen melalui daya tarik penglihatan langsung sehingga konsumen tertarik untuk berbelanja ditoko atau pada barang tertentu.

Berdasarkan uraian tersebut, maka penulis tertarik melakukan penelitian dengan judul “PERANAN KEBIJAKAN DISPLAY DALAM MENINGKATKAN MINAT BELI KONSUMEN PADA TOSERBA KEMUKTEN”.

1.2 Identifikasi Masalah
Dari latar belakang tersebut diatas, penulis mengidentifikasikan beberapa masalah yang akan diteliti dan dibahas sebagai berikut :
1. Bagaimana pelaksanaan kebijakan display yang digunakan oleh Toserba Kemukten?
2. Bagaimana pendapat konsumen tentang pelaksanaan display yang dilakukan oleh Toserba Kemukten?
3. Seberapa besar peranan kebijakan display dalam meningkatkan minat beli konsumen pada Toserba Kemukten?

1.3 Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah :
1. Untuk mengetahui kebijakan display yang digunakan oleh Toserba Kemukten.
2. Untuk mengetahui penilaian konsumen tentang display yang dilaksanakan oleh Toserba Kemukten.
3. Untuk mengetahui peranan kebijakan display dalam meningkatkan minat beli konsumen pada Toserba Kemukten.

1.4 Kegunaan Penelitian
Penulis berharap hasil penelitian ini dapat memberikan manfaat bagi pihak-pihak sebagai berikut :
1. Bagi perusahaan, sebagai bahan bagi pihak manajemen perusahaan dalam pengambilan keputusan mengenai kebijakan perusahaan di bidang pemasaran di masa yang akan datang, khususnya mengenai peranan kebijakan display.
2. Bagi pembaca lainnya, khususnya bagi rekan-rekan mahasiswa yang sedang menuntut ilmu di Universitas Widyatama Bandung dapat menambah pengetahuan mengenai peranan kebijakan display.
3. Bagi penulis, sebagai tambahan pengetahuan untuk memperluas wawasan mengenai manajemen pemasaran, baik melalui teori-teori maupun prakteknya, khususnya mengenai peranan kebijakan display dan minat beli konsumen.
4. Untuk memenuhi salah satu syarat guna menempuh ujian sarjana ekonomi (strata-1) pada jurusan manajemen Universitas Widyatama Bandung.

1.5 Kerangka Pemikiran
Didalam bisnis retail store, salah satu usaha yang dilakukan pengusaha untuk mengatasi persaingan adalah dengan mengarahkan perhatian konsumen untuk memasuki tokonya agar dapat melakukan pembelian.untuk mengimbangi persaingan agar konsumen tidak berpindah pada pesaing, toko eceran memerlukan suatu display yang baik dan kreatif yang merupakan usaha perpaduan unsur-unsur didalam maupun diluar toko.
Salah satu alat promotion yang paling penting adalah display menurut Gerard j.tellis (1998:234-235) :
“display are in-store arragments that give greater visibility to a brand relative to competing brands”.

Artinya :
“Display adalah susunan-susunan dalam toko yang memberikan kemungkinan untuk dilihat yang besar bagi merek suatu produk secara relatif untuk bersaing dengan merek-merek lainnya”.

Yang dimaksud dengan penataan bagian muka (display eksterior) antara lain meliputi :
1. Window display.
2. Disain pintu masuk toko, dan
3. Disain nama toko
Sedangkan yang dimaksud dengan display interior antara lain meliputi :
1. Susunan barang yaitu banyaknya ragam barang yang terdiri dari berbagai jenis dan merek sehingga diperlukan kecermatan dalam penyusunan barang tersebut, terdiri dari :
a. Pengelompokan barang
b. Pengaturan barang
c. Tata letak barang
2. Penyajian barang yaitu keberadaan barang-barang yang dijual,terdiri dari :
a. Kemudahan memperoleh barang
b. Pengadaan barang
c. Perubahan display
3. Penampilan barang yaitu keadaan suatu barang yang dijual serta faktor penunjang lainnya yang mungkin dapat membantu kesuksesan sebuah display, terdiri dari :
a. Kebersihan
b. Kerapihan
c. Pencahayaan

Susunan barang diperlukan untuk mengklasifikasikan semua jenis barang yang ditawarkan sesuai dengan bentuk, ukuran, dan merek barang dagangan yang sejenis.
Dalam penyajian barang yang perlu diperhatikan adalah pengadaan barang dan kemudahan memperoleh barang yang didalamnya mengandung petunjuk-petunjuk yang dapat memberitahukan dimana letak barang yang diinginkan konsumen.
Dalam penampilan barang yang perlu diperhatikan adalah tentang kebersihan, kerapihan, pencahayaan.
Masalah rutinitas dan suasana yang sama dalam jangka waktu tertentu akan menimbulkan rasa bosan dan jenuh serta tidak menimbulkan rangsangan untuk berbelanja ditempat tersebut. Jadi perubahan display multak diperlukan agar konsumen
memperoleh kesan bahwa barang yang tersedia selalu baru, baik dan baik untuk dikonsumsi oleh konsumen. hal ini akan mempermudah proses selanjutnya dimana konsumen dapat menjadi alat promosi dengan memberikan informasi pada orang-orang disekitarnya. Ini merupakan cara efektif yang dapat dilakukan perusahaan dalam usahanya untuk meningkatkan minat beli konsumen.

1.6 Hipotesis
Berdasarkan uraian teori tersebut diatas dapat diajukan suatu hipotesis sebagai berikut: ”semakin baik display yang dilakukan oleh perusahaan, maka minat beli konsumen semakin tinggi”.

1.7 Lokasi dan Waktu Penelitian
Adapun lokasi penelitian ini dilakukan pada Toserba Kemukten yang berlokasi di jalan Ampera No. 122 Kadipaten. Dan waktu penelitian yang dilakukan penulis dimulai pada awal Oktober 2003.





PENGARUH PRODUCT IMAGE TERHADAP MINAT MEMBELI KONSUMEN PADA CELANA FORMAL MEREK CARDINAL

21 03 2008

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Penelitian
Dengan bertambah maraknya dunia fashion di Indonesia akibat semakin banyaknya mode-mode fashion, maka dapat melengkapi masyarakat Indonesia daiam hai memiiih baju atau celana yang akan dipakainya. Pakaian merupakan kebutuhan pokok manusia, jenis pakaian yang senantiasa mengikuti akan keinginan konsumen lebih diminatj, oleh sebab itu hal ini mendorong pertumbuhan industri-industri garmen untuk dapat memenuhi keinginan konsumennya, sehingga banyak bermunculan produsen-produsen baru dan industri yang mendorong tingkat persaingan.
Dengan adanya persaingan tersebut, maka dapat memberikan manfaat yang positif pada masyarakat Indonesia yaitu dengan tersedianya berbagai macam pilihan merek, ukuran, bentuk dan harga sehingga memberikan banyak alternatif daiam menentukan suatu pilihan. Hal tersebut akhirnya membuat para calon pembeli menghadapi kesulitan saat akan memiiih produk mana yang akan dibe”, persepsinya pada citra suatu produk atau merek akan muncul dan akan menjadi saiah satu rangsangan atau stimulus daiam menentukan suatu produk yang akan dibeli. Citra merek atau produk yang paling ia ingat dan ia yakini baik yang akan ia pilih. Dalam hal ini citra atau merek memegang peranan cukup penting, oieh karena itu saat ini banyak perusahaan saling bersaing mempengaruhi para calon pembeli untuk memiiih produk mereka dengan berupaya melakukan promosi, dengan jalan : periklanan, promosi penjualan, hubungan masyarakat, usaha penjualan, pemasaran langsung. Hal tersebut digunakan untuk memperkenalkan produk baru mereka agar diketahui, diterima, diingat, dan selanjutnya diharapkan bisa dikonsumsi. Promosi bertujuan pertama untuk menciptakan pengenalan akan merek {brand awareness di masyarakat yang kemudian diharapkan membentuk suatu citra {/mage). Jika citra yang baik itu terbentuk akan menjadikan suatu keuntungan bagi perusahaan karena
diharapkan masyarakat akan semakin mengetahui dri atau sifat yang ada pada produk merek tersebut
Promosi yang dilakukan juga berguna bagi perusahaan-perusahaan yang sudah ada sejak tama dan sudah memilikl nama balk, yaitu membangun dtra jangka panjang untuk suatu produk, untuk mengingat kembaii keberadaan produk mereka seta terus melakukan komunikasi sehingga dtra produk mereka dapat tetap terjaga dan konsumen diharapkan semakin loyal kepada merek tersebut
Demikian juga yang terjadi dengan perusahaan P.T. MULTI GARMENJAYA sebagai salah satu produsen pakaian yang cukup terkenal di Indonesia yang memproduksi pakaian dengan merek Cardinal yang terus berupaya untuk melakukan promosinya dalam menghadapi persaingan dengan perusahaan sejenis. Dalam upaya untuk terus melakukan promosinya dan dalam upaya mengadapi persaingan, perusahaan
P.T. MULTI GARMENJAYA didalam memproduksi celana merek Cardinal senantiasa melihat akan kebutuhan para konsumennya, misalnya bentuk atau desainnya, pilihan warna, kualitas atau mutu yang baik, serta harga yang tidak terialu mahal dan juga jaringan distribusi yang luas.
Dengan memperhatikan hal tersebut, maka perusahaan P.T. MULTI GARMENJAYA didalam memproduksi celana dengan merek Cardinal diharapkan dapat memenangkan persaingan.
Berdasarkan uraian diatas, penulis merasa tertarik untuk mengadakan penetitian tentang : “Pengaruh Produk Image Terhadap Minat Membeli Konsumen Pada Produk Celana Formal Merek Cardinal”.
1.2 Identifikasi Masalah
1.Bagaimana tanggapan konsumen tentang Product Image celana formal merekCardinal ?
2.Bagaimana perusahaan P.T. MULTI GARMENJAYA membangun Product Imageterhadap produknya yaitu celana formal merek Cardinal?
3.Seberapa besar pengaruh Product Image terhadap Minat Membeli Konsumen?

1.3 Tujuan Penelitian
Untuk mengetahui: 1.Tanggapan Responden Terhadap Product Image dart Celana Format Merek Cardinal. 2.Pelaksanaan membangun Product Image di perusahaan P.T. MULTI GARMENJAYA Terhadap Produknya yaitu Ceiana Formal Merek Cardinal. 3.Sampai seberapa besar pengaruh Product Image terhadap minat membeti konsumen.

1.4 Kegunaan Penelitian
Dari hasil penelitian ini penuiis berharap dapat membeiikan manfaat bagi pihak-pihak berikut:
1 Bagi Perusahaan (P.T. MULTI GARMEN JAYA) Penelitian ini diharapkan dapat membeiikan informasi serta masukan yang berguna bagi kegiatan pemasaran yang dilakukan terhadap produk yang dlhasilkan.
2 Bagi Penulis Untuk membandingkan antara teori-teori Manajemen khususnya manajemen Pemasaran yang penuiis pelajari seiama kuiiah dengan kenyataan yang terjadi sesungguhnya sehingga dapat menambah pengetahuan bagi penuiis.
3 Bagi Masyarakat Umum Khususnya bagi calon pembeli produk ceiana formal merek Cardinal supaya menjadi merek utama dalam pemilihan produk ceiana.
4 Untuk menambah pengetahuan dan memberikan manfaat khususnya di bidang manajemen pemasaran.

1.5 Kerangka Pemikiran
Suatu perusahaan akan memperoleh banyak keuntungan jika memiliki produk yang baik di masyarakat luas, yang secara tidak iangsung akan membantu perusahaan dalam memasarkan produk mereka. Pada saat calon pembeli akan memutuskan produk mana yang akan dipilih, calon konsumen akan terbawa secara sadar atau tidak sadar pada persepsinya pada suatu citra {image}. Qtra tersebut dapat berupa citra kepada produk tertentu, merek tertentu, perusahaan tertentu, toko tertentu dan Iain-Iain. Dalam hal ini perusahaan harus memiliki kualitas dan keunggulan-keunggulan dalam produknya serta memiliki Iayanan puma jual yang selalu siap menanggani keluhan-keluhan konsumen. Pengaruh citra secara sadar atau tidak sadar akan mempengaruhi keputusan membeli, contohnya saat kita akan membeli minuman mineral, ingatan kita biasanya teringat kepada merek tertentu saja yaitu Aqua padahal jika kita teliti kembali masih sangat banyak merek lainnya. Dalam hal ini Aqua memiliki citra merek yang sudah tertanam dengan baik.
Demikian juga yang terjadi dengan produk pakaian, dimana masyarakat akan membeli prcduk celana yang berkualitas diatas rata-rata produk lain, pikirannya akan berkutat pada merek-merek lain.
Akan tetapi jika masyarakat akan membeli produk pakaian harganya murah, maka ingatannya akan tertuju pada merek tertentu. Masing-masing memiliki citra yang berbeda-beda di benak konsumen.
Seperti pernyataan Kotler dan Armstrong (1994:320) dalam buku Principles of Marketing yaitu :
“A product image is the way consumers perceived and actual or potential poducf.
Kotler (1980;hal :321) mengemukan bahwa :
“A product image is a particular subjective picture consumers actually acquire of the product”.
Sedangkan arti persepsi menurut Kotier dan Armstrong (1997:156) dalam buku Dasar-dasar Pemasaran adalah sebagai berikut:
“Persepsi didefinisikan sebagai proses dimana seseorang memilih, mengorganisasikan, mengartikan masukan informasi untuk menciptakan suatu gambaran yang berarti di dunia”.
Persepsi yang berbeda menciptakan segmentasi pasar, sehingga perusahaan harus hati-hati dalam membangun suatu citra di masyarakat, apabila perusahaan salah dalam membangun dtra akan membuat masyarakat salah dalam mempersepsikan produk tersebut. Merek-merek yang masih belum terkenal di masyarakt masih hams lebih giat membangun dtra produknya, misalnya: meningkatkan kualitas dan fasilitas produknya serta menyediakan Iayanan puma jual selain itu juga perusahaan dapat melakukan promosi yang gencar.
Sedangkan merek-merek yang sudah dikenal di masyarakat haruslah mempertahankan dtra produknya baik melalui promosi untuk sekedar mengingatkan bahwa merek tersebut masih ada, maupun untuk memperkenalkan produk lainnya.
Citra produk dapat terbentu dari atribut-atribut yang ada pada produk tersebut seperti : kualitas, warna, desain, kemasan, merek, pelayanan, dan lain sebagainya.
Atribut-atribut tersebut menjadi suatu stimuli dalam proses keputusan. Dimana proses tersebut biasanya melalui lima tahapan menurut Kotler dalam bukunya Manajemen Pemasaran I (1997;257) yaitu : Pengenalan masalah (problem recognition), pencarian informasi (information se
arch), penilaian alternate (Evaluation of altematif), keputusan membeli (purchase decision) dan perilaku setelah pembelian (postpurchase behaviour).
Pertama kali para calon konsumen biasanya menyadari suatu perbedaan antara keadaan sebenarnya dengan keadan yang diinginkan misalnya: ia merasa ada sesuatu yang kurang kalau hanya menggunakan celana yang hanya dijual di pinggir jalan, sehingga ia berniat untuk membeli celana yang sudah memiliki merek terkenal.
Calon kunsumen yang tergugah minatnya mungkin akan mencari informasi lebih banyak lagi. Jika dorongan konsumen kuat dan objeknya dapat memuaskan kebutuhan tersebut tersedia, konsumen kemungkinan besar akan membeii produk tersebut. Jika tidak, kebutuhan konsumen itu akan tinggal mengendap dalam ingatannya (ia tidak tagi aktif dalam mencari informasi lebih lanjut). Dalam melakukan pencarian informasi, calon konsumen dapat memperoleh informasi dari sumber-sumber lain seperti: sumber pribadi (pribadi atau kerabat, teman, tetangga, kenalan), sumber niaga (periklanan, penjual, pameran), sumber pengalaman (pernah menanggani, menguji, mempergunakan produk tersebut (Tahap Pencarian Informasi).
Setelah memperoleh informasi dari berbagal sumber, selanjutnya calon pembeli akan dihadapkan pada beberapa alternatif merek produk. Qri-ciri atau sifat yang ada pada produk tersebut merupakan sesuatu yang menarik perhatian para calon pembeli. Pada tahap ini konsumen akan memperhatikan tiri-dri atau sifat yang berkaitan langsung dengan kebutuhan mereka, misalnya kualitas, harga model, garansi layanan puma jual serta daya tahan produk tersebut. Pada tahap ini pula dtra produk atau merek memegang peranan cukup penting, konsumen akan menggali kembali ingatannya pada suatu merek atau produk tertentu, mereka mencoba menseleksi persepsinya sendiri mengenai citra produk tersebut (Tahap Evaluasi Alternatif).
Calon kunsumen yang akan membeii suatu produk akan membuat lima macam keputusan membeii dalam melaksanakan maksudnya untuk membeii produk tersebut, yaitu keputusan tentang merek, keputusan membeii dari siapa, keputusan tentang jumlah, keputusan tentang waktu membeii, dan keputusan tentang cara membayar. Setelah semuanya dfpikirkan masak-masak maka ia akan membuat keputusan (Tahap Keputusan Membeii).
Jika pembelian telah dilakukan, konsumen akan mengalami beberapa tingkat kepuasan atau ketidakpuasan yang akan mempengaruhinya dalam membentuk suatu citra produk yang telah ia beli.
Jika ia merasa puas maka produk tersebut akan memperoleh tempat dihatinya dan akan semakin meningkatkan dtra produk tersebut (Perilaku Pasca Pembelian).
Jika ia merasa puas maka produk tersebut akan memperoleh tempat dihatlnya dan akan semakin meningkatkan dtra produk tersebut (Perilaku Pasca Pembeiian).
Berdasarkan kerangka pemiklran diatas dapat ditarik hipotesis sebagai berikut: “Terdapat Hubungan yang Positif Antara Product Image Tertiadap Minat Membeli Konsumen Pada Produk Tersebut-.
Dengan asumsi bahwa variabel-varlabel lain dlluar citra produk dianggap tetap (cateris paribus).

1.6 Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan di P.T. MULTI GARMENJAYA yang berlokasi di Jalan Krawang No. 1, adapun waktu penelitian yang dilakukan penulis dimuiai pada akhir bulan Agustus 2003 sampai selesai.





LEVEL IMPLEMENTASI MARKET ORIENTATION DAN HUBUNGANNYA DENGAN PERFORMA PADA UNIVERSITAS WIDYATAMA

21 03 2008

BAB I
Pendahuluan

I.1. Latar Belakang Penelitian
Keberhasilan suatu organisasi sangat ditentukan oleh kemampuan organisasi memahami dan memuaskan kebutuhan konsumen. Hal ini merupakan inti filosofi marketing concept (Ruekert, 1992; Webster, 1988). Ada dua hal yang tersirat dalam filosofi ini. Pertama, adanya keharusan bagi organisasi untuk mencari informasi mengenai apa yang dibutuhkan oleh konsumen, baik itu kebutuhan yang ekspresif maupun kebutuhan yang latent. Kedua, keharusan untuk melakukan inovasi sebagai konsekuensi usaha organisasi untuk memuaskan kebutuhan konsumen yang teridentifikasi. Drucker (1954) dengan tegas mengatakan bahwa fungsi perusahaan hanya dua, yaitu marketing dan inovasi. Dalam kondisi persaingan, alasan yang melatar belakangi eksistensi suatu organisasi ada dua, yaitu: menciptakan nilai (inovasi) dan memenangkan persaingan (Ma, 1999).
Penurunan jumlah calon mahasiswa baru yang secara nasional mencapai 40% hingga tahun 2005 (Sutoko, 2005) berakibat pada meningkatnya persaingan antar perguruan tinggi dalam menjaring mahasiswa baru. Bagi perguruan tinggi, terutama perguruan tinggi swasta (PTS), yang sumber pendanaannya terutama berasal dari mahasiswa hal ini tentu dirasakan sangat memberatkan. Dengan demikian kemampuan PTS menjaring mahasiswa baru akan sangat menentukan kelangsungan PTS itu sendiri dimasa yang akan datang. Hal ini juga dirasakan oleh Universitas Widyatama (UTAMA) yang selama beberapa tahun terakhir ini mengalami penurunan jumlah peminat untuk mengikuti ujian saringan masuk. Penelitian niat siswa SMU di kota Bandung yang dilakukan oleh Zulganef & Lasmanah (2004) menemukan bahwa minat siswa SMU untuk memasuki UTAMA belum muncul.
Dampak jangka pendek dari kondisi ini terutama adalah meningkatnya tekanan pada arus dana, sedangkan dalam jangka panjang, dampak yang mungkin terjadi adalah penurunan kualitas. Jika disatu sisi jumlah peserta ujian saringan masuk menurun, dan disisi lain ada keinginan untuk mempertahankan arus dana dengan jalan mempertahankan jumlah mahasiswa yang diterima, maka konsekuensinya adalah passing grade calon mahasiswa baru yang diterima harus diturunkan. Mungkin ini pilihan pahit yang harus diambil, tetapi dalam jangka panjang, apakah pilihan ini bijaksana atau tidak, mungkin akan menimbulkan banyak perdebatan.
Seperti halnya organisasi lain yang berada dalam kondisi persaingan, keberadaan suatu lembaga PTS termasuk UTAMA adalah untuk menciptakan nilai dan memenangkan persaingan (Ma, 1999). Dalam konteks persaingan, lembaga PTS termasuk UTAMA harus mampu menciptakan dan mengeksploitasi advantages yang diharapkan mampu menjadi competitive advantage dalam menghadapi tekanan persaingan yang ada (Ma, 1999). Lebih jauh, lembaga PTS termasuk UTAMA tentunya berharap competitive advantages yang dimiliki dapat menjadi sustainable competitive advantage. Masalahnya adalah apakah UTAMA sebagai sebuah organisasi yang berada di tengah-tengah situasi persaingan memiliki advantages yang dapat dijadikan competitive adavantages yang diarahkan kepada sustainable competitive advantage? Hal ini mungkin sangat perlu untuk diuji.
Resource-based view (RBV) yang diperkenalkan oleh Wernerfelt pada tahun 1984, berargumen bahwa sumber daya organisasi yang unik akan mampu menghasilkan advantages (Wernerfelt, 1984). Dalam waktu lima belas tahun terakhir, RBV berkembang menjadi sebuah teori yang yang sangat berpengaruh pada bidang manajemen stratejik (Cohen, Wesley & Levinthal, 1990; Dixon, 1992; Henri, 2005), dan bidang pemasaran stratejik (Day, 1994; Matear, Morgan, 2004; Santos-Vijande, Sanzo-Perez; Alvarez-Gonzalez, and Vazquez-Casielles, 2005). RBV didasarkan pada prinsip bahwa kemampuan bersaing organisasi merupakan fungsi dari keunikan serta nilai dari resources serta kapabilitas yang dimiliki oleh organisasi tersebut (Henri, 2005). RBV menganggap bahwa kapabilitas merupakan sumber utama untuk mencapai sustainable competitive advantage (Henri, 2005). Kapabilitas terbukti merupakan sumber daya yang sangat sulit untuk digambarkan, bahkan sering disebut sebagai invisible assets, dan dengan demikian kapabilitas menjadi sulit untuk diduplikasi (Henri, 2005). Pada intinya, kapabilitas merupakan skills individu atau kelompok yang bersifat tacit, interaksi-interaksi dimana terjadi koordinasi antar resources, dan budaya organisasi (Barney, 1991; Day, 1994; Hult, Ketchen, and Nicholsl., 2002; Henri, 2005).
Market orientation merupakan salah satu budaya organisasi, yang terbukti jika terimplementasi dengan baik dalam organisasi, akan menjadi salah satu kapabilitas utama yang diperlukan untuk mencapai sustainable competitive advantage (Baker & Sinkula, 1999; Day, 1994; Henri, 2005; Hurley & Hult, 1998; Hurley, Hult & Knight, 2005; Kohli & Jaworski, 1990; Narver & Slater, 1990). Market orientation merupakan operasionalisasi dari marketing concept (Kohli & Jaworski, 1990; Narver & Slater, 1990) yang berfokus tiga hal, yaitu: pertama, usaha untuk memahami apa yang dibutuhkan oleh konsumen, baik kebutuhan ekspresif maupun yang laten; usaha untuk memahami pesaing, dan ketiga, usaha untuk menciptakan kordinasi antar fungsi dalam organisasi yang ditujukan untuk menghasilkan sinergi sumber daya organisasi (Narver & Slater, 1990; Narver, Slater, and MacLachlan, 2000). Implementasi market orientation yang baik akan memampukan organisasi memahami lingkungannya, dan dari pemahaman ini organisasi akan mampu berkreasi menghasilkan inovasi yang digunakan sebagai alat untuk menghantarkan values and benefits bagi konsumen.
Mengingat pentingnya marketing dan inovasi sebagai alat agar organisasi mampu beradaptasi dengan lingkungannya (Drucker, 1954), tentunya akan menjadi menarik dan sangat penting untuk memahami bagaimana level implementasi di UTAMA, dan bagaimana dampaknya terhadap performa UTAM.A. Penelitian ini mengukur level implementasi market orientation UTAMA, yang ditujukan untuk mencoba menjelaskan terjadinya gap berupa penurunan jumlah peserta ujian saringan masuk serta dampaknya terhadap performa UTAMA sebagai sebuah organisasi yang berada di tengah-tengah persaingan.

I.2. Identifikasi Masalah
Berdasarkan uraian di atas, masalah utama penelitian ini adalah: “Bagaimana hubungan level implementasi market orientation dengan performa UTAMA, dan apakah level implementasi tersebut dapat menjelaskan kemampuan UTAMA menjaring calon mahasiswa baru?”

I.3. Tujuan Penelitian
Penelitian ini ditujukan untuk mengukur level implementasi market orientation, melihat hubungan learning orientation dengan performa, dan mencoba menjelaskan kemampuan UTAMA menjaring calon mahasiswa baru.

I.4. Kegunaan Hasil Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi pada:
1. teoritis, berupa pemahaman secara empiris yang lebih baik terhadap hubungan market orientation dan performa;
2. praktis, memahami market orientation sebagai salah satu budaya organisasi yang utama dalam memahami kebutuhan konsumen agar dapat memberikan values and benefits yang lebih baik disbanding pesaing melalui kreativitas organisasi dalam inovasi;
3. praktis, pemahaman serta guideline bagi para pengambil keputusan stratejik untuk mengembangkan kapabilitas yang diperlukan bagi pencapaian competitive advantage yang sustained.

I.5. Kerangka Pemikiran
Fahy (2000) mengatakan bahwa resources terdiri dari tiga kelompok, yaitu: tangible assets, intangible assets, dan capabilities. Literatur RBV menganggap bahwa kapabilitas merupakan sumber utama sustainable competitive advantage (Henri, 2005). Karena sifatnya yang sulit digambarkan atau dideskripsikan, maka kapabilitas akan menjadi sangat sulit untuk diduplikasi oleh pesaing. Kapabilitas ada di dalam organisasi, tetapi karena sifatnya yang tacit, maka manajemen harus mampu untuk mengidentifikasi, mengeksploitasi serta mengimplementasi-kan kapabilitas tersebut menjadi advantages. Kapabilitas menjembatani resources organisasi dan cara
bagaimana mereka digunakan (Day, 1994). Kapabilitas merupakan proses organisasi dengan mana organisasi mensintesa dan mendapatkan knowledge resources, dan menghasilkan penggunaan-penggunaan baru dari resources organisasi yang ada (Liu, Luo, Xueming, Shi, Yi-Zheng, 2002). Proses-proses dalam organisasi yang menggunakan resources – khususnya proses-proses yang mengintegrasi, merekonfigurasi, mendapatkan dan menghasilkan resources – dimaksudkan untuk menyesuaikan organisasi dengan perubahan-perubahan yang terjadi di pasar, dan bahkan juga untuk menciptakan perubahan di pasar itu sendiri (Fahy, 2000).
Konsep market orientation merupakan elemen sentral dari filosofi manajemen (Ruekert, 1992; Webster, 1988) dan sangat berpengaruh pada performa jangka panjang. Mengingat pentingnya market orientation sebagai alat untuk mengukur implementasi marketing concept, Marketing Science Institute pada pertengahan tahun 1980an menyarankan perlunya dilakukan banyak penelitian untuk merumuskan konsep serta alat ukur market orientation yang lebih baik (Deshpande & Farley, 1998; 1999). Diawal tahun 1990an, dua artikel seminal muncul, yaitu: Kohli & Jaworski (1990) dan Narver & Slater (1990) yang mengemukakan konsep yang lebih operasional serta alat ukur market orientation.
Kohli & Jaworski (1990) mendefinisikan market orientation sebagai behavior yang terdiri dari:
1. intelligence generation,
2. intelligence dissemination,
3. responsiveness.

Kohli & Jaworski (1990) mengemukakan bahwa organisasi harus market-oriented. Untuk itu organisasi harus dapat mencari informasi tentang apa yang dibutuhkan oleh konsumen, baik yang ekspresif maupun yang laten. Tanggung jawab pencarian informasi ini bukan semata-mata tanggung jawab bagian marketing, melainkan tanggung jawab semua bagian dalam organisasi (Kohli & Jaworski, 1990; Narver & Slater, 1990). Informasi yang diperoleh mengenai kebutuhan konsumen harus didesiminasikan keseluruh bagian dari organisasi sehingga seluruh komponen organisasi memahami benar apa yang dibutuhkan oleh konsumen. Selanjutnya, secara terintegrasi dilakukan perancangan serta eksekusi rancangan yang sesuai dengan kebutuhan konsumen (Kohli & Jaworski, 1990). Dengan demikian, esensi dari konsep market orientation yang dikemukakan oleh Kohli & Jaworski (1990) adalah bahwa organisasi harus mampu memahami konsumennya dan mampu melakukan inovasi untuk menghantarkan value and benefits kepada konsumen secara lebih baik dibanding pesaing.
Narver & Slater (1990) mendefinisikan market orientation sebagai budaya organisasi yang sangat efektif dan efisien dalam menciptakan perilaku-perilaku yang diperlukan dalam penciptaan nilai superior bagi konsumen, dan dengan demikian diharapkan dapat menghasilkan performa superior bagi organisasi, yang terdiri dari 3 (tiga) komponen, yaitu: customer orientation, competitor orientation, dan inter-functional coordination. Dalam definisi Narver & Slater (1990) ini tersirat inovasi yang berkelanjutan pada organisasi yang market-oriented.
Organisasi yang market-driven adalah organisasi yang menetapkan prioritas yang tinggi pada penciptaan value bagi konsumen yang ada maupun konsumen potensial (Day, 1994). Organisasi yang memiliki budaya market-oriented mengembangkan kapabilitas dalam market intelligence, dan strateji-stratejinya responsif pada informasi yang diperoleh dari konsumen dan stakeholder lain. Organisasi yang memiliki budaya market-oriented juga mampu mengembangkan kemampuan untuk melakukan koordinasi pada proses internalnya, dengan demikian organisasi akan mampu bereaksi dengan cepat dan efektif (Day, 1994; Narver & Slater, 1990).
Beberapa studi market orientation pada sektor jasa menemukan bahwa market orientation secara positif mempengaruhi performa organisasi. Konklusi yang paling penting adalah hasil yang menyatakan bahwa dengan menjadi organisasi yang market-oriented perusahaan jasa akan menghasilkan performa yang lebih baik (Naidu & Narayana, 1991; Caruana, Pitt, and Berthon, 1999; Wood, Bhuian, and Kiecker, 2000).
Organisasi yang budaya market orientation nya tinggi mendapatkan manfaat dalam organisasi baik secara internal maupun eksternal (Esteban, Millan, Molina, and Martin-Cosuegra, 2002). Market orientation sangat relevan dalam masa-masa sulit dimana persaingan sangat tinggi, atau saat dimana terjadi krisis ekonomi secara makro, yang mengakibatkan pasar mengecil, konsumen lebih berhati-hati, dan konsumen akan memilih produk dari organisasi yang mampu memberikan value and benefits yang lebih baik (Au & Tse, 1995). Hal ini tidak berarti bahwa dalam kondisi persaingan yang tidak tinggi organisasi tidak perlu memiliki budaya market orientation. Pada masa-masa honeymoon sekalipun, organisasi perlu mengembangkan budaya market orientation untuk dapat menjaga hubungan baik dengan konsumen sehingga pada masa sulit konsumen tetap loyal (Tse, Sin, Yim & Heung, 2005).

I.6. Desain Dan Metode Penelitian
Penelitian ini ditujukan untuk menjelaskan hubungan market orientation dengan performa yang didasarkan pada persepsi dosen dan karyawan, baik yang menduduki jabatan struktural maupun yang non-struktural di lingkungan UTAMA. Dengan demikian, penelitian ini bersifat explanatory dengan pendekatan satu kasus organisasi.
Data berupa persepsi dosen dan karyawan akan dijaring melalui kuesioner yang akan disebarkan kepada seluruh dosen dan karyawan di lingkungan UTAMA. Populasi penelitian ini dengan demikian adalah seluruh dosen tetap dan karyawan administrasi yang ada di lingkungan UTAMA. Unit analisis penelitian ini adalah individu. Seluruh anggota populasi akan diambil sebagai responden (survey), dan besarnya sample adalah sebesar jumlah kuesioner yang diisi, kembali, dan dapat diolah.
Kuesioner terdiri dari tiga bagian, bagian pertama berisi pertanyaan-pertanyaan yang merepresentasikan indikator dari tiga dimensi market orientation, bagian kedua berisi pertanyaan-pertanyaan yang merepresentasikan indikator dari dua dimensi performa, dan bagian ketiga berisi pertanyaan-pertanyaan untuk menjaring data demografi responden. Kuesioner dirancang dengan menggunakan Seven Point Likert Scale. Data yang diperoleh akan diolah dengan menggunakan alat analisis, yang antara lain: validity and reliability test, uji asumsi klasik, dan OLS regression dengan menggunakan paket program SPSS 11.5.





PENGARUH PELAKSANAAN PROGRAM KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA TERHADAP PRODUKTIVITAS KERJA KARYAWAN PADA P.T PUPUK KUJANG CIKAMPEK

21 03 2008

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Penelitian
Suatu organisasi baik perusahaan maupun instalasi dalam melakukan aktivitasnya sudah tentu memerlukan sumber daya manusia yang mendukung usaha pencapaian tujuan yang telah ditetapkan oleh organisasi. Bagaimanapun lengkap dan canggihnya sumber-sumber daya non-manusia yang di miliki oleh suatu perusahaan, tidaklah menjadi jaminan bagi perusahaan tersebut untuk mencapai suatu keberhasilan. Jaminan untuk dapat berhasil, lebih banyak ditentukan oleh sumber daya manusia yang mengelola, megendalikan, dan mendayagunakan sumber-sumber daya non-manusia yang dimiliki. Oleh karena itu masalah karyawan merupakan masalah besar yang harus mendapat perhatian bagi perusahaan. Dalam rangka penerapan tehnologi canggih, beberapa persiapan dan langkah perlu dilakukan untuk menghindari bencana, memperkecil kecelakaan dan penyakit kerja. Setiap teknologi baru yang hendak diterapkan perlu diketahui dan diinformasikan kemungkinan resiko yang akan ditimbulkan, sehingga karyawan dan pengguna tehnologi tersebut dapat mempersiapkan sarana penanggulangan bahaya dan cara mencegahannya. Dalam penggunaan peralatan canggih tersebut sebagai alat bantu manusia dalam melakukan suatu pekerjaannya dapat menghasilkan dampak positif dan dapat pula menghasilkan dampak negatif. Salah satu dampak positif dalam penggvinaan peralatan tersebut adalah membantu manusia dalam menyelesaikan pekerjaan secara efisien, sedangkan dampak negatifnya adalah kemungkinan bahaya atau kecelakaan yang ditimbulkan dari penggunaan peralatan tersebut. PT Pupuk Kujang adalah perusahaan yang bergerak dibidang produksi
pupuk, dalam proses produksi perusahaan menyadari bahwa frekuensi resiko kemungkinan terjadi kecelakaan kerja jauh lebih tinggi. Disebabkan dalam proses produksi, dimana terdapat mesin-mesin dan peralatan yang mendukung proses tersebut.
Pada umumnya kecelakaan kerja disebabkan oleh dua faktor yaitu manusia dan lingkungan. Faktor manusia yaitu tindakan tidak aman dari manusia seperti sengaja melanggar peraturan keselamatan kerja yang di wajibkan, kurang terampilnya pekerja itu sendiri. Sedangkan faktor lingkungan yaitu keadaan tidak aman dari lingkungan kerja yang menyangkut antara lain peralatan atau mesin-mesin, tetapi frekuensi terjadinya kecelakaan kerja lebih banyak terjadi karena faktor manusia, karena manusia yang paling banyak berperan dalam menggunakan peralatan di perusahaan.
Perusahaan perlu melaksanakan program Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K-3) yang diharapkan dapat menurunkan tingkat kecelakaan kerja, dan pada akhirnya akan dapat meningkatkan kinerja perusahaan dan produktivitas kerja karyawan. pelaksanaan program Keselamatan dan Kesehatan Kerja perlu dan sangat penting, karena membantu terwujudnya pemeliharaan karyawan yang baik, sehingga mereka menyadari arti penting dari pelaksanaan program keselamatan dan kesehatan kerja bagi dirinya maupun perusahaan.
Dengan adanya pelaksanaan program K-3 ini, karyawan akan merasa aman, terlindungi dan terjamin keselamatannya, sehingga diharapkan dapat mencapai efisiensi baik dari segi biaya, waktu dan tenaga serta dapat meningkatkan produktivitas kerja. Mengingat sangat pentingnya pelaksanaan program K-3 ini, maka peneliti merasa tertarik untuk mengambil judul:
” PENGARUH PELAKSANAAN PROGRAM KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA TERHADAP PRODUKTIVITAS KERJA KARYAWAN PADA PT PUPUK KUJANG CIKAMPEK’
1.2 Identiflkasi Masalah
Berdasarkan datar belakang masalah yang telah diuraikan diatas, maka dapat diketahui bahwa keberhasilan suatu perusahaan dipenganihi oleh kualitas karyawan, karena itu sangat penting perusahaan memperhatikan segala sesuatu yang menyangkut Keselamatan dan Kesehatan Kerja. Dengan adanya pelaksanaan program Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) yang baik diharapkan para
karyawan selalu dalam keadaan sehat dan selamat dalam bekerja yang secara langsung akan membina produktivitas dan efisiensi kerja karyawan, serta efisiensi perusahaan secara maksimal. Juga diharapkan akan menurunkan tingkat kecelakaan kerja sehingga karyawan akan merasa aman dan terlindungi dalam melakukan pekerjaannya.
Maka dari itu, masalah pokok yang ingin dibahas dalam penelitian ini, dapat diidentifikasikan sebagai berikut: 1.Bagaimana pelaksanaan program Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3)karyawan pada P.T Pupuk Kujang ? 2.Bagaimana produktivitas kerja karyawan pada PT pupuk Kujang ? 3.Seberapa besar pengaruh pelaksanaan program Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) terhadap produktivitas kerja karyawan pada P.T Pupuk Kujang ?
1.3 Maksud dan Tujuan Penelitian
Penelitian ini di lakukan dengan maksud untuk mengumpulkan data yang dapat digunakan untuk menyusun skripsi ini sebagai suatu syarat untuk menempuh ujian Sarjana Ekonomi pada jurusan Manajemen di Universitas Widyatama Bandung. Sedangkan tujuan penelitian ini adalah:
1. Untuk mengetahui pelaksanaan program Keselamatan dan Kesehatan Kerja yang di jalankan oleh Bagian Keselamatan dan PemadamKebakaran serta Biro Kesehatan di PT Pupuk Kujang Cikampek.
2. Untuk mengetahui produktivitas kerja karyawan pada PT Pupuk Kujang.
3. Untuk mengetahui seberapa besar pengaruh pelaksanaan program Keselamatan dan Kesehatan Kerja terhadap poduktivitas kerja karyawan di PT Pupuk Kujang Cikampek.
1.4 Kegunaan Penelitian
Manfaat yang dapat diperoleh dari penelitian ini, yaitu :
1. Bagi penulis, dapat menambah pengetahuan di bidang Manajemen Sumber Daya Manusia khususnya mengenai pelaksanaan program Keselamatan dan Kesehatan Kerja yang ada di perusahaan.
2. Bagi perusahaan, dijadikan sebagai masukan yang bermanfaat terutama mengenai pelaksanaan program Keselamatan dan Kesehatan Kerja yang dapat meningkatkan produktivitas kerja karyawan perusahaan.
3. Bagi pihak lain, terutama rekan-rekan mahasiswa serta para pembaca sebagai sumbangan pemikiran dan informasi dalam bidang manajemen sumber daya manusia, khususnya mengenai pelaksanaan program Keselamatan dan Kesehatan Kerja bagi karyawan.

1.5 Kerangka Pemikiran dan Hipotesis
Suatu perusahaan didalam kegiatan pencapaian tujuannya, karyawan merupakan sumber utama dalam menjalankan perusahaan faktor modal, produksi, peralatan tidak dapat digunakan secara efektif dan efisien jika tidak dijalankan oleh manusia (karyawan).
Seorang karyawan tidak dapat bekerja secara maksimal, apabila keselamatan dan kesehatan kerjanya tidak terjamin, oleh karena itu para karyawan dan perusahaan perlu memperhatikan kondisi fisik dan mental melalui pelakasanaan program Keselamatan dan Kesehatan Kerja

(1995:27-28):
Sebagai dasar kerangka pemikiran dapat ditinjau dari beberapa pendapat
teoritis mengenai konsep K 3, menurut Bennet dan Rumondang (1995;27-28)
” Suatu asas yang rasionai untuk manajemen Y3 Marus mencakup kenyataan bahwa baik perencanaan maupun keputusan-keputusan manajerial organisasi keseluruhannya tidak terlepas dari manusia dan lingkungan kerjanya dalam arti kata seluas-luasnya, jika dengan demikian maka perbuatan dan atau keadaan yang tidak selamat yang berakhir dengan kecelakaan adalah suatu gejala ”
Selain itu penyebab dari kecelakaan kerja menurut Bathos (1990:140):
“Penyebab kecelakaan kerja yang terbesar adalah faktor manusianya yaitu kurangnya kesadaran pengusaha dan tenaga kerja itu sendiri terutama dalam melaksanakan berbagai peraturan perundangan, masih banyak pengusaha yang menganggap pelaksanaan K3 kurang bermanfaat bagi perusahaan yang bersangkutan dan hanya menambah biaya belaka ”
Kita akan melihat alasan mengapa perusahaan menjalankan program Keselamatan dan Kesehatan Kerja, menurut Hammer yang dikutip oleh Dessley (1995 : 834), menyebutkan bahwa :
“Safety program are undertaken for three fundamental reason;
moral, legal, and economic
1 Moral Perusahaan menyelenggarakan upaya pencegahan kecelakaan pertama kali semata-mata atas dasar kemanusiaan. Hal ini dilakukan untuk meringankan penderitaan karyawan yang mengalami kecelakaan dan keluarganya.
2 Hukum Suatu landasa
n hukum yang mengatur hubungan antara pengusaha, karyawan dan pemerintah. Dalam hal mengatur perburuhan, terutama untuk menegakkan keadilan yang seadil-adilnya dalam menengahi masalah-masalah yang berkaitan dengan ganti rugi, kecelakaan dan sesuatu hal yang menyebabkan karyawan tersebut meninggal dunia akibat kecelakaan kerja.

3. Ekonomi Adanya alasan ekonomi karena biaya yang harus dipikul perusahaan dapat terjadi cukup tinggi, bila terjadi kecelakaan kerja. Dapat disimpulkan bahwa karyawan tidak terlepas dari bahaya
kecelakaan dan penyakit akibat kerja dalam melakukan pekerjaan yang akan menimbulkan suasana yang tidak aman dan kekhawatiran dalam bekerja, dengan suasana seperti itu maka akan dapat mempengaruhi produktivitas kerja karyawan.
Produktivitas menurut Dra Sedarmayati (1995:84) dalam bukunya yang berjudul ” Sumber Daya Manusia dan Produktivitas Kerja “, mengemukakan bahwa:
“Produktivitas merupakan kamampuan seseorang untuk menggunakan seluruh kekuatannya dan mewujutkan segenap potensi yang ada padanya, menggunakan kemampuan atau mewujudkan segenap potensi guna mewujutkan kreativitas
Dari pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa produktivitas adalah hubungan antara hasil {output) yang diperoleh dengan sumber-sumber daya yang digunakan {input) untuk menghasilkannya.
Pada dasarnya manusia bekerja adalah untuk mencari sesuatu yang dapat memenuhi kebutuhan hidupnya, semakin giat dia bekerja dengan demikian tidak hanya kebutuhan perorangan saja yang terpenuhi tetapi juga berhubungan dengan kelangsungan hidup perusahaan.
Menyadari hal diatas, pihak perusahaan harus dapat mengerti akan kebutuhan pegawainya sehingga produktivitas kerja dalam menghasilkan produk yang ditetapkan dapat ditingkatkan. Karena salah satu faktor yang mempengaruhi produktivitas kerja adalah tingkat pemenuhan kebutuhan akan rasa aman, keselamatan {safety) dan kesehatan yang diberikan perusahaan kepada karyawannya. Dengan semakin terjaminnya keselamatan dan kesehatan, karyawan diharapkan produktivitas kerjanya dapat meningkat, sehingga pemenuhan kebutuhan mereka tentang rasa aman, selamat, dan sehat dapat dipenuhi.
Pelaksanaan program Kelamatan dan Kesehatan Kerja (K3) dapat memberi rasa aman dan nyaman pada saat bekerja juga memberikan perlindungan terhadap karyawan untuk terbebas dari kecelakaan dan lingkungan yang kurang sehat yang dapat merugikan karyawan maupun perusahaan.
Dari uraian diatas dapat diambil sebuah kesimpulan dalam kipotesa penelitian, dan Hipotesa menurut Supranto (1992 : 167 ) adalah : ” suatu proporsi atau anggapan atau kesimpulan yang sifatnya masih sementara, sifat sementara dari hipotesis ini mempunyai arti bahwa kesimpulan tersebut masih dapat diubah atau digant “
Berdasarkan kerangka pemikiran tersebut diatas, maka penulis mengajukan hipotesis berdasarkan penelitian ini adalah :
“Semakin efektif pelaksanaan program keselamatan dan kesehatan kerja , maka produktivitas kerja karyawan akan meningkat”
1.6 Metodologi Penelitian
Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif, yaitu suatu metode yang berusaha mengumpulkan data yang sesuai dengan keadaan yang sebenarnya, menyajikan serta menganalisisnya sehingga dapat memberikan gambaran yang cukup jelas atas objek yang di teliti dan kemudian dapat ditarik kesimpulan. Untuk keperluan pengujian tersebut, dilakukan serangkaian langkah yang dimulai dengan operasional variabel dan tehnik pengumpulan data.
1.6.1 Operasionalisasi variabel
Penelitian ini bermaksud mengungkapkan peranan variabel X terhadap variabel Y. Variabel X (Variabel bebas/variabel yang mempengaruhi) adalah pelaksanaan program keselamatan dan kesehatan kerja, dan Variabel Y (Variabel tidak bebas/variabel yang dipengaruhi) adalah produktivitas kerja karyawan. Kedua variabel tersebut diatas merupakan variabel ordinal yang akan diuji menggunakan uji statistik korelasi Spearman dan koefisien determinasi. Pemakaian uji statistik tersebut didasarkan atas data yang bersifat kualitatif.
1.6.2 Tehnik Pengumpulan Data
Tehnik pengumpulan data yang digunakan penulis dalam penelitian ini terdiri dari:
1. Penelitian lapangan (Field Research)
Yaitu penelitian dengan menggunakan kunjungan langsung kepada obyek yang diteliti dengan maksud untuk memperoleh data primer, yaitu dengan:
a. Wawancara (inteview)
Yaitu mengadakan tanya jawab langsung dengan pejabat yang berwenang dan pihak yang terkait dengan devisi Sumber Daya Manusia untuk mendapatkan data yang diperlukan.
b. Kuesioner
Yaitu menyusun pertanyaan-pertanyaan melalui angket yang ditujukan kepada para responden.
c. Observasi
Yaitu dengan cara melakukan pengamatan secara langsung terhadap kegiatan yang dilakukan oleh perusahaan terutama kegiatan yang berhubungan dengan masalah yang diteliti.
2. Studi Kepustakaan (Library Research)
Tehnik ini dimaksudkan untuk memperoleh data sekunder yang berfungsi sebagai landasan teoritis guna mendukung analisis terhadap data primer yang diperoleh selama penelitian. Penulis mengumpulkan materi yang bersumber dari buku-buku serta referensi lainnya yang berhubungan dengan pelaksanaan program Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) dan produktivitas kerja.
1.7 Lokasi dan Waktu Penelitian
Lokasi penelitian adalah PT Pupuk Kujang (persero), yang bertempat di Jl. A. Yani No.39 Cikampek 41373 Jawa Barat. Dan perusahaan bergerak dibidang produksi pupuk, untuk memenuhi kebutuhan pupuk dalam dan luar negeri. Waktu penelitian ke perusahaan mulai tanggal 07 September 2003, sampai dengan selesai.





PERANAN ANGGARAN BIAYA PEMASAHUBUNGAN KERAGAMAN PRODUK DALAM PERSEPSI KONSUMEN DENGAN NIAT BELANJA KONSUMEN DI MINIMARKET YOMART

21 03 2008

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Penelitian
Pada hakekatnya manusia mempunyai keinginan dan kebutuhan yang sangat beragam. Kebutuhan dan keinginan itu bermacam-macam baik berupa fisik maupun non fisik,sehingga apabila setiap kebutuhan dan keinginan fisik dan non fisik mereka terpenuhi maka akan terpuaskan. Akan tetapi jika tidak terpenuhi maka akan menimbulkan rasa tidak puas. Usaha untuk memenuhi kebutuhan keinginan tersebut dapat di tempuh dengan jalan memproduksi sendiri. Meminta atau pertukaran. Umumnya masyarakat modern bekerja atas dasar prinsip pertukaran. Pertukaran adalah suatu tindakan untuk memperoleh objek yang diharapkan dan seseorang dengan menawarkan sesuatu sebagai penggantinya. Dengan pertukaran ini kedua belah pihak berusaha untuk memenuhi semua kebutuhannya dan mencapai keberadaan yang lebih baik, dengan tidak perlu menggantungkn diri kepada sumbangan dan tidak perlu memiliki keterampilan untuk memproduksi setiap kebutuhan mereka sendiri.
Kebutuhan terdiri dari bermacam-macam mulai dari kebutuhan yang mendasar yang harus dipenuhi secara rutin atau disebut juga kebutuhan sehari-hari hingga kebutuhan pada tingkat yang lebih tinggi. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut diperlukan barang dan jasa. Hal ini membuka peluang bagi produsen atau perusahaan untuk menghasilkan dan menyediakan berbagai macam barang yang dapat memuaskan kebutuhan dan keinginan tersebut.
Usaha seperti inilah yang sering disebut usaha eceran (retail) yaitu bisnis yang seluruh aktivitasnya langsung berhubungan dengan penjualan barang dan jasa ke konsumen akhir untuk pemakaian non bisnis atau pribadi.
Pada saat ini banyak sekali perusahaan yang berfungsi sebagai retailer yang mendistribusikan berbagai macam barang kebutuhan sehari-hari. Hal ini terlihat dengan semakin banyaknya pusat perbelanjaan, toserba, supermarket dan departemen strore di daerah perkotaan yang berskala besar maupun yang berskala kecil seperti minimarket. Dimana mereka menjual berbagai macam produk yang bervariasi. Dengan semakin banyaknya pusat perbelanjaan berskala besar dan berskala kecil. Hal ini akan menguntungkan bagi konsumen karena tersedia alternatif pilihan produk. Baik dari segi merek, kemasan, ukuran, warna maupun harga sehingga konsumen memperoleh kemudahan dalam berbelanja karena dapat memenuhi segal macam kebutuhan dan konsumen tidak perlu cemas dan takut dalam memenuhi semua kebutuhannya. Tapi disisi lain dapat menimbulkan persaingan yang ketat diantara para retailer khususnya dalam menarik dan mempertahankan konsumen.
Untuk dapat bertahan dalam keadaan dunia retailer maka retailer harus menetapkan suatu strategi pemasaran yang tepat dan jitu dengan lebih memperhatikan apa kebutuhan dan keinginan konsumen. Hal ini akan memberikan kepuasan lebih, yang dapat dirasakan oleh konsumen dan dapat mengungguli para pesaingnya. Salah satunya adalah menerapkan strategi pemasaran yaitu Marketing Mix yang terdiri dari product, price, place and promotion.
Sebagai toko eceran atu retailer, kemampuan menyediakan produk yang dibutuhkan konsumen sangat penting karena salah satu alasan kecenderungan konsumen memilih mengunjungi retailer dari pada produsen dalam memenuhi kebutuhannya karena alasan kenyamanan (convenience) yang didapatkanya. Selain itu konsumen berharap akan menemukan suatu produk atau bermacam-macam produk yang akan memenuhi segala kebutuhan untuk saat ini atau yang yang akan datang dengan hanya mengunjungi satu toko saja dengan harapan akan mudah dicari. Retailer yang hanya menyediakan satu jenis barang saja mempunyai kemungkinan tidak dapat bertahan lama dalam usahanya karena tidaklah mungkin mengharapkan setiap konsumen memiliki kebutuhan dan keinginan yang sama yang dapat terpenuhi dengan menyediakan satu jenis barang saja. Dan konsumen tidak perlu menghabiskan banyak waktu dan tenaga dengan mengunjungi berbagai produsen guna memenuhi kebutuhannya.
Selain itu retailer juga harus menerapkan strategi keragaman produk (produk assortment), bauran pelayanan (service mix) dan suasana toko (store atmosphere), retailer harus memperhatikan lebar dan kedalaman produk yang disediakan, kualitas dan kelengkapannya karena menyediakan produk yang beragam adalah penting karena adanya kecenderungan dalam diri konsumen menghendaki barang-barang yang bersifat komplementer, sehingga dengan bermacam-macam produk yang disediakan retailer akan mendorong konsumen untuk membeli produk yang saling melengkapi tersebut. Dengan adanya keragaman produk tersebut, konsumen dapat leluasa memilih apa yang menjadi kebutuhannya dan konsumen tidak perlu khawatir dalam memenuhi kebutuhannya karena apa yang dibutuhkan konsumen sudah tersedia dalam toko eceran tersebut.
Ragam produk (product assortment), pengecer harus sesuai dengan harapan belanja pasar sasarannya karena hal ini merupakan unsur kunci dalam persaingan diantara para pengecer sejenis karena product assortment (keragaman produk) yang baik akan menarik niat belanja para konsumen untuk berbelanja di tempatnya dan itu merupakan salah satu untuk mempertahankan konsumen agar konsumen puas dalam berbelanja ditempat tersebut dan pada akhirnya diharapkan dapat tercapainya sasaran dan tujuan perusahaan.
Berdasarkan uraian diatas maka penulis tertarik untuk mengadakan penelitian dengan judul:
“Hubungan keragaman produk dalam persepsi konsumen dengan niat belanja konsumen di minimarket yomart”

1.2. Identifikasi Masalah
Keragaman suatu produk pada setiap minimarket akan sangat menarik bagi konsumen. Keragaman disini diartikan barang-barangnya komplit sesuai dengan jenis barang yang diperdagangkan.
Jika barang tidak beragam, maka konsumen akan mencari ke minimarket lain. Pada hati konsumen akan timbul anggapan bahwa toko tidak lengkap, akhirnya konsumen pindah menjadi langganan minimarket yang lain. Oleh karena itu setiap minimarket harus memperhatikan keragaman produk agar minimarket tersebut bisa bersaing dengan minimarket yang lain.
Berdasarkan hal itu, penulis mengidentifikasi masalah sebagai berikut :
1. Bagaimana pelaksanaan keragaman produk di minimarket Yomart?
2. Bagaimana tanggapan konsumen tentang keragaman produk yang terdapat di minimarket Yomart?
3. Apakah keragaman produk berhubungan dengan niat belanja konsumen di minimarket Yomart?

1.3. Maksud dan Tujuan Penelitian
Maksud dari penelitian ini adalah untuk memperoleh informasi tentang bagaimana hubungan keragaman produk dalam persepsi konsumen dengan niat belanja konsumen di minimarket Yomart.
Adapun tujuan penelitian ini adalah :
1. Untuk menganalisis pelaksanaan keragaman produk di minimarket Yomart.
2. Untuk menganalisis tanggapan konsumen tentang keragaman produk yang terdapat di minimarket Yomart.
3. Untuk menganalisis hubungan keragaman produk dengan niat belanja konsumen di minimarket Yomart?

1.4. Kegunaan Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran mengenai hubungan keragaman produk dengan niat belanja konsumen, sehingga hasil penelitian ini dapat berguna bagi :
1. Praktisi .
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi suatu bahan masukan serta bahan pertimbangan yang berguna bagi perusahaan terutama dalam menetapkan kebijakan keragaman produk sebagai variabel yang dipengaruhi niat belanja konsumen.
2. Teoritis/akademis
Penelitian ini dapat memberikan informasi sebagai bahan masukan untuk mahasiswa serta civitas akademika Universitas Widyatama.
3. Penulis.
Penelitian diharapkan dapat menambah pengetahuan penulis dan memperluas wawasan mengenai bidang usaha retailer serta hubungan keragaman produk dengan niat belanja konsumen. Selain itu penulis juga dapat membandingkan teori yang didapatkan pada saat kuliah dengan praktek pelaksanaan keragaman produk yang sesungguhnya di lapangan.

1.5. Kerangka Pemikiran
Perkembangan usaha minimarket di Bandung cukup menarik untuk dianalisis, karena merupakan suatu bentuk usaha yang m
ulai berkembang beberapa tahun belakangan ini. Banyak pemain-pemain baru di industri eceran berkembang dengan pesat, seperti salah satunya minimarket Yomart.
Ketatnya persaingan ini memaksa perusahaan untuk berusaha lebih keras agar bisa bertahan hidup atau bahkan memenangkan persaingan dalam keadaan persaingan yang tinggi. Ada hal yang lebih penting bagi perusahaan yaitu perusahaan harus mampu mempertahankan konsumen yang sudah ada, selain menarik konsumen baru sebanyak-banyaknya. Seperti yang dikatakan oleh seorang ahli pemasaran Kotler (1997;19) bahwa :
“Pelanggan baru yang tertarik dapat menimbulkan biaya lima kali lipat dari biaya menyenangkan pelanggan yang ada. Dan biaya kehilangan pelanggan mungkin enam belas kali lipat biaya menarik pelanggan baru ke tingkat laba yang sama.”
Agar dapat mempertahankan konsumen yang sudah ada maka perusahaan harus dapat memuaskan konsumennya. Perusahaan harus dapat mengetahui dan memenuhi apa saja yang menjadi kebutuhan dan keinginan konsumennya.
Membuat konsumen puas merupakan hal yang sangat penting bagi perusahaan karena jika konsumen puas maka konsumen akan cenderung untuk melakukan pembelian kembali. Oleh karena itu perusahaan yang ingin berhasil dan untuk mencapai sasaran dan tujuan perusahaan harus mempunyai konsep pemasaran yang berorientasi kepada konsumen (consumer oriented), yaitu melakukan kegiatannya dengan memfokuskan pada pemenuhan kebutuhan dan keinginan konsumen. Dalam bisnis apapun, konsumen harus menjadi orientasi pertama dari kegiatan bisnis, karena konsumen juga mempunyai pengaruh yang besar dalam menentukan terjadinya pembelian. Itulah sebabnya bahwa memelihara konsumen sama saja dengan memelihara masa depan perusahaan dengan begitu laba adalah hasil yang sudah pasti akan kita dapatkan jika kita berhasil memuaskan konsumen.

Gambar. 1.1
The Marketing Concept

Starting point Focus Means

Sumber : Kotler, marketing manajemen

Berdasarkan gambar diatas, perusahaan mempunyai konsep pemasaran customer oriented, diawali dengan konsumen dan diakhiri juga dengan konsumen. Jadi konsumen adalah orientasi dari segi pemasarannya. Secara umum perusahaan dapat menanggapi konsumen dengan memberikan apa yang mereka inginkan, atau apa yang mereka butuhkan atau apa yang benar-benar mereka butuhkan. Kunci pemasaran professional adalah memahami kebutuhan riil pelanggan dan memenuhinya dengan lebih baik dari pada yang dilakukan para pesaing, karena hal ini sangat penting bagi perusahaan dalam menentukan strategi yang dilakasanakan. Selain itu, perusahaan harus dapat mengetahui factor-faktor apa saja yang mempengaruhi perilaku tersebut dapat menimbulkan tingkat kepuasan dan ketidakpuasan tertentu setelah terjadi pembelian produk. Perilaku konsumen sendiri dapat didefinisikan sebagai proses pengambilan keputusan dan aktivitas yang dilakukan seseorang dalam mengevaluasi, membeli, menggunakan dan membuang produk dan jasa. Menurut engel-Roger dan D. Miniard seperti yang dikutip Saladin dan Oesman (2002;2) bahwa :

Target Customer Integrated Profit Througth
Market needs Marketing customer
satisfaction
“Consumer Behavior is defined as the acts individuals directly involved in obtaining and using economic good and services including the decision processes that proceed and determinand these acts.”
(Perilaku konsumen adalah sebagai tindakan individu yang secara langsung terlibat dalam upaya memperoleh dan menggunakan barang-barang jasa ekonomi termasuk proses pengambilan keputusan yang mendahului dan menentukan tindakan-tindakan tersebut).
Konsumen dengan melalui tahap perilaku tertentu terhadap sesuatu rangsangan yang diberikan oleh pemasar yang dikenal sebagi model simulasi AIDA yang mempunyai tahap-tahap sebagai berikut:
a. Attention : Timbulnya perhatian konsumen terhadap suatu usaha
pemasaran yang dilakukan perusahaan.
b. Interest : Muncul rasa tertarik terhadap objek yang dikenakan usaha
pemasaran tersebut.
c. Desire : Setelah tertarik timbul keinginan untuk memiliki objek
tersebut.
d. Action : Tindakan yang muncul setelah tiga tahap tersebut yaitu
melakukan pembelian.
Untuk lebih memahami proses perilaku pembelian konsumen dapat melalui “model of buyer behavior” yang merupakan gambar 1.2 sebagai berikut :

Gambar 1.2
Model of buyer behavior
Marketing Other Simulation Buyer Caracterstics Buyer Decision Process Buyer’s Purchases Decisions
Stimuli
Product
Price
Place
Promotion Environment
Economics
Technological
Political
Cultural Cultural
Social
Personal
Pshicological Problem
Recognition
Information
Search
Evaluation
Decision
Post Purchase
Behaviour Product Choice
Brand Choice
Dealer Choice
Purchase Timing
Purchase amount

Sumber : Kotler and Amstrong, Principle of Marketing

Dari model diatas diketahui bahwa rangsangan dari luar baik berupa rangsangan pemasaran, yaitu produk, harga, promosi dan distribusi maupun rangsangan lingkungan ekonomi, teknologi, politik, dan budaya, dapat mempengaruhi pilihan konsumen akan produk, merek, dan penjualan setelah melalui blockbox. Oleh karena itu pemasar harus memahami apa yang terdapat didalam blockbox yang terdiri dari karakteristik pembeli dan proses keputusan pembelian. Persepsi adalah proses bagaimana stimuli itu diselesaikan, di organisasi, dan interpretasikan. Persepsi di bentuk oleh seseorang dan dipengaruhi oleh isi memorinya. Semua apa yang pernah memasuki wilayah sensor dan mendapat perhatiannya akan di simpan dalam memorinya, memori itu akan dibuka kembali dan dijadikan referensi untuk menanggapinya, dengan demikian proses persepsi seseorang terhadap suatu objek dipengaruhi oleh pengalaman masa lalunya yang tersimpan dalam memori. Satu hal yang perlu diperhatikan adalah bahwa persepsi secara subtansi bisa sangat berbeda dengan realitas. Sedangkan atribut produk diciptakan untuk membedakan produk pesaing dengan perusahaan. Menurut Swastha (2003 : 79) atribut-atribut produk tersebut antara lain adalah :Merek (brand), Kemasan (packaging), Label. atribut bisa mempengaruhi persepsi konsumen sehingga akan mendorong niat belanja konsumen.

Attitude toward the behavior

Motivation to comply with the specific referents

Beliefs that specific referents think I sould or should not perform the behavior

Evaluation of outcomes

Beliefs that the behavior leads to certain outcomes

Intention

Subjective norm

Behavior
Dengan kata lain, Keragaman produk merupakan atribut yang berada di dalam minimarket yomart, sedangkan atribut produk berada di persepsi konsumen. Apabila persepsi konsumen tertarik dengan atribut produk maka menimbulkan niat belanja konsumen.
Jadi jelaslah bahwa dalam keragaman produk diperlukan di minimarket-minimarket untuk menambah niat belanja konsumen sehingga akan menjadikan laba perusahaan dapat meningkat dengan seiringnya jumlah pelanggan yang datang ke minimarket. Adapun keputusan belanja konsumen dapat dipengaruhi oleh niat belanja konsumen . Menurut schiffman and kanuk, customer behavior (2000;224) bahwa:
“Hal-hal yang mempengaruhi perilaku konsumen dalam membeli produk yakni keragaman bentuk produk termasuk objek produk, kebiasaan penggunaan produk, niat pembelian produk, pengaruh dari orang lain dalam membeli produk. Contohnya pembeli banyak percaya produk dari merknya atau produk , dan nilai tambah (keunggulan) dari barang tersebut”.
Niat belanja konsumen muncul karena adanya kebutuhan terhadap suatu produk, perubahan sikap juga mempengaruhi niat belanja konsumen. P
erubahan sikap tersebut diantaranya adalah pengaruh atau pengalaman orang lain. Kebanyakan konsumen melakukan banyak pertimbangan sebelum membuat keputusan untuk membeli, termasuk dalam hal mencoba produk baru. Konsumen akan mencari informasi yang akan menjadi pertimbangan konsumen dalam mencoba. Walaupun proses pencarian informasi ini jarang terjadi tetapi cenderung terjadi.
Berdasarkan uraian diatas penulis mengemukan hipotesis sebagai berikut :
“Terdapat hubungan antara keragaman produk dalam persepsi konsumen dengan niat belanja konsumen di minimarket Yomart.”

1.6. Metodologi Penelitian
1.6.1 Metode penelitian
Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif, yang menurut Nazir ( 2003 : 54 ), adalah metode dalam meneliti status sekelompok manusia, suatu obyek, suatu set kondisi, suatu sistem pemikiran ataupun suatu kelas peristiwa pada masa sekarang. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk membuat deskriptif, gambaran atau lukisan secara sistematis, faktual dan akurat mengenai fakta-fakta, sifat-sifat serta hubungan antara fenomena yang diselidiki.

1.6.2 Teknik Pengumpulan Data
Adapun teknik pengumpulan data yang dipergunakan adalah :

1. Penelitian Lapangan (Field Research)
a. Observasi
Yaitu penelitian yang dilakukan secara langsung oleh peneliti ke objek penelitian dengan jalan mengamati objek penelitian tersebut guna kelengkapan data dan mendapat gambaran mengenai perusahaan sehingga diharapkan data yang diperoleh dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.
b. Wawancara
Yaitu penelitian yang diperoleh dengan cara mengajukan pertanyaan langsung dengan pihak-pihak yang berkepentingan yang dapat memberikan keterangan dan data-data yang diperlukan.
c. Kuesioner
Yaitu data yang diperoleh dengan cara menyebarkan suatu daftar pertanyaan yang cukup terperinci dan lengkap tentang objek yang diteliti pada responden.

1.7 Lokasi dan waktu penelitian
Penelitian dalam rangka menyusun skripsi ini dilakukan pada Minimarket Yomart Bandung. Kantor pusat Jln. Jakarta no. 48 Bandung. Waktu penelitian dilakukan pada bulan september sampai dengan selesai.








Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 94 other followers