Monthly Archives: October 2007

PERSEPSI ATAS UNETHICAL BEHAVIOR DALAM SISTEM INFORMASI : FAKTOR JURUSAN STUDI DAN GENDER

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pergerakan dunia menuju dunia tanpa batas (borderless world) telah banyak merubah berbagai aspek kehidupan. Proses ini menggerakkan perdagangan bebas antar benua, perpindahan manusia, barang dan modal yang semakin leluasa, serta pemakaiaan sumber daya – sumber daya diseluruh dunia menuju efisiensi yang lebih tinggi. Salah satu penyebab hal ini adalah kemajuan dibidang ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin memudahkan manusia.

Salah satu pilar globalisasi yaitu penggunaan teknologi informasi. Teknologi informasi telah menawarkan berbagai macam kemudahan seperti kecepatan akses data dan informasi, pemecahan masalah serta otomatisasi pekerjaan dan sebagainya. Penggunaan secara intensif maupun ekstensif atas komputer, internet, telepon seluler dan ATM telah mengatasi batasan ruang dan waktu. Negroponte (1995), seorang visionaris teknologi digital dari MIT Media Lab menyebut fenomena dramatis ini sebagai digitalisasi.

Dengan pesatnya pergerakan globalisasi ekonomi, berkembangnya teknologi dan informasi, kompetisi di berbagai bidang profesi semakin ketat. Penguasaan atas perkembangan teknologi informasi menjadi sesuatu yang mutlak seiring semakin mengglobalnya industri modern, baik manufaktur maupun jasa.

Maurisi P Purba (2002) menyebutkan bahwa perkembangan teknologi informasi akan mengakibatkan perubahan ekonomi global dari model industrial economy menjadi networked economy. Networked economy ini pula menurut Jac Fitzz-enz (Purba, 2002) didasari knowledge, sehingga disebut juga knowledge economy. Lebih lanjut networked economy didefinisikan sebagai suatu kombinasi antara hubungan-hubungan ekonomi baru (new economy) dan yang ditransformasikan berdasarkan jaringan komputer dan human knowledge.

Perspektif manajemen strategi memandang bahwa ada harapan yang besar terhadap perkembangan dibidang teknologi informasi ini. Robinson (1997) mengelompokkan faktor terobosan teknologi ini ke dalam faktor lingkungan eksternal yang harus diwaspadai dan dimanfaatkan sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan riil, jika entitas bisnis ingin mendapatkan keunggulan bersaingnya. Hal ini mengakibatkan peramalan kemajuan teknologi memperoleh porsi yang cukup luas dalam strategi bisnis selain faktor politik, ekonomi makro serta sosial dan budaya.

Pada perkembangannnya, beberapa faktor negatif terjadi berkaitan dengan penggunaan sistem informasi oleh manusia, mengingat dalam menggunakan komputer, pengguna berhubungan dengan sesuatu yang tidak tampak yaitu bit-bit. Dibalik kecepatan, kecermatan dan keotomatisan dalam memproses pekerjaan, ternyata teknologi informasi memuat dilema-dilema etis sebagai akibat sampingan dari adanya unsur manusia sebagai pembuat, operator dan sekaligus penggunanya.

Terdapat fakta-fakta yang mengindikasikan bahwa mayoritas penjahat komputer adalah mereka yang masih muda, cerdas dan kebanyakan laki-laki (Wolk & Luddy, 1986 dalam Kazanchi, 1995). Kemampuan mereka dalam menerobos bahkan merusak sistem semakin maju seolah kejar-mengejar dengan perkembangan proteksi yang dibuat untuk melindungi sistem tersebut. Berbagai macam bentuk fraud mengiringi pemakaian sistem informasi semisal pembelian barang melalui internet dengan menggunakan kartu kredit bajakan (Anonim, Kompas, 2002).

Manusia sebagai pembuat, operator dan sekaligus pengguna sistem tersebutlah yang akhirnya menjadi faktor yang sangat menentukan kelancaran dan keamanan sistem. Hal-hal inilah yang kemudian memunculkan unsur etika sebagai faktor yang sangat penting kaitannya dengan penggunaan sistem informasi berbasis komputer, mengingat salah satu penyebab pentingnya etika adalah karena etika melingkupi wilayah-wilayah yang belum tercakup dalam wilayah hukum (Bartens, 1993). Faktor etika disini menyangkut identifikasi dan penghindaran terhadap unethical behavior dalam penggunaan sistem informasi berbasis komputer.

Identifikasi terhadap unethical behavior melibatkan unsur-unsur didalam dan diluar diri manusia sebagai atribut-atribut yang mempengaruhi perilaku manusia. Atribut-atribut karakteristik demografi manusia seperti umur, gender, tingkat kecerdasan, disamping nilai-nilai agama dan keluarga adalah unsur internal yang dimaksud. Sedangkan lingkungan sekitar seperti struktur organisasi, budaya dan situasi sekitar adalah faktor eksternal yang ikut menentukan perilaku manusia (Kazanchi, 1995).

Riset yang dilakukan Kazanchi di Amerika Serikat meneliti perbedaan gender sebagai faktor yang dianggap berpengaruh terhadap persepsi etika pada penggunaan sistem informasi. Kazanchi mengadakan penelitian terhadap 134 mahasiswa (65 laki-laki dan 69 wanita) di Universitas Mid-Western, Amerika Serikat. Kazanchi ingin meneliti apakah perbedaan gender mempengaruhi perilaku etis mahasiswa dalam penggunaan sistem informasi.

Penelitian yang dilakukan Kazanchi ini kemudian diulangi oleh Andrianto pada tahun 2003. Penelitian yang dilakukan Andrianto bukan hanya replikasi namun juga perluasan (ekstensi) dari penelitian yang dilakukan oleh Kazanchi (1995). Andrianto menambahkan unsur perbedaan jurusan studi di perguruan tinggi sebagai salah satu variabel. Selanjutnya penelitian Andrianto direplik oleh Muchammad Saleh pada tahun 2006. Penelitian yang dilakukan M. Saleh adalah replikasi dengan sudut pandang yang berbeda dari penelitian yang dilakukan oleh Andrianto (2003), yaitu perbedaan jurusan studi yang dipilih dalam penelitian. Namun pada dasarnya penelitian oleh Andrianto (2003) dan M. Saleh (2006) memiliki dasar kesamaan, yaitu sama-sama menggunakan variabel jurusan studi di perguruan tinggi. Dalam penelitian yang dilakukan oleh Andrianto dan M. Saleh, faktor jurusan studi diduga juga menimbulkan perbedaan persepsi atas unethical behavior dalam sistem informasi. Hal ini menimbulkan pertanyaan apakah perbedaan jurusan studi di universitas menimbulkan perbedaan persepsi atas unethical behavior.

Penelitian yang akan dilakukan ini merupakan pengulangan (replikasi) dari penelitian yang telah dilakukan oleh Andrianto (2003) dan Muchamad Saleh (2006). Menurut Andrianto, perbandingan jurusan studi dapat dilakukan pada para mahasiswa akuntansi dan para mahasiswa teknik informatika pada universitas negeri yaitu universitas brawijaya. Menurut Muchamad Saleh, perbandingan jurusan studi dapat dilakukan pada para mahasiswa jurusan akuntansi dan para mahasiswa jurusan administrasi bisnis pada universitas brawijaya. Menurut peneliti, perbandingan jurusan akan lebih baik apabila dilakukan pada para mahasiswa akuntansi dan mahasiswa teknik informatika, dengan menambah sampel tidak hanya terbatas pada universitas negeri saja tetapi juga universitas swasta yang berdiri di area kota Malang. Sampai sejauh ini, peneliti belum menemukan riset sejenis dimana perbandingan jurusan akan lebih baik bila dilakukan tidak hanya pada universitas negeri saja tetapi juga universitas swasta. Atas dasar itu pula penelitian ini dilakukan untuk memperbaiki keterbatasan atas penelitian sebelumnya, dimana keterbatasan pada penelitian sebelumnya (Andrianto (2003) dan M. Saleh (2006)) terletak pada sampel yang hanya terbatas pada universitas brawijaya saja.

Pemilihan variabel jurusan studi ini (Akuntansi dan Teknik Informatika) penting mengingat bahwa keduanya dalam berbagai tingkatan mempunyai posisi yang sangat menentukan terhadap perkembangan (pembuatan sekaligus pengoperasian) sistem informasi berbasis komputer. Penambahan sampel pada penelitian ini diharapkan dapat menjadi perbaikan atas keterbatasan dari penelitian-penelitian sebelumnya.

Terdapat sebuah fakta baru tentang tren konvergensi peran antara profesi programmer (ahli) komputer dan akuntan untuk bidang-bidang bisnis dewasa ini. Hal inilah yang mendorong peneliti untuk meneliti faktor jurusan studi sebagai salah satu dari dua variabel dalam penelitian yang akan dilakukan, karena disadari mereka adalah calon-calon subyek profesi yang mempertaruhkan kepercayaan publik. Revolusi digitalisasi menyadarkan pentingnya transformasi nilai-nilai etika ke dalam budaya profesi sebagai penopang kepercayaan publik, sebagaimana diperkuat oleh fakta terjadinya krisis kepercayaan terhadap akuntan selama masa krisis ekonomi melanda indonesia.

Meskipun terdapat keraguan bahwa atribut individu berhubungan dengan kesadaran moral dan perilaku etik; tetapi dapat dijelaskan bahwa faktor individu dapat sangat mempengaruhi dalam penilaian standar etika individu (Kazanchi, 1995). Atribut-atribut individu ini juga bisa dilihat sebagai variabel yang menentukan tingkat standar etik individu. Hal ini membuat peneliti berpendapat bahwa dua faktor tersebut, yaitu jurusan studi dan gender (jenis kelamin), merupakan variabel yang menarik untuk diteliti dalam hubungan dengan etika dalam pemakaian sistem informasi berbasis komputer ini. Terdapat fakta-fakta yang mengindikasikan bahwa mayoritas penjahat komputer adalah mereka yang masih muda, cerdas dan kebanyakan laki-laki (Wolk & Luddy, 1986 dalam Kazanchi, 1995). Untuk itu peneliti bermaksud melakukan penelitian dengan judul:

PERSEPSI ATAS UNETHICAL BEHAVIOR DALAM SISTEM INFORMASI : FAKTOR JURUSAN STUDI DAN GENDER  (Perbandingan antara mahasiswa Akuntansi dan Teknik Informatika).

 

1.2 Rumusan Masalah

1) Apakah terdapat perbedaan tingkat pengindahan (identifikasi) terhadap unethical behavior dalam sistem informasi berbasis komputer dengan mempertimbangkan perbedaan atribut jurusan studi yang ditempuh?

2) Apakah terdapat perbedaan tingkat pengindahan (identifikasi) terhadap unethical behavior dalam sistem informasi berbasis komputer dengan mempertimbangkan perbedaan atribut gender?

 

1.3 Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menjawab masalah penelitian yang

diajukan sebelumnya, yaitu :

1) Mengetahui apakah terdapat perbedaan tingkat pengindahan (identifikasi) terhadap unethical behavior dalam sistem informasi berbasis komputer dengan mempertimbangkan perbedaan atribut jurusan studi yang ditempuh.

2) Mengetahui apakah terdapat perbedaan tingkat pengindahan (identifikasi) terhadap unethical behavior dalam sistem informasi berbasis komputer dengan mempertimbangkan perbedaan atribut gender.

 

1.4 Manfaat Penelitian

1)      Memberikan masukan kepada pemerintah sehingga bisa dijadikan pijakan yang kuat untuk merumuskan kebijakan untuk mengatasi efek negatif kemajuan sistem informasi berbasis komputer ini.

2)      Memberikan masukan kepada organisasi profesi (IAI) sehingga bisa dijadikan landasan bagi penyusunan kode etik profesi yang terkait dengan sistem informasi.

3)      Memberikan gambaran kepada calon pemakai jasa profesi akan kualitas etika para calon profesional (akuntan). Dengan mengetahui kualitas etika, calon pemakai akan mendapat landasan kepercayaan terhadap profesi.

4)      Mendorong pengembangan keilmuan etika didalam bidang sistem informasi ini sehingga mampu mengikuti perkembangan teknologi informasi yang ada.

5)      Menambah wawasan keilmuan dan pemahaman akan konsep etika dalam sistem informasi. Hal ini penting untuk dilakukan mengingat pesatnya perkembangan teknologi.

6)      Sebagai bahan penelitian lebih lanjut dengan sudut pandang yang berbeda atau diperluas.

 

1.5 Sistematika Pembahasan

Berikut akan diuraikan mengenai sistematika atau alur pembahasan tulisan yang terbagi dalam bab-bab. Bab pertama akan menguraikan latar belakang penelitian, perumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian serta sistematika pembahasan. Bab kedua berisi tentang konsep persepsi, konsep-konsep etika, konsep profesi dan kode etik, konsep dan komponen sistem informasi terkomputerisasi dan implikasi etikanya, serta pengembangan hipotesis. Bab ketiga akan membahas mengenai jenis penelitian, objek penelitian, teknik dan sumber pengumpulan data, lokasi penelitian dan sumber data, variabel penelitian, jenis data, pengolahan dan analisis data dan metode analisis data yang akan dilakukan. Bab keempat akan membahas tentang hasil penelitian yang mengacu pada landasan teori pada bab-bab sebelumnya, untuk selanjutnya diinterpretasi. Bab terakhir akan menyimpulkan hasil penelitian yang diperoleh setelah melakukan analisis dan juga saran yang dapat penulis kemukakan berkaitan dengan hasil penelitian yang diperoleh.

ANALISA EFEKTIFITAS PEMUNGUTAN PAJAK MELALUI SISTEM RETRIBUSI DAN SISTEM KETETAPAN PAJAK SERTA KONTRIBUSINYA TERHADAP PENERIMAAN ASLI DAERAH KABUPATEN MALANG

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Sebagaimana yang kita ketahui bahwasanya pajak merupakan iuran wajib rakyat kepada negara. Dari pajak ini yang mana akan digunakan untuk membiayai kegiatan pemerintahan.  Sejak tahun 1999 pembagian pajak menurut wewenang pemungutan pajak dipisahkan menjadi pajak pusat dan pajak daerah.  Pajak pusat yang dipungut oleh pemerintah pusat terdiri dari pajak penghasilan dan pajak pertambahan nilai.  Untuk pajak daerah dipungut oleh pemerintah daerah itu sendiri. Dasar dilakukan pemungutan oleh pemerintah  daerah sesuai dengan Undang-Undang Nomor 25 tahun 1999 tentang Otonomi Daerah mengatakan bahwa bahwa Pemerintah dan masyarakat di daerah dipersilahkan mengurus rumah tangganya sendiri secara bertanggung jawab. Pemerintah Pusat tidak lagi mempatronasi, apalagi mendominasi mereka.  Peran Pemerintah Pusat dalam konteks Desentralisasi ini adalah melakukan supervisi, memantau, mengawasi dan mengevaluasi pelaksanaan otonomi daerah.  Dengan adanya otonomi daerah, maka pemerintah daerah diberikan wewenang untuk mengatur dan mengurus rumah tangga daerahnya. Langkah – langkah yang perlu dimbil dengan cara menggali segala kemungkinan sumber keuangannya sendiri sesuai dengan dan dalam batas-batas peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Untuk merealisasikan pelaksanaan Otonomi Daerah maka sumber pembiayaan pemerintah daerah tergantung pada peranan PAD.  Hal ini diharapkan dan diupayakan dapat menjadi penyangga utama dalam membiayai kegiatan pembangunan di daerah. Oleh karena itu Pemerintah daerah harus dapat mengupayakan peningkatan penerimaan yang berasal dari daerah sendiri sehingga akan memperbesar tersedianya keuangan daerah yang dapat digunakan untuk berbagai kegiatan pembangunan.  Dengan ini akan semakin memperbesar keleluasaan daerah untuk mengarahkan penggunaan keuangan daerah sesuai dengan rencana, skala prioritas dan kebutuhan daerah yang bersangkutan.

Dalam penyelenggaraan pemerintahan di daerah dan peningkatan pelayanan kepada masyarakat serta melaksanakan pembangunan daerah, maka daerah membutuhkan sumber-sumber penerimaan yang cukup memadai.  Sumber-sumber penerimaan daerah ini dapat berasal dari bantuan dan sumbangan pemerintah pusat maupun penerimaan yang berasal dari daerah sendiri.  Namun, perlu digaris bawahi bahwa tidak semua daerah memiliki kekayaan alam.  Hal ini tentu akan membuat daerah yang kaya akan potensi daerah yang dimiliki akan semakin maju yang mana tentunya bertolak belakang bagi daerah yang memiliki potensi yang kurang.  Kiranya dengan ini asas ini pemerintah perlu memberikan jalan keluar agar seluruh daerah yang ada di Indonesia berkembang secara merata.

Di dalam Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah disebutkan bahwa sumber pendapatan daerah terdiri dari Pendapatan Asli Daerah, Bagi Hasil Pajak dan Bukan Pajak. Pendapatan Asli Daerah sendiri terdiri dari :

a. Pajak Daerah;

b. Retribusi Daerah

c. Hasil pengolahan kekayaan daerah yang dipisahkan

d. Lain-lain PAD yang sah.  

 

Pendapatan Asli Daerah sebagai salah satu sumber penerimaan daerah mempunyai peranan penting dalam pembangunan.  Hal ini dapat dilihat dalam pelaksanaan Otonomi Daerah dimana peranan PAD diharapkan dan diupayakan dapat menjadi penyangga utama dalam membiayai kegiatan pembangunan di daerah.  Oleh karena itu pemerintah daerah harus dapat mengupayakan peningkatan penerimaan yang berasal dari daerah sendiri.  Dengan demikian akan memperbesar tersedianya keuangan daerah yang dapat digunakan untuk berbagai kegiatan pembangunan yang bersifat mandiri.

Kabupaten Malang sebagai bagian dari Propinsi Jawa Timur  tentunya memerlukan dana yang cukup besar dalam menyelenggarakan kegiatan pembangunan daerah di berbagai sektor. Dana pembangunan tersebut diusahakan sepenuhnya oleh pemerintah daerah dan bersumber dari penerimaan pemerintah daerah Kabupaten Malang sendiri. Sumber pembiayaan kebutuhan pemerintah yang mana biasa dikenal dengan Pendapatan Asli Daerah (PAD) berasal dari pengolahan sumber daya yang dimiliki daerah di samping penerimaan dari pemerintah propinsi, pemerintah pusat serta penerimaan daerah lainnya.  Sejalan dengan upaya untuk mengingkatkan serta menggali sumber-sumber penerimaan daerah, maka Pemerintah Daerah Kabupaten Malang berusaha secara aktif untuk meningkatkan serta menggali sumber-sumber penerimaan daerah terutama penerimaan yang berasal dari daerah sendiri.  Hal ini perlu dilakukan untuk mengurangi ketergantungan pemerintah daerah terhadap pemerintah pusat dalam pembiayaan pembangunan daerah.

Kemampuan keuangan daerah di dalam membiayai kegiatan pembangunan didaerah merupakan pencerminan dari pelaksanaan otonomi di daerah. Untuk melihat kemampuan Pemeritah Kabupaten Malang dalam menghimpun penerimaan daerah baik penerimaan yang berasal dari sumbangan dan bantuan pemerintah pusat maupun penerimaan yang berasal dari daerah sendiri.  Hal ini dapat dilihat dalam APBD yang biayanya bersumber dari PAD dengan tingkat kesesuaian yang mencukupi pengeluaran pemerintah daerah.

Upaya untuk meningkatkan Pendapatan Asli Daerah tentunya tidak terlepas dari peranan masing-masing komponen Pendapatan Asli Daerah.  Komponen yang ada seperti penerimaan pajak daerah, retribusi daerah, bagian laba perusahaan milik daerah, penerimaan dinas-dinas serta penerimaan daerah lainnya.  Ini merupakan beberapa komponen yang menjadi sumber penerimaan daerah dimana tentunya akan terus digali baik yang sudah ada maupun sumber penerimaan baru yang potensial.

Jenis-jenis Pajak Daerah yang ditetapkan dan dapat dipungut oleh Pemerintah Kabupaten Malang dalam upaya menghimpun dana guna meningkatkan kualitas maupun kuantitas pembangunan daerah saat ini terdiri atas delapan jenis Pajak Daerah (Dispenda Malang), antara lain Pajak Hotel dan Restoran, Pajak Pajak Hiburan, Pajak Reklame, Pajak Penerangan Jalan, Pajak Pengambilan dan Pengolahan Bahan galian Golongan C, Pajak Pemanfaatan Air Bawah Tanah dan Air Permukaan,  Pajak Parkir dan pajak sarang burung.

Untuk dapat memungut pajak tersebut pemerintah menggunakan sistem pemungutan melalui official assessment sistem dan self assessment system . Sistem pemungutan ini dilakukan melalui dua cara yaitu surat ketetapan pajak dan retribusi.  

Dari kedua cara ini diharapkan target pemenuhan penerimaan pajak dapat terealisasi. Pada tabel 1.1 target dan penerimaan pajak daerah yang diharapkan melalui kedua cara tersebut adalah sebagai berikut: 

Tabel 1.1
Target dan Realisasi Penerimaan Pajak Daerah Kabupaten Malang 
Tahun 2003 Hingga 2005

Sumber : Dinas Pendapatan Kabupaten Malang

Berdasarkan tabel diatas dapat dilihat bahwa pada tahun 2003 hingga 2005 target penerimaan pajak rata – rata selalu tercapai bahkan melebihi target yang ditetapkan. Namun yang menjadi perhatian adalah dari hasil realisasi tersebut menunjukan  bahwa pemerintah dari tahun ke tahun menetapkan terget yang cenderung tetap. Berdasar pada perkembangan realisasi pajak sebenarnya pemerintah dapat meningkatkan target penerimaan pajaknya.  Hal ini dapat dikatakan bahwa pemerintah tidak mengetahui potensi yang dimiliki oleh daerahnya tersebut.

Dari beberapa macan pajak tersebut yang hendak menjadi perhatian adalah penerimaan pajak dari sektor pengolahaan bahan galian golongan C.  Pada sektor ini nilai reralisasi yang tercapai tidak terlalu besar dibandingkan dengan pajak yang lainnya. Dari perkembangan penerimaannya dari sektor pajak ini telah mengalami penurunan pada tahun 2005 sebesar 2,42 % dibandingkan dengan sektor pajak yang lainnya. Dari dasar ini dapat diketahui bahwa dari sektor pajak daerah belum terlalu memberikan pemasukan dari sistem pemungutannya.  Dasar ini yang menjadikan penulis ingin melakukan penelitian terhadap sistem pemungutan yang dilakukan terhadap sektor pajak daerah khususnya pajak bahan galian gol C.  Hal tersebut dikarenakan mengingat pajak yang lain mengunakan sistem yang sama.  Sehingga penulis merumuskannya dalam skripsi dengan mengangkat judul “Analisa efektifitas pemungutan pajak bahan galian golongan C melalui retribusi dan surat ketetapan pajak serta kontribusinya terhadap penerimaan asli daerah Kabupaten Malang.”

1.2. Perumusan Masalah.

Berdasarkan uraian pada latar belakang maka dapat dirumuskan beberapa permasalahan sebagai berikut :

1.      Sejauhmana efektifitas yang dihasilkan sistem pemungutan melalui  retribusi dan surat ketetapan pajak dari pajak bahan galian Gol. C.

2.      Berapa kontribusi yang diberikan sistem retribusi dan sistem ketetapan pajak ini terhadap Pendapatan Asli Daerah dari pajak bahan galian golongan C. 

 

1.3. Tujuan dan Manfaat Penelitian

1.3.1 Tujuan Penelitian

1.      Untuk mengatahui efektifitas yang dihasilkan dari sistem pemungutan yang dipakai bagi penerimaan daerah Kabupaten Malang.

2.      Untuk mengetahui besarnya kontribusi yang diberikan terhadap Penerimaan Asli Daerah.

 

1.3.2.Manfaat Penelitian

1.      Secara akademik untuk memenuhi salah satu syarat untuk mencapai kebulatan studi program strata satu (S1) pada Fakultas Ekonomi Universitas Brawijaya Malang.

2.      Hasil penelitian ini diharapkan memberikan sumbangan pemikiran bagi pemerintah dalam mengambil kebijaksanaan dalam uahanya untuk meningkatkan Pendapatan Asli Daerah guna membiayai pembangunan daerah khususnya penerimaan yang berasal dari pajak daerah. Diharapkan sebagai bahan dan informasi bagi peneliti selanjutnya terhadap masalah dan tempat yang sama dengan kajian yang lebih mendalam untuk meningkatkan penerimaan pajak bahan galian golongan C di Kabupaten Malang

PROSEDUR PENGHITUNGAN DAN PELAPORAN PAJAK PENGHASILAN (PPh) PASAL 21 ATAS GAJI PEGAWAI PADA KANTOR PELAYANAN PERBENDAHARAAN NEGARA MADIUN

BAB I

PENDAHULUAN

 

1.1 . Latar Belakang Masalah

Pembangunan adalah kegiatan yang berkesinambungan dengan tujuan utama adalah untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat. Untuk mewujudkan tujuan tersebut perlu memperhatikan masalah pembiayaan pembangunan. Pembangunan dapat dilaksanakan dengan lancar apabila ada sumber dana yang mendukung. Menurut APBN sumber pendapatan terbanyak didapat dari sektor perpajakan  meskipun masih banyak sektor lain seperti minyak dan gas bumi, serta bantuan luar negeri. Hal ini bisa dibuktikan saat negara kita dilanda krisis berkepanjangan sampai saat inipun masih diragukan apakah negara kita bisa menumbuhkan keadaan perekonomian, sektor pajak masih tetap memiliki nilai besar bahkan mengalami kenaikan serta menembus sampai pada prosentase terbesar dari sektor non migas sementara sektor non migas cenderung mengalami penurunan dan juga bantuan luar negeri yang bunganya bisa membesar seiring fluktuasi mata uang dolar terhadap rupiah. Diharapkan pemasukan dari pajak terus dinaikkan salah satunya dengan mengadakan kebijakan–kebijakan baru seperti ekstensifikasi dan intensifikasi. Ekstensifikasi perpajakan dilaksanakan dengan cara meningkatkan jumlah pajak dan obyek pajak baru sedangkan intensifikasi perpajakan dilaksanakan dengan berorientasi pada peningkatan kepatuhan dan kesadaran wajib pajak, suatu misal dengan cara pengadaan penyuluhan langsung pada masyarakat. Dengan banyaknya perusahaan baru yang muncul ataupun yang sudah lama serta instansi–instansi pemerintah diharapkan pemasukan dari pajak penghasilan yang digunakan untuk pembiayaan negara dan pembangunan nasional nantinya.

            Pajak merupakan iuran wajib yang diberlakukan pada setiap wajib pajak atas obyek pajak yang dimilikinya dan hasilnya diserahkan kepada pemerintah. Jenis pajak yang diberlakukan di Indonesia diantaranya adalah Pajak Penghasilan, Pajak Bumi dan Bangunan, Pajak Hiburan, Pajak Reklame, Pajak Hadiah dan lain-lain.

Pajak penghasilan merupakan pajak yang dipungut pada obyek pajak atas penghasilannya. Pajak penghasilan akan selalu dikenakan terhadap orang atau badan usaha yang memperoleh penghasilan di Indonesia. Pajak yang berlaku bagi pegawai/karyawan adalah pajak penghasilan pasal 21. Undang-undang yang dipakai untuk mengatur besarnya tarif pajak, tata cara pembayaran dan pelaporan pajak adalah Undang-undang No.17 tahun 2000 yang merupakan penyempurnaan bagi undang-undang terdahulunya yaitu Undang-undang No.10 tahun 1994. Undang-undang pajak penghasilan telah menetapkan sistem pemungutan pajak penghasilan secara self assessment, dimana wajib pajak diberi kepercayaan dan tanggung jawab penuh dari pemerintah untuk menghitung, membayar dan melaporkan sendiri jumlah pajak yang terhutang. Dengan sistem ini pemerintah berharap agar pelaksanaan pemungutan pajak penghasilan dapat berjalan dengan lebih mudah dan lancar.

Berdasarkan uraian diatas penulis tertarik untuk menulis mengenai bagaimana instansi/perusahaan menentukan besarnya pajak penghasilan pegawai atau karyawan yang harus dilaporkan dan disetor pemerintah dengan judul : 

“PROSEDUR PENGHITUNGAN DAN PELAPORAN PAJAK PENGHASILAN (PPH) PASAL 21 ATAS GAJI PEGAWAI PADA KANTOR PELAYANAN PERBENDAHARAAN NEGARA (KPPN) MADIUN’’.

 

1.2. Ruang Lingkup PKN

Ruang Lingkup  yang dibuat dalam penyusunan laporan PKN ini agar dalam proses penulisan dan pembahasan tidak melebar dan dapat difokuskan pada suatu pokok bahasan, maka penulis berusaha membuat suatu ruang lingkup yang   meliputi :

1.      1. Untuk menghitung besarnya PPh pasal 21 berdasarkan data yang diperoleh dari    Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara Madiun.

2.      Untuk mengetahui prosedur penghitungan dan pelaporan pajak penghasilanpasal  21 pada Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara  Madiun.

 

1.3. Tujuan Dan Kegunaan Penulisan Laporan PKN

1.3.1. Tujuan Penulisan Laporan PKN 

Ada beberapa tujuan dari penulisan laporan PKN yaitu :

1.      Untuk membandingkan antara teori dan materi yang dipelajari pada masa kuliah dengan praktek nyata yang terjadi di dalam perusahaan atau instansi pemerintah.

2.      Untuk mengetahui apakah perusahaan atau instansi yang bersangkutan telah melakukan penghitungan dan pemotongan Pajak Penghasilan sesuai dengan Undang-Undang Perpajakan yang berlaku.

3.      Sebagai media memberikan pemecahan-pemecahan yang dianggap perlu yang timbul antara teori dan penerapan penghitungan Pajak Penghasilan.

4.      Untuk mengetahui besarnya pajak yang diserahkan perusahaan/instansi yang bersangkutan pada pemerintah.

 

1.3.2. Kegunaan Penulisan Laporan PKN 

1. Bagi Mahasiswa adalah :

Guna memenuhi salah satu syarat kelulusan pada program D-3 Perpajakan.

·          Sebagai media untuk menambah wawasan dan menguji kemampuan mahasiswa berkaitan dengan penghitungan dan pelaporan PPh pasal 21.

·          Mendapatkan pengalaman praktis tentang kegiatan nyata dalam aktivitas perusahaan berkaitan dengan perhitungan dan pemotongan PPh pasal 21.

·          Sebagai sarana untuk memperdalam kreatifitas dan ketrampilan mahasiswa berkaitan dengan mata kuliah Perpajakan.

2. Bagi Perusahaan/instansi adalah :

-          Sebagai sumbangan informasi yang dapat dipakai sebagai bahan evaluasi untuk membantu menyelesaikan masalah yang berhubungan dengan Pajak Penghasilan pasal 21.

-          Sebagai sarana untuk menjalin hubungan kerja dengan lembaga pendidikan yang bersangkutan.

 

   3.   Bagi lembaga pendidikan adalah :

-          Sebagai sarana evaluasi sampai sejauh mana sistem atau kurikulum pendidikan yang dijalankan secara praktis dalam perusahaan/instansi.

-          Sebagai tolak ukur kemampuan mahasiswa dalam mengaplikasikan ilmu pengetahuan terutama yang berkaitan dengan pajak Penghasilan pasal 21.

-          Sebagai media untuk menjalin hubungan kerja dengan perusahaan/instansi yang dijadikan sebagai tempat PKN.

 

 1.4. Metode Pengumpulan Data

Metode merupakan cara utama yang digunakan untuk mencapai tujuan dalam mengumpulkan data dan mengevaluasinya. Metode yang digunakan oleh penulis adalah metode pengumpulan dan analisa data.

 

1.4.1. Jenis dan Metode Pengumpulan Data 

Metode yang digunakan untuk mengumpulkan data terdiri dari beberapa metode yaitu:

            1. Observasi (pengamatan).

Observasi ialah suatu teknik pengumpulan data dimana peneliti mengadakan pengamatan secara langsung terhadap obyek penelitian yang merupakan sumber data, sehingga data yang diperoleh benar-benar bersifat obyektif. Observasi atau pengamatan ini dilakukan di Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara Madiun.

Data-data yang bisa diambil melalui metode ini :

            a. Data tentang proses perhitungan PPh pasal 21.

            b. Data daftar gaji.

            2. Interview (wawancara).

Interview merupakan suatu teknik pengumpulan data dimana peneliti melakukan wawancara langsung dengan obyek yang diteliti. Interview atau juga wawancara seperti halnya teknik observasi dilakukan secara bersamaan di Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara Madiun. Dalam interview tidak lupa harus disiapkan pedoman apa yang akan ditanyakan.

Data yang dapat diperoleh melalui cara ini :

            a. Data jumlah pegawai.

            b. Data daftar gaji serta didasarkan atas apa gaji diberikan.

            3. Dokumentasi.

Dokumentasi ialah suatu teknik pengumpulan data dengan mempergunakan data-data yang ada dalam dokumen instansi. Dokumentasi data dilakukan di kantor Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara Madiun.

Melalui metode ini data yang mungkin dapat diambil adalah :

            a. Data daftar gaji beserta tunjangan dan potongan-potongan yang dikenakan.

            b. Data perhitungan yang dilakukan dalam pemotongan PPh pasal 21.

            c. Sejarah pendirian instansi.

                         

1.4.2. Metode Analisa Data

      Untuk menganalisa data yang diperoleh, penulis mengadakan metode analisis data yaitu :

            a)  Data Kuantitatif.

Metode analisa data ini dilakukan hampir bersamaan saat langsung memperoleh data, dalam metode ini diperlukan kalimat pembanding antara data yang diperoleh dengan teori yang ada di literatur sehingga informasi dari pihak instansi dapat diketahui permasalahan yang ada, apa yang menyebabkan dan bagaimana akibatnya apabila masalah tersebut tidak segera diatasi dan pencarian solusi masalah. Data yang dianalisa adalah perhitungan Pajak Penghasilan pasal 21 yang dikenakan.

            b)  Data Kualitatif.

Metode analisa data ini berkaitan dengan data instansi yang berupa data non angka dan data tersebut seperti contohnya adalah kebijakan dari instansi dalam penentuan besarnya gaji dan besarnya tunjangan yang diperoleh oleh pegawai.

 

1.4.3. Sumber Data

   Dalam menyusun laporan tugas akhir ini penulis memerlukan data-data yang terbagi atas berbagai macam, meliputi :

   1) Data Primer.

 Data primer yaitu data yang diperoleh langsung dari obyek yang diteliti dan    merupakan data yang bisa diolah dan belum diolah pihak lain, yang termasuk data primer : 

a.  Data tentang pemberian tunjangan dan potongan dari gaji pokok.

b. Data jumlah pegawai.

   2) Data Sekunder.

 Data sekunder yaitu data yang diperoleh tidak langsung yang merupakan data yang telah diolah. Dari data yang diperoleh dari Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara Madiun, yang termasuk data sekunder adalah :

                        a.  Profil Instansi Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara Madiun.

b. Bidang kerja Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara Madiun.

 

1.5. Sistematika Pembahasan

      Untuk mempermudah penyusunan dan pembahasan isi materi laporan ini kami akan membagi sistem pembahasan dalam 5 (lima) bab yang secara garis besar dapat diuraikan sebagai berikut :

   BAB I : PENDAHULUAN

Dalam bab ini diuraikan mengenai bidang yang diteliti, tujuan dan kegunaan penelitian, metode penelitian, dan sistematika pembahasan.

   BAB II : LANDASAN TEORI

Bab ini berisi tentang pengertian pajak, fungsi pajak, pengelompokan pajak, asas dan syarat pemungutan pajak, serta teori yang mendukung pemungutan pajak. Dalam bab ini juga menjelaskan tentang pengertian penghasilan, Pajak Penghasilan, obyek penghasilan, definisi pajak penghasilan pasal 21 beserta subyek dan obyeknya, pemotong pajak beserta hak dan kewajibannya, hak dan kewajiban wajib pajak PPh pasal 21, tata cara dan sistem pemungutan pajak.

   BAB III : KEGIATAN SELAMA PKN

Pada bab ini berisi gambaran umum lokasi PKN, observasi secara menyeluruh mengenai kegiatan yang ada khususnya dalam hal mekanisme perhitungan, pemotongan, penyetoran, sampai pada pelaporan.

   BAB IV : EVALUASI

Dalam bab ini berisi tentang evaluasi pada mekanisme perhitungan dan evaluasi tentang tata cara perhitungan dan pelaporan PPh pasal 21.

   BAB V : PENUTUP

Bab ini menyajikan kesimpulan-kesimpulan dari laporan PKN dan beberapa saran yang mungkin berguna bagi pihak instansi.

ANALISIS ANGGARAN DAN REALISASINYA SEBAGAI ALAT BANTU MANAJEMEN UNTUK MENGUKUR EFEKTIVITAS DAN EFESIENSI PERUSAHAAN DI PT KALTIM METHANOL INDUSTRI (BONTANG)

BAB I

PENDAHULUAN

 

              1.1 Latar Belakang Masalah

 

 Setiap organisasi di dalamnya terdiri dari kumpulan variabel untuk mencapai tujuan. Variabel tersebut dapat terdiri dari : manusia, mesin atau organisasi. Dalam mencapai maksud tersebut diperlukan suatu pengendalian, merupakan suatu proses yang terdiri atas tatanan organisasi, wewenang dan tanggung jawab serta informasi untuk memungkinkan pelaksanaan pengendalian dan untuk memproses sekumpulan tindakan yang memastikan bahwa organisasi bekerja mencapai tujuan.

 Komponen penting dalam perencanaan perusahaan adalah anggaran. Anggaran adalah perencanaan keuangan untuk masa depan. Perencanaan dan pengendalian adalah dua hal yang tak terpisahkan. Perencanaan melihat ke masa depan, yaitu menentukan tindakan-tindakan apa yang harus dilakukan untuk merealisasikan tujuan tertentu. Pengendalian melihat ke belakang, yaitu menilai apa yang telah dihasilkan dan membandingkannya dengan rencana yang telah disusun. Organisasi dapat menerjemahkan keseluruhan strategi ke dalam tujuan jangka panjang dan jangka pendek (Hansen dan Mowen,1997;350).

 Setiap manajer mempunyai wewenang dan tanggung jawab yang berbeda sesuai dengan jenis pusat pertanggung jawaban yang di pimpinnya, yang berkaitan  dengan penyusunan anggaran dalam sistem manajemen perusahaan. Fungsi akuntansi pusat pertanggung jawaban mengumpulkan dan melaporkan informasi akuntansi pusat-pusat pertanggung jawaban baik yang direncanakan maupun yang direalisasikan tentang output dan input.

 Bahwasanya anggaran perusahaan adalah merupakan salah satu alat bantu bagi manajemen suatu perusahaan untuk merencanakan langkah-langkah financial penting serta menentukan kebijakan perusahaan dimasa depan dalam periode tertentu.  Anggaran suatu perusahaan merupakan salah satu aspek penting didalam merencanakan keputusan yang  akan diambil oleh manajemen suatu perusahaan sehingga apabila terjadi kekeliruan atau ketidaktepatan dalam merencanakan atau melaksanakan anggaran dapat berakibat buruk bagi perusahaan tersebut. Dalam hal ini, anggaran yang disusun haus meliputi anggaran yang berlandaskan pada prinsip efisiensi yaitu dengan menggunakan nilai input tertentu untuk menghasilkan nilai output yang sebesar-besarnya.

  Berdasarkan uraian dan latar belakang diatas, maka penulis tertarik dan bermaksud untuk melakukan penelitian di PT. Kaltim Methanol Industri, Bontang dengan judul :

ANALISIS ANGGARAN DAN REALISASINYA SEBAGAI ALAT BANTU MANAJEMEN UNTUK MENGUKUR EFEKTIFITAS DAN EFISIENSI PERUSAHAAN DI PT KALTIM METHANOL INDUSTRI, BONTANG (studi kasus pada PT Kaltim Methanol Industri periode Anggaran 2005)

 

              1.2 Perumusan Masalah 

 

 Dalam menganalisis anggaran  pada PT Kaltim Methanol Industri maka perumusan masalah yang akan diteliti dalam penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut :

            1. Sejauh mana system anggaran perusahaan pada PT Kaltim Methanol Industri telah dibuat berdasarkan kaidah anggaran perusahaan yang benar.

            2. Apakah anggaran pada PT Kaltim Methanol Industri dapat dipakai sebagai alat bantu manajemen untuk mengukur efektifitas dan efisiensi perusahaan.

 

 

              1.3 Tujuan Penelitian

 

 Adapun tujuan dari penelitian ini antara lain adalah sebagai berikut :

            1. Untuk menilai sistem anggaran pada PT Kaltim Methanol Industri, apakah sudah sesuai dengan kaidah penyusunan anggaran yang  benar.

2. Menganalisis sistem anggaran perusahaan yang sesuai dengan kebutuhan dari unit-unit terkait didalam perusahaan yang akan dipergunakan oleh manajemen sebagai sumber data untuk menentukan anggaran perusahaan.

3. Mengukur efektifitas dan efisiensi perusahaan dianalisis dari sudut pandang sistem anggaran.

 

 

1.4 Manfaat Penelitian

1. Bagi penulis :

Sebagai salah satu upaya untuk mendapatkan pengalaman dan pengetahuan yang berharga dalam menulis karya ilmiah dan memperdalam terutama pada bidang yang diteliti. 

2. Bagi Perusahaan :

Diharapkan dapat menjadikan masukan bagi pihak pengusaha dalam rangka pengambilan kebijakan anggaran perusahaan yang efektif dan efisien.

3. Bagi pihak lain :

Sebagai referensi dan acuan yang dapat dipakai untuk peneltian lebih lanjut serta menjadikan input untuk menambah wawasan dan pengetahuan apabila ada penelitian sejenis berikutnya.

 

              1.5 Sistematika Pembahasan

 

 Penulis akan menggunakan pembahasan sebagai berikut untuk menggambarkan isi dari penulisan hasil penelitian :

BAB I : PENDAHULUAN

Pada bab ini akan dijelaskan latar belakang penulisan, permasalahan, tujuan serta manfaat penulisan serta sistematika pembahasan.

BAB II : LANDASAN TEORI

Pada bab ini penulis akan membahas teori yang berkaitan dengan topik penelitian.

BAB III : METODE PENELITIAN

Bab ini menjelaskan metode penelitian yang digunakan dalam pelaksanaan penelitian ini, yang berisi penentuan pupolasi, sample dan periode penelitian, variable penelitian, hipotesis penelitian, metode pengumpulan data, analisa data dan pengujian hipotesis.

BAB IV : PEMBAHASAN

Pada bab ini akan diteliti sistem anggaran pada PT Kaltim Methanol Industri dalam mengukur keefektifan dan efisiensi dari hasil analisis anggaran serta realisasinya.

BAB V : KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan dari pembahasan pada baba sebelumnya merupakan isi dari bab ini, disamping itu disertakan pula saran-saran.

FAKTOR-FAKTOR PERSAINGAN DALAM INDUSTRI MEBEL DAN PENGARUHNYA TERHADAP STRATEGI PEMASARAN PADA SENTRA KERAJINAN MEBEL DIKELURAHAN BUKIR, KECAMATAN GADINGREJO KOTA PASURUAN

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pada umumnya dalam menjalankan usahanya, kondisi industri rumah tangga, industri kecil dan menengah di Indonesia ini tengah menghadapi persaingan dari berbagai pihak. Tidak hanya dengan sesama industriawan yang mempunyai skala yang sama tetapi juga dengan pengusaha-pengusaha besar. Bahkan dengan diberlakukannya Association South East Asian Nation Free Trade Area (AFTA) pada awal tahun 2003 sebagai persiapan untuk menuju pada era pasar global pada tahun 2020 bagi Negara berkembang, tingkat persaingan yang mereka hadapi akan menjadi semakin berat dengan makin mudahnya produk-produk buatan Negara-negara asing untuk beredar di Indonesia. Karena konsekuensi bagi Negara-negara yang turut serta menandatangani kesepakatan tersebut, harus menghilangkan hambatan-hambatan perdagangan diantara mereka. Konkritnya hambatan non-tarif harus dihilangkan, serta tarif atau pajak impor yang terlalu tinggi harus diturunkan bahkan dihapus (Suwandi, dalam kompas 17 februari 2003).

Berdasarkan pendapat Lisk (dalam Tambunan 2002:44), perubahan dari proteksi ke liberalisasi yang cepat bisa mengakibatkan banyak Usaha Kecil dan Menengah (UKM) yang mengalami penurunan pangsa pasar. Hal ini terjadi karena produk mereka tidak mampu bersaing dengan barang-barang impor yang harganya relatif lebih murah dan kualitasnya lebih baik. Hal ini juga diramalkan akan menimpa UKM di banyak Negara berkembang lainnya. Dimana dampak negatifnya bisa berdampak pada pangsa pasar domestik maupun pasar ekspornya.

Menurut Firdausy (dalam Thoha, 1998:20) untuk menghadapi tantangan-tantangan yang dihadapi oleh Industri rumah tangga, industri kecil dan menengah tersebut, diperlukan adanya berbagai terobosan pasar baru, penetapan strategi pasar yang jitu, peningkatan kualitas produk, dan daya saing produk yang dihasilkan. Hal–hal tersebut dapat dirangkum dengan menerapkan strategi pemasaran yang tepat untuk mencapai keunggulan bersaing, yang dirumuskan dengan menghubungkan perusahaan dengan lingkungannya. Walaupun lingkungan yang relevan sangat luas, meliputi kekuatan-kekuatan sosial sebagaimana kekuatan-kekuatan ekonomi, aspek utama dari lingkungan perusahaan adalah lingkungan industri dalam mana perusahaan tersebut bersaing (Porter, 1992:3)

Pada dasarnya persaingan dalam suatu industri tidak hanya disebabkan oleh adanya pesaing-pesaing yang ada, namun ada beberapa kekuatan lain yang turut membantu struktur persaingan. Kekuatan-kekuatan tersebut, yaitu ancaman pendatang baru, pesaing yang ada, adanya produk pengganti (substitution), besarnya kekuatan tawar-menawar pembeli dan kekuatan tawar-menawar pemasok. Sebagai contoh, suatu perusahaan dengan posisi pasar yang sangat kuat dalam industri dimana tidak ada ancaman pendatang baru akan mendapatkan laba yang rendah apabila berhadapan dengan produk pengganti yang lebih murah dan berkualitas. Contoh ekstrim dari intensitas persaingan adalah industri yang dinamakan industri persaingan sempurna, dimana pendatang baru dapat masuk dengan bebas, perusahaan yang ada tidak mempunyai daya tawar menawar yang baik terhadap pemasok dan pelanggan, serta persaingan menjadi tidak terkendali karena sejumlah besar perusahaan dan produk yang ada serupa (Porter, 1992:6). Lemahnya posisi perusahaan dalam lingkungan industrinya dapat menimbulkan kesulitan dalam memasarkan produk dengan harga dan kualitas yang sesuai, hal ini seperti yang dialami oleh industri kerajinan mebel di Pasuruan.

Kekuatan-kekuatan yang paling besar dalam persaingan industri akan menentukan serta menjadi sangat penting dari sudut pandang perumusan strategi (Porter,1992:6) hal tersebut pada akhirnya juga akan menentukan kegiatan yang perlu bagi suatu perusahaan untuk berprestasi, seperti inovasi, budaya yang kohesif atau implementasi strategi pemasaran yang baik. Akan tetapi, faktor-faktor persaingan tersebut dapat juga menjadi sumber kegagalan apabila perusahaan tidak berhasil mengatasi kekuatan-kekuatan persaingan yang ada dalam industri tersebut.

Hal yang sama juga dapat terjadi pada pengusaha-pengusaha berskala industri rumah tangga, industri kecil dan menengah yang ada di sentra kerajinan mebel di kelurahan Bukir, Kecamatan Gadingrejo Kota Pasuruan. Apabila para pelaku usaha yang ada tidak dapat mempersiapkan diri dengan baik untuk menghadapi tantangan persaingan ini, maka dikhawatirkan produk-produk mereka tidak akan mampu bertahan dalam menghadapi persaingan dengan produk lain, sehingga akan berdampak pada kelangsungan usaha mereka di masa yang akan datang. Akan terus mempertahankan dan mengembangkan eksistensinya sebagai salah satu sentra yang diunggulkan untuk mencerminkan citra kota pasuruan sebagai kota industri, atau akan makin tenggelam dan menghilang di tengah-tengah ketatnya persaingan. Oleh karena itu, menarik untuk dikaji secara mendalam industri tersebut dan pengaruhnya terhadap strategi pemasaran pada industri rumah tangga, kecil dan menengah di sentra kerajinan mebel tersebut.

 

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan, maka dapat dirumuskan masalahnya sebagai berikut:

1.      Faktor-faktor Apa saja yang mempengaruhi persaingan dalam industri yang ada pada sentra kerajinan mebel di kelurahan bukir, Kecamatan Gadingrejo kota Pasuruan?

2.      Bagaimana pengaruh faktor-faktor persaingan dalam industri tersebut terhadap strategi pemasaran industri rumah tangga, industri kecil dan menengah pada sentra kerajinan mebel di kelurahan Bukir, kecamatan Gadingrejo kota Pasuruan?

 

1.3 Tujuan Penelitian

Sesuai dengan rumusan masalah yang telah dijabarkan, maka tujuan penelitian ini adalah:

1.      Untuk menjelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi persaingan dalam industri yang ada pada sentra kerajinan mebel di kelurahan bukir, kecamatan Gadingrejo kota Pasuruan

2.      Untuk menjelaskan pengaruh faktor-faktor persaingan dalam industri tersebut terhadap strategi pemasaran industri rumah tangga, kecil dan menengah pada sentra kerajinan mebel di kelurahan Bukir, kecamatan Gadingrejo kota Pasuruan

 

1.4 Manfaat Penelitian

1.      Bagi perusahaan: Penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan bagi perusahaan, serta lembaga terkait dalam mempertimbangkan kekuatan faktor-faktor yang mempengaruhi persaingan sebagai bagian dari perumusan strategi pemberdayaan UKM.

2.      Bagi Fakultas Penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai wacana untuk penelitian selanjutnya dan menambah wawasan tentang faktor-faktor persaingan yang mempengaruhi kemampulabaan dalam industri.

Bagi Penulis Penelitian ini diharapkan dapat memberikan tambahan wawasan, pengetahuan, ketrampilan menulis yang relevan untuk meningkatkan kompetensi, ketrampilan, kecerdasan intelektual, dan emosional.

Analisis Fundamental Terhadap Return Saham Pada Periode Bullish Dan Bearish Indeks Harga Saham Gabungan

Oleh : Budi Rusman Jauhari2 & Basuki Wibowo3

ABSTRAK

Investor yang menanamkan dana di pasar modal harus mampu memanfaatkan semua informasi untuk menganalisa pasar dan investasinya dengan harapan memperoleh keuntungan yang maksimal atau meminimalkan resiko. Analisis fundamental dengan rasio keuangan merupakan suatu cara dalam upaya pemilihan jenis saham yang layak untuk dijadikan lahan investasi. Suatu keadaan pasar tertentu (bullish/bearish) akan mempengaruhi keputusan yang sebaiknya harus diambil oleh investor. Berdasarkan hal tersebut, maka perlu dilihat saham dengan karakteristik bagaimana yang akan memaksimalkan return pada saat bullish atau meminimalkan resiko pada saat bearish.

Penelitian ini dilakukan pada saat Indeks Harga Saham Gabungan mengalami periode bullish (sepanjang tahun 1999) dan pada saat Indeks Harga Saham Gabungan mengalami periode bearish (mulai Januari 2000 sampai dengan April 2001). Analisis fundamental yang dilakukan yaitu dengan menganalisa rasio keuangan perusahaan yang diwakili oleh Price Earning Ratio, Price to Book Value Ratio, Debt to Total Equity, dan Return On Equity. Pengujian dilakukan dengan model statistik regresi linear berganda dengan pengujian t, F dan korelasi linear berganda terhadap return saham sebagai variabel dependen dengan komponen rasio keuangan sebagai variabel independen dengan tingkat kepercayaan 95%.

Dari hasil pengujian diperoleh kesimpulan bahwa analisis fundamental dengan rasio keuangan secara bersama-sama memiliki pengaruh yang signifikan terhadap return saham baik pada periode bullish maupun pada periode bearish. Pengujian secara parsial memberikan kesimpulan bahwa Price to Book Value Ratio memiliki pengaruh negatif signifikan terhadap return saham pada periode bullish dan bearish, Return On Equity memiliki pengaruh positif signifikan terhadap return saham pada periode bullish dan bearish. Sedangkan Price Earning Ratio dan Debt to Total Equity tidak mempunyai pengaruh signifikan terhadap return saham baik pada periode bullish maupun pada periode bearish.

Keywords : PER, PBVR, DTE, ROE, Bullish, Bearish

2 Mantan mahasiswa Jurusan Akuntansi FE Unila 3 Dosen Jurusan Akuntansi FE Unila

I. PENDAHULUAN

Pergerakan harga saham di bursa efek umumnya diramalkan pemodal dan pialang dengan analisis teknikal dan fundamental. Analisis teknikal adalah sebuah metode peramalan gerak harga saham, indeks atau instrumen keuangan lainnya dengan menggunakan grafik berdasarkan data historis (Fakhruddin, Firmansyah dan Hadianto, 2001: 21). Sedangkan analisis fundamental adalah suatu metode peramalan harga saham dengan mempelajari kinerja perusahaan (Ghozali dan Sugianto, 2002). Analisis fundamental menganggap bahwa harga saham merupakan refleksi dari nilai perusahaan yang bersangkutan. Oleh karena itu, dalam melakukan penelitian suatu saham melalui pendekatan fundamental dapat digunakan informasi akuntansi dengan teknik analisis rasio keuangan yang merupakan hasil perhitungan lebih lanjut dari laporan keuangan (Subekti, 1999: 34).

Secara psikologis, pemodal cenderung memilih saham-saham yang harganya rendah pada periode bullish dengan harapan pada kondisi ini harga-harga saham akan terus naik atau akan mengalami apresiasi. Pada pasar bearish (menurun) pemodal cenderung menjual sahamnya dalam jumlah sedikit karena mereka memiliki keyakinan bahwa harga-harga saham akan terus turun (Ghozali dan Sugiyanto, 2002).

Dari data di atas terlihat bahwa pada periode Maret 1999 sampai dengan Desember 1999 Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami periode bullish. Sepanjang periode tersebut IHSG terus mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Hal lain yang mengindikasikan bahwa periode tersebut IHSG mengalami bullish adalah terjadi kenaikan upthrust yaitu dari 662.02 pada bulan Juni 1999 menjadi 676.92 pada bulan Desember 1999. Meskipun pada bulan Juli, Agustus dan September 1999 mengalami penurunan, penurunan tersebut tidak signifikan apabila dibandingkan dengan kenaikan IHSG.

Mulai bulan Januari 2000 sampai dengan bulan April 2001 IHSG mengalami periode bearish. Hal ini terlihat dari adanya penurunan Indeks yang cukup signifikan. Ciri lain dari adanya periode bearish pada periode tersebut adalah indeks tertinggi pada periode upthrust kedua pada bulan Juni 2000 lebih rendah dari pada indeks tertinggi pada upthrust pertama. Dengan informasi Indeks Harga Saham Gabungan diharapkan akan memberikan informasi kepada investor tentang keadaan pasar yang sedang terjadi yang akan menentukan langkah-langkah investasi selanjutnya.

Suatu kondisi pasar tertentu (bullish atau bearish) akan mempengaruhi langkah-langkah dan keputusan investasi. Dalam kondisi tersebut, harus ditemukan saham dengan rasio keuangan bagaimana yang akan memberikan peluang atau prospek untuk memperoleh return yang maksimal dengan tingkat resiko tertentu atau bagaimana saham akan memberikan resiko yang lebih kecil dengan tingkat return tertentu.

Berdasarkan uraian diatas, yang menjadi permasalahan dalam penelitian ini adalah:

Berapa besar pengaruh analisis fundamental terhadap return saham pada periode bullish dan bearish dan bagaimanakah analisis fundamental berpengaruh terhadap return saham pada periode bullish dan bearish.

Dalam proses penelitian dilakukan pembatasan masalah sebagai berikut:

a.

Analisis fundamental diwakili oleh rasio keuangan, yaitu Price Earning Ratio, Price to Book Value Ratio, Debt to Total Equity, Return On Equity.

Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan saham dengan rasio keuangan tertentu dalam upaya pembentukan portofolio yang paling baik dalam keadaan bullish dan bearish Indeks Harga Saham Gabungan yang akan memberikan keuntungan yang maksimal dan mengurangi resiko yang mungkin dihadapi.

II. HIPOTESIS

2.1 Analisis Fundamental

E. A. Koetin (1997: 413) menyatakan bahwa nilai sebuah saham sesungguhnya ditentukan oleh kondisi fundamental emiten yang meliputi; laba, pertumbuhan penjualan, aktiva dan prospek emiten.

Rasio keuangan yang digunakan untuk menganalisa saham dalam penelitian ini adalah

Price Earning Ratio (PER), Price to Book Value Ratio (PBV), Debt to Total Equity (DTE), Return On Equity (ROE).

Price Earning Ratio (PER) mengindikasikan besarnya dana yang dikeluarkan oleh investor untuk memperoleh setiap rupiah laba perusahaan. Perusahaan yang memungkinkan pertumbuhan yang lebih tinggi biasanya mempunyai PER yang besar, demikian pula sebaliknya (Gibson, 1992:380-381).

PER menunjukkan perbandingan antara harga saham di pasar atau harga perdana yang ditawarkan dibandingkan dengan pendapatan yang diterima (Harahap, 2001:310) Semakin tinggi rasio ini menunjukkan bahwa investor mengharapkan pertumbuhan dividen yang tinggi, saham memiliki resiko yang rendah dan investor puas dengan pendapatan yang tinggi serta perusahaan mengharapkan pertumbuhan dividen daripada proporsi laba yang tinggi.

Berdasarkan hal tersebut disusun hipotesis:

H1

: Price Earning Ratio (PER) berpengaruh positif signifikan terhadap return saham pada periode bullish Indeks Harga Saham Gabungan.

Price to Book Value Ratio (PBV) menggambarkan seberapa besar pasar menghargai nilai buku suatu saham. Semakin besar rasio ini menggambarkan kepercayaan pasar akan prospek perusahaan tersebut (Darmadji dan Fakhrudin, 2001:303). Menurut Bodie, Kane dan Markus (1996: 576) bahwa analis pasar modal mempertimbangkan suatu saham dengan rasio PBV yang rendah merupakan investasi yang aman.

Berdasarkan penjelasan diatas, maka disusun hipotesis:

H3 : Price to Book ValueRatio (PBV) berpengaruh negatif signifikan terhadap return saham pada periode bullish Indeks Harga Saham Gabungan.

H4 : Price to Book Value Ratio (PBV) berpengaruh negatif signifikan terhadap return saham pada periode bearish Indeks Harga Saham Gabungan.

Debt to Total Equity (DTE) menggambarkan sampai sejauh mana modal pemilik dapat menutupi hutang-hutang kepada pihak luar. Semakin kecil rasio ini semakin baik (Harahap, 2001:303).

Berdasarkan hal diatas, maka disusun hipotesis:

H5 : Debt to Total Equity (DTE) berpengaruh negatif signifikan terhadap return saham pada periode bullish Indeks Harga Saham Gabungan.

H6 : Debt to Total Equity (DTE) berpengaruh negatif signifikan terhadap return saham pada periode bearish Indeks Harga Saham Gabungan.

Return On Equity (ROE) menunjukkan berapa persen diperoleh laba bersih bila diukur dari modal pemilik. Semakin besar rasio ini semakin baik. (Harahap, 2001:305)

Berdasarkan penjelasan diatas, maka ditetapkan hipotesis:

H7 : Return On Equity (ROE) berpengaruh positif signifikan terhadap return saham pada periode bullish Indeks Harga Saham Gabungan.

H8 : Return On Equity (ROE) berpengaruh positif signifikan terhadap return saham pada periode bearish Indeks Harga Saham Gabungan.

2.2 Penelitian-penelitian sebelumnya yang berkaitan dengan analisis finansial (rasio keuangan) dan return saham.

A. Penelitian di Luar Negeri

1 Penelitian Ou dan Penman (1989), O’Connor (1973) tentang dampak pengumuman laporan keuangan terhadap harga saham di Amerika yang menyimpulkan bahwa laporan keuangan mampu memprediksi harga saham.

2 Penelitian Berlev dan Livnat (1990), yang menemukan bahwa rasio keuangan berkaitan erat dengan harga saham. Dari pandangan investor, rasio keuangan digunakan untuk menentukan pembelian saham, untuk meminjamkan dana, ataupun untuk melihat potensi perusahaan di masa depan.

3 Penelitian Stattman dan Rosenberg (1980), Reid dan Lanstein (1985), yang menemukan bahwa return mempunyai hubungan yang positif dengan rasio antara book value pada saham-saham Amerika. Chan, Hamao dan Lakonishok (1991) menemukan hubungan yang kuat antara BE/ME dengan return saham di Jepang.

B. Penelitian di Dalam Negeri

1 Penelitian Machfoed (1994), dari hasil penelitiannya atas saham-saham manufaktur selama periode 1989-1992 menemukan bahwa ada 13 rasio keuangan yang berguna untuk memprediksi laba.

2 Penelitian Mahadwarta (1999), penelitian ini dilakukan dalam jangka waktu 1994­1997 dengan 30 perusahaan manufaktur berkapitalisasi terbesar. Hasil dari penelitian ini adalah bahwa ROA, ROE, EBIT/Total Debt, dan Sales/Quick Ratio mempunyai konsistensi dalam memprediksi return saham dari tahun ke tahun secara signifikan.

3 Penelitian Utama dan Dewiyani (1999), penelitian dilakukan antara tahun 1994­1996 menemukan bahwa beta dan PER tidak mempunyai korelasi yang signifikan dengan return saham, MBV dan ukuran perusahaan mempunyai korelasi yang negatif dengan return saham.

4 Penelitian Teguh Prasetya (2001), penelitian ini dilakukan mulai Desember 1995 sampai dengan April 2000 dengan sampel 100 perusahaan manufaktur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hanya variabel Debt to Total Asset (DTA) yang mempunyai pengaruh signifikan terhadap return pada saat pasar bullish dan bearish. Pengaruhnya positif pada saat bullish dan negatif pada saat bearish. Secara Overall Pooled Section, variabel BPP (Book Value Per Price) berpengaruh positif secara signifikan terhadap return saham, variabel Return On Equity (ROE) berpengaruh positif dan signifikan pada periode bearish. Kelemahan penelitian ini adalah dalam proses penentuan periode bullish dan Bearish yaitu dengan cara:

Apabila IHSG akhir tahun lebih besar dari pada IHSG awal tahun, maka dikatakan IHSG mengalami bullish, sebaliknya apabila IHSG awal tahun lebih besar dari IHSG akhir tahun, maka dikatakan bahwa IHSG mengalami bearish. Menurut penulis, hal ini merupakan kelemahan yang cukup berarti, karena periode bullish dan bearish merupakan sorotan yang utama. Untuk itu penulis mencoba untuk melanjutkan penelitian ini dengan penentuan bullish dan bearish sesuai dengan pendapat Widoatmodjo.

Berdasarkan penjelasan diatas ditetapkan hipotesis:

H9 : PER, PBV, DTE, dan ROE berpengaruh signifikan terhadap return saham pada periode bullish.

H10 : PER, PBV, DTE, dan ROE berpengaruh signifikan terhadap return saham pada periode bearish.

III. METODE PENELITIAN

3.1 Sampel Penelitian

Populasi penelitian ini adalah seluruh perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta. Sampel penelitian dipilih secara Stratified Clustered Sampling (Sampel Gugus Berdasarkan Strata). Pemilihan sampel ini dilakukan dengan mengelompokkan unit-unit analisa ke dalam gugus-gugus yang merupakan satuan-satuan darimana sampel yang akan diambil. Pengambilan sampel ini dilakukan melalui tahap-tahap tertentu (Singarimbun dan Efendi, 1989: 166)

Sampel ditarik dengan kombinasi antara Stratified Sampling dan Clustered Sampling (Nasir, 1983: 333). Cara-cara pengambilan sampel dan nama-nama sampel di lampiran

1.

3.2 Operasionalisasi Variabel.

a. Variabel Dependen.

Return saham pada periode bullish dan bearish sebagai variabel dependen yang dinyatakan dengan notasi “TR”.

Return saham menurut Jogiyanto (2000:107) merupakan hasil yang diperoleh dari investasi. Return dapat berupa return realisasi yang sudah terjadi maupun return ekspektasi yang belum terjadi namun diharapkan akan terjadi di masa mendatang. Return realisasi merupakan return yang sudah terjadi. Return realisasi dihitung berdasarkan data historis. Return ini penting karena digunakan sebagai salah satu pengukur kinerja perusahaan dan juga berguna sebagai dasar penentuan return ekspektasi dan resiko di masa datang.

Beberapa pengukuran return realisasi yang banyak digunakan adalah return total, return relatif, return kumulatif, dan return yang disesuaikan. Namun dalam penelitian ini penulis hanya memfokuskan pengamatan pada return total yang dianggap telah mewakili return secara keseluruhan dari suatu investasi pada periode tertentu.

Return Total merupakan return keseluruhan dari suatu investasi dalam suatu periode tertentu. Return total terdiri dari Capital Gain (Loss) dan Dividend Yield sebagai berikut:

Return = Capital Gain (Loss) + Yield

Dimana Capital Gain (Loss) merupakan selisih untung (rugi) dari harga investasi sekarang relatif dengan harga periode lalu. Sedangkan Yield merupakan persentase penerimaan kas periodik terhadap harga investasi periode tertentu dari suatu investasi.

Return saham dihitung dengan rumus:

Pt – Pt-1 D1

TR = Capital Gain + Yield = +

Pt-1 Pt-1

Dimana : TR = Total return saham Pt = Harga saham pada periode t. Untuk periode bullish nilai Pt adalah harga

saham penutupan bulan Desember 1999. Untuk periode bearish nilai Pt adalah harga saham penutupan bulan April 2001.

Pt-1 = Harga saham pada periode t-1. Untuk periode bullish nilai Pt-1 adalah harga saham penutupan bulan Maret 1999. Untuk periode bearish nilai Pt­1 adalah harga saham penutupan bulan Desember 1999.

D1 = Deviden per lembar saham yang dibagikan. Untuk periode bullish, D1 adalah deviden tunai yang dibagikan selama periode April 1999 sampai dengan Desember 1999. Untuk periode bearish, D1 adalah deviden tunai yang dibagikan selama periode Januari 2000 sampai dengan April 2001.

b. Variabel Independen.

Harga SahamPrice Earning Ratio = Earning Per Share

Harga SahamPrice to Book Value Ratio = Book Value Per Share

Total Hutang Debt to Total Equity = Ekuitas

Laba Bersih Setelah Pajak Return On Equity = Total Ekuitas

Untuk periode bullish, rasio keuangan yang digunakan adalah rasio keuangan dari laporan keuangan yang berakhir pada periode 31 Desember 1998.

Untuk periode bearish, rasio keuangan yang digunakan adalah rasio keuangan dari laporan keuangan yang berakhir pada periode 31 Desember 1999.

3.3 Alat Analisis

Alat analisis yang digunakan adalah Analisis Regresi Berganda (Multiple Regresion), yang dirumuskan sebagai berikut:

TR = a + b1PER+ b2PBV+ b3DTE+ b4ROE+ ei TR = Total Return Saham a = Konstanta b1-b4 = Koefisien Regresi PER = Price Earning Ratio PBV = Price to Book Value Ratio DTE = Debt to Total Equity ROE = Return On Equity ei = Error

Pengolahan data akan dilakukan dengan menggunakan bantuan Software SPSS for windows release 11.0.0 (Statistical Product and Service Solution). Hasil perhitungan yang akan digunakan dalam pembahasan yaitu t hitung dengan tingkat signifikansinya (p-value), F hitung dengan tingkat signifikansinya (p-value), koefisien korelasi (R), koefisien determinasi (R Square), Variance Inflation Factor (VIF) dan Collinearity statistics tolerance value.

IV. HASIL ANALISIS

4.1 Hasil Uji Parsial pada Periode Bullish

a. Price Earning Ratio (PER)

Nilai koefisien korelasi (r) 0.091 menyatakan bahwa hubungan antara Price Earning Ratio (PER) dengan return saham adalah sangat rendah.

Nilai r2 untuk Price Earning Ratio (PER) sebesar 0.008 menunjukkan konstribusi dari Price Earning Ratio (PER) terhadap return saham sebesar 0.8%.

Kolom sig (Significance) sebesar 0.639 menyatakan bahwa pengaruh positif Price Earning Ratio (PER) terhadap return saham adalah tidak signifikan.

Simpulan pengujian diatas adalah Price Earning Ratio (PER) berpengaruh positif tetapi tidak signifikan terhadap return saham pada periode bullish Indeks Harga Saham Gabungan (Ha1 ditolak). Hasil ini senada dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Utama dan Dewiyani (1999) yang menyatakan bahwa PER tidak mempunyai korelasi yang signifikan dengan return saham pada tahun 1994-1996.

Ketidaksignifikannya ini mungkin terjadi karena perbedaan interpretasi atau ramalan setiap investor. Sebagian investor menganggap bahwa dengan nilai PER yang tinggi,

perusahaan memiliki peluang untuk mencapai pertumbuhan yang tinggi. Sebagian yang lain menyatakan bahwa dengan nilai PER yang tinggi, peluang kenaikan harga semakin kecil.

Perusahaan dengan peluang tingkat pertumbuhan yang tinggi, biasanya memiliki PER yang tinggi, sebaliknya perusahaan dengan tingkat pertumbuhan yang rendah, cenderung memiliki PER yang rendah (Prastowo, 1995: 74).

b. Price to Book Value Ratio (PBV)

Nilai koefisien korelasi (r) 0.393 menyatakan hubungan yang rendah antara Price to Book Value Ratio (PBV) dengan return saham.

Nilai kuadrat (r2) untuk Price to Book Value Ratio (PBV) sebesar 0.154 menunjukkan kontribusi dari Price to Book Value Ratio (PBV) terhadap return saham sebesar 15.4%.

Kolom sig (Significance) sebesar 0.035 menyatakan bahwa pengaruh negatif Price to Book Value Ratio (PBV) terhadap return saham adalah signifikan.

Simpulan pengujian diatas adalah Price to Book Value Ratio (PBV) berpengaruh negatif dan signifikan terhadap return saham pada periode bullish Indeks Harga Saham Gabungan (Ha2 tidak ditolak). Hasil ini sama dengan hasil dari penelitian Teguh Prasetya (2001) yang menyatakan bahwa secara Overall Polled Section, variabel BPP (Book Value Per Price) berpengaruh positif secara signifikan terhadap return saham pada periode bullish.

c. Debt to Total Equity (DTE)

Nilai koefisien korelasi (r) 0.050 menyatakan bahwa hubungan antara Debt to Total Equity (DTE) dengan return saham adalah sangat rendah.

Nilai r2 untuk Debt to Total Equity (DTE) sebesar 0.003 menunjukkan konstribusi dari Price Earning Ratio (PER) terhadap return saham sebesar 0.3%.

Kolom sig (Significance) sebesar 0.797 menyatakan bahwa pengaruh negatif Debt to Total Equity (DTE) terhadap return saham adalah tidak signifikan.

Simpulan pengujian diatas adalah Debt to Total Equity (DTE) berpengaruh negatif tetapi tidak signifikan terhadap return saham pada periode bullish Indeks Harga Saham Gabungan (Ha3 ditolak). Hasil yang tidak signifikan ini muncul karena sebagian investor berpendapat bahwa perusahaan yang memiliki utang akan menggunakan utang tersebut untuk kegiatan investasi yang nantinya akan meningkatkan laba.

Sampai batas-batas tertentu, perusahaan yang berutang justru dapat menguntungkan pemegang saham (Prastowo, 1995: 65).

d. Return On Equity (ROE)

Nilai koefisien korelasi (r) 0.389 menyatakan bahwa hubungan antara Return On Equity (ROE) dengan return saham adalah rendah.

Nilai r2 untuk Return On Equity (ROE) sebesar 0.151 menunjukkan konstribusi dari Return On Equity (ROE) terhadap return saham sebesar 15%.

Kolom sig (Significance) sebesar 0.037 menyatakan bahwa pengaruh positif Return On Equity (ROE) terhadap return saham adalah signifikan.

Simpulan pengujian diatas adalah Return On Equity (ROE) berpengaruh positif signifikan terhadap return saham pada periode bullish Indeks Harga Saham Gabungan (Ha4 tidak ditolak). Hasil ini sejalan dengan hasil dari penelitian Teguh Prasetya (2001) yang menyatakan bahwa ROE berpengaruh signifikan terhadap return saham pada periode bullish.

4.2 Hasil Uji Parsial pada Periode Bearish

a. Price Earning Ratio (PER)

Nilai koefisien korelasi (r) 0.298 menyatakan bahwa hubungan antara Price Earning Ratio (PER) dengan return saham adalah rendah.

Nilai r2 untuk Price Earning Ratio (PER) sebesar 0.089 menunjukkan konstribusi dari Price Earning Ratio (PER) terhadap return saham sebesar 8.9%.

Kolom sig (Significance) sebesar 0.124 menyatakan bahwa pengaruh positif Price Earning Ratio (PER) terhadap return saham adalah tidak signifikan.

Simpulan pengujian diatas adalah Price Earning Ratio (PER) berpengaruh positif tetapi tidak signifikan terhadap return saham pada periode bearish Indeks Harga Saham Gabungan (Ha5 ditolak).

b. Price to Book Value Ratio (PBV)

Nilai koefisien korelasi (r) 0.431 menyatakan bahwa hubungan antara Price to Book Value Ratio (PBV) dengan return saham adalah sedang.

Nilai r2 untuk Price to Book Value Ratio (PBV) sebesar 0.186 menunjukkan konstribusi dari Price to Book Value Ratio (PBV) terhadap return saham sebesar 18.6%.

Kolom sig (Significance) sebesar 0.022 menyatakan bahwa pengaruh negatif Price to Book Value Ratio (PBV) terhadap return saham adalah signifikan.

Simpulan pengujian diatas adalah Price to Book Value Ratio (PBV) berpengaruh negatif signifikan terhadap return saham pada periode bearish Indeks Harga Saham Gabungan (Ha6 tidak ditolak).

c. Debt to Total Equity (DTE)

Nilai koefisien korelasi (r) 0.041 menyatakan bahwa hubungan antara Debt to Total Equity (DTE) dengan return saham adalah sangat rendah.

Nilai r2 untuk Debt to Total Equity (DTE) sebesar 0.0017 menunjukkan konstribusi dari Debt to Total Equity (DTE) terhadap return saham sebesar 0.17%.

Kolom sig (Significance) sebesar 0.835 menyatakan bahwa pengaruh negatif Debt to Total Equity (DTE) terhadap return saham adalah tidak signifikan.

Simpulan pengujian diatas adalah Debt to Total Equity (DTE) berpengaruh negatif tetapi tidak signifikan terhadap return saham pada periode bearish Indeks Harga Saham Gabungan (Ha7 ditolak).

d. Return On Equity (ROE)

Nilai koefisien korelasi (r) 0.645 menyatakan bahwa hubungan yang kuat antara Return On Equity (ROE) dengan return saham.

Nilai r2 untuk Return On Equity (ROE) sebesar 0.416 menunjukkan konstribusi dari Return On Equity (ROE) terhadap return saham sebesar 41.6%.

Kolom sig (Significance) sebesar 0.000 menyatakan bahwa pengaruh positif Return On Equity (ROE) terhadap return saham adalah signifikan.

Simpulan pengujian diatas adalah Return On Equity (ROE) berpengaruh positif signifikan terhadap return saham pada periode bearish Indeks Harga Saham Gabungan (Ha8 tidak ditolak).

4.3 Hasil Uji Simultan pada Periode Bullish

Koefisien regresi berganda (R) 0.549 menunjukkan hubungan yang sedang antara Price Earning Ratio, Price to Book Value Ratio, Debt to Total Equity dan Return On Equity terhadap return saham padas periode bullish Indeks Harga Saham Gabungan.

Koefisien determinasi disesuaikan (Adjusted R Square) pada periode bullish sebesar

0.198 menunjukkan konstribusi analisis fundamental dengan rasio keuangan yang diwakili oleh Price Earning Ratio, Price to Book Value Ratio, Debt to Total Equity dan Return On Equity terhadap return saham adalah sebesar 19.8% dan sisanya 80.2% dipengaruhi oleh faktor lain.

Kolom Sig. (Significance) sebesar 0.040 menyatakan bahwa Price Earning Ratio, Price to Book Value Ratio, Debt to Total Equity dan Return On Equity secara bersama-sama mempunyai hubungan yang signifikan terhadap return saham pada periode bullish Indeks Harga Saham Gabungan.

Simpulan pengujian diatas adalah analisis fundamental dengan rasio keuangan berpengaruh signifikan terhadap return saham pada periode bullish Indeks Harga Saham Gabungan (Ha9 tidak ditolak).

4.4 Hasil Uji Simultan pada Periode Bearish

Koefisien Korelasi berganda (R) 0.674 menunjukkan hubungan yang kuat antara Price Earning Ratio, Price to Book Value Ratio, Debt to Total Equity dan Return On Equity terhadap return saham pada periode bearish Indeks Harga Saham Gabungan.

Koefisien determinasi disesuaikan (Adjusted R Square) pada periode bearish sebesar

0.371 menunjukkan konstribusi analisis fundamental yang diwakili oleh Price Earning Ratio, Price to Book Value Ratio, Debt to Total Equity dan Return On Equity terhadap return saham pada periode bearish adalah sebesar 37.1% dan sisanya 62.9% dipengaruhi oleh faktor lain.

Kolom Sig. (Significance) sebesar 0.040 menyatakan bahwa Price Earning Ratio, Price to Book Value Ratio, Debt to Total Equity dan Return On Equity secara bersama-sama mempunyai hubungan yang signifikan terhadap return saham pada periode bearish Indeks Harga Saham Gabungan.

Simpulan pengujian diatas adalah analisis fundamental dengan rasio keuangan berpengaruh signifikan terhadap return saham pada periode bearish Indeks Harga Saham Gabungan (Ha10 tidak ditolak).

4.5 Konstanta dan Koefisien Regresi

Berdasarkan hasil perhitungan, diperoleh persamaan regresi berganda sebagai berikut:

1. Periode Bullish

Y = 1.748 + 0.003 PER – 0.811 PBV – 0.030 DTE + 0.057 ROE + eI

Nilai konstanta sebesar 1.748 menyatakan bahwa return saham akan mengalami kenaikan sebesar 1.748% pada periode bullish dengan asumsi seluruh variabel independen tidak mengalami perubahan.

Koefisien regresi (b) 0.003 menyatakan bahwa setiap peningkatan Price Earning Ratio (PER) sebesar 1% mengakibatkan terjadinya peningkatan return saham sebesar 0.003% dengan asumsi Price to Book Value Ratio (PBV), Debt to Total Equity (DTE) dan Return On Equity (ROE) konstan.

Koefisien regresi (b) –0.811 menyatakan bahwa setiap penurunan Price to Book Value Ratio (PBV) sebesar 1% mengakibatkan terjadinya peningkatan return saham sebesar 0.811% dengan asumsi Price Earning Ratio (PER), Debt to Total Equity (DTE) dan Return On Equity (ROE) konstan.

Koefisien regresi (b) –0.030 menyatakan bahwa setiap penurunan Debt to Total Equity (DTE) sebesar 1% mengakibatkan terjadinya peningkatan return saham sebesar 0.030% dengan asumsi Price Earning Ratio (PER), Price to Book Value Ratio (PBV), dan Return On Equity (ROE) konstan.

Koefisien regresi (b) 0.057 menyatakan bahwa setiap peningkatan Return On Equity (ROE) sebesar 1% mengakibatkan terjadinya peningkatan return saham sebesar 0.057% dengan asumsi Price Earning Ratio (PER), Price to Book Value Ratio (PBV) dan Debt to Total Equity (DTE) konstan.

2. Periode Bearish

Y = -0.807 + 0.004 PER – 0.091 PBV – 0.005 DTE + 0.002 ROE + eI

Nilai konstanta sebesar –0.807 menyatakan bahwa return saham akan mengalami penurunan sebesar 0.807% pada periode bearish dengan asumsi seluruh variabel independen tidak mengalami perubahan (konstan).

Koefisien regresi (b) 0.004 menyatakan bahwa setiap peningkatan Return On Equity (ROE) sebesar 1% mengakibatkan terjadinya peningkatan return saham sebesar 0.004% dengan asumsi Price to Book Value Ratio (PBV), Debt to Total Equity (DTE) dan Return On Equity (ROE) konstan.

Koefisien regresi (b) –0.091 menyatakan bahwa setiap penurunan Price to Book Value Ratio (PBV) sebesar 1% mengakibatkan terjadinya peningkatan return saham sebesar 0.091% dengan asumsi Price Earning Ratio (PER), Debt to Total Equity (DTE) dan Return On Equity (ROE) konstan.

Koefisien regresi (b) –0.005 menyatakan bahwa setiap penurunan Debt to Total Equity (DTE) sebesar 1% mengakibatkan terjadinya peningkatan return saham sebesar 0.005% dengan asumsi Price Earning Ratio (PER), Price to Book Value Ratio (PBV) dan Return On Equity (ROE) konstan.

Koefisien regresi (b) 0.002 menyatakan bahwa setiap peningkatan Return On Equity (ROE) sebesar 1% mengakibatkan terjadinya peningkatan return saham sebesar 0.002% dengan asumsi Price Earning Ratio (PER), Price to Book Value Ratio (PBV) dan Debt to Total Equity (DTE) konstan.

V. SIMPULAN

Berdasarkan analisis dan pembahasan yang telah dilakukan mengenai pengaruh analisa fundamental dengan rasio keuangan terhadap return saham pada periode bullish dan bearish Indeks Harga Saham Gabungan, diambil kesimpulan bahwa analisis fundamental dengan rasio keuangan berpengaruh signifikan terhadap return saham pada periode bullish dan bearish Indeks Harga Saham Gabungan. Selain hal tersebut disimpulkan juga hal-hal sebagai berikut:

1 Price Earning Ratio (PER) mempunyai pengaruh positif tetapi tidak signifikan terhadap return saham baik pada periode bullish maupun pada periode bearish Indeks Harga Saham Gabungan.

2 Price to Book Value Ratio (PBV) mempunyai pengaruh negatif signifikan terhadap return saham baik pada periode bullish maupun pada periode bearish Indeks Harga Saham Gabungan.

3 Debt to Total Equity (DTE) mempunyai pengaruh negatif tetapi tidak signifikan terhadap return saham baik pada periode bullish maupun pada periode bearish Indeks Harga Saham Gabungan.

4 Return On Equity (ROE) mempunyai pengaruh positif signifikan terhadap return saham baik pada periode bullish maupun pada periode bearish Indeks Harga Saham Gabungan.

Daftar Pustaka

Copeland, T.E., and Weston, F. 1996. Manajemen Keuangan. Erlangga. Jakarta.

Dajan, Anto. 1984. Pengantar Metode Statistik. Jilid I dan II. PT Pustaka LP3S. Jakarta.

Darmadji, Tjiptono, Fakhrudin dan Hendy M. 2001. Pasar Modal di Indonesia, Pendekatan Tanya jawab. Salemba Empat. Jakrta.

Fisher, Donald E. & Jordan, Ronald J. 1983. Security Analysisi and Portofolio Management, 4TH Edition. Prentice Hall Inc. New Jersey.

Jogiyanto. 2000. Teori Fortofolio dan Analisis Investasi. BPFE. Yogyakarta.

Koetin, E.A. 1993. Analisis Pasar Modal Indonesia. Pustaka Sinar Harapan. Jakarta.

Analisis Pengaruh Kualitas Auditor Dan Proxi Going Concern Terhadap Opini Auditor

Oleh : Agrianti Komalasari A.1

ABSTRAK

This study purpose to examine the influence from the audit quality and the going concern on auditor opinion. The results of the study showed that there was ka difference in ROA between the company that heve unqualified opinion and not unqualified opinion.

Keywords : going concern proxy, opinion

 

PENDAHULUAN

Pada umumnya perusahaan publik memanfaatkan pasar modal sebagai sarana untuk mendapatkan sumber dana atau alternatif pembiayaan. Investor mau menanamkan modal pada perusahaan apabila investasinya dapat menghasilkan sejumlah keuntungan. Keberadaan pasar modal menjadikan perusahaan mempunyai alat untuk refleksi diri tentang kinerja dan kondisi keuangan perusahaan. Apabila kondisi keuangan dan kinerja perusahaan bagus maka pasar akan merespon dengan positif melalui peningkatan harga saham perusahaan. Keuntungan dari adanya perusahaan publik dari sudut pandang investor antara lain adalah investor akan mendapat perlindungan dari otoritas pasar modal karena adanya peraturan yang harus ditaati perusahaan emiten. Otoritas pasar modal membuat peraturan untuk melindungi investor dari praktek-praktek yang tidak sehat. Untuk melindungi publik yang juga merupakan pemilik perusahaan, otoritas pasar modal mengharuskan perusahaan emiten menyerahkan laporan-laporan rutin dan juga laporan-laporan khusus yang menerangkan peristiwa-peristiwa penting yang terjadi pada perusahaan (Hartono, 1998:44). Laporan-laporan rutin yang harus diserahkan emiten diantaranya adalah laporan keuangan auditan.

Auditor mempunyai peranan penting dalam menjembatani antara kepentingan investor dan kepentingan perusahaan sebagai pemakai dan penyedia laporan keuangan. Data-data perusahaan akan lebih mudah dipercaya oleh investor dan pemakai laporan keuangan lainnya apabila laporan keuangan yang mencerminkan kinerja dan kondisi keuangan perusahaan telah mendapat pernyataan wajar dari auditor. Pernyataan auditor diungkapkan melalui opini audit. Opini wajar tanpa pengecualian dari auditor menjamin

1 Dosen Jurusan Akuntansi FE Unila

 

angka-angka akuntansi dalam laporan keuangan yang telah diaudit bebas dari salah saji material. Peran auditor diperlukan untuk mencegah diterbitkannya laporan keuangan yang menyesatkan. Dengan menggunakan laporan keuangan yang telah diaudit, para pemakai laporan keuangan dapat mengambil keputusan dengan benar sesuai dengan kenyataan yang sesungguhnya.

Preferensi perusahaan terhadap kualitas audit bisa tergantung pada apa yang ingin disampaikan manajemen kepada publik berkaitan dengan karakteristik perusahaan. Manajemen menginginkan audit berkualitas tinggi agar investor dan pemakai laporan keuangan mempunyai keyakinan lebih terhadap reliabilitas angka-angka akuntansi dalam laporan keuangan. Pemilihan auditor dengan kualitas tinggi dapat meningkatkan kredibilitas laporan keuangan. Preferensi semacam ini bisa dilihat dari auditor yang ditunjuk perusahaan untuk melakukan audit. Dalam hal ini, perusahaan akan memilih auditor berkualitas tinggi dan dengan demikian auditor ini  dapat meningkatkan kredibilitas laporan keuangan perusahaan. Sebaliknya, perusahaan bisa saja memilih auditor hanya sebagai formalitas untuk memenuhi ketentuan otoritas pasar modal. Konsekwensi dari pilihan terhadap auditor “formalitas” ini adalah hasil auditnya tidak memberikan pengaruh yang berarti terhadap kredibilitas laporan keuangan.

PERUMUSAN MASALAH

Teori signaling memberikan indikasi bahwa perusahaan akan memilih auditor berkualitas tinggi untuk menunjukkan kinerja superior mereka. Menurut Scott, 2001 manajer yang rasional tidak akan memilih auditor berkualitas tinggi dan membayar fee yang tinggi apabila karakteristik perusahaan tidak bagus. Argumen ini didasari anggapan bahwa auditor berkualitas tinggi akan mampu mendeteksi karakteristik perusahaan yang tidak bagus dan menyampaikannya kepada publik. 

Penentuan berinvestasi bagi investor didasari oleh pengetahuan investor tentang going concern perusahaan  dan seorang auditor diuji independensi dalam pengambilan keputusan untuk mengeluarkan opini audit suatu perusahaan perlu memberikan pernyataan mengenai kemampuan perusahaan untuk mempertahankan kelangsungan hidup perusahaannya (going concern). Barnes dan Huan (1993) menyatakan bahwa perusahaan yang gagal yang tidak menjelaskan going concern pada opini auditnya menunjukkan bahwa auditor tersebut lebih mementingkan aspek komersial hal ini berdampak buruk pada citra auditor dan hilangnya kepercayaan investor terhadap perusahaan auditan. Berdasarkan pentingnya kualitas auditor dan independensi auditor dalam pengambilan keputusan going concern perusahaan untuk pembentukan opini maka permasalahan yang diangkat dalam penelitian ini adalah: Apakah kualitas auditor dan going concern berpengaruh terhadap opini audit yang dikeluarkan oleh auditor?

 

TINJAUAN PUSTAKA

Opini Auditor 

Undang-undang Republik Indonesia No. 8 tahun 1995 mengenai pasar modal pada Bab VIII pasal 64 disebutkan bahwa akuntan, dalam hal ini adalah auditor, merupakan salah satu profesi penunjang pasar modal. Setiap profesi penunjang pasar modal wajib menetapi kode etik dan standar profesi yang ditetapkan oleh asosiasi profesi masing­masing sepanjang tidak bertentangan dengan undang-undang ini dan atau aturan pelaksanaannya. Akuntan wajib memberikan pendapat atau penilaian yang independen dan wajib menyampaikan pemberitahuan yang sifatnya rahasia kepada Bapepam selambat-lambatnya dalam waktu tiga hari sejak ditemukan adanya hal-hal yang berupa pelanggaran yang dilakukan terhadap ketentuan dalam Undang-undang No. 8 tahun 1995 dan atau peraturan pelaksanaannya atau hal-hal lain yang dapat membahayakan keadaan keuangan lembaga dimaksud atau kepentingan para nasabahnya.

Menurut standar profesional akuntan publik SA Seksi 110, tujuan audit atas laporan keuangan oleh auditor independen pada umumnya adalah untuk menyatakan pendapat tentang kewajaran dalam semua hal yang material, posisi keuangan, hasil usaha, perubahan ekuitas, dan arus kas sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia. Laporan auditor merupakan sarana bagi auditor untuk menyatakan pendapatnya atau apabila keadaan mengharuskan, untuk menyatakan tidak memberikan pendapat, sebagai pihak yang independen, auditor tidak dibenarkan untuk memihak kepentingan siapapun dan untuk tidak mudah dipengaruhi, serta harus bebas dari setiap kewajiban terhadap kliennya dan tidak memiliki suatu kepentingan dengan kliennya (IAI, 1994). 

Opini yang dikeluarkan auditor ada empat macam yaitu: pendapat wajar tanpa pengecualian, pendapat wajar dengan pengecualian, tidak memberikan pendapat dan menolak memberikan pendapat. Whittred (1980) menyelidiki dampak laporan audit dengan opini wajar dengan pengecualian terhadap ketepatan pelaporan tahunan perusahaan di Australia. Auditor akan mengeluarkan kualifikasi laporan audit jika dalam menjalankan auditnya gagal mengkonfirmasi kepatuhan klien terhadap peraturan yang berlaku. 

Laporan penting sekali dalam suatu audit karena laporan menginformasikan pemakai informasi mengenai apa yang dilakukan auditor dan kesimpulan yang diperolehnya. Standar Profesional Akuntansi Publik (SPAP) mengharuskan dibuatnya laporan setiap kali KAP dikaitkan dengan laporan keuangan.

Auditor mempunyai tanggung jawab untuk menilai apakah terdapat kesangsian besar terhadap kemampuan satuan usaha dalam mempertahankan kelangsungan hidupnya dalam periode waktu pantas.

 

Pada saat auditor menetapkan bahwa ada keraguan yang pasti terhadap kemampuan klien untuk melanjutkan usahanya sebagai going concern, auditor diijinkan untuk memilih apakah akan mengeluarkan unqualified modified report atau disclaimer opini. Bagaimanapun juga, hampir tidak ada panduan yang jelas atau penelitian yang sudah ada yang dapat dijadikan acuan pemilihan tipe going concern reportyang harus dipilih (LaSalle & Anandarajan, 1996), karena pemberian status going concern bukanlah  suatu tugas yang mudah (Koh & Tan, 1999).

PSA 29 paragraf 11 huruf d, menyatakan bahwa, keraguan yang besar tentang kemampuan satuan usaha dalam mempertahankan kelangsungan hidupnya (going concern) merupakan keadaan yang mengharuskan auditor menambah paragraf penjelasan (atau bahasa penjelasan lain) dalam laporan audit, meskipun tidak mempengaruhi pendapat wajar tanpa pengecualian, yang dinyatakan oleh auditor. Istilah bahasa digunakan untuk mencakup paragraf, kalimat, frasa dan kata yang digunakan oleh akuntan publik untuk mengkomunikasikan hasil auditnya kepada pemakai laporan.

Going Concern

Going Concern adalah kelangsungan hidup suatu badan usaha. Dengan adanya going concern maka suatu badan usaha dianggap akan mampu mempertahankan kegiatan usahanya dalam jangka waktu panjang, tidak akan dilikuidasi (untuk perusahaan perperusahaanan) dalam jangka waktu pendek.

Seorang auditor ketika memeriksa kondisi keuangan suatu perusahaan dalam audit tahunan, auditor harus menyediakan laporan audit untuk digabungkan dengan laporan keuangan perusahaan. Salah satu dari hal-hal penting yang harus diputuskan adalah apakah perusahaan dapat mempertahankan hidupnya (going concern). Audit report dengan modifikasi mengenai going concern, mengindikasikan bahwa dalam penilaian auditor terdapat resiko perusahaan tidak dapat bertahan dalam bisnis. Di lain pihak, perusahaan yang “sehat” memperoleh opini “standard” atau “unqualified”. Dari sudut pandang auditor, keputusan tersebut melibatkan beberapa tahap analisis. Auditor harus mempertimbangkan hasil dari operasi, kondisi ekonomi yang mempengaruhi perusahaan, kemampuan pembayaran hutang, dan kebutuhan likuiditas di masa yang akan datang

Going concern dipakai sebagai asumsi dalam pelaporan keuangan sepanjang tidak terbukti adanya informasi yang menunjukkan hal berlawanan. Biasanya informasi yang secara signifikan dianggap berlawanan dengan asumsi kelangsungan hidup satuan usaha adalah berhubungan dengan ketidakmampuan satuan usaha dalam memenuhi kewajiban pada saat jatuh tempo tanpa melakukan penjualan sebagian besar aktiva kepada pihak luar melalui bisnis biasa, restrukturisasi utang, perbaikan operasi yang dipaksakan dari luar dan kegiatan serupa yang lain (PSA No 30).

Opini Audit Going Concern

PSA No 30 memberikan pedoman kepada auditor tentang dampak kemampuan satuan usaha dalam mempertahankan kelangsungan hidupnya terhadap opini auditor sebagai berikut:

1.   Jika auditor yakin bahwa terdapat kesangsian mengenai kemampuan satuan usaha dalam mempertahankan kelangsungan hidupnya dalam jangka waktu pantas, ia harus:

a.                   Memperoleh informasi mengenai rencana manajemen yang ditujukan untuk mengurangi dampak kondisi dan peristiwa tersebut.

b.                   Menetapkan kemungkinan bahwa rencana tersebut secara efektif dilaksanakan.

 

1                     Jika manajemen tidak memiliki rencana yang mengurangi dampak kondisi dan peristiwa terhadap kemampuan satuan usaha dalam mempertahankan kelangsungan hidupnya auditor mempertimbangkan untuk memberikan pernyataan tidak memberikan pendapat (Disclaimer).

2                     Jika manajemen memiliki rencana tersebut, langkah selanjutnya yang harus dilakukan oleh auditor adalah menyimpulkan (berdasarkan pertimbangannya) atas efektivitas rencana tersebut.

 

Kualitas Auditor

Kualitas audit menurut DeAngelo (1981) dalam Schwartz (1997)  didefinisi  sebagai probabilitas error dan irregularities yang dapat dideteksi dan dilaporkan. Probabilitas pendeteksian dipengaruhi oleh isu yang merujuk pada audit yang dilakukan oleh auditor untuk menghasilkan pendapatnya. Isu-isu yang berhubungan dengan isu audit adalah kompetensi auditor, persyaratan yang berkaitan dengan pelaksanaan audit dan persyaratan pelaporan.

Dopuch dan Simunic (1980) dan DeAngelo (1981) dalam Schwartz (1996) berargumentasi bahwa ukuran auditor berhubungan positif dengan kualitas auditor. Economies of scale  KAP yang besar akan memberikan insentif yang kuat untuk mematuhi aturan SEC sebagai cara  pengembangan dan pemasaran keahlian KAP tersebut. Kantor akuntan publik diklasifikasi menjadi dua yaitu kantor akuntan publik yang berafiliasi dengan KAP Big Five, dan kantor akuntan publik lainnya.  Auditor beroperasi dalam lingkungan yang berubah, ketika biaya keagenan tinggi, manajemen mungkin berkeinginan pada kualitas audit yang lebih tinggi untuk menambah kredibilitas laporan, hal ini bertujuan untuk mengurangi biaya pemonitoran.

Barnes dan Huan (1993) menyatakan bahwa perusahaan yang gagal yang tidak menjelaskan going concern pada opini auditnya menunjukkan bahwa auditor tersebut lebih mementingkan aspek komersial hal ini berdampak buruk pada citra auditor dan hilangnya kepercayaan investor terhadap perusahaan auditan. 

 

Berdasarkan hal ini maka hipotesis yang diajukan adalah:

H1 :Kualitas auditor lebih cenderung mempengaruhi auditor dalam memberikan opini audit dengan going concern (GCAR).

Proxi Going Concern

Likuiditas

Rasio keuangan merupakan proksi dari going concern. Analisis rasio secara tradisional memfokuskan pada profitabilitas, solvabilitas, dan likuiditas. Sudah jelas sekali, bahwa perusahaan yang tidak menguntungkan dalam jangka panjang adalah tidak solvabel, atau tidak likuid dan kemungkinan harus direstrukturisasi, dan yang sering terjadi setelah direstrukturisasi, maka perusahaan akan bangkrut. Cara untuk menghindarinya adalah dengan memprediksi bahaya keuangan jauh sebelumnya agar tidak menderita kerugian investas. 

Altman (1968) mengembangkan pendekatan tradisional terhadap analisis rasio dengan menganalisis pemikiran rasio untuk memprediksi kebangkrutan dan menggunakan teknik analisa multi diskriminan. Teknik ini mengidentifikasi 5 rasio, yang secara bersamaan, sangat baik untuk memprediksi kebangkrutan suatu perusahaan. 

Dalam hubungannya dengan likuiditas makin kecil Quick Ratio, perusahaan kurang likuid sehingga tidak dapat membayar para krediturnya maka auditor kemungkinan memberikan opini audit dengan going concern. Tidak jarang perusahaan yang secara konsisten mengalami kerugian operasi mempunyai working kapital yang sangat kecil bila dibandingkan dengan total assets (Altman, 1968). Sedangkan hubungan quick ratio dengan opini audit: Makin kecil quick ratio, perusahaan kurang likuid karena banyak kredit macet sehingga opini audit harus memberikan keterangan mengenai going concern.

Jadi, berdasarkan penjelasan diatas dapat dibuat hipotesis sebagai berikut:

H2 : Likuiditas lebih cenderung mempengaruhi auditor dalam memberikan opini audit dengan going concern (GCAR).

Profitabilitas

Tujuan dari analisa rentabilitas/ profitabilitas adalah untuk mengukur tingkat efisiensi usaha dan profitabilitas yang dicapai oleh perusahaan yang bersangkutan. Analisa ini juga untuk mengetahui hubungan timbal balik antara pos-pos yang ada pada neraca perusahaan yang bersangkutan guna mendapatkan berbagai indikasi yang berguna untuk mengukur efisiensi dan profitabilitas perusahaan yang bersangkutan

Return on asset (ROA) adalah ratio yang diperoleh dengan membagi laba/ rugi bersih dengan total asset. Ratio ini digunakan untuk menggambarkan kemampuan manajemen perusahaan dalam memperoleh laba dan manajerial efisiensi secara keseluruhan. Semakin tinggi nilai ROA semakin efektif pula pengelolaan aktiva perusahaan. 

Jadi berdasarkan kesimpulan di atas maka dapat dibuat hipotesis sebagai berikut:

H3 : Profitabilitas lebih cenderung mempengaruhi auditor dalam memberikan opini audit dengan going concern (GCAR).

TUJUAN PENELITIAN

1                     Menyediakan bukti empiris mengenai pengaruh kualitas auditor dan going concern terhadap opini auditor. 

2                     Menyediakan bukti empiris mengenai pentingnya independensi auditor pada keputusan going concern perusahaan auditannya.

 

KONTRIBUSI PENELITIAN

Penelitian ini diharapkan memberikan kontribusi sebagai berikut:

1                     Memberikan referensi bagi auditor untuk mempertahan independensinya pada keputusan going concern agar citra auditor lokal (Non Big Five) dapat terangkat guna mengantisipasi keterbukaan pasar jasa audit.

2                     Memberikan referensi bagi investor  tentang manfaat  rasio keuangan sebagai alat untuk memprediksi kelangsungan hidup suatu perusahaan publik yang terdaftar di BEJ.

 

METODA PENELITIAN

Populasi dan Sampel

Data penelitian ini diperoleh dari Bapepam, Pusat Referensi Pasar Modal, Perpustakaan Fakultas Ekonomi UGM, dan Data base Pusat Pengembangan Akuntansi UGM. Populasi  yang digunakan dalam penelitian ini perusahaan yang terdaftar di ICMD tahun 1999-2003. Sampel  perusahaan dalam penelitian ini dipilih dengan metode purposive sampling terhadap perusahaan publik yang terdaftar pada Bursa Efek Jakarta (BEJ). Alasannya adalah perusahaan publik yang terdaftar di BEJ menjadi sasaran mandatory auditing sementara perusahaan non publik tidak memiliki keharusan untuk menggunakan jasa audit eksternal. Kriterianya adalah:

1.   Laporan keuangan berakhir tanggal 31 Desember. Penyeragaman tanggal laporan keuangan berguna untuk memperbaiki daya banding laporan keuangan sehingga

 

angka-angka maupun rasio-rasio keuangan yang digunakan dalam penelitian tidak mengandung bias.

2.   Perusahaan tidak termasuk dalam industri perbankan dan jasa keuangan lainnya. Industri perbankan dan jasa keuangan lainnya berbeda dengan perusahaan lain dalam perolehan dan penggunaan sumber dana sehingga bisa terjadi bias apabila memasukkan industri ini dalam sampel penelitian.

Operasionalisasi dan Pengukuran Variabel

Operasionalisasi variabel dalam penelitian ini terdiri dari variabel dependen yang diproksikabn dengan opini auditor berupa audit unqualified dengan going concern audit report (GCAR) yang merupakan variabel dummy yang dilambangkan dengan 0 dan 1 bila opini tersebut audit unqualified tanpa going concern audit report (GCAR). Variabel independen diwakili oleh kualitas auditor yang diproxikan dengan KAP Big Five dan Non Big Five, untuk KAP Big FIVE diberikan lambang 1 dan begitu juga sebaliknya. Variabel rasio keuangan adalah: Quick Ratio (QR), Return on assets (ROA), dan Capital  Ratio (CR).

Pengujian Hipotesis

Pengolahan dan analisis data di dalam penelitian ini akan dilakukan dengan menggunakan alat analisis kinerja operasi perusahaan melalui beberapa pendekatan, antara lain:

1.   Analisa Rasio Likuiditas

Rasio likuiditas digunakan karena rasio ini mengukur kemampuan perusahaan di dalam memenuhi kewajiban-kewajiban yang akan jatuh tempo segera (kewajiban jangka pendek). Sebagai parameter dari rasio likuiditas, penulis menggunakan Quick Ratio.

2.   Analisis Rasio Profitabilitas

Penulis menggunakan metode analisis rasio profitabilitas karena masyarakat, pada umumnya, berpandangan bahwa pengukuran tingkat keberhasilan operasional dan efektivitas perusahaan didasarkan pada tingkat profitabilitas yang dicapai perusahaan, dalam hal ini digunakan ROA.

Model yang digunakan dalam penelitian ini disajikan sebagai berikut:

AuOpit = ß0 + ß1(AuQua it )+ ß2 (QRit ) + ß3(ROAit ) + ?it

Keterangan:

AuOpit = Opini Auditor ß = intersep AuQua = Kualitas Auditor  QR = Quick Ratio ROA = Return on Assets ?1-4 = Koefisien masing-masing variabel ?it = error perusahaan i pada tahun t

Model pengujian Ha1 sampai Ha4 antara lain menggunakan  statistika deskriptif  dipilih untuk menunjukkan gambaran umum kecenderungan sampel.  Alat analisis lain yang dipakai untuk memperkuat statistik deskriptif sampel adalah dengan menggunakan uji t pada dua sampel bebas.  Alat analisis lain yang dipakai adalah pengujian  dengan menggunakan model regresi logistik

Asumsi Klasik

Seperti halnya model regresi, penelitian dengan menggunakan model logistic regression membutuhkan beberapa pengujian asumsi klasik. Pengujian asumsi klasik yang harus dipenuhi meliputi tidak adanya autokorelasi, multikolinearitas dan mengabaikan asumsi normalitas dan heterokedastisitas untuk pengujian regresi logistik.

Analisis Deskriptif

Proses pemilihan sampel menghasilkan 151 perusahaan dengan periode penelitian tahun 1998 sampai dengan tahun 2002.  sedangkan ICMD 2004 datanya belum tersedia. Hasil diperoleh 616 sampel pengamatan.  Untuk memperoleh gambaran umum dampel data penelitian, bisa dilihat statistik deskriptif penelitian seperti pada Tabel 1 yang menyajikan statistik deskriptif data sampel keseluruhan pada periode tahun 1998 sampai dengan tahun 2002.

Tabel 1. Hasil Uji Deskriptif Sampel

Alat uji

N

Minimum

Maximum

Mean

Std. Deviatio

 

Return on Total Assets (ROA) menunjukkan rata-rata 0,032 dengan standar deviasi 0,3134 sedang nilai minimum dan maksimum adalah -1,29 dan 5,89 hal ini menunjukkan tingkat profitabilitas yang berfariasi yang di[perkuat oleh besarnya deviasi standar sebesar 31,3%.  Penelitian ini tidak membedakan klasifikasi industri dan ukuran perusahaan sampel, hal ini membuat variasi ROA secara keseluruhan sebesar 31.3%.

Tingkat kesuliltan keuangan perusahaan menunjukkan rata-rata 0,20 sedangkan nilai minimum dan maksimum adalah -0,03 dan 1,54.  hal ini menunjukkan struktur aset yang didanai utang jangka panjang rata-rata sebesar 20% dengan deviasi standar 24,3%.

Tabel 2. Hasil Uji Beda t-test

Opinion

N

Mean

Std. Deviation

Std. Error Mean

 

Independent Sample Test

 

Levene’s Test of Equality of Variant

 

 

 

t-test for Equality of Mean

 

 

Tabel 2 memperlihatkan dari 616 KAP yang menjadi sampel, sebanyak 494 kantor akuntan publik (KAP) yang merupakan KAP yang berafiliasi dengan KAP Big Five, atau 80,2% dari KAP yang menjadi sampel.  Besarnya jumlah perusahaan publik yang memmilih KAP Afiliasi dibanding dengan KAP lainnya menunjukkan bahwa perusahaan publik memiliki keyakinan bahwa KAP Afiliasi BIG Five memunyai kualitas audit yang lebih baik.  Hal ini yang mendorong perusahaan publik lebih cenderung untuk menggunakan jasa KAP yang berafiliasi dengan Kap Big Five.

Analisis Pengaruh Kualitas Auditor…. (Agrianti Komalasari)

Statistics

AUDQUA

 

 

 Frequency

Percent

Valid percent

Cumulative Percent

 

OPINION

 

 

 Frequency

Percent

Valid percent

Cumulative Percent

 

Jenis opini audit wajar tanpa pengecualian (WTP) mempunyai frekuensi 94,2% dari sampel.  Hal ini menunjukkan untuk opini WTP merupakan mayoritas opini yang dihasilkan auditor.

Uji Asumsi Klasik

a. Uji Multikolinearitas

Multikolinearitas dapat dilihat dari varian inflation factor, bila VIF > 10, maka terjadi multikolinearitas-regresi logistik dapat dilihat pada Tabel 4.  Dari tabel tersebut dapat disimpulkan bahwa tidak terjadi multikolinearitas antara variabel-variabel bebas.

Tabel 4. Hasil Uji Multikolinearitas-regresi Logistik

Variabel bebas

VIF

 

b.  Uji Autokorelasi

Uji yang digunakan untuk mendeteksi ada tidaknya autokorelasi menggunakan uji Durbin-Watson, hasil pengujian autokorelasi menunjukkan bahwa tidak terdapat autokorelasi karena nilai uji Durbin-Watson berada di antara -2 dan +2, yaitu 1,76

 

PENGUJIAN HIPOTESIS

tahap awal dalam melakukan pklengujian menggunakan regresi logistik dilakukan dengan menggunakan semua variabel independen karena semua variabel independen telah lolos uji multikoliniearitas dan uji auto korelasi.  Uji heteroskedastisitas tidak dilakukan karena regresi logistik selain mengabaikan uji normalitas juga tidak mensyaratkan uji heterokedastisitas.

Tahap selanjutnya adalah memasukkan variabel yang telah bebas dari uji asumsi klasik ke dalam uji regresi logistik dengan neggunakan metode Backward Stepwisw. Teknik stepwise (conditional) digunakan untuk menyaring variabel-variabel independen, kemudian mengeluarkan satu-persatu dimulai dari variabel-variabel yang paling tidak signifikan, sehingga akhirnya diketahui variabel yang paling signifikan.  Tahap terakhir adalah menguji kembali variabel yang signifikan dari uji regresi logistik teknik stepwise ke dalam uji selanjutnya, yaitu uji regresi logistik teknik Enter.  Pengujian regresi logistik menghasilkan uji Nagelkerke R square, uji Hosmer dan Lemeshow, dan uji signifikan untuk tiap-tiap variabel independent.

Nilai Hosmer dan Lemeshow test menunjukkan hasil yang signifikan karena probabilitas > 0,05, yaitu sebesar 0,944; dan nilai Chi Square hitung < Chi Square tabel (0,005 < 3,84146).  Jika dilihat dari overall classification table terlihat adanya penurunan overall hit ratio dari 85% menjadi 84,8% tetapi secara keseluruhan hal ini menunjukkan bahwa model ini sudah cukup baik, artinya tidak ditemukan adanya perbedaan yang secara statistik, signifikan antara klasifikasi yang diprediksi dan yang diamati, sehingga model regresi dua kategori ini layak dipakai.  Kecocokan model (model fit). Kriteria yang digunakan adalah nilai -2 LogLikelihood (-2LL).  Adanya penurunan -2LL dari 721,120 pada model awal menjadi 587,814 hal ini mengindikasikan bahwa model regresi ini baik.  Koefisien korelasi Nagelkerke 11,1% berarti tiga variabel independen berupa profitabilitas, kesulitan keuangan dan kualitas auditor menentukan opini yang diberikan oleh KAP sedangkan faktor-faktor penentu lainnya yang sebesar 88,89% dijelaskan oleh variabel lainnya yang tidak terdapat dalam penelitian ini.

Hasil ujivariabel independen terhadap variabel dependen dengan menggunakan regresi logistik metode backward stepwise tahap pertama (full), persamaan yang dipergunakan untuk diskusi hasil pengujian hipotesis 1 sampai hipotesis 3, Y=-3,368­0,303ROA+1,303GEAR+0,677AUDqUA.

Konstanta persamaan di atas memunyai nilai -3,368 dengan tingkat signifikan 0 yang berarti tanpa adanya pengaruh dari variabel independen dalam penelitian ini, maka adanya opini selain WTP bagi laporan keuangan perusahaan publik dapat terjadi dengan tingkat propabilitaas 0,028.

Kualitas Auditor

Hipotesis pertama yang menyatakan bahwa kualitas auditor lebih cenderung mempengaruhi auditor dalam memberikan opini audit dengan going concern (GCAR) ditolak.  Tingkat signifikan variabel kualitas auditor sebesar 0,81 artinya adalah perusahaan yang menggunakan auditor yang berkualitas tidak dapat menentukan apakah dia akan mendapat opini WTP atau tidak.  Koefisien variabel ini menunjukkan arah negatif berbeda dengan ekspektasi sebelum argumentasinya adalah KAP Big Five sebagai pengukur KAP berkualitas.  Dalam penelitian ini merupakan KAP yang memunyai frekuensi 79,9% dari jumlah sampel.

Profitabilitas

Return on Total Assets yang merupakan proxy dari profitabilitas perusahaan memunyai koefisien negatif yang menunjukkan bahwa semakin rendah ROA semakin tinggi profitabilitas perusahaan untuk mendapatkan opini selain WTP.  Berdasarkan hasil uji regresi logistik terlihat bahwa hipotesis kedua dari penelitian ini tidak dapat ditolak.

Kesulitan Keuangan

Perusahaan yang memunyai rasio gearing yang tinggi akan semakin dimonitor kemampuan pihak manajemennya untuk dapat melanjutkan usaha olehdebtholder dan regulator karena perusahaan tersebut memunyai tingkat resiko yang tinggi. Dengan adanya monitoring tersebut perusahaan akan berusaha untuk dapat menyelesaikan kesulitan keuangannya.  Tingkat signifikan rasio gearing ini 0,18 sehingga gearing ini tidak memunyai pengaruh terhadap opini yang diberikan KAP terhadap laporan keuangan perusahaan publik.  Berdasarkan hal ini hipotesis tiga yang menyatakan perusahaan yang memunyai kesulitan keuangan lebih cenderung memengaruhi auditor dalam memberikan opini auditor dalam memberikan opini audit dengan going concern (GCAR) ditolak.

 

V. SIMPULAN, KETERBATASAN

Penelitian ini mengangkat permasalahan apakah kualitas auditor dan going concern berpengaruh terhadap opini audit yang dikeluarkan oleh auditor?  Secara keseluruhan hasil penelitian ini memberikan bukti empiris sebagai berikut :

5.1    Hipotesis pertama yang menyatakan bahwa kualitas auditor lebih cenderung memengaruhi auditor dalam memberikan opini audit dengan going concern (GCAR) ditolak. Koefisien variabel ini menunjukkan arah negatif berbeda dengan ekspektasi sebelumnya argumentasinya yang adalah KAP Big Five

 

sebagai pengukur KAP berkualitas dalam penelitian merupakan KAP yang memunyai frekuaensi 79,9% dari jumlah sampel.

5.2    Hipotesis kedua dari penelitian ini tidak dapat ditolak .  return on Total Assets yang merupakan proxy dari profitabilitas perusahaan memunyai koefisien negatif yang menunjukkan bahwa semakin rendah ROA semakin tinggi profitabilitas perusahaan untuk mendapat opini selain WTP.

5.3    Hipotesis tiga yang menyatakan perusahaan yang memunyai kesulitan keuangan lebih cenderung memengaruhi opini going concern ditolak.  Tingkat signifikansi rasio gearing ini 0,18 sehingga gearing ini tidak memunyai pengaruh terhadap opini yang diberikan KAP terhadap laporan keuangan perusahaan publik.

 

Keterbatasan

Penelitian ini tidak memisahkan klasifikasi industri antara finansial dan non finasial, karena karakteristik kedua industri ini berbeda, sehingga tidak bias, dipergunakan proxy going concern dengan menggunakan rasio solvabilitas dan likuiditas.

 

DAFTAR PUSTAKA

Altman,, E.I., “Financial Discriminant analysisi and The Prediction of Corporate Bancrupty” Journal of Finance, September 1968,

Barnes,P.., Huan, H.D., 1993, The Auditor’s Going Concern Decision: Interaction of Task Variables and Sequential Processing of Evidence, The Accounting Review.

Boynton, C., Johnson, Raymond, M., Kell, Walter G. (2001): Modern Auditing: 7th USA, John Willey & Sons. Inc.

Butler M., Kraft, A., dan Weiss L.S., 2002. The Effect of Reporting Frequency on the

Timeliness of Ernings: The Case of Voluntary and Mandatory interim Reports.

Working Paper, July.

Chambers, A.E., dan S.H.  Penman, 1984, Timeliness of Reporting and the Stock Price Reaction to Earnings Anouncement, Journal of Accounting Research (Spring).

Chen, Kevin C. W., Bryan K. Church, 1996, Going concern Opinion and The Market’s Reaction to Banckruptcy Fillings, The Accounting Review, Vol. 71.

Dunn, Kimberly A: Brian W Mayhew and Suzanne G. Morsfield, 2000, Auditor Specialization and Clien Disclosure Quality Social Science Research Network.

Dyer, James C., dan Arthur J. McHugh, 1975, The Timeliness of the Australian Annual Report, Journal of Accounting Research, Vol. 13. 

Hay, David and Davis, 2002. The Voluntary Choice of an Audit of any Level of Quality. Dept. of Auckland, New Zeland, SSRN.

Hani, Clearly, Mukhlasin, Going Concern dan Opini Audit: Suatu Studi Empiris pada Perusahaan Perbankan, SNA, 2003.

Foster, George, 1986, Financial Statement Analysis, Second Edition, Prentice-Hall International, Inc.

Fried, D., A., Schiff, 1987, “CPA Switches and Associated Mareket Rections”, The Accounting Review.

Givoly, D, dan D. Palmon, 1982, Timeliness of Annual Earnings Announcements: Some Empirical Evidence, The Accounting Review,   Vol. LVII.

Ghozali, Imam, 2001, Aplikasi Analisis Multivariate dengan Program SPSS, Badan Penerbit Univiversitas Dipenegoro.

Hartono, Jogiyanto M. 2001, Teori Portofolio dan Investasi, BPFE-Yogyakarta.

Kida, T., An Investigation into Auditor Continuity and Relater Qualification Judgements, Journal of Accounting Research, 1980.

Komalasari, Agrianti, 2003, Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kepatuhan Perusahaan Publik terhadap Regulasi Informasi di Indonesia, Simposium Nasional Akuntansi (SNA) VI, Surabaya.

________, Agrianti, 2003, Pengaruh Kualitas Auditor, Lamanya Pengauditan, dan Jenis Opini Auditor terhadap Tingkat Kepatuhan Perusahaan Publik dalam Penyampaian Laporan Keuangan Tahunan ke BAPEPAM, Jurnal Akuntansi dan Keuangan, Edisi Juli. 

Santoso, Singgih, 2001, Buku Latihan SPSS Statistik Non Parametrik, Elex Media Komputindo.

________, 2000, Buku Latihan SPSS Statistik Parametrik, Elex Media Komputindo.

Suwardjono, 2002, Akuntansi Pengantar: Proses Penciptaan Data Pendekatan Sistem, BPFE,-Yogyakarta.

Whittred, G.P., 1980, Audit Qualification and the Timeliness  of Corporate Annual Reports, The Accounting Review, Vol. IV.

_________, Ikatan Akuntan Indonesia, 2002, Standar Profesional Akuntan Publik, Salemba 4, Jakarta.

_________, http://www.bapepam.go .id

_________,http://www.jsx.co.id

_________,http://www.ssrn.com