Home » Skripsi Akuntansi » ASIMETRY INFORMATION AND COST OF EQUITY CAPITAL PADA PERUSAHAAN GOPUBLIC DI BURSA EFEK JAKARTA (BEJ)

ASIMETRY INFORMATION AND COST OF EQUITY CAPITAL PADA PERUSAHAAN GOPUBLIC DI BURSA EFEK JAKARTA (BEJ)

Statistik

  • 1,446,031 Kunjungan

ABSTRAK

 

Penelitian ini menguji pengaruh asimetri informasi terhadap cost of equity capital (CEC). Sampel penelitian terdiri dari 73 perusahaan go public yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta  pada tahun 2001. Analisis regresi berganda dan uji t beda dua digunakan dalam pengujian hipotesis. Analisis regresi berganda menguji pengaruh asimetri informasi dan ukuran perusahaan (size) terhadap cost of equity capital. Uji t beda dua menguji perbedaan CEC antara perusahaan berukuran besar dan perusahaan berukuran kecil. Pengujian hipotesis ini dilakukan pengujian regresi terpisah antara perusahaan berukuran besar dan perusahaan berukuran kecil, dimana antara perusahaan berukuran besar dan perusahaan kecil masing-masing meregresi asimetri informasi (variabel bebas) terhadap CEC (variabel terikat), kemudian dihitung uji t beda dua. Jika t hitung lebih besar dari t tabel maka hipotesis dterima, jika sebaliknya maka hipotesis ditolak.

Hasil analisis regresi berganda menunjukkan bahwa Asimetri informasi mempunyai pengaruh positif terhadap cost of equity capital. Ukuran perusahaan (size) berpengaruh negatif terhadap CEC. Hasil uji t beda dua menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan CEC antara perusahaan berukuran besar dan perusahaan berukuran kecil atau antara perusahaan berukuran besar dan perusahaan berukuran kecil tidak terdapat perbedaan asimetri informasi sehingga CEC-nya tidak menunjukkan perbedaan.

 

Kata kunci : asimetri informasi, ukuran perusahaan (size), cost of equity capital.

 

 

SUMMARY

 

This study intent to examine the depreciation method choice and inventory valuation method choice of 42 manufacturing companies that carry out IPO in the Jakarta Stock Exchange from 1994 – 2003. Multiple regression analysis and T-test were used to examine the observable market effects, the initial offering proceeds and underpricing of the issues.

Testing of the initial offering proceeds find the depreciation method choice do not have significant effect toward initial offering proceeds and there are significant differences between income increasing method (straight line method) and income decreasing method (declining balance method) in producing the initial offering proceeds. Inventory valuation method significantly influences the initial offering proceeds and there are not significant differences between income increasing method (FIFO method) and income decreasing method (average method) in producing the initial offering proceeds.

Underpricing of initial offerings testing find the depreciation method choice and inventory valuation method do not influence the underpricing of initial offerings significantly. There are significant differences between income increasing method (straight line method) and income decreasing method (declining balance method)  in producing the underpricing of initial offerings and there are not significant differences between income increasing method (FIFO method) and income decreasing method (average method) in producing the underpricing of initial offerings.

 

 

 

 

 

 

 ASIMETRY INFORMATION AND COST OF EQUITY CAPITAL ON GOPUBLIC COMPANIES AT JAKARTA STOCK EXCHANGE

 

 

 ABSTRACT

 

This research objective is to study the influences asimetry information on cost of equity capital (CEC). The samples of this research consist 73 go public companies which enlist in Jakarta Stock Exchange n the year 2001. Doubled regression analysis and t test is used in hypothesis examination. Doubled regression analysis is to examine the influences asimetry information and company size to cost of equity capital. t test is used to test the CEC differences between large scale companies and small scale companies. This hypothesis examination is conducted separately between large scale companies and small scale companies, where large scale companies and small scale companies each recourse asimetry information to CEC, then calculated by t test. If t count is bigger than t table hence hypothesis is accepted, and the contrary, if t count is smaller than t table hence hypothesis is refused.

The result of double regression analysis indicate that asimetry information have positive influence on CEC. Meanwhile, company size have negative influence on CEC. The result of t test indicate that there is no CEC differences between large scale companies and small scale companies, it indicates that there is no asimetry information differences between large scale companies and small scale companies, therefore the CEC does not indicate any differences.

 

Keyword : asimetry information, company size, cost of equity capital

 

BAB 1

PENDAHULUAN

 

1.1. Latar Belakang

Teori keagenan (agency theory) mengimplikasikan adanya asimetri informasi antara manajer sebagai agen dan pemilik (dalam hal ini adalah pemegang saham).  Hubungan agensi muncul karena adanya  suatu kontrak yang dilakukan oleh satu atau beberapa orang (principal) yang menggunakan orang lain (agen) untuk melakukan beberapa jasa untuk kepentingan principal dengan cara mendelegasikan beberapa otoritas pengambilan keputusan.  Hubungan agensi dapat menimbulkan masalah asimetri informasi.  Asumsi bahwa individu bertindak untuk memaksimalkan kepentingan dirinya sendiri, maka dengan asimetri informasi yang dimilikinya akan mendorong agen untuk menyembunyikan beberapa informasi yang tidak diketahui principal. Pengungkapan informasi akuntansi merupakan salah satu alat penting untuk mengatasi masalah keagenan antara manajemen dan pemilik, karena dipandang sebagai upaya untuk mengurangi asimetri informasi. Terdapat dua jenis asimetri informasi : pertama, Adserse Selection, berkaitan erat dengan masalah komunikasi dari pihak dalam (manajer) kepada pihak luar (investor). Masalah Moral Hazard, masalah ini timbul dari sulitnya mengamati dan mengawasi usaha keras (effort) manajer dalam menjalankan perusahaan. Hal ini terjadi karena pemisahan antara kepemilikan kontrol yang banyak dilakukan oleh perusahaan besar, sehingga adalah tidak mungkin bagi pemegang saham dan kreditur untuk mengobservasi tingkat dan likuiditas kerja (effort) manajer puncak dalam menjalankan perusahaan agar sesuai dengan kepentingan pemegang saham dan kondisi ini mendorong manajer untuk berperilaku opportunistic.  Dikaitkan dengan peningkatan nilai perusahaan, ketika terdapat asimetri informasi, manajer dapat memberikan sinyal mengenai kondisi perusahaan kepada investor guna memaksimalkan nilai saham perusahaan. Sinyal yang diberikan dapat dilakukan melalui pengungkapan (disclosure) informasi akuntansi. 

Dalam mekanisme pasar modal, pelaku pasar juga menghadapi masalah keagenan. Partisipan pasar saling berinteraksi di pasar modal guna mewujudkan tujuannya, membeli atau menjual sekuritas. Aktivitas yang mereka lakukan utamanya dipengaruhi oleh informasi terima baik secara langsung (laporan publik) maupun tidak langsung (insider trading). Dealer atau market makers sebagai salah satu partisipan pasar modal mempunyai kemampuan yang terbatas terhadap persepsi yang akan datang, dan menghadapi potensi kerugian dari pedagang yang terinformasi (informed traders) karena mereka tidak memiliki informasi yang superior sebagaimana pedagang yang terinformasi. Timbulnya masalah adverse selection yang mendorong dealer untuk menutupi kerugian dari pedagang yang terinformasi dengan meningkatkan spread-nya terhadap pedagang yang liquid. Jadi dapat dikatakan bahwa asimetri informasi yang terjadi antara dealer dan pedagang yang terinformasi tercermin pada spread yang ditentukannya. 

Riset empiris sebelumnya telah banyak memberikan bukti bahwa pengumuman laba (earning) dapat mengurangi asimetri informasi yang diukur dalam bid-ask spread (misalnya Raman dan Tripathy, 1993; Krinsky dan Lee, 1996; Hartono Jogianto dan Diantamala Yossi, 2000). Suatu penemuan penting dari riset-riset sebelumnya dapat disimpulkan bahwa, pertama, pengungkapan informasi akuntansi dapat mempengaruhi risiko asimetri informasi sebagaimana yang dicerminkan oleh spread yang ditetapkan oleh dealer. Kedua informasi akuntansi lebih banyak membawa penurunan bid-ask spread. 

Bid-ask spread merupakan selisih harga beli tertinggi dengan harga jual terendah. Literatur mikrostruktur mengenai bid-ask spread menyatakan bahwa terdapat suatu komponen spread yang turut memberikan kontribusi terhadap kerugian yang dialami dealer ketika bertansaksi dengan pedagang terinformasi (informed traders). Komponen tersebut adalah sebagai berikut : pertama, kos pemrosesan pesanan (order processing cost), terdiri dari biaya yang dibebankan oleh pedagang sekuritas (efek) atas kesiapannya mempertemukan pesanan pembelian dan penjualan, dan kompensasi untuk waktu yang diluangkan oleh pedagang sekuritas guna menyelesaikan transaksinya. Kedua, kos penyimpanan persediaan (inventory holding cost), yaitu kos yang ditanggung oleh pedagang sekuritas untuk membawa persediaan saham agar dapat diperdagangkan sesuai dengan permintaan. Ketiga, Adverse selection component, menggambarkan upah (reward) yang diberikan kepada para pedagang sekuritas untuk mengambil suatu risiko ketika berhadapan dengan investor yang memiliki informasi superior. Komponen ini berkaitan erat dengan arus informasi di pasar modal. Berkaitan dengan bid-ask spread, fokus utama perhatian akuntan adalah adverse selection karena berhubungan dengan penyediaan informasi keputusan. Beberapa riset yang pernah dilakukan,  Misal : Easly dan Ohara (1996)  telah mengembangkan model teoritis yang menghubungkan arus informasi terhadap bid-ask spread. Premis yang diajukan adalah bahwa sebagian besar investor memiliki lebih banyak informasi dibandingkan sekutitas (dealer). Pedagang efek (dealer) bahwa investor akan termotivasi hanya akan berdagang jika dipandang menguntungkan mereka. Dalam kondisi ini, maka komponen adverse selection dari bid-ask spread merefleksikan risiko asimetri informasi yang dirasakan oleh pedagang sekuritas. Jadi ketika pedagang sekuritas berdagang dengan pedagang yang terinformasi maka biaya transaksi meningkat, dan dengan adanya asimetri informasi ini akan membawa bid-ask spread yang lebih besar.

Riset empiris sebelumnya memberikan bukti bahwa pengumuman laba (earning) dapat mengurangi asimetri informasi yang diukur dalam bid-ask spread (misalnya Raman dan Tripathy, 1993; Krinsky dan Lee, 1996; Hartono dan Diantamala, 2000). Suatu penemuan penting dari riset-riset sebelumnya dapat disimpulkan bahwa, pertama, pengungkapan informasi akuntansi dapat mempengaruhi risiko asimetri informasi sebagaimana yang dicerminkan oleh spread yang ditetapkan oleh dealer. Kedua, informasi akuntansi lebih banyak membawa penurunan bid-ask spread. Verrecchia dan Diamond (1991) menunjukkan bahwa dengan mengungkapkan informasi privat maka tuntutan investor terhadap kompensasi menurun dengan adanya biaya transaksi turun sehingga komponen adverve selection dan bid-ask spread berkurang yang pada akhirnya cost of equity capital juga menurun. 

Penelitian di Indonesia yang menguji pengaruh asimetri informasi terhadap cost of equity capital adalah Komalasari (2000). Komalasari (2000) menguji hubungan asimetri informasi terhadap cost of equity capital Secara khusus penelitian ini menguji  apakah penurunan cost of equity capital pada perusahaan besar lebih besar dibandingkan perusahaan kecil.  Hasilnya menunjukkan ada hubungan positif antara asimetri informasi dengan cost of equity capital. Tingkat asimetri informasi untuk perusahaan besar lebih kecil dibandingkan dengan perusahaan kecil. 

  Didasari oleh riset analitis Komalasari (2000), penelitian ini bertujuan memberikan bukti empiris mengenai asimetri informasi dan pengaruhnya terhadap cost of equity capital.  Penelitian ini bersifat extended replication dari penelitian yang dilakukan oleh Komalasari (2000). Adapun perbedaan penelitian ini dengan penelitian sebelumnya yaitu proksi ukuran perusahaan pada penelitian ini menggunakan total aset, sedangkan peneltian Komalasari (2000) menggunakan nilai pasar equitas sebagai proksi ukuran perusahaan. Penelitian ini menggunakan total aset sebagai ukuran perusahaan karena total aset lebih mencerminkan nilai kekayaan perusahaan (Fitriany, 2001).

 

1.2. Perumusan Masalah

 Berdasarkan latar belakang fenomena diatas maka perumusan masalahnya adalah sebagai berikut :

            1. Apakah asimetri informasi mempengaruhi cost of equity capital ?

            2. Apakah ukuran perusahaan mempengaruhi cost of equity capital ?

            3. Apakah pada perusahaan berukuran besar mempunyai cost of equity capital lebih rendah dibandingkan perusahaan berukuran kecil ?

 

 

 

 

1.3. Tujuan Penelitian  

Penelitian ini bertujuan :

            1. Untuk mengetahui pengaruh asimetri informasi terhadap cost of equity capital 

            2. Untuk mengetahui pengaruh ukuran perusahaan terhadap cost of equity capital  

            3. Untuk mengetahui perbedaan cost of equity capital perusahaan berukuran besar dan perusahaan berukuran kecil. 

 

 

1.4. Manfaat Penelitian

Bukti empiris ini sangat penting bagi praktisi dan teoritis. 

1. Bagi Praktisi :

            Bagi perusahaan, penurunan cost of equity capital yang timbul dari menurunnya asimetri informasi di antara pelaku pasar (investor) dapat mendorong mereka untuk membuat suatu kebijakan pengungkapan informasi akuntansi yang lebih baik.

            Emiten dan Calon Emiten, pengetahuan mengenai minimum pengungkapan agar informasi-informasi yang disajikan dalam laporan keuangan tahunan berguna bagi analisis sekuritas dan investor dalam rangka pengambilan keputusan investasi.

            Investor dan Manajer Portofolio, memberikan masukan dalam angka pengambilan keputusan investasi atas saham-saham yang tercatat dan diperdagangkan di bursa.

 

 

2. Bagi teoritis

1.      Bagi IAI, hasil riset ini untuk membuat suatu pedoman pengungkapan informasi akuntansi yang lebih akomodatif di Indonesia. 

2.      Bagi Bapepam, untuk lebih menerbitkan aturan-aturan mengenai pengungkapan informasi serta lebih memperketat praktik penyampaian informasi oleh manajemen kepada masyarakat, sehingga diharapkan asimetri informasi antara manajer dan pemegang saham dapat lebih kecil. Hal ini perlu dilakukan mengingat sampai saat ini masih banyak perusahaan yang belum melaksanakan aturan penyampaian informasi akuntansi secara sungguh-sungguh khususnya informasi yang bersifat kualitatif.

  1. Profesi Akuntansi (akuntan publik dan akuntan manajemen), menyajikan informasi-informasi yang perlu diungkapkan dalam laporan tahunan dalam membantu menciptakan pasar modal yang efisien.
About these ads

2 Comments

  1. Rica says:

    apakah total asset ada pengarunya terhadap cost of capital?

  2. Deasy Tunggal Sari says:

    Bisa lebih lengkap ga? sampai ke daftar pustakanya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 96 other followers

%d bloggers like this: