ANALISIS PENGARUH PELAPORAN SELISIH KURS DAN INDIKATOR KEUANGAN POSITIF TERHADAP NILAI PERUSAHAAN

24 10 2007

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Dalam beberapa dasawarsa terakhir ini dunia usaha mengalami perkembangan yang luar biasa. Terlebih lagi dengan munculnya arus globalisasi yang ditandai dengan perdagangan bebas yang telah direstui oleh WTO (World Trade Organization) sebagai “penguasa” perdagangan dunia. Perkembangan dalam dunia usaha ini diiringi dengan peningkatan peran laporan keuangan, yang notabene merupakan catatan sistematis bukti aktivitas dan kondisi perusahaan, sekaligus menjadi pedoman bagi pihak-pihak yang berkepentingan untuk mengambil keputusan.

Sebagaimana kita ketahui, laporan keuangan terutama ditujukan untuk pihak eksternal perusahaan dalam mengambil keputusan bisnis, terutama bagi investor dan kreditor. Bagi pihak eksternal, informasi yang terkandung dalam laporan keuangan digunakan untuk memenuhi berbagai macam tujuan yang dapat diperoleh secara terbatas (Sutrisno, 2004). Dikatakan terbatas karena laporan keuangan ini tidak dapat mengungkap seluruh informasi yang diinginkan pemakai sebab informasi keuangan merupakan barang ekonomis. Semakin banyak jenis informasi yang dipandang bermanfaat, akan semakin besar pula biaya untuk menyediakan informasi tersebut.

Informasi yang terkandung dalam laporan keuangan banyak memberikan manfaat bagi pengguna apabila laporan tersebut dianalisis lebih lanjut sebelum dimanfaatkan sebagai alat bantu pembuatan keputusan. Dari laporan keuangan perusahaan dapat diperoleh informasi tentang kinerja (performance), aliran kas perusahaan, dan informasi lain yang berkaitan dengan laporan keuangan. Satu hal yang sangat penting untuk digarisbawahi adalah bahwa informasi yang diungkapkan dalam laporan keuangan dapat menunjukkan seberapa besar nilai perusahaan (firm value). Dalam penelitian ini nilai perusahaan direfleksikan dengan harga saham dikalikan dengan jumlah saham yang beredar (atau disebut nilai pasar saham).

Menurut Adjie (2003) agar dapat dijadikan sebagai salah satu alat pengambil keputusan yang andal dan bermanfaat, sebuah laporan keuangan harus memiliki kandungan informasi yang bernilai bagi investor. Informasi tersebut setidaknya memungkinkan mereka untuk melakukan penilaian (valuation) saham yang mencerminkan hubungan antara resiko dan hasil pengembalian yang sesuai dengan preferensi masing-masing investor. Suatu laporan keuangan dikatakan memiliki kandungan informasi apabila publikasi laporan keuangan tersebut menyebabkan reaksi pasar. Reaksi pasar ini direfleksikan dengan adanya transaksi jual beli saham, yang berarti juga akan mempengaruhi volume perdagangan saham dan harga saham perusahaan.

Salah satu komponen informasi akuntansi yang terkandung dalam laporan keuangan adalah rugi laba selisih nilai tukar mata uang (kurs). Selisih kurs seringkali ditengarai masih mempunyai pengaruh terhadap nilai perusahaan. Sekalipun berdasarkan PSAK No 10 rugi laba selisih kurs dimasukkan sebagai komponen ekuitas (bukan laba rugi), namun adanya selisih kurs dipandang oleh investor sebagai sebuah konsekuensi atas strategi perusahaan dalam mengelola keuangannya dan mengatur transaksi-transaksinya, sekaligus menunjukkan pemahaman perusahaan terhadap kecenderungan-kecenderungan kondisi ekonomi global. Oleh karena itulah rugi laba selisih kurs tetap dipandang penting sebagai bagian dari informasi akuntansi yang diungkapkan oleh laporan keuangan perusahaan.

Selain selisih kurs, informasi akuntansi yang terkandung dalam laporan keuangan yang juga diduga mempunyai pengaruh terhadap nilai perusahaan antara lain perubahan dalam laba per saham, arus kas dan pendapatan. Ketiga komponen ini seringkali menjadi pertimbangan utama oleh para investor sebelum mengambil keputusan untuk menanamkan dananya di sebuah perusahaan. Oleh karena itulah ketiga komponen tersebut disebut sebagai indikator keuangan positif oleh Ou dan Penman (1989), sebagaimana yang dikutip Ariyanto dan Rata (2003).

Penelitian Ball dan Brown (1968), Beaver (1968), Kormendi dan Lipe (1987), Collins dan Kothari (1989), Kothari dan Zimmerman (1995) sebagaimana yang dikutip dari Ariyanto dan Rata (2003) menunjukkan bahwa laba akuntansi mengandung informasi yang relevan untuk penilaian perusahaan yang ditunjukkan dengan perilaku harga saham dan volume perdagangan di sekitar tanggal publikasi laporan keuangan. Solomon dan Dhaliwal (1980) serta Mc Nichols (1989) dalam Widanarto (2004) menyebutkan bahwa di dalam pasar modal, investor menggunakan informasi keuangan termasuk arus kas untuk memprediksi harga saham selain informasi lainnya. Sedangkan Collins dan Salatka (1993) dalam Ariyanto dan Rata (2003) menyatakan bahwa laba rugi selisih kurs akibat penjabaran laporan keuangan berpengaruh terhadap koefisien respon laba akuntansi.

Penelitian lain mengenai hubungan antara informasi dalam laporan keuangan dengan pasar saham dilakukan diantaranya oleh Aggarwal (1981), Soenan dan Hennigar (1988), Ma dan Kao (1990), Soo dan Soo (1994), Chandiok (1996), Adrangi dan Farrokh (1996), Ajayi dan Mbodja (1996), Kim (1997), Chow et al. (1997), sebagaimana yang dikutip dari Ariyanto dan Rata (2003). Hasil penelitian Purnomo (1998) dan Topkis (1998) dalam Mulyono (2000) menghasilkan kesimpulan bahwa EPS berpengaruh positif signifikan terhadap harga saham.

Triyono (1999) menemukan bahwa total arus kas tidak mempunyai hubungan yang signifikan dengan harga saham, tetapi dari hasil analisis ditemukan bahwa pemisahan total arus kas ke dalam 3 komponen yaitu arus kas dari aktivitas pendanaan, investasi dan operasi mempunyai hubungan yang signifikan dengan harga saham. Sementara itu penelitian Ariyanto dan Rata (2003) menemukan bahwa return saham berkorelasi secara tidak signifikan dengan perubahan pendapatan. Penelitian yang dilakukan Chandrarin dan Tearney (2000) menunjukkan bahwa rugi selisih kurs mempunyai hubungan dengan harga saham secara signifikan.

Penelitian-penelitian ini mengindikasikan satu hal, yaitu bahwa informasi dalam laporan keuangan (diantaranya adalah selisih kurs dan ketiga indikator keuangan positif) mempunyai pengaruh yang cukup signifikan terhadap nilai perusahaan, yang ini ditunjukkan dengan naik turunnya harga saham perusahaan. Berdasarkan latar belakang permasalahan yang telah diuraikan di atas, dan dengan mempertimbangkan relevansi topik yang dipilih, maka penulis mengajukan skripsi dengan judul :

“ANALISIS PENGARUH PELAPORAN SELISIH KURS DAN INDIKATOR KEUANGAN POSITIF TERHADAP NILAI PERUSAHAAN”

 

1.2 Motivasi Penelitian

Studi ini merupakan replikasi dari penelitian Chandrarin dan Tearney (2000). Beberapa alasan yang menjadi motivator untuk mereplikasi penelitian tersebut antara lain :

a)      Adanya keinginan untuk lebih memahami dampak kandungan informasi laporan keuangan terhadap nilai perusahaan (firm value).

b)      Penelitian Chandrarin dan Tearney menggunakan data berdasarkan Standard & Poor 500 Category, yang berarti objek penelitiannya adalah perusahaan-perusahaan di Amerika Serikat. Penelitian ini mendasarkan datanya pada Indonesian Capital Market Directory 2004, dan objek penelitiannya adalah perusahaan-perusahaan di Indonesia.

c)       Penelitian Chandararin dan Tearney (2000) difokuskan pada rugi selisih kurs saja, sedangkan penelitian ini difokuskan pada laba dan rugi selisih kurs dan indikator keuangan positif yang terdiri dari perubahan dalam laba per saham, total arus kas dan pendapatan.

d)      Dengan menggunakan periode pengamatan yang berbeda, penelitian ini dimaksudkan untuk mengetahui konsistensi dengan hasil penelitian­penelitian sebelumnya.

 

1.3 Perumusan dan Pembatasan Masalah

1.3.1 Perumusan Masalah

Beberapa masalah yang ingin dipecahkan melalui penelitian ini antara lain :

1.      Bagaimana pengaruh perubahan laba per saham terhadap nilai perusahaan pada perusahaan-perusahaan yang go public ?

2.      Bagaimana pengaruh perubahan total arus terhadap nilai perusahaan pada perusahaan-perusahaan yang go public ?

3.      Bagaimana pengaruh perubahan pendapatan terhadap nilai perusahaan pada perusahaan-perusahaan yang go public ?

4.      Bagaimana pengaruh selisih kurs terhadap nilai perusahaan pada perusahaan-perusahaan yang go public ?

5.      Diantara variabel perubahan laba per saham, perubahan total arus kas, perubahan pendapatan dan selisih kurs, variabel manakah yang mempunyai pengaruh paling besar terhadap nilai perusahaan ?

 

1.3.2  Pembatasan Masalah

Masalah yang diteliti dalam studi ini adalah sebatas pengaruh pelaporan selisih kurs dan indikator keuangan positif terhadap nilai perusahaan (firm value). Selisih kurs yang dimaksud adalah selisih kurs laba dan selisih kurs rugi. Sedangkan indikator keuangan positif yang dimaksud adalah variabel-variabel keuangan tertentu yang terdapat dalam laporan keuangan, sebagaimana yang disebutkan oleh Ou dan Penman (1989) dalam Ariyanto dan Rata (2003), yaitu perubahan dalam laba per saham, arus kas dan pendapatan. Variabel perubahan arus kas dan perubahan pendapatan dibagi dengan total aktiva. Selain itu, arus kas yang dimaksud dalam penelitian ini adalah total arus kas.

Perhitungan dilakukan dengan analisa regresi berganda untuk mengetahui keterkaitan diantara variabel. Periode penelitian dibatasi untuk tahun 2002-2003. Perusahaan-perusahaan yang diteliti juga hanya sebatas perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEJ tahun 2002-2003. Nilai perusahaan (firm value) direfleksikan dengan harga saham dikalikan dengan jumlah saham yang beredar (nilai pasar saham).

1.4 Tujuan Penelitian

Tujuan diadakannya penelitian ini antara lain :

1.      Untuk mengetahui pengaruh perubahan laba per saham terhadap nilai perusahaan pada perusahaan-perusahaan yang go public.

2.      Untuk mengetahui pengaruh perubahan total arus kas terhadap nilai perusahaan pada perusahaan-perusahaan yang go public.

3.      Untuk mengetahui pengaruh perubahan pendapatan terhadap nilai perusahaan pada perusahaan-perusahaan yang go public.

4.      Untuk mengetahui pengaruh selisih kurs terhadap nilai perusahaan pada perusahaan-perusahaan yang go public.

5.      Untuk mengetahui diantara variabel perubahan laba per saham, perubahan total arus kas, perubahan pendapatan dan selisih kurs, yang mempunyai pengaruh paling besar terhadap nilai perusahaan.

 

1.5 Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan akan memberikan beberapa manfaat sebagai berikut :

1.      Hasil atau temuan riset ini merupakan salah satu bagian dari pengembangan riset bidang akuntansi keuangan berbasis data pasar modal, yang diharapkan dapat memberikan kontribusi yang dapat digunakan sebagai dasar kebijakan untuk pengambilan keputusan.

2.      Bagi dunia pendidikan, hasil temuan empiris riset ini diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap pengembangan literatur akuntansi keuangan, serta memperkaya referensi bagi pembaca.

3.      Riset ini diharapkan dapat menjadi bahan perbandingan bagi riset-riset selanjutnya.

 

1.6 Sistematika Penulisan

Bab I. Pendahuluan Bab ini akan menguraikan tentang latar belakang penelitian, pokok permasalahan serta pembatasan masalah. Selain itu juga akan dijelaskan tentang motivasi, tujuan dan manfaat dari penelitian ini.

Bab II. Kerangka Teoritis dan Pengembangan Hipotesis Pada bagian ini akan diuraikan berbagai teori yang mendasar dan penelitian­-penelitian terdahulu yang terkait dengan pokok permasalahan yang dibahas dalam penelitian ini. Disamping itu juga akan dilakukan pengembangan hipotesis berdasarkan teori-teori yang ada serta hasil penelitian-penelitian terdahulu.

Bab III. Metodologi Penelitian Bab ini merupakan uraian mengenai metode penentuan populasi dan sampel, periode penelitian, metode pengumpulan data, jenis dan sumber data yang diperoleh, operasionalisasi variabel, serta metode analisis data.

Bab IV. Analisis dan Pembahasan Dalam bab ini akan dijelaskan mengenai hasil pengujian hipotesis dan interpretasi hasil.

Bab V. Kesimpulan dan Saran Bab ini merupakan bab terakhir yang berisi kesimpulan dari hasil penelitian ini, serta masukan-masukan sebagai saran kepada pihak-pihak yang terkait. Selain itu bab ini juga akan menguraikan beberapa keterbatasan dalam penelitian ini.





REAKSI PASAR TERHADAP PUBLIKASI LAPORAN KEUANGAN TAHUNAN (STUDI TERHADAP SAHAM LQ-45 DI BURSA EFEK JAKARTA)

24 10 2007

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Peran aktif lembaga pasar modal sangat dibutuhkan dalam membangun perekonomian sebuah negara. Lembaga pasar modal merupakan sarana untuk mengalokasikan sumber daya ekonomi secara optimal dengan mempertemukan kepentingan investor selaku pihak yang memiliki kelebihan dana dengan peminjam selaku pihak yang membutuhkan dana.

Inti dari kegiatan pasar modal adalah kegiatan investasi, yaitu kegiatan menanamkan modal baik langsung maupun tidak langsung dengan harapan pada waktunya nanti pemilik modal mendapatkan sejumlah keuntungan dari hasil penanaman modal tersebut. Bagi para investor, melalui pasar modal mereka dapat memilih obyek investasi dengan beragam tingkat pengembalian dan tingkat risiko yang dihadapi, sedangkan bagi para penerbit (issuers atau emiten) melalui pasar modal mereka dapat mengumpulkan dana jangka panjang untuk menunjang kelangsungan usaha mereka.

Pengambilan keputusan investasi dalam saham memerlukan pertimbangan-pertimbangan, perhitungan-perhitungan, dari analisis yang mendalam untuk menjamin keamanan dana yang diinvestasikan serta keuntungan yang diharapkan oleh investor. Calon investor harus mengetahui keadaan serta prospek perusahaan yang menjual surat berharganya. Hal ini dapat diperoleh dengan mempelajari dan menganalisis informasi yang relevan. Suatu informasi dikatakan relevan bagi investor jika informasi tersebut mampu mempengaruhi keputusan investor untuk melakukan transaksi di pasar modal yang tercermin pada perubahan harga.

Salah satu informasi yang dianggap relevan oleh para investor adalah laporan keuangan perusahaan. Laporan keuangan adalah salah satu informasi publik yang dapat digunakan untuk merevisi dan mendeteksi harga sekuritas seperti saham, obligasi, dan sekuritas lainnya. Jika pelaku pasar modal menggunakan laporan keuangan sebagai informasi yang relevan dalam pengambilan keputusan investasi, seharusnya laporan keuangan yang diumumkan pada publik mampu mempengaruhi harga sekuritas. Dengan kata lain, pasar bereaksi terhadap pengumuman laporan keuangan. Reaksi tersebut ditunjukkan dengan adanya perubahan harga dan volume perdagangan saham perusahaan yang melakukan pengumuman laporan keuangan.

Laporan keuangan sebagai hasil akhir dari proses akuntansi memang dirancang untuk menyediakan kebutuhan informasi bagi calon investor, kreditur, dan pemakai eksternal lainnya untuk pengambilan keputusan investasi, kredit dan pengambilan keputusan lainnya (Arumsari 2003). Beberapa studi mengenai hubungan antara laporan keuangan dengan return dan volume perdagangan saham, antara lain dilakukan oleh Beaver (1968) dalam Bandi dan Jogiyanto (2000) yang mengamati reaksi investor atas publikasi laba saham biasa di sekitar tanggal publikasi. Pengujian kandungan informasi atas publikasi laporan laba tahunan ini menemukan bukti bahwa pengumuman laba menyebabkan abnormal stock price performance dan unexpected trading volume.

Husnan et al. (1996) dalam Yudha (2005) meneliti dampak laporan keuangan terhadap kegiatan perdagangan saham dan variabilitas tingkat keuntungan. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa pada tanggal pengumuman laporan keuangan, kegiatan perdagangan maupun variabilitas tingkat keuntungan lebih tinggi dibandingkan dengan periode di luar tanggal pengumuman.

Penelitian selanjutnya dilakukan oleh Hanafi (1997) yang mengembangkan penelitian Husnan et al. (1996) dengan menambahkan abnormal return sebagai salah satu variabel penelitiannya. Hasil penelitian tersebut juga menyimpulkan bahwa publikasi laporan keuangan mempunyai pengaruh terhadap pasar .

Arumsari (2003) juga melakukan kajian return saham untuk mengetahui reaksi pasar modal di sekitar tanggal publikasi laporan keuangan. Sampel yang digunakan adalah seluruh perusahaan yang masuk dalam Indeks LQ 45 di Bursa Efek Jakarta dengan menggunakan laporan keuangan tahunan (tahun 2001). Hasil studi yang dilakukannya menunjukkan terjadi abnormal return yang signifikan di periode publikasi laporan keuangan tahunan.

Berdasarkan uraian di atas, peneliti termotivasi untuk mencoba menguji konsistensi hasil penelitian dengan mengacu pada penelitian sebelumnya melalui penelitian pada perusahaan-perusahaan yang masuk dalam Indeks LQ-45 semester I dan II tahun 2004 di Bursa Efek Jakarta. Meneruskan penelitian yang dilakukan Arumsari (2003) yang mengamati reaksi pasar terhadap peristiwa pengumuman laporan keuangan tahunan, studi ini berusaha untuk mengamati reaksi pasar terhadap publikasi laporan keuangan tahunan dengan tetap mempergunakan variabel abnormal return dan trading volume activity.

Pertimbangan untuk mengetahui apakah laporan keuangan tahunan yang dipublikasikan dapat mempengaruhi beliefs para investor dalam membuat keputusan investasi didasarkan pada Keputusan Ketua Badan Pengawas Pasar Modal Nomor Kep-17/PM/2002, peraturan nomor X.K.2 tentang kewajiban penyampaian laporan keuangan berkala, laporan keuangan tahunan dan tengah tahunan bersifat wajib sedangkan laporan keuangan triwulanan bersifat sukarela. Pertanyaan yang muncul ialah apakah laporan keuangan tahunan memiliki kandungan informasi dan relevan sebagai dasar pengambilan keputusan investasi yang ditunjukkan dengan adanya abnormal return dan trading volume activity yang signifikan disekitar tanggal publikasi laporan keuangan tahunan (Yudha 2005).

Peneliti akan melakukan pengujian dengan menggunakan penelitian studi peristiwa (event study) untuk mencari bukti reaksi pasar terhadap laporan keuangan tahunan. Reaksi pasar dalam penelitian ini diwakili dengan abnormal return dan trading volume activity (TVA) saham LQ-45 yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta. Penelitian ini menggunakan data laporan keuangan tahun 2004.

Berdasarkan latar belakang seperti diuraikan di atas, penulis terdorong untuk membahasnya dalam Kertas Karya Utama yang berjudul : “Reaksi Pasar Terhadap Publikasi Laporan Keuangan Tahunan (Studi Terhadap Saham LQ-45 di Bursa Efek Jakarta)”

1.2. Pokok Permasalahan

Berdasarkan latar belakang masalah di atas, pokok permasalahan yang akan dibahas pada Kertas Karya Utama ini adalah :

1. Apakah terdapat abnormal return di sekitar tanggal publikasi laporan keuangan tahunan?

2. Apakah ada perbedaan rata-rata abnormal return sebelum dan sesudah publikasi laporan keuangan tahunan?

3. Apakah terdapat trading volume activity (TVA) di sekitar tanggal publikasi laporan keuangan tahunan?

4. Apakah ada perbedaan rata-rata trading volume activity (TVA) sebelum dan sesudah publikasi laporan keuangan tahunan?

1.3. Batasan Masalah

Dalam pembahasan masalah ini dibatasi pada :

1. Sampel yang diambil dalam penelitian ini hanya saham yang masuk dalam kriteria LQ-45 yang tercatat di Bursa Efek Jakarta selama tahun 2004.

2. Reaksi pasar dalam penelitian ini hanya diproksikan dengan return saham dan trading volume activity (TVA).

3. Return saham yang dipergunakan adalah return yang terjadi karena adanya gain/loss atas harga saham pada suatu periode dikurangi dengan harga saham pada periode sebelumnya. Penghitungan return tidak melibatkan dividen per lembar saham.

4. Jenis saham adalah saham biasa.

5. Penelitian dilakukan hanya untuk pengamatan pada peristiwa pengumuman laporan keuangan tahunan periode 2004.

1.4. Tujuan Penelitian

Penulis mempunyai tujuan penelitian sebagai dasar titik pencapaian dalam melakukan penelitian. Adapun tujuan ini adalah:

a) Memperoleh bukti empiris adanya abnormal return di seputar tanggal publikasi laporan keuangan tahunan.

b) Memperoleh bukti empiris adanya perbedaan rata-rata abnormal return sebelum dan sesudah publikasi laporan keuangan tahunan.

c) Memperoleh bukti empiris adanya trading volume activity (TVA) di seputar tanggal publikasi laporan keuangan tahunan.

d) Memperoleh bukti empiris adanya perbedaan rata-rata trading volume activity (TVA) sebelum dan sesudah publikasi laporan keuangan tahunan.

1.5. Manfaat Penelitian

Manfaat yang dapat diperoleh dari hasil penelitian ini adalah:

a. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan bagi investor, kreditur, BAPEPAM, BEJ dan bahwa laporan keuangan suatu perusahaan dapat digunakan untuk mengetahui kondisi keuangan suatu perusahaan dan dapat digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan.

b. Memperluas wawasan bagi penulis dan berbagai pihak atas pengaruh publikasi laporan keuangan tahunan terhadap reaksi pasar.

c. Bagi para akademisi, Penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai referensi untuk penelitian selanjutnya.





PENGARUH TINGKAT BUNGA SBI, NILAI KURS DOLLAR AS, DAN TINGKAT INFLASI TERHADAP INDEKS HARGA SAHAM GABUNGAN (IHSG) (Studi di Bursa Efek Jakarta)

24 10 2007

ABSTRAK

 

Investasi melalui pasar modal selain memberikan hasil, juga mengandung resiko. Besar kecilnya resiko di pasar modal sangat di pengaruhi oleh keadaan negara khususnya di bidang ekonomi, politik dan sosial. Mudji Utami menyatakan bahwa beberapa faktor yang mempengaruhi harga saham adalah Profitabilitas, Tingkat suku bunga SBI, inflasi dan nilai tukar. Oleh karena itu, tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh tingkat bunga SBI, nilai kurs dollar AS, dan tingkat inflasi terhadap naik turunnya indeks harga saham dan untuk mengetahui variabel yang dominan berpengaruh terhadap Indeks Harga Saham Gabungan. Hasil penelitian ini membuktikan bahwa Tingkat bunga SBI, nilai kurs Dollar AS dan Tingkat inflasi  secara serempak berpengaruh tehadap Indeks Harga Saham Gabungan. Tingkat bunga SBI berpengaruh negatif terhadap Indeks Harga Saham Gabungan, sedangkan Nilai Kurs Dollar AS dan Tingkat Inflasi berpengaruh positif terhadap Indeks Harga Saham Gabungan. Dari ketiga variabel independen, variabel Tingkat bunga SBI adalah Variabel yang paling dominan berpengaruh terhadap Indeks Harga Saham Gabungan.

  

Kata Kunci: Tingkat Bunga SBI, Nilai Kurs Dollar AS, Tingkat Inflasi

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

1.1 Latar Belakang Permasalahan

   Investasi melalui pasar modal selain memberikan hasil, juga mengandung resiko. Besar kecilnya resiko di pasar modal sangat di pengaruhi oleh keadaan negara khususnya di bidang ekonomi, politik dan sosial. Keadaan di dalam perusahaan dapat juga mempengaruhi naik atau turunnya harga saham.

   Pertumbuhan investasi di suatu negara akan dipengaruhi oleh pertumbuhan ekonomi negara tersebut. Semakin baik tingkat perekonomian suatu negara, maka semakin baik pula tingkat kemakmuran penduduknya. Tingkat kemakmuran yang lebih tinggi ini umumnya ditandai dengan adanya kenaikan tingkat pendapatan masyarakatnya. Dengan adanya peningkatan pendapatan tersebut, maka akan semakin banyak orang yang memiliki kelebihan dana, kelebihan dana tersebut dapat dimanfaatkan untuk disimpan dalam bentuk tabungan atau diinvestasikan dalam bentuk surat-surat berharga yang diperdagangkan dalam pasar modal.

   Namun krisis moneter yang melanda Indonesia sampai sekarang telah memporakporandakan perekonomian Indonesia yang semula mengalami pertumbuhan ekonomi yang pesat, sehingga menimbulkan terjadinya inflasi. Akibat inflasi yang terus menerus meningkat dan peningkatannya tidak dapat dikendalikan, membuat semua bidang ekonomi terkena imbasnya. Khususnya pada pasar modal, harga saham mengalami fluktuasi yang begitu besar.

   Tingkat suku bunga SBI dalam 3 tahun terakhir terlihat mengalami penurunan, hal ini dapat dilihat dari data yang diperoleh dari Bank Indonesia  dari www.bi.go.id , dimana tingkat suku bunga SBI pada tahun Desember 2002 adalah sebesar 12,93%, yang menurun menjadi sebesar 8,31% di tahun 2003, dan kembali menurun sebesar 7,43%. Semakin menurunnya tingkat suku bunga SBI ini ada indikasi dipicu oleh tingginya aktivitas perdagangan valuta asing dalam hal ini dollar Amerika, sehingga ada kecenderungan banyak investor yang lebih memilih menginvestasikan dananya di sektor perdagangan valuta asing. Nilai fluktuasi perdagangan valuta asing dalam hal ini rupiah dan dollar AS  dalam tiga tahun terakhir terbukti menunjukkan fluktuasi yang sangat tinggi dimana pada bulan Januari 2002 nilai kurs rupiah terhadap Dollar AS adalah Rp. 10.320 dan ditutup pada akhir Desember 2002 adalah sebesar Rp. 8.940. Pada bulan Januari 2003 nilai kurs Rupiah adalah sebesar Rp. 8876 dan ditutup pada akhir Desember 2003 adalah sebesar Rp. 8456, dan pada tahun 2004 nilai kurs rupiah terhadap Dollar pada bulan Januari 2004 adalah sebesar Rp. 8.841 dan ditutup pada Desember 2005 sebesar Rp. 9.290.

   Dari sisi tingkat inflasi seperti kita ketahui bersama semenjak krisis moneter yang melanda Indonesia dimana mana harga barang dan jasa secara keseluruhan naik, sehingga mengakibatkan nilai uang turun. Hal ini menunjukkan tingkat inflasi yang semakin meningkat dari tahun ke tahun dimana tingkat inflasi pada akhir Desember 2002 adalah sebesar 1.18% dan pada akhir Desember 2003 adalah sebesar 0.83% dan meningkat drastis pada akhir Desember tahun 2004 menjadi sebesar 10.04%. Adanya peningkatan ini dipicu kondisi politik yang masih belum stabil di tanah air, selain itu dipengaruhi pula oleh terpuruknya nilai tukar rupiah terhadap Dollar AS, dimana nilai tukar rupiah kembali menyentuh di level Rp. 9290 di akhir Desember 2004. Secara jelas perubahan nilai SBI, nilai kurs dan inflasi pada tahun 2004 terakhir dapat dilihat pada Tabel 1 berikut ini:

Tabel 1 

Perubahan nilai SBI, nilai kurs dan inflasi pada tahun 2004

 

NO

 

BULAN/TAHUN

 

TINGKAT SUKU BUNGA SBI

 

NILAI KURS

 

TINGKAT INFLASI

INDEKS HARGA SAHAM GABUNGAN

 

Sumber Data: www.bi.go.id, 2006

   Dari data pada tabel di atas terlihat nilai SBI yang turun pada akhir tahun dibandingkan dengan awal tahun, serta adanya peningkatan nilai kurs dari awal bulan Januari sebesar 8441 menjadi 9290, serta adanya peningkatan nilai inflasi secara drastis yakni sebesar 0,56 pada awal Januari menjadi 10.04 pada akhir Desember 2004 dimana fluktuasi ini akan dicari pengaruhnya terhadap nilai perubahan indeks harga saham pada awal Januari 2004 sebesar 752,93 serta mengalami peningkan pada Desember 2004 sebesar 1000.23. 

   Faktor-faktor yang mempengaruhi harga saham berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Sarwono (2003) disebutkan bahwa variabel rate of return on total assets, devidend payout ratio, financial leverage dan tingkat suku bunga merupakan variabel yang mempunyai pengaruh terhadap harga saham. Begitu pula dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Okty, (2002) yang menyebutkan bahwa faktor ekstern yang mempunyai pengaruh besar terhadap harga saham adalah tingkat suku bunga dan inflasi. Dengan adanya faktor-faktor yang mempengaruhi harga saham seperti yang tersebut di atas, penelitian ini akan difokuskan terhadap obyek penelitian bagaimana pengaruh nilai tingkat bunga SBI, nilai kurs dollar AS, dan tingkat inflasi, terhadap indeks harga saham gabungan (IHSG). Dipilihnya faktor eksternal yang berpengaruh terhadap indeks harga saham ini mengingat kondisi situasi perekonomian Indonesia yang mengalami perubahan besar akibat krisis moneter yang melambungkan nilai inflasi, maupun kurs dollar AS yang dalam beberapa tahun terakhir mengalami fluktuasi yang naik turun.

 

1.2 Permasalahan

            1. Sejauh mana nilai tingkat bunga SBI, nilai kurs dollar AS, dan tingkat inflasi,  berpengaruh terhadap Index Harga Saham Gabungan.

 

 2. Dari ketiga variabel yaitu tingkat bunga SBI, nilai kurs dollar AS, dan tingkat inflasi manakah variabel yang paling dominan berpengaruh terhadap Index Harga Saham Gabungan.

 

1.3 Tujuan Penelitian

 1. Untuk mengetahui pengaruh tingkat bunga SBI, nilai kurs dollar AS, dan tingkat inflasi terhadap naik turunnya indeks harga saham gabungan (IHSG).

 2. Untuk mengetahui variabel yang dominan berpengaruh terhadap Indeks Harga Saham Gabungan.

 

1.4 Kegunaan Penelitian

 Hasil penelitian ini akan memberikan kegunaan:

 1. Memberikan gambaran tentang keadaan perusahaan publik terutama pengaruh signifikan tingkat bunga SBI, nilai kurs dollar AS, dan tingkat inflasi terhadap harga saham perusahaan publik. Selain itu juga dapat memberikan informasi dan masukan yang dibutuhkan oleh pemegang saham, kreditur dan pihak-pihak terkait lainnya.

 2. Peneliti dan pembaca lain hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai bahan masukan bagi peneliti lain yang mengadakan penelitian dalam ruang lingkup yang sama. Juga diharapkan penelitian ini dapat menambah pengetahuan bagi pembacanya.

 





ANALISIS PERHITUNGAN PAJAK PENGHASILAN PADA PERUSAHAAN MINYAK DAN GAS BUMI YANG MELAKUKAN KONTRAK PRODUCTION SHARING” STUDI KASUS PADA BUT “X”

24 10 2007

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

1. Latar Belakang

Indonesia merupakan negara kepulauan yang mempunyai kekayaan alam yang berlimpah ruah. Kekayaan alam tersebut digunakan semata-mata untuk meningkatkan taraf hidup bangsa Indonesia, serta mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. Minyak dan gas bumi adalah salah satu kekayaan alam dari hasil pertambangan yang mempunyai nilai sangat strategis bagi kepentingan hidup bangsa Indonesia sebagai sumber energi dalam negeri, sumber penerimaan negara, maupun sebagai bahan baku industri petrokimia dan lainnya. Dominasi peran minyak dan gas bumi dalam pembangunan nasional di masa mendatang diperkirakan tetap akan menonjol sejalan dengan makin meningkatnya kebutuhan energi, peningkatan ekonomi, dan pengembangan industri dalam negeri.

 Undang-Undang Dasar 1945 menempatkan aspek pengelolaan strategis minyak dan gas bumi sebagaimana tercantum dalam Pasal 33 ayat 2. Pasal tersebut menekankan pada nilai strategis bagi kegiatan usaha minyak dan gas bumi,  sedangkan pada ayat 3 lebih menekankan pada nilai strategis sumber kekayaan alamnya, kedua hal tersebut menjelaskan bahwa minyak dan gas bumi merupakan aspek ekonomi strategis yang harus dikelola oleh negara dengan mengabdi kepada sasaran untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat.

Mengingat sifat industri minyak dan gas bumi berbeda dengan industri lainnya.  Pencarian (exploration) minyak dan gas bumi merupakan kegiatan untung-untungan, karena meskipun telah dipersiapkan secara cermat dengan biaya yang besar, tidak ada jaminan bahwa kegiatan tersebut akan berakhir dengan penemuan cadangan minyak. Industri minyak dan gas bumi merupakan usaha yang memerlukan teknologi  tinggi padat modal, dan sarat risiko, maka diperlukan pengelolaan yang benar-benar profesional. Apabila dalam pekerjaannya Pemerintah belum melaksanakan atau tidak dapat melaksanakannya sendiri, maka Menteri Pertambangan dan Energi dapat menunjuk pihak lain sebagai kontraktor. Bentuk kerjasama antara Pemerintah dengan pihak lain dalam pencarian minyak dan gas bumi, yang sesuai dengan Undang-undang Nomor 22 Tahun 2001 tentang minyak dan gas bumi adalah bentuk kerja sama Kontrak Production Sharing (kontrak bagi hasil).

Kontak Production Sharing merupakan suatu penggabungan usaha antara pemerintah yang diwakili oleh Badan Pelaksana sebagai Badan Hukum Milik Negara dengan perusahaan lainnya untuk mengeksploitasi minyak dan gas bumi. Ciri yang menonjol dari Kontrak Production Sharing adalah manajemen dan kepemilikan aset berada pada pemerintah yang diwakili oleh Badan Pelaksana, serta yang dibagi adalah hasil produksi setelah dikurangi biaya operasi. Sistem Kontrak Production Sharing bertujuan menguntungkan bagi kedua belah pihak, sehingga tidak aneh jika banyak negara penghasil minyak dan gas bumi seperti Indonesia menggunakan sistem ini untuk mendapatkan hasil eksploitasi  minyak dan gas bumi. 

Ketentuan mengenai tata cara perhitungan dan pembayaran pajak penghasilan yang terhutang oleh kontraktor yang mengadakan kontrak production sharing dalam eksplorasi dan eksploitasi minyak dan gas bumi diatur dengan Keputusan Menteri Keuangan No. 458/KMK.012/1984. Dalam kontrak production sharing masing-masing mitra usaha diwajibkan untuk mendirikan badan usaha yang berdiri sendiri. Besarnya kewajiban dan resiko masing-masing mitra usaha ditentukan oleh persentase partisipasinya. Berdasarkan hal ini, maka dalam KEPMEN 458 dinyatakan bahwa yang menjadi obyek pajak penghasilan adalah keuntungan yang diperoleh sesuai dengan besarnya persentase partisipasinya. Selain pajak penghasilan kontraktor harus membayar kepada Pemerintah Republik Indonesia pajak atas bunga, deviden dan royalti yang dikenakan sesuai dengan Undang-Undang Perpajakan Indonesia. 

   Berdasarkan uraian-uraian di atas maka penulis memutuskan untuk menganalisa dan mencari tahu bagaimana perlakuan perpajakan khususnya pajak penghasilan pada perusahaan pemegang hak pengusahaan pertambangan minyak dan gas bumi yang melakukan Kontrak Production Sharing dengan pemerintah. Oleh karena itu, maka penulisan skripsi ini diberi judul :  ANALISIS PERHITUNGAN PAJAK PENGHASILAN PADA PERUSAHAAN MINYAK DAN GAS BUMI YANG MELAKUKAN KONTRAK PRODUCTION SHARING” STUDI KASUS PADA BUT “X”

 

1.1. Perumusan Masalah dan Batasan Masalah

1.1.1. Perumusan Masalah

                        Mengingat pajak yang dikenakan pada industri migas sesuai dengan ketentuan perundangan perpajakan yang berlaku dan ketentuan kontrak kerja sama ditandatangani. Maka masalah pokok yang dibahas dalam penelitian ini adalah ”Bagaimana perhitungan pajak di industri minyak dan gas” Untuk menjawab masalah penelitian ini adalah dengan menjawab pertanyaan penelitian yang dirumuskan sebagai berikut:

Apakah perhitungan pajak penghasilan terutang pada perusahaan minyak dan gas bumi yang melakukan kontrak production sharing sudah sesuai dengan Undang-Undang tentang Pajak Penghasilan dan peraturan-peraturan yang telah ditetapkan dalam Kontrak Production Sharing?

1.1.2. Batasan Masalah

Untuk memperarah bahasan penelitian ini maka penelitian dibatasi pada permasalahan:

            1. Aspek perpajakan berdasarkan Kontrak Production Sharing.

            2. Perhitungan Pajak Penghasilan Terutang pada perusahaan minyak dan gas bumi berdasarkan Undang-Undang tentang Pajak Penghasilan dan Keputusan Menteri Keuangan No. 458/KMK.012/1984  tentang tata cara perhitungan dan pembayaran pajak penghasilan yang terhutang oleh kontraktor yang mengadakan Kontrak Production Sharing dalam eksplorasi dan eksploitasi minyak dan gas bumi.

                       

                        1.2. Tujuan dan Manfaat Penelitian

                        1.2.1 Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan:

            1. Untuk menganalisis komponen perhitungan pajak penghasilan pada industri minyak dan gas berdasarkan Kontrak Production Sharing.

            2. Untuk mengetahui tata cara perhitungan pajak penghasilan sesuai dengan ketentuan yang berlaku untuk industri migas (Keputusan Menteri Keuangan No. 458/KMK.012/1984) dan Undang-Undang Perpajakan tahun 2000.

                        1.2.2 Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat pada:

            1. Penerapan dan pengembangan ilmu pengetahuan dalam dunia usaha khususnya industri minyak dan gas.

            2. Pengembangan terhadap praktik-praktik perpajakan yang dapat membantu perusahaan melakukan penerapan pajak khususnya pajak penghasilan pada perusahaan minyak dan gas bumi.

 

 

                  1.3 Motivasi Penelitian

Motivasi penelitian ini untuk membuktikan apakah perhitungan pajak penghasilan pada perusahaan minyak dan gas bumi sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang berlaku, karena aturan pajak untuk perusahaan minyak dan gas bumi bersifat tax treaty yaitu lebih mengacu pada perjanjian kontrak yang dibuat antara perusahan dan Pemerintah.

 

1.4 Sistematika Pembahasan

Untuk memudahkan dalam penulisan serta pembahasan skripsi ini, maka didalam penulisannya dicantumkan sistematika pembahasan yang terdiri dari lima bab yaitu sebagai berikut:

 

Bab I Bab ini merupakan bab pendahuluan yang memuat latar belakang, perumusan masalah, dan tujuan penelitian. Bab ini juga memuat sistematika pembahasan yaitu berupa uraian singkat mengenai bab-bab dalam skripsi.

Bab II Bab ini merupakan bab yang berisi mengenai tinjauan pustaka dan kerangka pemikiran.

Bab III Bab ini berisi tentang uraian mengenai rancangan penelitian, teknik pengumpulan data, dan metode analisa data yang digunakan dalam penulisan skripsi ini.

Bab IV Bab ini merupakan obyek penelitian yang menguraikan hasil penelitian mengenai analisa perhitungan Pajak Penghasilan pada Kontrak Production Sharing Perusahaan minyak dan gas bumi.

Bab V Bab ini merupakan kesimpulan dari hasil analisa pada bab sebelumnya dan saran terhadap perbaikan bagi Kontrak Production Sharing  Perusahaan minyak dan gas bumi yang diuraikan oleh penulis.

 





USAHA MENGURANGI BIAYA PRODUKSI DENGAN MENGGUNAKAN PENDEKATAN TARGET COSTING DAN KAIZEN COSTING (Studi Kasus Pada PT Pesona Remaja Malang)

24 10 2007

EFFORT TO REDUCE COST PRODUCTION BY USING TARGET COSTING AND KAIZEN COSTING APPROACH 

(Case Study On PT. Pesona Remaja Malang)

 

 

ABSTRACT

 

By: Edy Purwanto

Supervisor: Didiet Poernawan A. SE., MBA., Ak

 

The objectives of this research are to know how target costing and kaizen costing can be applied and how far is the result that will be got. Target Costing is product cost estimation (or service) long-range which if it sold enable company to  reaching targeted profit. Kaizen costing is method to reduce cost through increasing production process efficiency on existing product. This research combines both target costing and kaizen costing to cost reduction.

The type of this research is a descriptive research with case study at PT Pesona Remaja Malang. This research begin with determining objective, a kaizen effort that based on market product price and must be pursued. Then, it is followed with extravagance identifying and elimination. The result are the elimination and the minimization of usage of raw material extravagance, supply of  raw material extravagance, packaging process extravagance, work movement extravagance, , and transportation extravagance.

 The final step of kaizen costing process is evaluating implementation of kaizen costing. Evaluation is performed by comparing the economizing results that have been got actually with the objective has been determined since in beginning. The result of Evaluation shows that PT. Pesona Remaja have succeeded to lessen company production cost by using target costing and kaizen costing.

Kaizen costing is a method with small step where every unit of an individual can adopt. So Kaizen costing can be an alternative way to reduce and increase efficiency.

 

 

Key word:,  target costing, kaizen costing, cost reduction extravagance, extravagance elimination, small step.

 

 

 USAHA MENGURANGI BIAYA PRODUKSI DENGAN MENGGUNAKAN PENDEKATAN TARGET COSTING DAN KAIZEN COSTING 

(Study Kasus Pada PT. Pesona Remaja Malang)

 

 

ABSTRAK

 

 Oleh: Edy Purwanto

Dosen Pembimbing: Didiet Poernawan A. SE., MBA., Ak

 

Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui bagaimana target costing dan kaizen costing dapat diterapkan dan sejauh mana hasil yang bakal diperoleh. Target costing merupakan estimasi biaya produk (atau jasa) jangka panjang yang kalau dijual memungkinkan perusahaan mencapai laba yang ditargetkan. Kaizen costing adalah suatu metode untuk menurunkan biaya melalui peningkatan efisiensi proses pada produk yang sudah ada. Penelitian ini menggabungkan antara target costing dengan kaizen costing untuk pengurangan biaya.

Penelitian ini merupakan jenis penelitian deskriptif dengan jenis studi kasus pada PT Pesona Remaja Malang. Penelitian di PT. Pesona Remaja, diawali dengan menentukan tujuan, yaitu usaha kaizen yang berdasarkan harga yang ingin dibayarkan konsumen dan harus dicapai. Setelah itu dimulailah mengidentifikasi dan mengeliminasi pemborosan. Hasilnya adalah dieliminasinya pemborosan dan diminimumkannya pemborosan; pemakaian bahan baku, persediaan bahan baku, proses pengemasan, proses pengepakan, serta pemborosan gerak kerja, dan pemborosan transportasi.

Langkah terakhir yang dilakukan adalah mengevaluasi implementasi kaizen costing. Evaluasi dilakukan dengan membandingkan penghematan aktual yang berhasil diperoleh dengan tujuan yang telah ditetapkan di awal. Hasil evaluasi menunjukkan PT Pesona Remaja telah berhasil mengurangi biaya produksi perusahaan dengan menggunakan target costing dan kaizen costing.

Kaizen costing merupakan metode dengan langkah kecil, yang dapat diterapkan pada setiap unit bisnis. Oleh karena itu kaizen costing dapat menjadi jalan alternatif untuk menurunkan biaya dan meningkatkan efisiensi sebuah perusahaan. 

 

 

Kata Kunci:  target costing, kaizen costing, pengurangan biaya,  pemborosan, eliminasi pemborosan, langkah kecil

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

1.1 Latar belakang masalah

Persaingan yang sangat tajam terjadi di semua lini usaha dalam era perdagangan bebas. Fakta ini membawa dampak positif dan negatif bagi Indonesia. Adapun dampak positifnya adalah memberikan peluang bagi Indonesia untuk mengekspor produk yang semakin luas. Sedangkan dampak negatifnya adalah persaingan yang terjadi bukan hanya antar pelaku bisnis domestik, tetapi melibatkan pula pelaku bisnis dari luar negeri yang semakin bebas memasarkan produk di Indonesia. 

Sejalan dengan perkembangan teknologi dewasa ini, jenis-jenis produk makin bertambah jumlahnya. Seiring dengan itu, persoalan yang dihadapi perusahaan terutama perusahaan industri akan semakin komplek. Hal ini menuntut manajemen perusahaan untuk menentukan suatu tindakan dengan memilih berbagai alternatif dan kebijaksanaan dalam mengambil keputusan yang sebaik-baiknya agar tujuan perusahaan dapat tercapai. Salah satu tujuan yang paling utama adalah optimalisasi laba atau keuntungan.

Perusahaan yang ingin berkembang atau paling tidak bertahan hidup harus mampu menghasilkan produksi yang tinggi dengan kualitas yang baik. Hasil produksi yang tinggi akan tercapai apabila perusahaan memiliki efisiensi produksi yang tinggi. Akan tetapi untuk mencapai efisiensi produksi yang tinggi ini tidak mudah, karena banyak faktor yang mempengaruhinya, baik faktor internal maupun eksternal perusahaan. Faktor-faktor tersebut antara lain tenaga kerja, bahan baku, mesin, metode produksi dan pasar. 

Agar dapat bersaing dalam pasaran sekarang, perusahaan harus dapat menciptakan suatu produk baik barang maupun jasa yang harganya lebih rendah atau paling tidak sama dengan harga yang ditawarkan para pesaingnya. Untuk dapat memperoleh produk seperti itu, perusahaan harus berusaha sebisa mungkin mengurangi biaya yang harus dikeluarkan pada proses porduksinya. Salah satu metode yang digunakan oleh perusahaan-perusahaan di Jepang untuk lolos dari keterpurukan setelah kalah perang dan dibom atom setelah perang dunia kedua adalah target costing. Konsep target costing sangat sesuai sejalan dengan meningkatnya persaingan serta tingkat penawaran yang jauh melampaui tingkat permintaan, maka kekuatan pasar memberi pengaruh yang semakin besar terhadap tingkat harga. Untuk itulah diperlukan target costing untuk dapat mencapai tujuan perusahaan dalam rangka pengurangan biaya (cost reduction), yang pada akhirnya akan membawa dampak terhadap tingkat harga yang kompetitif.

Target costing merupakan sebuah perubahan terhadap pola pikir selama ini, serta merupakan kunci jangka panjang bagi kelangsungan hidup, pertumbuhan dan kemakmuran suatu perusahaan dalam lingkungan yan kompetitif dan terus menerus berubah ini. Dengan target costing, perusahaan dapat merancang sebuah produk atau jasa yang dapat memenuhi kebutuhan konsumen sekaligus dapat mencapai target laba perusahaan secara simultan, karena target costing mempertimbangkan seluruh biaya produk dalam siklus hidup produk, dan bertujuan untuk menurunkan biaya total sebuah produk.

Setelah mengetahui target biaya yang harus dikeluarkan agar dapat menghasilkan produk yang dapat bersaing, langkah selanjutnya adalah memproduksi barang atau jasa tersebut. Untuk pelaksanaannya akan lebih baik apabila perusahaan menggunakan metode yang juga berasal dari Jepang yaitu kaizen costing. Kaizen costing adalah konsep perbaikan terus menerus (continuous improvement) dimana disetiap tahap produksi diusahakan adanya perbaikan-perbaikan agar lebih optimal dan efektif, sehingga nantinya akan dapat mengurangi biaya.

Krisis minyak pada tahun 1970-anlah yang memicu kesabaran pentingnya peranan kaizen dalam berbisnis, dimana pada tahun tersebut membawa perubahan dalam dunia usaha dimana terjadi peningkatan yang tajam pada biaya bahan, energi, dan karyawan; sarana produksi yang melebihi kapasitas; peningkatan persaingan antar perusahaan; perubahan nilai pelanggan yang menuntut mutu lebih baik; dan lain-lain. Perubahan kondisi tersebut segera disikapi oleh orang-orang Jepang dengan menggunakan kaizen, sementara dunia Barat masih terbuai oleh inovasi. 

Kaizen sendiri dimulai dengan menyadari akan adanya permasalahan, bahwa setiap perusahaan mempunyai masalah. Kaizen sekaligus juga merupakan salah satu metode pemecahan masalah dengan membentuk budaya perusahaan di mana setiap orang dapat mengajukan masalahnya dengan bebas.

Inti dari kaizen sebagai strategi ialah manajemen harus berusaha untuk memuaskan pelanggan dan memenuhi kebutuhan pelanggan bila ingin tetap hidup dan memperoleh laba. Satu perbedaan besar antara kaizen dengan konsep Barat adalah mengenai orientasinya. Kaizen berorientasi pada proses, sedangkan konsep Barat lebih berorientasi pada hasil dan inovasi. Kaizen juga membawa perubahan, tetapi perubahan kecil, berangsur dan terus menerus, sedangkan inovasi membawa perubahan besar hanya tidak kontinu. Sebenarnya antara kaizen dan inovasi tidaklah perlu dipertentangkan. Mengutamakan kaizen bukan berarti inovasi diabaikan, begitu pula sebaliknya, keduanya tetap diperlukan bagi pertumbuhan dan perkembangan sebuah perusahaan.

Jadi, semakin jelas bahwa perusahaan sebaiknya melakukan target costing dan kaizen costing guna menghasilkan produk yang berkualitas yang dapat bersaing tetapi juga tetap dapat menghasilkan keuntungan atau laba sesuai dengan yang diharapkan. Atas dasar uraian di atas penulis mencoba mengimplementasikan target costing dan kaizen costing dalam kehidupan sehari-hari, terutama dalam dunia bisnis. Oleh karenanya penulis mengambil judul sebagai berikut: ”USAHA MENGURANGI BIAYA PRODUKSI DENGAN MENGGUNAKAN PENDEKATAN TARGET COSTING DAN KAIZEN COSTING (Studi Kasus Pada PT Pesona Remaja Malang)”.

1.2 Perumusan dan Pembatasan Masalah

 1.2.1 Perumusan Masalah

Permasalahan dalam penelitian ini dirumuskan sebagai berikut: Bagaimanakah dampak penerapan target costing dan kaizen costing terhadap usaha untuk mengurangi biaya (cost reduction) pada perusahaan?

 1.2.2 Pembatasan Masalah

Penelitian ini dibatasi pada proses produksi dan laporan keuangan perusahaan bersangkutan yang berhubungan dengan bahan baku, khususnya laporan produksi dan laporan pemakaian bahan baku, yang terutama berkaitan dengan metode target costing dan kaizen costing.

 

1.3 Tujuan dan Manfaat Penelitian

 1.3.1 Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian yang penulis lakukan adalah untuk mengetahui pengaruh penerapan target costing dan kaizen costing terhadap pengurangan biaya yang terjadi di perusahaan.

  1.3.2 Manfaat penelitian 

Bagi Penulis

Menambah pengetahuan penulis tentang semua kegiatan di perusahaan terutama dalam upaya untuk mengurangi biaya dengan menggunakan target costing dan kaizen costing.

Bagi Perusahaan

 Hasil penelitian ini diharapkan dapat dipergunakan sebagai bahan masukan dalam menentukan kebijakan manajemen selanjutnya yang berhubungan dengan pengurangan biaya yang paling tepat bagi perusahaan dan meningkatkan pengendalian biaya dalam perusahaan.

Bagi Pembaca

 Akan dapat dijadikan sebagai bahan referensi bagi semua pihak yang akan melanjutkan penelitian lebih jauh sesuai dengan pokok bahasan ini.

 





DAMPAK PELAPORAN RUGI SELISIH KURS TERHADAP HARGA SAHAM PADA PERUSAHAAN PUBLIK DI INDONESIA

24 10 2007

DAMPAK PELAPORAN RUGI SELISIH KURS TERHADAP HARGA SAHAM PADA PERUSAHAAN PUBLIK DI INDONESIA

 

Oleh :

Dyah Santi Palupi

 

Dosen Pembimbing :

Dr. Sutrisno T., SE, Msi, Ak.

 

 

ABSTRAK 

 

 Dalam penelitian Chandrarin dan Tearney (2000) menyatakan bahwa perubahan harga saham memiliki korelasi positif yang sangat signifikan terhadap rugi selisih kurs, kemudian mereka menyimpulkan bahwa penyajian rugi selisih kurs berpengaruh terhadap harga saham. Jadi, dikatakan pula bahwa pasar modal bereaksi terhadap penyajian rugi selisih kurs.    

 Penelitian ini bertujuan untuk menguji secara spesifik pengaruh dari penyajian rugi selisih kurs terhadap harga saham. Dalam penelitian ini digunakan regresi berganda untuk menganalisa hubungan penyajian rugi selisih kurs terhadap harga saham. Sampel penelitian ini terdiri atas 154 perusahaan yang bergerak di berbagai bidang usaha. Data penelitian diperoleh dari Pojok BEJ Universitas Brawijaya dan website Jakarta Stock Exchange. Periode penelitian adalah tahun 2003 dan 2004.

 Hasil yang diperoleh dari penelitian ini mendukung hipotesis yang menyatakan bahwa terdapat pengaruh antara penyajian rugi selish kurs dengan harga saham.

 

 

Kata kunci :  Rugi selisih kurs, Laba per lembar saham, Harga saham 

 

THE EFFECT OF REPORTING OF EXCHANGE RATE LOSSES ON THE STOCK PRICE REACTION

 

Author :

Dyah Santi Palupi

 

Advisor :

Dr. Sutrisno T., SE, Msi, Ak.

 

ABSTRACT 

 

 

 In their previous study, Chandrarin and Tearney (2000) documented that the changes of stock price is correlated significantly positive with the exchange rate loss. They concluded that the reporting of exchange rate losses affects stock price. Thus, stock market responds to the reporting exchange rate losses.

The purpose of this study is to specifically examine the effect of reporting exchange rate losses on the stock price. Multiple Regression is used to analyze the relationship between exchange rate loss and stock price. The sampel of this study is 154 companies. The data derived from BEJ Corner at Brawijaya University and the website of Jakarta Stock Exchange for the year of 2003 and 2004.  

The result of this study supported the hypothesis that there is a correlation between reporting of exchange rate losses and stock price.

 

 

 

Key words  :  Exchange rate losses, Earning per share, Stock price.

 

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

1.1. Latar Belakang Masalah

Semakin pesatnya perkembangan dunia usaha menyebabkan banyak perusahaan yang mulai berani untuk berhubungan dengan dunia internasional. Hal ini terlihat dari transaksi perdagangan perusahaan yang dilakukan di luar negri, yakni kegiatan ekspor impor dan investasi luar negri. Tentu saja transaksi perdagangan yang dilakukan menggunakan  mata uang asing, karena akan sangat merepotkan bila setiap negara hanya ingin menggunakan mata uangnya sendiri dalam melakukan aktivitas bisnisnya.

Transaksi perdagangan yang menggunakan mata uang asing melibatkan dua mata uang asing didalamnya. Dalam pelaporan transaksi yang menggunakan mata uang asing, salah satu mata uang harus didenominasikan ke dalam mata uang lainnya. Adanya perbedaan nilai mata uang antar negara menimbulkan masalah dalam pencatatan dan pelaporannya. Masalah perlakuan akuntansi ini timbul karena suatu transaksi diperoleh dan dibayar dalam mata uang asing yang berbeda. Transaksi dalam mata uang asing sering menimbulkan keuntungan dan kerugian karena adanya perbedaan nilai kurs tukar dalam penyusunan laporan keuangan konsolidasi anak perusahaan di luar negri.

Perusahaan di Indonesia yang melakukan transaksi perdagangan dengan mata uang asing telah memiliki pedoman yakni PSAK No.10 dan PSAK No.11 yang menjelaskan mengenai pengungkapan dan penjabaran transaksi mata uang asing serta pelaporannya dalam laporan keuangan. 

Penjabaran dan pelaporan atas transaksi mata uang asing diperlukan karena laporan keuangan perusahaan merupakan pertanggungjawaban dari pihak manajemen kepada pemegang saham, masyarakat, pemerintah, lembaga keuangan, investor dan lainnya.

Dalam hubungannya dengan investor, keputusan investasi para investor tidak hanya memperhatikan tingkat keuntungan yang diharapkan tetapi resiko investasi. Secara intuitif tentunya ada hubungan positif antara tingkat keuntungan dan resiko. Masalahnya bagaimana mendefinisikan resiko tersebut, terutama dalam konteks pemilihan investasi. Bila seseorang investor menentukan pilihan investasinya pada saham yang berfluktuatif, saham tersebut bisa saja menjadi barang yang tidak berharga apabila kondisi perusahaan emiten itu ternyata kemudian bangkrut.

Laporan keuangan merupakan salah satu sumber informasi yang penting dalam pengambilan keputusan investasi. Investor akan menganalisa seluruh komponen yang terdapat dalam laporan keuangan yang terdiri dari neraca, laporan laba-rugi, laporan perubahan ekuitas, laporan arus kas dan catatan atas laporan keuangan sebagai bahan pertimbangan pengambilan keputusan. Investor akan memanfaatkan semua informasi dan kinerja keuangan perusahaan yang terdapat dalam laporan keuangan untuk mengambil keputusan investasi.

Komponen laporan keuangan yang sering digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan adalah laporan laba-rugi. Sejumlah penelitian telah dilakukan untuk mengamati hubungan antara informasi laba dan perubahan sekuritas. Penelitian tentang hubungan antara transaksi mata uang asing dengan reaksi yang timbul dalam pasar modal antara lain dilakukan oleh Ball dan Brown (1968) dan Chandrarin dan Tearney (2000). 

Pada penelitian ini peneliti akan menyoroti pengaruh  rugi selisih kurs yang terdapat dalam laporan laba-rugi terhadap harga saham. Laba-rugi kurs merupakan salah satu komponen informasi akuntansi. Hal ini dapat mempengaruhi pendapatan, karena laba-rugi selisih kurs dalam banyak kasus laba-rugi selisih kurs dilaporkan pada laporan laba-rugi (Chandrarin dan Tearney, 2000). Hal ini konsisten dengan penelitian Ball dan Brown (1968), laba-rugi kurs merupakan salah satu komponen laporan laba-rugi yang diduga menyebabkan reaksi pada pasar modal.

Penelitian ini didasari dari penelitian sebelumnya, yakni penelitian mengenai pengaruh pelaporan rugi selisih kurs terhadap reaksi pasar modal oleh Chandrarin dan Tearney (2000). Sampel yang digunakan adalah 106 perusahaan yang terdapat dalam COMPUTAT tahun 1995-1996. Penelitian menggunakan model empiris yang diestimasikan dengan OLS dan multiple regression. Hasil dari penelitian tersebut menunjukkan adanya hubungan antara pelaporan rugi selisih kurs dan harga saham, harga saham merespon positif rugi selisih kurs yang direfleksikan pada laba. Hidayat (2004) juga melakukan penelitian mengenai pengaruh pelaporan rugi selisih kurs terhadap harga saham. Sampel yang digunakan adalah 18 perusahaan dari berbagai macam bidang usaha yang terdaftar di BEJ untuk tahun 1999-2001. Penelitian menggunakan model empiris yang diestimasikan dengan regresi berganda dalam menganalisa data. Hasil dari penelitian ini tidak konsisten dengan penelitian yang dilakukan oleh Chandrarin dan Tearney (2000), yakni tidak ada pengaruh yang signifikan antara pelaporan rugi selisih kurs dengan harga saham.

Terdapatnya perbedaan dari hasil kedua penelitian tersebut memberikan motivasi bagi peneliti untuk melakukan penelitian kembali mengenai “DAMPAK PELAPORAN RUGI SELISIH KURS TERHADAP HARGA SAHAM PADA PERUSAHAAN PUBLIK DI INDONESIA”. Hasil penelitian nantinya diharapkan dapat bermanfaat bagi berbagai pihak, terutama bagi investor dalam melakukan pengambilan keputusan investasi. Selain itu penelitian ini juga diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi peneliti selanjutnya.

 

1.2  Motivasi Penelitian

Penelitian ini didasari dari penelitian sebelumnya, yakni penelitian yang dilakukan oleh Hidayat (2004) melakukan penelitian mengenai pengaruh pelaporan rugi selisih kurs terhadap harga saham. Sampel yang digunakan adalah 18 perusahaan dari berbagai macam bidang usaha yang terdaftar di BEJ untuk tahun 1999-2001. Penelitian menggunakan model empiris yang diestimasikan dengan regresi berganda dalam menganalisa data. Hasil dari penelitian ini  adalah  tidak ada pengaruh antara pelaporan rugi selisih kurs dengan harga saham. Hal ini berlawanan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Chandrarin dan Tearney (2000) yang melakukan penelitian mengenai pengaruh pelaporan rugi selisih kurs terhadap reaksi pasar modal. Sampel yang digunakan adalah 106 perusahaan yang terdapat dalam COMPUTAT tahun 1995-1996. Penelitian menggunakan model empiris yang diestimasikan dengan OLS dan multiple regression. Hasil dari penelitian tersebut menunjukkan adanya hubungan antara pelaporan rugi selisih kurs dan harga saham, harga saham merespon positif rugi selisih kurs yang direfleksikan pada laba. 

Adanya perbedaan dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Hidayat (2004) dan Chandrarin dan Tearney (2000), memotivasi peneliti untuk melakukan penelitian mengenai pengaruh pelaporan rugi selisih kurs terhadap harga saham Peneliti ingin mengetahui apakah jika dilakukan penelitian ulang dengan menggunakan sampel yang lebih banyak dan periode data yang berbeda, hasil penelitian akan konsisten dengan penelitian sebelumnya.

 

1.3    Perumusan Masalah dan Pembatasan Masalah

1.3.1 Perumusan Masalah

Berdasarkan pada latar belakang masalah di atas, maka permasalahan dalam penelitian ini adalah: Apakah pelaporan rugi selisih kurs akan berpengaruh positif terhadap harga saham?

1.3.2 Pembatasan Masalah

Dalam penyusunan skripsi ini agar pembahasan tidak terlalu meluas dan memberikan pemahaman yang sesuai dengan permasalahan yang ada, maka peneliti akan membatasi ruang lingkup penelitian sebagai berikut:  

            1. Pelaporan rugi selisih kurs dan pengaruhnya terhadap harga saham.

            2. Sebagai obyek penelitian peneliti mengambil data selama dua tahun, dari tahun 2003 dan 2004 pada perusahaan yang Go Public di BEJ.

            3. Penelitian ini hanya akan mengamati perusahaan-perusahaan yang terdaftar di BEJ pada tahun 2003 dan 2004 dan mempublikasikan laporan keuangan per 31 Desember 2003, dan per 31 Desember 2004.

            4. Pengamatan harga saham perusahaan yang terdaftar di BEJ dibatasi hanya selama dua tahun, yakni  tahun 2003 dan 2004.

 

 

1.4  Tujuan Penelitian

Sesuai dengan perumusan masalah di atas, maka tujuan dari penelitian ini  adalah: untuk menguji secara empiris apakah terdapat pengaruh yang positif dari pelaporan rugi selisih kurs terhadap harga saham pada perusahaan.

 

1.5  Kontribusi Penelitian

1.      Bagi Peneliti, merupakan kesempatan untuk mempelajari masalah-masalah yang sebenarnya sebagai pengembangan ilmu, menambah wawasan dan pengetahuan yang berhubungan dengan transaksi perdagangan mata uang asing dan pasar modal.

2.      Bagi Investor, hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan bagi investor untuk pengambilan keputusan investasi yang berkaitan dengan informasi transaksi mata uang asing yang terdapat dalam laporan keuangan.

3.      Bagi Akademis, dapat digunakan sebagai bahan literatur bagi penelitian selanjutnya yang berkaitan dengan kandungan informasi transaksi mata uang asing yang terdapat dalam laporan keuangan dan sebagai referensi dalam memperbanyak wawasan perkuliahan.

 





PENGARUH PENGUMUMAN RIGHT ISSUE TERHADAP TINGKAT KEUNTUNGAN DAN LIKUIDITAS SAHAM DI BURSA EFEK JAKARTA (Studi Empiris Pada Perusahaan-Perusahaan Yang Terdaftar di Bursa Efek Jakarta Periode 2000-2004)

24 10 2007

ABSTRAKSI

 

 Pengumuman right issue merupakan informasi yang diperuntukkan bagi investor dalam pengambilan keputusan menjual atau membeli saham. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh bukti empiris tentang pengaruh pengumuman right issue terhadap tingkat keuntungan dan likuiditas saham di Bursa Efek Jakarta.

 Sampel dari penelitian ini yaitu 36 perusahaan yang melakukan pengumuman right issue di Bursa Efek Jakarta selama periode 2000 sampai dengan 2004. Market model digunakan untuk mengestimasi abnormal return. Abnormal return adalah selisih antara tingkat keuntungan yang sesungguhnya dengan tingkat keuntungan yang diharapkan. Penelitian ini menggunakan Trading Volume Activity (TVA) untuk menguji perbedaan pada aktivitas perdagangan seputar hari pengumuman right issue. Untuk menguji perbedaan tingkat keuntungan maupun likuiditas saham antara sebelum dan sesudah  pengumuman right issue, peneliti menggunakan uji statistik-t (t-test).

 Secara empiris, penelitian ini mampu membuktikan bahwa pasar bereaksi terhadap pengumuman right issue pada periode menjelang pengumuman right issue. Pengujian terhadap abnormal return saham menunjukkan bahwa penelitian ini gagal menemukan adanya perbedaan pada periode sebelum dan sesudah pengumuman right issue, sedangkan pengujian terhadap volume perdagangan saham menunjukkan bahwa penelitian ini juga gagal menemukan adanya perbedaan pada periode sebelum dan sesudah pengumuman right issue.

 

 

 

Kata kunci :  right issue, trading volume activity, abnormal return, market model

 

THE INFLUENCES OF RIGHT ISSUE ANNOUNCEMENT TO RATE OF RETURN AND STOCK LIQUIDITY ON JAKARTA STOCK EXCHANGE

(Empirical Study for Companies Listed in Jakarta Stock Exchange 

Period 2000-2004)

 

 

ABSTRACT

 

Announcement of right issue is information in order to investor to take decision in selling or buying stock. The objectives of this study are to give empirical evidence about the influences of right issue announcement to rate of return and stock liquidity in Jakarta Stock Exchange.

The samples of this research consist of 36 companies that do the right issue announcement in Jakarta Stock Exchange during 2000 to 2004. Market model is used to estimate abnormal return. Abnormal return is the difference between the actual and expected return rate. This research utilized Trading Volume Activity (TVA) to test the difference in trading activity around the issue day of stock offering (right issue). The data are analyzed using t-test statistic. 

Empirically, this study proofed that market will respond to the announcement right issue only at the day before announcement. The result of this research indicated that there are no different among rate of return and stock liquidity before and after the date of the right issue announcement.

 

 

 

Key words:  right issue, trading volume activity, abnormal return, market model

       

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

1.1 Latar Belakang Masalah

Pasar modal telah menjadi instrumen perekonomian yang sangat penting untuk sebuah negara. Disamping sebagai alternatif tempat untuk investasi dan pembiayaan, pasar modal juga dapat dijadikan indikator bagi perkembangan perekonomian sebuah negara. 

Sebagai tempat berinvestasi pasar modal mempertemukan unit surplus (investor) dengan unit defisit (perusahaan-perusahaan) untuk melakukan alokasi modal diantara mereka.  Pasar modal adalah  sumber dana segar jangka panjang, yang keberadaan institusi ini tidak hanya sebagai wahana sumber pembiayaan tetapi juga sebagai sarana investasi yang melibatkan seluruh potensi masyarakat  (Suta 2000, 17). Di pasar modal para investor dapat secara efisien memantau perusahaan-perusahaan tempat dia telah atau akan berinvestasi, hal ini wajar mengingat otoritas pasar modal telah memberlakukan prinsip transparansi sebagai syarat utama perusahaan-perusahaan yang akan listing di pasar modal.

Perusahaan akan melakukan corporate action dalam rangka memenuhi tujuan-tujuan tertentu misalnya pembayaran kewajiban jatuh tempo, perluasan usaha, meningkatkan likuiditas dan tujuan perusahaan lainnya. Umumnya corporate action mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap kepentingan pemegang saham,  karena pada corporate action  yang dilakukan umumnya berpengaruh pada jumlah saham yang beredar, komposisi kepemilikan saham, jumlah saham yang akan dipegang pemilik saham serta pengaruhnya terhadap pergerakan harga saham. Salah satu bentuk dari corporate action adalah right issue.   

Berkaitan dengan hal itu penawaran terbatas atau disebut right issue merupakan salah satu cara yang ditempuh untuk memperoleh sumber dana. Dalam Ghozali dan Solichin (2003), terdapat dua alasan bagi perusahaan untuk melakukan right issue: pertama, dapat mengurangi biaya karena right issue biasanya tidak menggunakan jasa penjamin (underwriter). Kedua, right issue menyebabkan jumlah saham perusahaan yang ada akan bertambah sehingga diharapkan akan meningkatkan frekuensi perdagangan atau yang berarti meningkatkan likuiditas saham.    

Right issue dilakukan dengan menawarkan terlebih dahulu sekuritas baru kepada pemegang saham lama untuk membeli saham baru tersebut pada harga tertentu dan pada jangka waktu tertentu pula. Agar pemegang saham lama berminat untuk membelinya, maka perusahaan akan menawarkan saham baru itu dengan harga yang lebih murah dibandingkan harga pasar (Ghozali dan Solichin, 2003). Investor lama memiliki preemptive right atau hak untuk lebih dahulu membeli tambahan saham yang diterbitkan agar dapat mempertahankan proporsi kepemilikan mereka sehingga para pemegang saham bisa mempertahankan kekuasaan pengendalian mereka atas perusahaan. Karena merupakan hak, maka investor tidak terikat untuk harus membeli saham baru yang dikeluarkan oleh perusahaan. Apabila investor tidak mau menggunakan haknya, maka dia dapat menjual right yang dimilikinya. Menurut Hartono (1998:74), alasan bagi investor membeli saham hasil right issue adalah membuat mereka lebih mudah mempertahankan proporsi kepemilikan sahamnya dan untuk melindungi dari kemerosotan nilai saham.  

Pengumuman perusahaan yang melakukan right issue, secara teoritis dan empiris telah menyebabkan harga saham bereaksi secara negatif, dan ini adalah kejadian yang diakibatkan oleh systematic risk. Beberapa temuan empiris tersebut diantaranya adalah: Scholes (1972), Marsh (1979), Asquith dan Mullins (1986), Masulis dan Korwar (1986), Myers dan Majluf (1984), Barclay dan Litzenberger (1988), Mikkelson dan Partch (1986), dan Kothare (1997). Temuan empiris tersebut menunjukkan bahwa nilai pasar perusahaan turun sampai 3% pada saat pengumuman penambahan saham baru.

Beberapa temuan empiris tersebut diatas konsisten dengan model signalling theory yang mengasumsikan adanya informasi asimetri diantara berbagai partisipan di pasar modal. Model tersebut menyatakan bahwa pasar akan bereaksi secara negatif karena adanya pengumuman penambahan saham baru yang mengindikasikan adanya informasi yang tidak menguntungkan (bad news) tentang kondisi laba di masa akan datang, khususnya jika dana dari right issue akan digunakan untuk tujuan perluasan investasi yang mempunyai NPV sama dengan 0 atau negatif. Harga saham setelah right issue secara teoritis akan mengalami penurunan. Hal tersebut wajar karena harga pelaksanaan right issue lebih rendah dari harga pasar. Tetapi penurunan harga saham dengan adanya pengumuman right issue berdasarkan bukti-bukti empiris tersebut diatas ditemukan tidak signifikan. Penurunan harga saham hanya berkisar antara 2-3% dan setelah itu terjadi koreksi kenaikan harga saham kembali pada posisi awal sebelum adanya penumuman. 

Menurut Syam dan Harianto (2003), perkembangan harga saham dan volume perdagangan saham di pasar modal merupakan indikator penting untuk mengetahui tingkah laku pasar, yaitu investor. Kebijakan right issue merupakan upaya emiten untuk menghemat biaya emisi serta menambah jumlah saham yang beredar. Jadi dengan adanya right issue, kapitalisasi pasar saham akan meningkat dalam persentase yang lebih kecil daripada persentase jumlah lembar saham yang beredar. Umumnya diharapkan penambahan jumlah lembar saham dipasar akan meningkatkan frekuensi perdagangan saham tersebut atau dengan kata lain dapat meningkatkan likuiditas saham. 

Kothare (1997) menemukan bukti bahwa likuiditas saham meningkat secara signifikan setelah pengumuman saham baru. Peningkatan volume perdagangan saham tersebut ditemukan mempunyai korelasi dengan perubahan struktur kepemilikan saham, dimana right issue lebih diutamakan untuk tujuan konsentrasi kepemilikan dari pada perluasan kepemilikan. Tetapi Sheehan dkk.(1997) menemukan bukti yang berbeda dengan dengan temuan Kothare, yaitu bahwa likuiditas saham perusahaan yang diukur dengan jumlah volume perdagangan saham meningkat dari keadaan yang normal justru sebelum adanya pengumuman. Peningkatan volume perdagangan saham ini disebabkan adanya aktivitas short selling yang dilakukan oleh para spekulator. 

  Penelitian ini merupakan kelanjutan dari penelitian Budiarto dan Baridwan (1999) karena peneliti ingin menguji generalisasi hasil dari penelitian ini dengan menggunakan sampel dan estimasi return yang berbeda. Adapun perbedaan penelitian ini dengan penelitian yang dilakukan Budiarto dan Baridwan (1999) adalah: sampel yang digunakan pada penelitian terdahulu merupakan perusahaan-perusahaan yang melakukan right issue di Bursa Efek Jakarta tahun 1994-1996. Sedangkan pada penelitian ini sampel yang digunakan yaitu perusahaan-perusahaan yang melakukan right issue di Bursa Efek Jakarta tahun 2000-2004. Motivasi dari penelitian ini adalah peneliti ingin melihat generalisasi hasil jika diteliti pada periode sesudah krisis karena penelitian Budiarto dan Baridwan (1999) dilakukan sebelum krisis moneter sedangkan penelitian ini dilakukan sesudah krisis moneter. Berdasarkan uraian dan latar belakang diatas, penulis terdorong untuk melakukan penelitian dengan judul : 

“PENGARUH PENGUMUMAN RIGHT ISSUE TERHADAP TINGKAT KEUNTUNGAN DAN LIKUIDITAS SAHAM DI BURSA EFEK JAKARTA

(Studi Empiris Pada Perusahaan-perusahaan Yang Terdaftar di Bursa Efek Jakarta Periode 2000-2004)

 

1.2 Batasan Masalah

Dalam penelitian ini penulis membatasi masalah yang diajukan, yaitu sebagai berikut :   

            1. Pengamatan dilakukan terhadap perusahaan-perusahaan yang menerbitkan right issue dalam kurun waktu 5 tahun yaitu tahun 2000 – 2004.

            2. Emiten tidak mengeluarkan publikasi informasi lainnya bersamaan dengan pengumuman right issue seperti, publikasi stock split (pemecahan saham), pengumuman merger dan akuisisi, pengumuman deviden, serta bonus share.

            3. Perusahaan-perusahaan yang mengeluarkan right issue yang dijadikan sampel penelitian harus dalam kondisi laba agar dana dari right issue benar-benar digunakan untuk ekspansi perusahaan.  

 

 

 

1.3 Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah diatas, maka perumusan masalah yang diteliti dalam penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut:

            1. Apakah pengumuman right issue menghasikan abnormal return bagi investor ?

            2. Apakah ada perbedaan abnormal return saham antara sebelum dan sesudah dikeluarkannya pengumuman right issue ?

            3. Apakah ada perbedaan volume perdagangan saham antara sebelum dan sesudah dikeluarkannya pengumuman right issue? 

 

1.4 Tujuan Penelitian

            1. Untuk memperoleh bukti empiris terdapat abnormal return bagi investor yang disebabkan oleh right issue.

            2. Untuk mengetahui adanya perbedaan abnormal return saham antara sebelum dan sesudah dikeluarkannya pengumuman right issue.

            3. Untuk mengetahui adanya perbedaan volume perdagangan saham antara sebelum dan sesudah dikeluarkannya pengumuman right issue. 

 

1.5 Manfaat Penelitian

            1. Bagi Peneliti :

Menambah pengalaman dalam menulis karya ilmiah dan memperdalam wawasan keilmuan  penulis khususnya mengenai dunia pasar modal.

2. Bagi Pihak Lain :

Sebagai referensi untuk penelitian lebih lanjut serta akan menjadi input guna menambah wawasan dan pengetahuan untuk acuan penelitian-penelitian sejenis berikutnya.

3. bagi Investor :

Sebagai informasi dan bahan masukan dalam pengambilan keputusan investasi yang berkaitan dengan pasar modal khususnya mengenai right issue.

 

 

1.6 Sistematika Pembahasan

 Penulis akan menggunakan sistematika pembahasan sebagai berikut untuk menggambarkan isi dari penulisan hasil penelitian :

 

BAB I : PENDAHULUAN

Pada bab ini akan dijelaskan latar belakang penulisan, permasalahan, tujuan serta manfaat penulisan serta sistematika pembahasan

 

BAB II : LANDASAN TEORI

Pada bab ini penulis akan membahas teori-teori yang berkaitan dengan topik penelitian, tinjauan penelitian terdahulu serta perumusan hipotesis.

 

BAB III : METODOLOGI PENELITIAN

Bab ini menjelaskan metodologi penelitian yang digunakan dalam pelaksanaan penelitian ini, yang berisi penentuan populasi, sampel dan periode penelitian, variabel penelitian, hipotesis penelitian, metode pengumpulan data, analisa data dan pengujian hipotesis.

 

BAB IV : PEMBAHASAN

Pada bab ini akan diteliti pengaruh pengumuman right issue terhadap tingkat keuntungan dan likuiditas saham di Bursa Efek Jakarta.

 

BAB V : KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan dari pembahasan pada bab sebelumnya merupakan isi dari bab ini, disamping itu disertakan pula saran-saran penulis.