Home » Tesis Magister Administrasi Pembangunan » PENGEMBANGAN USAHA KECIL COR LOGAM DI KABUPATEN KLATEN

PENGEMBANGAN USAHA KECIL COR LOGAM DI KABUPATEN KLATEN

Statistik

  • 1,438,698 Kunjungan

BAB I

PENDAHULUAN

 

A.   Latar Belakang Masalah

Usaha kecil menempati posisi strategis dalam perekonomian di Indonesia yang tidak perlu diragukan lagi. Dari segi penyerapan tenaga kerja, sekitar 90% dari seluruh tenaga kerja Indonesia bekerja pada sektor usaha kecil. Peran usaha kecil yang sangat besar pada masa resesi ekonomi 1998 dan selama proses pemulihan ekonomi semakin mengukuhkan posisi usaha kecil sebagai pelaku ekonomi yang sangat penting.

Sejarah perekonomian telah ditinjau kembali untuk mengkaji ulang peranan usaha skala kecil. Beberapa kesimpulan, setidak-tidaknya hipotesis, telah ditarik mengenai hal ini. Pertama, pertumbuhan ekonomi yang sangat cepat seperti halnya di Jepang, telah dikaitkan dengan besaran sektor usaha kecil. Kedua, dalam penciptaan lapangan kerja di Amerika Serikat sejak perang dunia II, sumbangan usaha kecil ternyata tidak bisa diabaikan. (Anderson, 1987).

Negara-negara berkembang mulai merubah orientasinya ketika melihat pengalaman di negara-negara industri maju tentang peranan dan sumbangan usaha kecil dalam pertumbuhan ekonomi.


Ada
perbedaan titik tolak antara perhatian terhadap usaha kecil di negara-negara sedang berkembang (NSB) dengan di negara-negara industri maju. Di NSB, usaha kecil dalam posisi terdesak dan tersaingi  oleh  usaha  skala  besar  dan  menengah,  usaha  kecil  sendiri  memiliki berbagai ciri kelemahan, namun begitu usaha kecil menyangkut proses kepentingan rakyat/masyarakat banyak, maka pemerintah terdorong untuk mengembangkan dan melindungi usaha kecil, sedangkan di negara-negara maju, usaha kecil mendapatkan perhatian karena memiliki faktor-faktor positif yang selanjutnya oleh para cendekiawan ditularkan ke NSB.

Beberapa keunggulan usaha kecil dibandingkan usaha besar antara lain (Anthony, 1983):

  1. Inovasi dalam teknologi dapat dengan mudah dilakukan dalam upaya pengembangan produk.
  2. Hubungan kemanusiaan yang akrab di dalam usaha kecil.
  3. Kemampuan menciptakan kesempatan kerja yang cukup banyak atau penyerapannya terhadap tenaga kerja cukup tinggi.
  4. Fleksibilitas dan kemampuan menyesuaikan diri terhadap kondisi pasar yang berubah dengan cepat dibanding dengan perusahaan skala besar yang pada umumnya birokratis.
  5. Terdapatnya dinamisme manajerial dan peranan kewirausahaan.

Dari keunggulan-keunggulan tersebut yang menonjol adalah adanya kemampuan penyerapan tenaga kerja. Contohnya pada tahun 1981-1982 sebagai akibat resesi telah diputuskan hubungan kerjanya sebanyak 1.644.000 orang, pada saat yang bersamaan usaha kecil yang per unitnya terdiri dari jumlah pekerja 1 sampai dengan 50 orang, telah menciptakan kesempatan kerja bagi 2.650.000 orang. Usaha kecil memang mempunyai fleksibilitas yang lebih besar daripada USB (Unit Skala Besar), antara lain karena dalam USB pengambilan keputusan dan inovasi pada umumnya terhambat oleh birokrasi dan kaku. Bagi orang-orang yang kreatif dan inovatif, hal demikian kurang menarik dan terdapat kecenderungan mendirikan usaha sendiri; berwiraswasta biasanya dimulai dengan usaha-usaha skala kecil dan dapat berpotensi dan berkembang.

Usaha kecil menjadi pusat perhatian karena kontribusinya yang besar dalam perekonomian riil. Usaha kecil menghadapi kendala-kendala dalam mempertahankan atau mengembangkan usaha (bisnis), antara lain kurang pengetahuan pengelolaan usaha, kurang modal, dan lemah di bidang pemasaran. Selain itu, kondisi pasar yang dihadapi usaha kecil adalah situasi pasar yang monopolistik juga merupakan masalah tersendiri sehingga usaha kecil sulit berkembang. Untuk mengatasi semua masalah itu usaha kecil harus memiliki strategi bisnis yang tepat (Rietveld, 1989).

Strategi bisnis yang perlu diambil antara lain adalah sebagai berikut (Rietveld, 1989):

  1. Untuk mengembangkan usaha kecil perlu dipelajari terlebih dahulu ciri-ciri definisi/pengertian dan kelemahan-kelemahan serta potensi-potensi yang tersedia serta perundang-undangan yang mengaturnya.
  2. Di badan usaha tersebut diperlukan bantuan manajerial agar tumbuh inovasi-inovasi mengelola usaha kecil berdampingan dengan usaha-usaha besar.
  3. Secara vertikal, dalam sistem gugus usaha, usaha kecil bisa menjadikan diri komplemen-komplemen usaha bagi industri perusahaan produsen utama. Untuk itu diperlukan suatu strategi usaha kecil menjalin kerja sama komplementer dengan usaha-usaha besar.
  4. Kerja sama bisa berbentuk koperasi dan secara bersama-sama beroperasi masuk (entry) dalam usaha tertentu. Di Indonesia kemitraan usaha yang berbentuk koperasi merupakan strategi bisnis yang sangat penting, sehingga pemerintah menganggap perlu membentuk departemen khusus untuk menangani UKM dan Koperasi.

Dalam pembangunan ekonomi di


Indonesia
, usaha kecil selalu digambarkan sebagai sektor yang mempunyai peranan yang penting, karena sebagian besar jumlah penduduknya berpendidikan rendah dan hidup dalam kegiatan usaha kecil baik di sektor tradisional maupun modern. Peranan usaha kecil tersebut menjadi bagian yang diutamakan dalam setiap perencanaan tahapan pembangunan yang dikelola oleh dua departemen, yaitu (1) Departemen Perindustrian dan Perdagangan; (2) Departemen Koperasi dan UKM. Namun demikian, usaha pengembangan yang telah dilaksanakan masih belum memuaskan hasilnya, karena pada kenyataannya kemajuan usaha kecil sangat kecil dibandingkan dengan kemajuan yang sudah dicapai usaha besar. Pelaksanaan kebijaksanaan usaha kecil oleh pemerintah selama orde baru, hanya sedikit yang dilaksanakan, lebih banyak hanya merupakan semboyan saja, sehingga hasilnya sangat tidak memuaskan. Pemerintah lebih berpihak pada pengusaha besar pada hampir semua sektor, antara lain perdagangan, perbankan, kehutanan, pertanian, dan industri.

Menghadapi persaingan yang semakin ketat, karena semakin terbukanya pasar di dalam negeri, merupakan ancaman bagi usaha kecil dengan semakin banyaknya barang dan jasa yang masuk dari luar akibat dampak globalisasi. Oleh karena itu, pembinaan dan pengembangan usaha kecil saat ini dirasakan semakin mendesak dan sangat strategis untuk mengangkat perekonomian rakyat, sehingga kemandirian usaha kecil diharapkan dapat tercapai di masa mendatang. Dengan berkembangnya usaha kecil diharapkan dapat meningkatkan pendapatan masyarakat, membuka kesempatan kerja, dan memakmurkan masyarakat secara keseluruhan.

Kegiatan usaha kecil meliputi berbagai kegiatan ekonomi, namun sebagian besar berbentuk usaha kecil yang bergerak di sektor pertanian, sektor industri pengolahan, sektor perdagangan, rumah makan, hotel dan sisanya bergerak dibidang lain (BPS, 1998). Dari segi nilai ekspor nasional, ekspor produk usaha  kecil/menengah jauh tertinggal bila dibandingkan ekspor usaha kecil negara-negara lain. Oleh karena itu, perlu dibuat kebijakan yang tepat untuk mendukung UKM, seperti antara lain perizinan, teknologi, struktur, manajemen, pelatihan, dan pembiayaan (Sartika dan Soejoedono, 2003).

Usaha skala kecil di Indonesia merupakan subjek diskusi dan menjadi perhatian pemerintah karena perusahaan kecil tersebut menyebar di mana-mana, dan dapat memberi kesempatan kerja yang potensial.


Para ahli ekonomi sudah lama menyadari bahwa sektor usaha  kecil sebagai salah satu karakteristik keberhasilan dan pertumbuhan ekonomi. Usaha  kecil menyumbang pembangunan dengan berbagai jalan, menciptakan kesempatan kerja, untuk perluasan angkatan kerja bagi urbanisasi, dan menyediakan fleksibilitas kebutuhan serta inovasi dalam perekonomian secara keseluruhan (Ratmoko, 2002).

Dari hasil penelitian yang dilakukan Lembaga Manajemen FE UI (1987) dapat dirumuskan profil usaha kecil di Indonesia sebagai berikut:

1.      Hampir setengahnya dari perusahaan kecil hanya mempergunakan kapasitas 60% atau kurang.

2.      Lebih dari setengah perusahaan kecil didirikan sebagai pengembangan dari usaha kecil-kecilan.

3.      Masalah-masalah utama yang dihadapi:

Sebelum investasi masalah: permodalan, kemudahan usaha (lokasi, izin),

Pengenalan usaha: pemasaran, permodalan, hubungan usaha,

Peningkatan usaha: pengadaan bahan/barang.

  1. Usaha menurun karena: kurang modal, kurang mampu memasarkan, kurang keterampilan teknis, dan administrasi.
  2. Mengharapkan bantuan pemerintah berupa modal, pemasaran, dan pengadaan barang.
  3. 60 % menggunakan teknologi tradisional.
  4. 70 % melakukan pemasaran langsung ke konsumen.
  5. Untuk memperoleh bantuan perbankan, dokumen-dokumen yang harus disiapkan dipandang terlalu rumit.

Profil pengusaha kecil Indonesia dari segi manajemen, yaitu sebagai berikut.

1.      Pemilik sebagai pengelola.

2.      Berkembang dari usaha kecil-kecilan, karena itu kepercayaan diri yang berlebihan.

3.      Tidak membuat perencanaan tertulis.

4.      Kurang membuat catatan/pembukuan tertib.

5.      Pendelegasian wewenang secara lisan.

6.      Kurang mampu mempertahankan mutu.

7.      Sangat tergantung pada pelanggan dan pemasok di sekitar usahanya.

8.      Kurang membina saluran informasi.

9.      Kurang mampu membina hubungan perbankan.

Profil pengusaha kecil Indonesia dari segi keuangan, yaitu sebagai berikut:

1.      Memulai usaha kecil-kecilan, bermodal sedikit dana dan keterampilan pemiliknya.

2.      Terbatasnya sumber dana dari perbankan.

3.      Kemampuan memperoleh pinjaman bank relatif rendah/kurang mampu menyediakan jaminan, proposal kredit, dan lain-lain.

4.      Kurang akurat perencanaan anggaran kas.

5.      Tidak memiliki catatan harga-pokok produksi; perhitungan sangat kasar.

6.      Kurang memahami tentang perlunya pencatatan keuangan/akuntansi.

7.      Kurang paham tentang prinsip-prinsip penyajian laporan keuangan dan kemampuan analisisnya.

8.      Kurang mampu memilih informasi yang berguna bagi usahanya.

9.      Krisis yang terjadi di Indonesia sejak tengah tahun 1997 sampai saat ini belum menunjukkan tanda-tanda akan berakhir. Krisis ini juga telah mengakibatkan kedudukan posisi pelaku sektor ekonomi berubah.


Usaha besar satu per satu pailit karena bahan baku impor meningkat secara drastis, biaya cicilan utang meningkat sebagai akibat dari nilai tukar rupiah terhadap dolar yang menurun dan berfluktuasi. Sektor perbankan yang juga terpuruk ikut memperparah sektor industri dari sisi permodalan. Banyak perusahaan yang tidak mampu lagi meneruskan usaha karena tingkat bunga yang tinggi. Berbeda dengan usaha kecil yang sebagian besar tetap bertahan, bahkan cenderung bertambah.

Alasan-alasan usaha kecil bisa bertahan dan cenderung meningkat jumlahnya pada masa krisis adalah sebagai berikut (Suparmi, 2001):

1.      Sebagian besar usaha kecil memproduksi barang konsumsi dan jasa-jasa dengan elastisitas permintaan terhadap pendapatan yang rendah, maka tingkat pendapatan rata-rata masyarakat tidak banyak berpengaruh terhadap permintaan barang yang dihasilkan. Sebaliknya kenaikan tingkat pendapatan juga tidak berpengaruh pada permintaan.

  1. Sebagian besar usaha kecil tidak mendapat modal dari bank. Implikasinya keterpurukan sektor perbankan dan naiknya suku bunga, tidak banyak mempengaruhi sektor ini. Berbeda usaha skala besar yang banyak tergantung kepada perbankan, jika sektor perbankan bermasalah, maka ikut terganggu kegiatan usahanya, sedangkan usaha kecil dapat bertahan. Di Indonesia, usaha kecil mempergunakan modal sendiri dari tabungan dan aksesnya terhadap perbankan sangat rendah.
  2. Usaha kecil mempunyai modal yang terbatas dan pasar yang bersaing. Dampaknya usaha kecil mempunyai spesialisasi produksi yang ketat. Hal ini memungkinkan usaha kecil mudah untuk pindah dari usaha yang satu ke usaha lain, hambatan keluar-masuk tidak ada.
  3. Reformasi menghapuskan hambatan-hambatan di pasar, proteksi industri hulu dihilangkan, usaha kecil mempunyai pilihan lebih banyak dalam pengadaan bahan
    baku. Akibatnya biaya produksi turun dan efisiensi meningkat. Akan tetapi, karena bersamaan dengan terjadinya krisis ekonomi, maka pengaruhnya tidak terlalu besar.
  4. Dengan adanya krisis ekonomi yang berkepanjangan menyebabkan sektor formal banyak memberhentikan pekerja-pekerjanya.
    Para penganggur tersebut memasuki sektor informal, melakukan kegiatan usaha yang umumnya berskala kecil, akibatnya jumlah usaha kecil meningkat.

Pada masa krisis ekonomi yang berkepanjangan, usaha kecil dapat bertahan dan mempunyai potensi untuk berkembang. Dengan demikian, usaha kecil dapat dijadikan andalan untuk masa yang akan datang dan harus didukung dengan kebijakan­-kebijakan yang kondusif, serta persoalan-persoalan yang menghambat usaha-usaha pemberdayaan usaha kecil harus dihilangkan. Konstelasi kebijakan ekonomi pemerintah harus menempatkan usaha kecil sebagai prioritas utama dalam pemulihan ekonomi, untuk membuka kesempatan kerja dan mengurangi jumlah pengangguran. Meninjau dari keunggulan-keunggulan dan juga kendala-kendala yang dihadapi usaha kecil di atas, maka perlu adanya suatu kebijakan dari pemerintah yang dapat membantu perkembangan usaha kecil, mengingat usaha kecil mempunyai peranan yang sangat besar dalam perekonomian rakyat. Beberapa kebijakan yang dapat membantu perkembangan usaha kecil antara lain kebijakan permodalan melalui kredit dan sistem anak angkat dengan perusahaan besar, kebijakan pembinaan manajemen, kebijakan perluasan pemasaran bagi produk usaha kecil, dan lain-lain.

Sebagai suatu area usaha tempat orang menggantungkan nasibnya, usaha kecil tidak boleh mati. Ia harus tumbuh dan berkembang, atau sekurang-kurangnya bertahan (survive). Tekad untuk survive dan tumbuh tersebut menuntut kemampuan usaha kecil dan para pendukungnya untuk memahami situasi internal (kekuatan dan kelemahan) maupun situasi eksternalnya (peluang dan tantangan). Termasuk ke dalam situasi internal adalah: sumber daya yang dimiliki, kebijakan yang telah dijalankan serta hasilnya. Sedangkan situasi eksternal adalah kekuatan dan kecenderungan politik, ekonomi, sosial dan teknologi serta kondisi kelompok pesaing ataupun kelompok pendukungnya.

Berdasarkan atas mandat dan misi tersebut serta informasi mengenai faktor-faktor internal dan eksternal, sangat penting untuk diformulasikan isu-isu strategis atau pertanyaan-pertanyaan pokok bagi perumusan pengembangan usaha kecil. Isu strategis penting dibentangkan untuk melihat peluang pengembangan peranan masing-masing aktor maupun mitra yang menaruh perhatian (concern) terhadap pengembangan usaha kecil, terutama dalam proses pengambilan keputusan-keputusan yang muaranya bersifat politis-ekonomis. Untuk menyusun isu-isu strategis tersebut, dilakukan pendekatan (approach) melalui pengembangan pola kebijakan, program, aksi, keputusan atau alokasi sumber daya yang kesemuanya tersusun ke dalam rangkaian rencana strategis.

 

 

About these ads

Leave a comment

  1. dicky firmansyah says:

    Saya pesan judul :

    PS: Contoh Proposal Pengajuan Permodalan

  2. suci mulyanti says:

    Saya pesan judul :

    analisa manajemen modal kerja
    PS:

  3. wikiandri says:

    Saya pesan judul :
    usaha dagang mie ayam

    PS: tolong krm contoh proposal tentang usaha mie ayam dong TOLONG bgt krm KE E-MAIL wikiandrixx@yahoo.com aku tunggu z

  4. rizki says:

    Saya pesan judul : pengembangan usaha kecil menengah

    PS: tolong secepatnya ya ,soalnya buat bikin tugas .

  5. linda says:

    Saya pesan judul :
    pengaruh informasi akuntansi terhadap keputusan invesatasi pada UKM

    PS: bab 1 nya kayakn gmana yah??
    belum kebanyang neh mana minggu depan dikumpul
    thx yah
    bantuin cari gambarannya aja…
    thx

  6. rina says:

    Saya pesan judul :
    contoh proposal pengajuan ukm pempek, anggaran dana dan isi proposal yang lengkap yach…

    PS: tolong dong bantuin saya

  7. Saya pesan judul : Pengaruh Kualitas Produksi Terhadap Promosi Deterjen So klin

    PS:

  8. Yoga says:

    Saya pesan judul :

    Tolong Carikan Referensi tentang Perawat.
    Kata Kuncinya
    Pelayanan Kesehatan
    Sejarah Perawat
    Analalisis Jender Perawat

  9. syafrul says:

    Saya pesan judul :
    contoh proposal membuka usaha kecil menengah

    PS:

  10. adinda says:

    Saya pesan judul : skripsi tentang usaha kecil.
    judul-judulnya maupun contoh skripsinya,
    tolong banget yah.
    terima kasih

    PS:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 95 other followers

%d bloggers like this: