Yearly Archives: 2007

PENGARUH PENYALURAN KREDIT TERHADAP MODAL BANK ( STUDI KASUS BANK PERMATA cabang MALANG TAHUN 2002:1 – 2005:4)

ABSTRAKSI

 

Pengaruh penyaluran kredit terhadap modal bank ( studi kasus Bank Permata cabang Malang tahun 2002:1 – 2005:4), Datu Asmira Suri, Keuangan Perbankan, Jurusan Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan, Fakultas Ekonomi, Universitas Brawijaya, Malang, Dosen Pembimbing Tyas Danarti H, SE., ME.

 

 Dalam suatu bank pendapatan terbesar adalah pendapatan bunga dari penyaluran kredit. Sehingga hal ini menyebabkan banyak bank berlomba-lomba meningkatkan penyaluran kreditnya dan akhirnya berdampak pada perkembangan modal. Peningkatan modal ini dapat mempertahankan keberadaan bank itu sendiri, tetapi yang dapat mempengaruhi perkembangan modal ini bukan saja dari penyaluran kredit saja tetapi dari beban bank yang dapat berdampak buruk terhadap perkembangan modal. Maka penelitian ini untuk melihat bagaimana pengaruh penyaluran kredit terhadap modal pada Bank Permata cabang Malang selama periode 2002:1 – 2005:4. dan penelitian ini mengangkat 2 permsalahan yaitu pertama bagaimana pengaruh penyaluran kredit terhadap perkembangan modal pada Bank Permata cabang Malang, kedua Bagaimana pengaruh beban operasional termasuk NPL dari penyaluran kredit terhadap perkembangan modal pada Bank Permata cabang Malang. Dalam penelitian dapat diambil kesimpulan bahwa penyaluran kredit dapat mempengaruhi perkembangan modal karena hasil dari penyaluran kredit bank memperoleh pendapatan bunga yang cukup tinggi. Sehingga hal ini dapat meningkatkan laba dan akhirnya modal. Tetapi pada Bank Permata laba tidak dibagikan kepada deviden karena laba lebih difokuskan kepada laba setelah pajak untuk memenuhi penyediaan modal minimum dan selain itu pihak bank masih menanggung kerugian ditahun-tahun lalu akibat pembentukan merger. Maka dalam hal ini modal dapat terus meningkat dan ada hal lain yang dapat mempengaruhi modal yaitu pihak bank bisa melakukan efisiensi biaya.

Kata Kunci : penyaluran kredit, pendapatan, beban, NPL, laba, modal.

 

  

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang 

Keadaan ekonomi di Indonesia saat ini yang penuh persaingan dan kondisi yang tidak menentu menyebabkan bank-bank umum berlomba-lomba untuk meningkatkan sumber dana bank yang kemudian disalurkan kembali dalam bentuk kredit. Penghasilan bunga dari penyaluran kredit ini merupakan pendapatan utama bank. Dalam prakteknya kebijakan bank Indonesia mengenai tingkat suku bunga SBI menjadi patokan dalam bank umum untuk meningkatkan atau menurunkan tingkat suku bunga penyaluran kedit. Kebijakan Bank Indonesia ada 2 yaitu kebijakan kontraktif meningkatkan tingkat suku bunga SBI dan kebijakan ekspansif menurunkan tingkat suku bunga SBI. Karena ketika suku bunga SBI meningkat maka bank-bank umum akan meningkatkan suku bunga kredit untuk menyeimbangkan peningkatan dari SBI begitu juga apabila terjadi penurunan.

Kondisi perekonomian bank-bank umum belum bisa dikatakan mantap, namun kondisi tersebut tidak menyebabkan perkembangan penyaluran kredit bank-bank umum menurun. Ini bisa dilihat dari penyaluran kredit pada tahun 2002 sampai tahun 2005 yang terus mengalami peningkatan. Jenis kredit yang disalurkan oleh bank-bank umum antara lain: kredit modal kerja, kredit investasi , kredit konsumsi dan kredit channeling. Diantara kredit yang diberikan ada yang mengalami peningkatan yang sangat tajam yaitu kredit modal kerja. Kredit ini dianggap dapat memberikan penghasilan dalam keadaan ekonomi lesu, dimana kredit ini bergerak pada perluasan usaha bukan menambah usaha baru.   

 

 

Sumber : Laporan Tahunan  BI 2005

Gambar 1.1.1. Perkembangan Kredit Perbankan Secara Umum

 Seiring dengan perkembangan penyaluran kredit yang terus meningkat hal ini akan berdampak pada perkembangan permodalan bank-bank umum. Pada kenyataannya kondisi ekonomi tidak selalu baik, bahkan cenderung naik turun. Pada saat kondisi ekonomi sedang turun bank lebih memilih menyalurkan kredit modal kerja. Semakin banyak bank menyalurkan kredit ini maka semakin banyak pendapatan bunga yang akan diperoleh. Ketika pendapatan yang diterima meningkat yang nantinya dapat mempengaruhi jumlah laba, baik deviden dan laba ditahan. Hal ini tentu saja meningkatkan pertumbuhan modal dan akhirnya dapat meningkatkan sumber dana untuk menyalurkan kreditnya.

Dengan pernyataan diatas kita tahu bahwa Pendapatan terbesar dalam bank yang dapat mempengaruhi modal adalah pendapatan bunga dari penyaluran kredit. Karena dari peningkatan penyaluran kredit maka perolehan pendapatan bunga meningkat, meningkatnya perolehan pendapatan ini dapat menutupi seluruh beban termasuk NPL. Setelah pendapatan dikurangi beban dan NPL baru didapat laba dimana peningkatan laba ini akan mempengaruhi pertumbuhan modal. Karena penyaluran kredit memberikan pemasukan yang sangat besar maka masing-masing bank dalam membuat kebijakan penyaluran kredit berbeda-beda.  Dengan tujuan menambah jumlah modal, walaupun ada pendapatan bank yang diperoleh selain dari bunga misal : biaya administrasi tabungan dan jasa transfer. 

 Jika kondisi dalam suatu bank terjadi peningkatan penyaluran kredit maka NPL akan meningkat yang tidak diikuti dengan peningkatan perolehan pendapatan. Maka hal ini menyebabkan modal berkurang maka sumber dana yang akan disalurkan kembali kepada masyarakat akan berkurang. Tetapi jika kondisi sebaliknya dimana jumlah dari penyaluran kreditnya mengalami penurunan maka pendapatan menurun dan NPL pun mengalami penurunan. Maka perkembangan modal bank menurun hal ini akan mempengaruhi jumlah sumber dana yang akan disalurkan kembali kepada masyarakat, selain itu bank tidak dapat memberikan dana segar kepada masyarakat yang benar-benar membutuhkan dengan lancar karena terbatasnya dana segar.

 Meningkatnya jumlah penyaluran kredit akan menyebabkan meningkatnya NPL yang juga disertai meningkatnya beban, hal ini tentu saja akan mempengaruhi pertumbuhan modal. Selain besarnya beban operasional dan meningkatnya NPL yang mempengaruhi perkembangan modal. Adapun faktor lain mempengaruhi jumlah modal yaitu pembagian deviden yang tidak seimbang dengan laba ditahan. Karena  modal bersih bank mencerminkan jumlah dana yang akan disalurkan kembali kepada masyarakat.  

 Dengan adanya persoalan diatas maka bank selalu memperhitungkan berapa yang akan diterima lalu disesuaikan dengan berapa yang harus dikeluarkan, hal nini tentu saja bertujuan agar pertumbuhan modal tidak menurun. Meningkatnya NPL akan mengurangi jumlah modal bank, karena pendapatan yang diterima bank digunakan untuk menutupi NPL yang tinggi. Selain itu meningkatnya NPL akan mempengaruhi bank dalam menyalurkan kreditnya pada periode berikutnya. Kondisi seperti ini akan mengurangi perkembangan deviden dan laba ditahan atau modal.  

 Dengan keadaan tersebut dimana pembagian laba yang tidak seimbang dan meningkatnya NPL dan beban dapat mempengaruhi pertumbuhan modal. Maka setiap bank tentu ingin meningkatkan pendapatan yang tinggi agar dapat menjalankan kegiatan operasional bank. Untuk itu bank dalam menyalurkan kreditnya selalu memberikan penilaian atas kreditnya. Adapun penilaiannya seperti 5C dan 7P Ini semua ditujukan agar dalam penyaluran kredit pihak bank dapat memperkirakan bunga yang diperoleh sehingga dapat menambah jumlah modal.

 Dengan adanya penilaian diatas maka pihak bank tahu kualitas dari pihak debitur yang akan mengambil kredit. Apabila dari penilaian tersebut diatas tidak dipenuhi satu saja oleh debitur maka bank akan melihat kualitas kredit yang akan diberikan. Karena dari kualitas kredit dapat menggambarkan perolehan bunga yang diterima bank dan resiko terhadap NPL.

 Untuk itu bank tidak asal meningkatkan jumlah dan tingkat suku bunga penyaluran kreditnya. Untuk menghindarkan resiko NPL yang tinggi dari penyaluran kredit yang tidak efisien. Dalam hal  ini perlu untuk mempertimbangkan alokasi dana yang efisien. Seperti penyaluran kredit yang bisa memberikan return yang tinggi dimana tingkat NPL tidak terlalu tinggi. Karena pengalokasian dana yang tepat sangat mempengaruhi jumlah modal bank. 

 Pengalokasian dana yang tidak efisien menyebabkan penyaluran kredit berkurang. Karena jumlah dana pada modal berkurang sehingga dana yang akan disalurkan pada periode berikutnya ikut turun. Keadaan seperti ini akan menghambat kegiatan operasional bank itu sendiri dan juga menurunkan pendapatan bank. Pengalokasian dana yang tidak tepat dapat saja terjadi pada satu bank atau beberapa bank seperti grafik dibawah ini 

  

Sumber : laporan keuangan tahunan Bank Permata 

Gambar 1.1.2. Perkembangan Penyaluran Kredit terhadap modal Bank Permata 

 Grafik diatas menunjukkan bahwa bank Permata dalam perkembangan penyaluran kredit tidak jauh berbeda dengan perkembangan kredit pada bank-bank umum. Tetapi peningkatan ini tidak diikuti dengan perkembangan peningkatan modal, hal ini bisa saja pengalokasian dana yang tidak tepat terutama pada penyaluran kreditnya. Menurunnya ekuitas akan mempengaruhi penyaluran kredit pada periode berikutnya . Peningkatan penyaluran kredit tahun 2004 sangat bagus sehingga modal yang diperoleh juga meningkat. Peningkatan ini bisa dibandingkan pada tahun 2002 dan 2003 dimana bank Permata baru saja merger sehingga menyebabkan beban operasional meningkat terutama beban merger.

 Penurunan modal bank Permata ditahun 2005 menurun karena adanya pergantian direktur utama. Selain itu adanya Standart Charter bank yang mengadakan kerjasama dengan bank Permata. Hal ini yang menyebabkan beban operasional bank meningkat hal ini tidak diikuti dengan peningkatan perolehan pendapatan sehingga pertumbuhan modal terhambat dan akhirnya menurun. Penurunan yang drastis yang terjadi di bank Permata mengakibatkan berkurangnya kegiatan operasional bank dan banyak terjadi pengurangan pegawai.

 Dengan permasalahan yang disebutkan diatas maka penulis mengambil judul PENGARUH PENYALURAN KREDIT TERHADAP PERTUMBUHAN MODAL (STUDI KASUS BANK PERMATA CABANG MALANG TAHUN 2002:1-2005:4). Dimana pengaruh penyaluran kredit sangat mempengaruhi  kegiatan perputaran dana dalam suatu bank. Dalam permasalahan diatas juga didapat peningkatan beban operasional juga akan mempengaruhi modal bank.

 

 

 

 

1.2.Perumusan Masalah

 

 Bank merupakan lembaga intermediasi atau lembaga perantara keuangan yang berfungsi menghimpun dana dari pihak yang memiliki kelebihan dana yang nantinya akan disalurkan kepada pihak yang membutuhkan dana yaitu melalui penyaluran kredit.

Dari uraian diatas kita tahu bahwa peranan bank sebagai sistem keuangan menjembatani pihak lender– borrower sehingga proses produksi dalam perekonomian menjadi efisien. Dana yang sudah masuk dalam bank disalurkan kembali dalam bentuk kredit agar dapat membantu membangkitkan kondisi perekonomian pada umumnya. Dari pihak bank, penyaluran kredit diharapkan menghasilkan return yang tinggi sehingga dapat menutupi beban operasional dan memberikan laba yang maksimal.

 Dalam prakteknya, jika bank meningkatkan tingkat suku bunga penyaluran kreditnya dan dalam penyaluran kreditnya tidak efisien bukan tidak mungkin berujung pada kredit macet atau NPL. Tingginya NPL menyebabkan tingginya biaya operasional bank yang kemudian berpotensi menurunkan laba bank hal ini tentu akan berdampak pada berkurangnya kemampuan bank untuk meningkatkan modalnya. Untuk mengantisipasi dampak tersebut bank dalam memberikan kredit mempunyai beberapa aturan ketat yang harus dilaksanakan dan ditaati oleh calon debitur, dan dalam hal ini bank memakai pelaksanaan prinsip prudential banking yang merupakan strategi yang harus dilakukan bank.

    Untuk itu dalam suatu bank yang dapat mempengaruhi modal bank tidak saja penyaluran kredit tetapi biaya operasional bank yang harus dikeluarkan untuk membayar kewaibannya baik kepada bank sentral maupun nasabah itu sendiri. Dalam kegiatan operasional bank itu sendiri banyak mengeluarkan biaya seperti: biaya gaji pegawai, biaya bunga, biaya perawatan dan NPL. Dimana biaya tersebut harus ditutup dari pendapatan yang diterima bank. Tetapi jika meningkatnya pendapatan bank yang tidak diikuti dengan penurunan biaya operasional dapat mempengaruhi perkembangan modal bank itu sendiri.

 Dari keadaan diatas timbul masalah dimana tidak hanya kredit yang dapat mempengaruhi modal bank tetapi beban operasional bank juga dapat mempengaruhi modal. Maka dengan permasalahan dalam suatu bank diatas, maka penelitian ini dapat dirumuskan:

                  1. Bagaimana pengaruh penyaluran kredit terhadap perkembangan modal pada     Bank Permata cabang Malang

            2. Bagaimana pengaruh beban operasional termasuk NPL dari penyaluran kredit terhadap perkembangan modal pada Bank Permata cabang Malang.

 

1.3. Batasan Masalah 

Batasan masalah dalam penelitian ini adalah: 

            1. Penyaluran kredit yang diteliti adalah semua kredit yang diberikan bank Permata   dalam bentuk Rupiah.

            2.   Beban operasional yang diteliti adalah seluruh beban operasional bank termasuk   NPL dalam kegiatan bank Permata.

      3. Modal yang diteliti adalah modal yang diperoleh dari laba bersih bank Permata.

      4. Penelitian ini menggunakan laporan keuangan triwulanan bank Permata dari

 

      tahun 2002-2005. Untuk melihat berapa besar jumlah dari setiap variabel   yang  diteliti dalam periode penelitian yang dimulai sejak bank Permata merger 2002  sampai 2005.

      1.4.  Tujuan Penelitian

1. Untuk mengetahui pengaruh penyaluran kredit terhadap perkembangan modal  pada Bank Permata cabang Malang. 

             2. Untuk mengetahui pengaruh beban operasional termasuk NPL dari penyaluran kredit terhadap perkembangan modal pada Bank Permata cabang Malang

 

1.5.Manfaat Penelitian

 Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi:

          1. Penulis

            Bagi pihak penulis, penelitian ini memberi pengetahuan langsung mengenai     bagaimana penyaluran kredit dapat mempengaruhi modal bank dan seluruh  kegiatan operasional bank itu sendiri.

          2. Bagi perusahaan

            Bagi Bank Permata Cabang Malang sebagai dasar pertimbangan dalam  penyaluran kredit yang pengaruhnya terhadap modal bank. Dan mengoptimalkan  modal bank terhadap penyaluran kredit. 

          3. Dunia pendidikan

  Sebagai referensi atau masukan bagi peneliti lain yang mempunyai  permasalahan yang sama.

PENGARUH PENDIDIKAN PROFESI AKUNTANSI TERHADAP MINAT DAN PERSEPSI MAHASISWA JURUSAN AKUNTANSI PADA KARIR SEBAGAI AKUNTAN PUBLIK

ABSTRAKSI

 

Penelitian ini membandingkan antara mahasiswa akuntansi yang memilih karir sebagai akuntan publik dan mahasiswa akuntansi yang memilih karir non akuntan publik setelah diselenggarakannya Pendidikan Profesi Akuntansi (PPAk). Kuesioner yang disebarkan terdiri dari 24 pernyataan yang meliputi satu variabel tentang minat terhadap karir sebagai akuntan publik dan enam variabel persepsi mahasiswa terhadap karir sebagai akuntan publik yang meliputi nilai intrinsik pekerjaan akuntan publik, fleksibilitas pekerjaan akuntan publik, gaji/peghargaan finansial akuntan publik, kesempatan profesi akuntan publik, manfaat profesi akuntan publik, dan pengorbanan profesi akuntan publik.

Dengan menggunakan metode survey terhadap 195 responden mahasiswa akuntansi Universitas Brawijaya Malang, Universitas Airlangga Surabaya, Universitas Islam Malang, Universitas Darul Ulum Jombang, dan STIE PGRI Dewantara Jombang, uji regresi linier berganda digunakan untuk mengetahui pengaruh PPAk terhadap minat mahasiswa akuntansi pada karir sebagai akuntan publik. Independent Sample T-test digunakan untuk membandingkan persepsi mahasiswa akuntansi pada karir sebagai akuntan publik. Disamping itu analisis diskriminan juga digunakan untuk menaksir kemampuan dari keenam variabel dalam membedakan kedua kelompok pemilih profesi akuntan publik dan non akuntan publik.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa berdasarkan regresi linier berganda, terdapat pengaruh penyelenggaraan PPAk terhadap minat mahasiswa akuntansi pada karir sebagai akuntan publik. Berdasarkan Independent Sample T-test, secara rata-rata mahasiswa dalam memilih karir sebagai akuntan publik dipengaruhi oleh keenam variabel. Dari keenam variabel tersebut hanya tiga variabel yang berbeda secara statistic signifikan: (1) nilai intrinsik pekerjaan akuntan publik, (2) kesempatan profesi akuntan publik, (3) manfaat profesi akuntan publik. Hasil ini juga didukung oleh hasil analisis diskriminan. Variabel yang paling bisa menjadi pembeda diantara kedua kelompok tersebut adalah kesempatan profesi akuntan publik.

 

Kata kunci: minat, persepsi, mahasiswa akuntansi, akuntan publik dan non akuntan publik.

 

THE INFLUENCE OF ACCOUNTING PROFESSION EDUCATION TO INTEREST AND PERCEPTION OF ACCOUNTING STUDENT IN CAREER AS PUBLIC ACCOUNTANT

 

Author: Betty Yuli Setyaningrum

Advisor: Noval Adib, SE, MSi, Ak.

 

ABSTRACT

 

 This study compares between accounting students who choose a career as public accountant to those students who did not after accounting profession education established. The questionare consist of 24 questions concerning one variable interested in career as public accountant and six variables students perception about career as public accountant are intrinsic value of job public accountant, flexibility of job public accountant, salary or financial reward public accountant, opportunities of public accountant profession, benefit of being public accountant, and cost of being public accountant.

 By applying survey method to 195 accounting students of Brawijaya University Malang, Airlangga University Surabaya, Islam Malang University, Darul Ulum University Jombang, and STIE PGRI Dewantara Jombang, multiple linier regression were used to know the accounting profession education influence concerning students who interested in career as public accountant. Independent sample T-test were used to compares perception of students in career as public accountant. Beside that multivariate discriminant analysis was also used to assess the ability of six variables to distinguish between these two groups.

 The result shows that based on the multiple linier regression, the accounting profession education influence concerning students who interested in career as public accountant. Based on independent sample T-test, their average score, those selecting public accountant are more concerned with the above six variables. From the six variables, only three variables resulting in scores that were statistically significant: (1) intrinsic value of job public accountant, (2) opportunities of public accountant profession, and (3) benefit of being public accountant. These findings were also supported by the analytical result from multivariate discriminant analysis (MDA). The highest explanatory power variable differentiating the two groups is opportunities of public accountant profession.

 

Key words: interest, perception, accounting students, public and non public accountants.

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

            1.1. Latar Belakang

Kesempatan pendidikan yang semakin meluas di negara-negara yang sedang berkembang termasuk Indonesia, telah mempengaruhi pasar tenaga kerja. Perubahan-perubahan yang terjadi pada sisi permintaan, yaitu permintaan terhadap tenaga kerja sesuai bidang yang dibutuhkan dalam dunia kerja membawa pula berbagai perubahan dan pembaharuan dalam kesempatan pendidikan. Salah satunya yaitu diselenggarakannya Pendidikan Profesi Akuntansi (PPAk) baik di Perguruan Tinggi Negeri maupun di Perguruan Tinggi Swasta untuk mendukung terpenuhinya permintaan terhadap tenaga kerja sebagai akuntan publik. Negara-negara yang masih terbelakang berupaya mengejar ketinggalannya dalam ilmu pengetahuan dan teknologi dalam rangka memenuhi peningkatan kebutuhan pembangunan. 

Investasi pada sumber daya manusia semakin penting dalam melanjutkan proses industrialisasi untuk membawa perekonomian senantiasa tumbuh dan berkembang. Disamping itu juga diperlukan sarana dan prasarana non fisik yang sangat ditentukan oleh pengembangan kualitas sumber daya manusia. Di lain pihak kadang-kadang investasi untuk prasarana sumber daya manusia terlepas dari pertimbangan ekonomi atau diamati hanya sebagai fenomena budaya semata, walaupun jangka panjangnya akan mempengaruhi kinerja ekonomi (Hasibuan, 1990). Hal tersebut tampak dengan agak terabaikannya prioritas pengembangan sumber daya manusia, yang kadang kala berkembang sebagaimana sering terjadi dalam dunia mode yaitu berkembang mengikuti trend yang ditunjukkan dengan banyak ditemukan lembaga-lembaga pendidikan yang didukung oleh fasilitas yang sangat minimal, yang masih jauh dari memadai untuk menciptakan sumber daya manusia yang berkualitas.

Peningkatan pertumbuhan ekonomi suatu negara harus diimbangi dengan tenaga kerja yang berkualitas. Untuk itu pengembangan sumber daya manusia menjadi hal yang penting. Perencanaan tenaga kerja dihadapkan dengan perkiraan-perkiraan keseimbangan antara tingkat pertumbuhan penduduk yang ingin memasuki sekolah yang berbagai jenis, baik yang bersifat umum, kejuruan, dan program studi. Peningkatan tenaga kerja yang berkualitas didukung oleh lembaga-lembaga pendidikan tinggi baik negeri maupun swasta dengan bidang studi yang beragam, salah satunya yaitu bidang akuntansi.

Pertumbuhan yang pesat pada lembaga pendidikan yang mencetak tenaga yang terdidik khususnya akuntansi harus diupayakan untuk mempertahankan kualitas dan kompetensi lulusannya sehingga mereka memiliki kompetensi teknis dan moral yang memadai untuk mendapatkan peluang kerja yang kian terbatas. Perkembangan dunia usaha memberikan lapangan kerja yang beragam bagi angkatan kerja. Salah satu angkatan kerja yang ada di Indonesia adalah sarjana, yaitu tenaga kerja yang telah menempuh pendidikan strata satu. Salah satu sarjana yang akan berkiprah dalam dunia kerja adalah sarjana ekonomi, khususnya dari jurusan akuntansi.

Secara umum, Sarjana Ekonomi akuntansi setelah menyelesaikan jenjang pendidikan S1 memiliki beberapa alternatif pilihan, yaitu pertama, dapat langsung bekerja baik sebagai karyawan perusahaan, karyawan instansi pemerintah, maupun berwiraswasta. Kedua, melanjutkan jenjang akademik S2. Ketiga, melanjutkan pendidikan profesi untuk menjadi akuntan publik melalui jenjang Pendidikan Profesi Akuntansi (PPAk).

Dalam dunia kerja, ada beberapa karir yang dapat dijalankan oleh sarjana akuntansi, misalnya sebagai akuntan publik, akuntan pemerintah, akuntan pendidik, atau akuntan intern. Adanya beberapa karir bagi sarjana akuntansi ini menunjukkan bahwa sarjana akuntansi bisa memilih karir tertentu dalam dunia kerja. Mahasiswa akuntansi sebagai calon sarjana akuntansi, dapat mempertimbangkan karir apa yang akan mereka jalani nantinya.

Penelitian-penelitian terdahulu yang terkait dengan penelitian ini antara lain penelitian oleh Felton et al. (1994), Wijayanti (2001), Haris dan Djamhuri (2001), Ghani et al. (2002), Kunartinah dan Widiatmoko (2003), serta Rahayu et al. (2003). Felton et al. (1994) meneliti faktor-faktor yang mempengaruhi pengambilan keputusan mahasiswa sekolah bisnis untuk memilih profesi akuntan publik. Dalam penelitian terhadap mahasiswa sekolah bisnis pada tujuh universitas di Ontario menyatakan bahwa mahasiswa dalam memilih karir akuntan publik dipengaruhi oleh lima faktor yaitu faktor intrinsik, penghasilan jangka panjang dan penghasilan jangka pendek, pertimbangan pasar kerja, latar belakang pendidikan di Sekolah Menengah Umum (SMU), dan persepsi mahasiswa tentang  keuntungan dan kerugian menjadi akuntan publik.

Wijayanti (2001) meneliti faktor-faktor yang mempengaruhi pilihan karir mahasiswa akuntansi. Penelitian tersebut dilakukan terhadap mahasiswa di Yogyakarta. Dari hasil penelitian Wijayanti diketahui bahwa dalam memilih suatu karir, mahasiswa mempertimbangkan mengenai penghargaan finansial yang akan mereka terima, pelatihan profesional yang harus mereka jalankan, dan nilai-nilai sosial yang melekat pada karir tersebut.

Haris dan Djamhuri (2001) melakukan penelitian terhadap mahasiswa akuntansi Universitas Brawijaya dan Universitas Airlangga tentang faktor-faktor yang melatarbelakangi pemilihan karir bagi mahasiswa akuntansi: antara akuntan publik versus non akuntan publik. Dari hasil penelitian tersebut diketahui terdapat lima faktor pertimbangan pemilihan profesi yaitu faktor ketersediaan kesempatan, nilai intrinsik pekerjaan, fleksibiitas kerja, persepsi mahasiswa tentang manfaat profesi akuntan publik, dan persepsi mahasiswa tentang pengorbanan profesi akuntan publik.

Ghani et al. (2002) melakukan penelitian tentang perbedaan persepsi terhadap karir sebagai akuntan publik antara mahasiswa tahun pertama dengan mahasiswa tahun terakhir di Malaysian Universities. Dari hasil penelitian tersebut diketahui terdapat tiga faktor signifikan yang mempengaruhi pemilihan karir sebagai akuntan publik yaitu gaji awal, pertanggungjawaban kerja, dan minat terhadap profesi akuntan publik.

Kunartinah dan Widiatmoko (2003), melakukan penelitian tentang perilaku mahasiswa akuntansi di STIE Stikubank Semarang dan faktor-faktor yang mempengaruhi pilihan karir sebagai akuntan publik. Dari penelitian tersebut diketahui terdapat lima faktor yang mempengaruhi pilihan karir mahasiswa yaitu faktor intrinsik, penghasilan pertama yang tinggi, pertimbangan pasar kerja, persepsi kelebihan profesi akuntan publik, dan persepsi tentang kelemahan sebagai akuntan publik.

Penelitian lainnya yaitu penelitian yang dilakukan oleh Rahayu et al. (2003) yang meneliti tentang persepsi mahasiswa akuntansi mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi pemilihan karir. Faktor-faktor tersebut dikelompokkan menjadi tujuh faktor yaitu penghargaan finansial, pelatihan profesional, pengakuan profesional, lingkungan kerja, pertimbangan pasar kerja, nilai-nilai sosial, dan personalitas.

Penelitian ini merupakan extended replication dari penelitian-penelitian terdahulu untuk melihat apakah fenomena yang telah didapat dari penelitian terdahulu juga akan terjadi dalam penelitian ini. Penelitian-penelitian terdahulu yang telah dilakukan menganalisis tentang faktor-faktor yang mempengaruhi pilihan karir mahasiswa sebelum diselenggarakannya Pendidikan Profesi Akuntansi (PPAk). Sedangkan dalam penelitian ini menganalisis tentang persepsi mahasiswa terhadap profesi akuntan publik berkaitan dengan faktor-faktor yang mempengaruhi pilihan karir mahasiswa setelah diselenggarakannya Pendidikan Profesi Akuntansi (PPAk). 

Pendidikan Profesi Akuntansi (PPAk) merupakan pendidikan tambahan bagi seorang lulusan Sarjana Ekonomi Jurusan Akuntansi yang ingin mendapatkan sebutan Akuntan. Berdasarkan Surat Keputusan (SK) Mendiknas No. 179/U/2001, lulusan sarjana strata 1 (S1) jurusan akuntansi berkesempatan menempuh Pendidikan Profesi Akuntansi di perguruan tinggi yang telah ditunjuk oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi. Mereka yang telah menempuh Pendidikan Profesi Akuntansi ini berhak memperoleh sebutan profesi Akuntan (Ak), dan juga semakin berpeluang meniti karir sebagai auditor pemerintahan, auditor internal, akuntan sektor publik, akuntan manajemen, akuntan pendidik, akuntan perpajakan, akuntan keuangan, maupun akuntan sistem informasi.

Lulusan Pendidikan Profesi Akuntansi (PPAk) adalah akuntan yang berhak mendapatkan Register Negara dan boleh mengikuti Ujian Sertifikasi Akuntan Publik (USAP), sebagai syarat penting untuk mendapatkan ijin praktik sebagai Akuntan Publik. Lulusan Pendidikan Profesi Akuntansi akan mempunyai daya saing yang lebih tinggi sebagai akuntan dibandingkan dengan para sarjana yang tidak mempunyai predikat akuntan. Dengan adanya Pendidikan Profesi Akuntansi (PPAk) maka pendidikan S1 akuntansi pada perguruan tinggi terpilih tidak lagi secara otomatis menghasilkan gelar akuntan karena sebutan tersebut hanya bisa diperoleh dari PPAk.

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh PPAk terhadap minat mahasiswa jurusan akuntansi pada karir sebagai akuntan publik dan untuk  mengidentifikasi faktor-faktor apa sajakah yang mempengaruhi persepsi mahasiswa jurusan akuntansi terhadap karir sebagai akuntan publik setelah diselenggarakannya Pendidikan Profesi Akuntansi (PPAk). Penelitian ini dianggap perlu untuk dilakukan karena setelah diselenggarakannya PPAk, untuk mencapai karir sebagai akuntan publik harus menempuh PPAk terlebih dahulu yang tentu saja membutuhkan tambahan waktu dan biaya untuk melanjutkan studi. Sedangkan penelitian-penelitian terdahulu dilakukan sebelum diselenggarakannya PPAk dimana untuk mencapai karir sebagai akuntan publik tidak membutuhkan tambahan waktu dan biaya untuk melanjutkan studi karena setelah lulus dari pendidikan strata satu (S1) jurusan akuntansi Perguruan Tinggi Negeri tertentu dapat langsung mendapat gelar Akuntan (Ak) dan mengikuti Ujian Negara Akuntansi (UNA) untuk dapat menjadi akuntan publik. Dengan penyelenggaraan PPAk sedikit banyak akan berpengaruh terhadap minat dan persepsi mahasiswa jurusan akuntansi pada karir sebagai akuntan publik. Dalam penelitian ini faktor-faktor yang mempengaruhi minat dan persepsi mahasiswa tersebut dirumuskan menjadi tujuh variabel yaitu minat mahasiswa terhadap karir sebagai akuntan publik, nilai intrinsik pekerjaan akuntan publik, fleksibiitas kerja akuntan publik, gaji atau penghargaan finansial, ketersediaan kesempatan untuk berprofesi sebagai akuntan publik, persepsi mahasiswa tentang manfaat profesi akuntan publik, dan persepsi mahasiswa tentang pengorbanan profesi akuntan publik. Nilai intrinsik pekerjaan yang dimaksud memiliki hubungan dengan kepuasan yang diterima oleh individu saat atau sesudah ia melakukan pekerjaan (Hinnch dan Mischind dalam Kunartinah dan Widiatmoko, 2003).

Berdasarkan uraian tersebut di atas, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “Pengaruh Pendidikan Profesi Akuntansi Terhadap Minat dan Persepsi Mahasiswa Jurusan Akuntansi Pada Karir Sebagai Akuntan Publik.”

 

 

 

            1.2. Rumusan Masalah

Perencanaan karir merupakan suatu hal yang sangat penting untuk mencapai kesuksesan dalam karir. Akan tetapi, sebagian besar orang tidak dapat melakukan perencanaan karir secara tepat karena senantiasa dihinggapi kekhawatiran terhadap ketidakpastian di masa mendatang. Demikian halnya yang dialami mahasiswa akuntansi tahun terakhir yang sangat membutuhkan masukan dari para pendidik dalam perencanaan karir agar masa studi mereka dapat dimanfaatkan secara efektif. Mahasiswa akuntansi dapat menentukan karir mereka untuk menjadi akuntan publik dengan melanjutkan studi di PPAk atau memilih untuk menjalani profesi selain akuntan publik. Oleh karena itu penulis menekankan permasalahan pada:

1. Apakah Pendidikan Profesi Akuntansi berpengaruh terhadap minat mahasiswa jurusan akuntansi pada karir sebagai akuntan publik?

2. Apakah terdapat perbedaan persepsi mahasiswa jurusan akuntansi pada karir sebagai akuntan publik dan non akuntan publik?

 

 

1.3. Batasan Masalah

Peneliti membatasi permasalahan dalam penelitian ini agar terfokus pada permasalahan yang ada. Penelitian ini dilakukan pada mahasiswa akuntansi di lima Perguruan Tinggi yaitu Universitas Brawijaya Malang, Universitas Airlangga Surabaya, Universitas Islam Malang, Universitas Darul Ulum Jombang, dan STIE PGRI Dewantara Jombang. Responden yang diambil adalah mahasiswa jurusan akuntansi yang telah menempuh minimal semester VI tahun ajaran 2005/2006 yang telah terpilih secara acak dari seluruh populasi mahasiswa jurusan akuntansi yang ada. Pemilihan responden ini didasarkan pada asumsi bahwa mahasiswa yang telah menempuh minimal semester VI dianggap telah menentukan bidang karir yang akan dijalani, mengingat mereka sudah berada di tingkat akhir dan akan menghadapi kelulusan.

 

1.4. Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui minat dan persepsi mahasiswa jurusan akuntansi yang telah menempuh semester VI terhadap karir sebagai akuntan publik setelah diselenggarakannya PPAk dan untuk mengetahui sejauh mana mahasiswa jurusan akuntansi telah memiliki pemahaman yang memadai tentang profesi akuntan khususnya akuntan publik.

 

1.5. Manfaat Penelitian

            - Bagi jurusan akuntansi, sebagai pertimbangan mengenai seberapa jauh mahasiswanya mempunyai persepsi terhadap karir sebagai akuntan publik  sehingga program pendidikannya dapat diarahkan pada kemungkinan karir yang akan dicapai mahasiswanya pada dunia kerja.

            - Bagi pihak lain, penelitian ini dapat digunakan sebagai acuan dan tambahan informasi bagi peneliti selanjutnya.

 

PERUMUSAN STRATEGI PADA PT. PESONA REMAJA INDUSTRI MALANG

ABSTRAK

 

Atfianto (0210220023)

Perumusan Strategi Pada PT. Pesona Remaja Industri

Dosen Pembimbing: Sudjatno, SE., MS.

 

Perubahan yang begitu cepat yang terjadi dalam lingkungan bisnis, menuntut setiap pelaku bisnis selalu memberikan perhatian dan respon terhadap lingkungannya, yang kemudian merumuskan strategi agar mampu mengantisipasi perubahan dan pencapaian tujuan perusahaan. Didasari atas pentingnya perumusan strategi, proses perumusan strategi merupakan suatu rangkaian kegiatan untuk menemukan strategi yang tepat bagi perusahaan. Rangkaian kegiatan yang diperlukan meliputi analisis lingkungan perusahaan, baik lingkungan internal maupun lingkungan ekstrnal untuk mengetahui kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman yang dapat memperlancar ataupun menghambat perkembangan perusahaan.

 

PT. Pesona Remaja Industri merupakan perusahaan yang bergerak dalam bidang garmen, yang memproduksi celana jeans dengan merek DNE untuk wanita dan Max David untuk pria. Ditengah persaingan industrinya perusahaan seharusnya mampu untuk menetapkan strategi perusahaan yang tepat sehingga dapat mempertahankan atau bahkan berkembang.

 

Permasalahan yang coba diangkat dalam penelitian ini adalah “faktor-faktor lingkungan apakah yang mempengaruhi perusahaan beroperasi dalam rangka menentukan strategi yang tepat bagi perusahaan sesuai dengan lingkungan bisnis PT. Pesona Remaja Industri?” berdasarkan rumusan masalah yang ada, maka tujuan yang hendak dicapai adalah mengidentifikasi lingkungan internal dan eksternal untuk merumuskan strategi yang tepat bagi perusahaan dimasa yang akan datang.

 

Alat analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis EFE, IFE, SWOT, IE, dan untuk  menentukan pilihan strategi berdasarkan alternatif strategi yang didapat maka digunakan alat analisis QSPM.

 

Berdasarkan dari analisis yang dilakukan, didapat berbagai strategi alternatif diantaranya strategi penetrasi pasar, strategi pengembangan pasar, dan strategi pengembangan produk. Dari alternatif strategi ini ditetapkan strategi yang paling tepat bagi perusahaan yaitu strategi pengembangan produk, yang bertujuan agar perusahaan dapat meningkatkan penjualan dengan cara menngkatkan atau memodifikasi produk yang ada sekarang. Melalui strategi ini diharapkan PT. Pesona Remaja Industri mampu mempertahankan ataupun memperkuat posisinya dalam persaingan.

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

            1.1 Latar Belakang

Era globalisasi ekonomi yang disertai dengan pesatnya perkembangan teknologi, berdampak pada semakin ketatnya persaingan dan semakin cepatnya terjadi perubahan pada lingkungan usaha. Barang-barang hasil produksi dalam negeri saat ini sudah harus langsung berkompetisi dengan produk-produk dari luar negeri, dan perusahaan harus menerima kenyataan bahwa pesatnya perkembangan teknologi mengakibatkan cepat usangnya fasilitas produksi, semakin singkatnya daur hidup produk, dan keuntungan yang didapat pun akan semakin rendah.

Sektor industri merupakan komponen utama pembangunan ekonomi nasional, yang tidak saja mampu memberikan kontribusi output yang besar bagi perekonomian, tetapi juga mampu untuk memberikan kontribusi yang besar dalam penyerapan tenaga kerja.

Semenjak krisis ekonomi tahun 1998 yang berdampak negatif pada sektor industri, mengakibatkan beberapa cabang industri harus tumbuh negatif dan beberapa jalan ditempat. Termasuk didalamnya industri pakaian jadi (garmen), sebagai salah satu dari tiga kebutuhan pokok manusia yaitu sandang. Kondisi industri garmen saat ini pun tidak jauh berbeda, banyak perusahaan yang menutup usahanya daripada mempertahankan atau membuka usaha di bidang garmen. Terdapat 224 perusahaan garmen yang tercatat dalam departemen perindustrian pada tahun 2006, dan bila dibandingkan dengan tahun 2003 yang mencapai 800-an perusahaan, kondisi ini dapat dikatakan memprihatinkan. Salah satu yang menyebabkan hal ini adalah iklim usaha yang kurang kondusif, mulai dari miskinnya infrastruktur, maraknya penyeludupan, berbagai regulasi yang kontraproduktif, ketinggalan dalam hal efisensi, hingga semakin ketatnya situasi persaingan perdagangan global.

Semakin ketatnya persaingan ini tentu akan memberikan semangat kompetisi di satu pihak, namun dipihak lain dapat juga menjadi suatu ancaman bagi kelangsungan dan perkembangan usaha. Ancaman ini tidak hanya datang dari faktor pesaing saja, tetapi juga banyak faktor lain yang mempengaruhi dalam lingkungan bisnisnya. Keadaan ini memaksa dunia usaha untuk mau lebih peduli dan tanggap terhadap lingkungan usahanya, baik itu lingkungan internal maupun lingkungan eksternalnya. Dalam upaya meningkatkan kembali daya saing sektor industri garmen khususnya, diperlukan strategi yang tepat agar mampu mengakomodasi dan mengantisipasi kondisi lingkungan yang perubahannya cenderung terjadi secara cepat karena didorong oleh globalisasi ekonomi dan perkembangan teknologi.  Untuk mengantisipasi semua permasalahan itu, maka diperlukan manajemen strategi.

Manajemen strategi dapat didefinisikan sebagai seni dan pengetahuan untuk merumuskan, mengimplementasikan, dan mengevaluasi keputusan lintas fungsional yang membuat organisasi mampu mencapai objektifnya (Fred R. David 2002:5). Dengan kata lain, manajemen strategi merupakan sejumlah keputusan dan tindakan yang mengarah pada penyusunan suatu strategi yang efektif untuk membantu pengambilan keputusan yang tepat mengenai arah perusahaan, dengan cara pemanfaatan seluruh potensi sumber daya yang dimiliki dan kemampuan untuk memanfaatkan peluang yang ada secara optimal untuk mencapai tujuannya. Dalam manajemen strategi terdapat tahapan-tahapan, yaitu perumusan strategi, implementasi strategi, dan evaluasi strategi, yang dikenal sebagai proses yang dinamik dan memerlukan pengamatan dan penilaian yang terus menerus yang disesuaikan dengan kondisi lingkungan usahanya.

Perumusan strategi dilakukan dengan menggunakan proses analitis untuk mengetahui kondisi perusahaan dan dampaknya terhadap masa yang akan datang. Strategi yang tepat dipilih melalui perumusan strategi dimulai dengan tahapan awal mengembangkan misi bisnis, tahap kedua mengenali kekuatan dan kelemahan dalam lingkungan internal perusahaan, serta peluang dan ancaman dari lingkungan eksternal perusahaan, tahap ketiga menetapkan sasaran jangka panjang, dan tahapan yang terakhir menghasilkan strategi alternatif dan memilih strategi tertentu yang dianggap tepat untuk dilaksanakan.

Bagian penting dalam perumusan strategi salah satunya adalah analisis lingkungan, yaitu proses monitoring (pemantauan) terhadap faktor-faktor lingkungan dengan mencoba mengidentifikasikan faktor-faktor terpenting dan mengimplementasikannya pada perusahaan. Manajemen strategi menekankan pada pengamatan dan mensinergikan antara kekuatan (strength) dan kelemahan (weakness) lingkungan internalnya dengan peluang (opportunity) dan ancaman (threat) lingkungan eksternalnya. Lingkungan internal perusahaan yang dianalisis dilakukan melalui pendekatan pada bagian fungsional perusahaan, yaitu pemasaran, produksi/operasi, sumberdaya manusia, dan keuangan. Sedangkan pada lingkungan eksternal perusahaan yang dianalisis berupa lingkungan jauh, lingkungan industri, dan lingkungan operasional. Dimana kedua lingkungan ini, baik internal maupun eksternal memiliki pengaruh yang cukup besar bagi perusahaan.  Oleh karena itu, manajemen perlu untuk memperhatikan lingkungan sekarang dengan yang akan datang, sebagai dasar pengambilan keputusan strategi yang tepat bagi kelangsungan dan perkembangan perusahan.

PT. Pesona Remaja sebagai perusahaan yang bergerak dalam bidang garmen, menghasilkan produk berupa celana jeans dengan merek DNE dan MAX DAVID. Dalam menjalankan aktivitasnya perusahaan ini perlu untuk menerapkan manajemen strategi untuk mempermudah pencapaian tujuannya, dengan cara melihat dan mengenali secara objektif kondisi internal dan eksternal, kekuatan dan kelemahan yang dimiliki, guna mengatasi ancaman dan peluang agar dapat mempertahankan atau bahkan mengembangkan posisi perusahaan di lingkungan usaha yang cenderung berubah dengan cepat.

Berdasarkan pemikiran diatas, maka penelitian pada PT. Pesona Remaja Industri ditulis dengan tujuan untuk melihat dan mengenali lebih jauh analisa lingkungan dalam proses merumuskan strategi yang cocok guna kelangsungan dan perkembangan perusahaan dimasa yang akan datang, dengan skripsi yang berjudul: “PERUMUSAN STRATEGI PADA PT. PESONA REMAJA INDUSTRI MALANG”.

 

 

            1.2 Rumusan Masalah

Semua kegiatan bisnis yang dijalankan oleh PT. Pesona Remaja Industri tidak pernah lepas dari pengaruh lingkungan bisnis tempat dimana perusahaan beroperasi. Lingkungan bisnis terkadang berubah sangat cepat dan terjadi secara terus-menerus, menuntut perusahaan untuk dapat memperkirakan dan mengelola lingkungan tersebut dengan baik agar tidak menghambat proses pencapaian tujuan perusahaan.

PT. Pesona Remaja Industri dalam hal ini harus mampu menganalisa dan mengantisipasi perubahan lingkungan, baik itu dari lingkungan internal yang masih bisa dikendalikan maupun dari lingkungan eksternal yang sukar untuk dikendalikan. Pengaruh dari kedua analisis lingkungan ini sangat besar dalam proses perumusan dan pemilihan strategi yang tepat demi kelangsungan hidup dan perkembangan PT. Pesona Remaja Industri. Analisis lingkungan internal dan eksternal memberikan identifikasi mengenai kekuatan dan kelemahan serta peluang dan ancaman yang dimiliki, sehingga PT. Pesona Remaja Industri   mampu membangun daya saing dan berkembangan dengan masih memperhatikan misi dan tujuan awal.

Permasalahan utama yang dihadapi PT. Pesona Remaja Industri adalah faktor-faktor lingkungan apakah yang mempengaruhi perusahaan beroperasi dalam rangka menentukan strategi yang tepat bagi perusahaan sesuai dengan lingkungan bisnis tempat dimana PT. Pesoan Remaja beroperasi?

 

 

            1.3 Tujuan Penelitian

Adapun tujuan dari diadakannya penelitian ini, yaitu:

1. Mengetahui kegiatan bisnis yang dilakukan oleh PT. Pesona Remaja Industri.

2. Mengidentifikasi faktor-faktor lingkungan internal dan eksternal yang dimiliki untuk menentukan kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman PT. Pesona Remaja Industri.

3. Merumuskan strategi yang sesuai bagi PT. Pesona Remaja Industri berdasarkan analisis lingkungan internal dan eksternal.

 

 

            1.4 Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan bermanfaat bagi banyak pihak. Berikut ini manfaat yang diharapkan oleh penulis:

1. Secara akademis:

            a. Sebagai sarana untuk mengaplikasikan ilmu yang telah didapat dengan memberi masukan terhadap masalah yang dihadapi oleh perusahaan.

            b. Mengembangkan ilmu manajemen strategi melalui terjun secara langsung di masyarakat.

            c. Dapat digunakan sebagai bahan informasi ilmiah yang dapat digunakan sebagai awal penelitian dalam kapasitas masalah yang sama.

            2. Secara praktis:

            a. Perusahaan diharapkan mengetahui tentang ancaman, peluang, kekuatan, dan kelemahan yang dimilikinya dan mengambil kebijakan yang tepat untuk kelangsungan hidup usahanya.

            b. Perusahaan dapat melakukan analisis lingkungan secara simultan untuk mencari peluang yang menguntungkan dengan menerapkan konsep manajemen strategi.

 

ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI OMSET USAHA DAN POSISI BERSAING PADA SENTRA INDUSTRI MEBEL KAYU DI KELURAHAN TUNJUNGSEKAR, KOTA MALANG

Abstraksi

 

 

 Salah satu UMKM potensial di Kota Malang yang memiliki peluang untuk dikembangkan melalui omset usaha dan posisi bersaing adalah Sentra Industri Mebel Kayu di Kelurahan Tunjungsekar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui 1) Profil usaha dan pengusaha pada Sentra Industri Mebel Kayu; 2) Faktor-faktor yang mempengaruhi omset usaha dan posisi bersaing; 3) Pola industri pada Sentra Industri Mebel Kayu. Jenis penelitian ini adalah explanatory research. Hasil penelitian menunjukkan bahwa profil usaha dan pengusaha adalah meliputi tenaga kerja, omset, modal, bahan baku, produksi, pemasaran, teknologi, administrasi, kemitraan, dan koperasi. Variabel tenaga kerja, modal, network, koperasi, dan harga terbukti mempengaruhi omset usaha secara simultan, sedangkan variabel inovasi, kualitas, loyalitas, respon, harga, koperasi, badan hukum, dan SDM terbukti mempengaruhi posisi bersaing secara simultan. Pola industri menunjukkan hubungan antara industri inti-industri pemasok-industri terkait- industri pendukung-pembeli-serta institusi pendukung.

 

Kata kunci: UMKM, Omset, Posisi bersaing.

 

 

Abstract

 

 

One of the potential UMKM in Malang City owning opportunity to be developed through the omzet and position competition is Industrial Sentra of Wood Furniture in Sub District Tunjungsekar. This research aim  to know the 1) Profile of  this effort and entrepreneur at Industrial Sentra of Wood Furniture; 2) Factors influencing omzet and position competition 3) Industrial pattern at Industrial Sentra of Wood Furniture. This Research type is explanatory research. Result of research indicate that the profile of this effort and entrepreneur is cover the labour, omzet, capital, raw material, produce the, marketing, technological, administration, partner, and co-operation. Labour variable, capital, network, co-operation, and price proven to influence the omzet by simultan, while innovate variable, quality, loyalitas, respon, price, co-operation, legality, and SDM proven to influence the position competition by simultan. Industrial pattern show the relation/link of among core industry-suppliers industry-related industry-supportered industry-buyers, and supportered institution.    

 

Keyword: UMKM, Omzet, Position competition.

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

1.1. Latar Belakang

            Setiap upaya pembangunan ekonomi daerah bertujuan meningkatkan jenis dan jumlah peluang kerja (Arsyad, 2004:298). Pembangunan ekonomi daerah diera otonomi menghadapi berbagai tantangan baik internal maupun eksternal, seperti masalah kesenjangan dan iklim  globalisasi, yang akhirnya menuntut tiap-tiap daerah untuk mampu bersaing di dalam dan luar negeri (Bappenas, 2004:74). Kesenjangan dan globalisasi berimplikasi kepada propinsi, kabupaten/kota untuk melaksanakan percepatan pembangunan ekonomi daerah melalui pengembangan ekonomi daerah berdasarkan potensi sektor unggulan yang dimiliki oleh masing-masing daerah. 

Pembangunan ekonomi Kota Malang  merupakan bagian integral dari upaya pembangunan nasional yang harus dilaksanakan dan diselaraskan secara terpadu antara sektor yang satu dengan sektor lain. Pembangunan ekonomi Kota Malang mengacu pada Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Propinsi Jawa Timur Tahun 2006, diantaranya dengan menempatkan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) pada posisi yang strategis untuk mempercepat perubahan struktural dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat banyak, serta sebagai wadah kegiatan usaha bersama bagi produsen maupun konsumen. Pengembangan UMKM merupakan langkah strategis dalam meningkatkan dan memperkuat dasar kehidupan perekonomian sebagian besar rakyat Indonesia, khususnya dalam hal penyediaan lapangan kerja, mengurangi kesenjangan dan kemiskinan, mempercepat pemulihan ekonomi, serta memperkuat landasan pembangunan yang berkelanjutan dan berkeadilan berdasarkan sistem ekonomi kerakyatan. Ekonomi rakyat adalah kegiatan ekonomi yang diselenggarakan oleh kebanyakan rakyat Indonesia dan pada umumnya terdiri atas koperasi, pengusaha mikro, pengusaha kecil dan menengah dalam rangka mewujudkan demokrasi ekonomi di Indonesia. Sedangkan ekonomi kerakyatan adalah sistem ekonomi yang berorientasikan pada peningkatan partisipasi produktif masyarakat dalam penyelenggaraan ekonomi (Renstra KUKM, 2004-2009:2). Pelaksanaan ekonomi kerakyatan lebih diarahkan pada upaya optimalisasi potensi setiap wilayah berdasarkan kondisi sumber daya alam, manusia, lingkungan, kreatifitas dan energi masyarakat yang bersangkutan. Pembangunan berbasis kerakyatan berarti pembangunan ekonomi yang berorientasi pada kesejahteraan rakyat dengan bertumpu pada pemberian kesempatan kerja yang sama dan seluas-luasnya bagi masyarakat yang beraktifitas di bidang ekonomi (Yustika, 2003:108).

Salah satu perwujudan nyata dari kegiatan ekonomi rakyat yang bertumpu pada kekuatan sendiri, terdesentralisasi, beragam, dan merupakan kelompok usaha yang mampu menjadi buffer saat perekonomian dilanda krisis adalah meningkatkan kegiatan pengembangan UMKM. Keragaman UMKM seperti peternak kecil, petani gurem, industri kecil, industri rumah tangga, usaha kerajinan, adalah pelaku ekonomi yang memberi andil cukup besar dalam denyut nadi kehidupan masyarakat. UMKM memiliki fungsi dan peran yang sangat penting, karena sektor tersebut tidak hanya sebagai sumber mata pencaharian orang banyak, tetapi juga menyediakan langsung lapangan kerja bagi mereka yang tingkat pengetahuan dan ketrampilannya rendah. Selain itu UMKM juga berperan memberikan kontribusi yang signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi, memeratakan tingkat pendapatan (omset), serta meningkatkan daya saing dan daya tahan ekonomi nasional. Menurut Brata (dalam Yustika 2005:45), UMKM memberikan kontribusi positif terhadap PDRB sebesar 56,7% dibanding dengan ekspor non migas yang hanya memberi kontribusi sebesar 15%. UMKM juga memberikan  kontribusi sebesar 99% dalam jumlah badan usaha di Indonesia dan 99,6% dalam penyerapan tenaga kerja.

Pengembangan UMKM menjadi sangat relevan dilakukan di daerah-daerah di Indonesia mengingat struktur usaha yang berkembang selama ini bertumpu pada keberadaan industri kecil/rumah tangga/menengah, meskipun dengan kondisi yang memprihatinkan, baik dari segi nilai tambah maupun dari keuntungan yang diperoleh. Tanpa disadari ternyata cukup banyak industri kecil/rumah tangga/menengah selama ini berorientasi ekspor, sehingga sangat membantu pemerintah dalam mendapatkan devisa, dibandingkan usaha besar yang justru mengeksploitasi pasar domestik dalam  penjualannya. Sektor industri kecil/rumah tangga/menengah telah terbukti lebih fleksibel dalam berbagai kondisi perekonomian yang tidak menguntungkan, seperti krisis  ekonomi. Pada saat industri besar gulung tikar, industri kecil yang berorientasi ekspor malah memperoleh keuntungan berlipat, karena industri kecil lebih banyak memakai bahan baku (intermediate goods) dari dalam negeri, sehingga tidak membebani nilai impor seperti yang selama ini dialami oleh usaha besar (Yustika, 2003:113). Ada lima keadaan yang memungkinkan industri kecil mampu bertahan dari persaingan yang datang dari industri berskala besar menurut Supratikno (dalam Yustika, 2003:114) adalah sebagai berikut: Pertama, usaha industri kecil bergerak dalam pasar yang terpecah-pecah (fragmented market), sehingga keberadaan skala ekonomi tidak terlalu penting yang menyebabkan skala ekonomi usaha besar tidak menonjol. Kedua, usaha industri kecil menghasilkan produk-produk dengan karakteristik elastisitas pendapatan yang tinggi, sehingga apabila terjadi kenaikan pendapatan masyarakat, permintaan akan produk-produk UMKM juga meningkat. Ketiga, usaha kecil memiliki tingkat heterogenitas tinggi, khususnya heterogenitas teknologi yang bisa digunakan, sehingga dapat menghasilkan variasi produk yang beraneka ragam. Keempat, usaha industri kecil tergabung dalam suatu klaster (sentra industri), sehingga mampu memanfaatkan efisiensi kolektif, misalnya dalam hal pembelian bahan baku, pemanfaatan tanaga kerja terampil, dan pemasaran bersama. Kelima, usaha industri kecil diuntungkan oleh kondisi geografis, yang membuat produk-produk industri kecil memperoleh proteksi alami karena pasar yang dilayani tidak terjangkau oleh inovasi produk-produk industri skala besar. 

Namun dalam perkembangannya, UMKM masih belum menjalankan fungsi dan peranannya secara maksimal karena menghadapi berbagai kendala seperti masalah keterbatasan modal, teknik produksi, bahan baku, pemasaran, manajemen dan teknologi. Selain itu hambatan yang dihadapi oleh UMKM adalah  keterbatasan dalam mengakses informasi pasar, keterbatasan jangkauan pasar, keterbatasan jaringan kerja, dan keterbatasan mengakses lokasi usaha yang strategis.

Kota Malang sebagai salah satu kota di Jawa Timur yang mempunyai kewenangan untuk mengembangkan ekonomi daerah dengan tujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, pelayanan umum, dan daya saing daerah. Salah satu usaha pengembangan ekonomi yang dilakukan adalah pengembangan UMKM, yaitu dengan melihat kinerja UMKM melalui omset usaha dan posisi bersaing. Secara umum kondisi UMKM di Kota Malang sebagian besar belum dikelola secara profesional, tanpa manajemen yang jelas, dan masih bersifat subsistem. Sentra UMKM di Kota Malang tersebar dalam lima kecamatan dan 57 kelurahan dengan jumlah keseluruhan sebanyak 1078 buah. Penyebaran UMKM terbesar berada di Kecamatan Sukun sebanyak 274 unit usaha (25,4%), kemudian Kecamatan Klojen sebanyak 257 unit usaha (23,8%), Kecamatan Lowokwaru sebanyak 228 unit usaha (21,2%), Kecamatan Blimbing sebanyak 213 unit usaha (19,6%), dan Kecamatan Kedungkandang sebanyak 106 unit usaha (9,8%). Sedangkan tabel sentra potensial industri kecil/kerajinan yang berada di Kota Malang adalah sebagai berikut:

Tabel  1.1

Daftar Sentra Potensial Industri Kecil/Kerajinan

Kota Malang

NO

Jenis Usaha

Kelurahan/

Kecamatan

Unit Usaha

Jumlah Tenaga Kerja

Nilai Produksi

Ketua Kelompok

 

Sumber: Disperindagkop Kota Malang, 2004.

 

 Menurut tabel tersebut, UMKM potensial yang memiliki peluang untuk dikembangkan adalah Sentra Industri Kerajinan Mebel Kayu yang terletak di Kelurahan Tunjungsekar, Kecamatan Lowokwaru. Agar pengembangan UMKM dapat berjalan dengan baik dan memberikan kontribusi positif dalam pembangunan ekonomi Kota Malang, maka diperlukan format pengembangan UMKM yang tepat, yang diarahkan pada pengembangan komoditas berdasarkan kriteria cabang industri yang ada. Kriteria menurut Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi (Disperindagkop) adalah diarahkan kepada industri kecil yang menggunakan teknologi sederhana, industri kecil yang dapat menyerap tenaga kerja, industri kecil yang telah dikerjakan secara kelompok/sentra, serta industri yang berakar dari bakat ketrampilan/seni masyarakat setempat.

 Berdasarkan uraian di atas maka penulis mengambil judul ”Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Omset Usaha dan Posisi Bersaing pada Sentra Industri Mebel  Kayu di Kelurahan Tunjungsekar, Kota Malang”. Penelitian ini mengambil obyek penelitian sentra industri mebel kayu dengan alasan industri tersebut memenuhi kriteria Disperindagkop untuk dikembangkan. Industri mebel kayu meskipun dengan skala usaha maupun modal yang jumlahnya relatif kecil, namun untuk beberapa produk tertentu memiliki ciri khas (paten), sehingga mampu mengalahkan produk industri besar bahkan mampu menembus pasar internasional. Secara teori, produksi industri besar dibuat dengan mesin besar dan biaya besar akan meningkatkan harga jual yang tinggi. Namun produk yang dibuat hanya menggunakan mesin nilai culture-nya secara otomatis akan berkurang. Sedangkan industri kecil seperti mebel kayu tetap mempunyai kesempatan besar untuk survive bahkan berkembang pesat, karena  ada kelompok tertentu misalnya turis asing akan membeli barang-barang dari industri kecil disebabkan nilai culture suatu bangsa daripada melihat kegunaan/manfaatnya (Tambunan, 2002:2).

1.2. Rumusan  Masalah

 Berdasarkan uraian diatas, rumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

                  1. Bagaimana profil usaha dan pengusaha pada Sentra Industri Mebel Kayu di Kelurahan Tunjungsekar, Kota Malang?

                  2. Faktor-faktor apakah yang mempengaruhi omset usaha dan posisi bersaing pada Sentra Industri Mebel Kayu di Kelurahan Tunjungsekar, Kota Malang?

                  3. Bagaimana pola industri pada Sentra Industri Mebel Kayu di Kelurahan Tunjungsekar, Kota Malang?

 

1.3. Tujuan Penelitian

 Berdasarkan uraian diatas, tujuan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

                        1. Mengetahui profil usaha dan pengusaha pada Sentra Industri Mebel Kayu di Kelurahan Tunjungsekar, Kota Malang.

                        2. Mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi omset usaha dan posisi bersaing pada Sentra Industri Mebel Kayu di Kelurahan Tunjungsekar, Kota Malang.

                        3. Mengetahui pola industri pada Sentra Industri Mebel Kayu di Kelurahan Tunjungsekar, Kota Malang.

 

 

1.4. Manfaat  Penelitian

 Berdasarkan uraian diatas, manfaat dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

                        1. Bagi Penulis

 

 Merupakan sarana dalam  menerapkan dan mengembangkan ilmu yang telah dipelajari di bangku perkuliahan, khususnya di bidang ilmu ekonomi dan studi pembangunan dalam studi ekonomi regional dan perencanaan pembangunan.

                        2. Bagi Kalangan Akademisi

 

 Merupakan wahana informasi pemikiran dan sumber tambahan untuk mengembangkan penelitian  lebih lanjut dengan tema yang sama.

                        3. Bagi Pemerintah Daerah

 

 Merupakan bahan masukan dalam hal kebijakan pengembangan UMKM potensial Kota Malang.

PENGARUH CORPORATE GOVERNANCE DAN STRUKTUR KEPEMILIKAN TERHADAP AGENCY COSTS

PENGARUH CORPORATE GOVERNANCE DAN STRUKTUR KEPEMILIKAN TERHADAP AGENCY COSTS

 

Oleh :

Ani Karina

0210230010

 

Dosen Pembimbing :

Didied P.Affandy, SE, MBA, Ak.

 

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh corporate governance yang diukur melalui jumlah dewan direksi dan juga pengaruh struktur kepemilikan terhadap agency costs. Penelitian ini mengacu kepada penelitian yang telah dilakukan oleh Faisal (2005). Yang menemukan bahwa struktur kepemilikan tidak berpengaruh secara signifikan terhadap agency costs sedangkan jumlah dewan direksi berpengaruh secara signifikan terhadap agency costs.

 Penelitian ini memfokuskan pada perusahaan manufaktur yang listing di Bursa Efek Jakarta (BEJ) selama periode 2001-2004. Metode yang digunakan adalah purposive random sampling dan mendapatkan 260 perusahaan selama periode empat tahun. Penelitian ini menggunakan metode analisis statistik regresi linier berganda (multiple regression). Pengukuran agency costs melalui asset turnover dan selling and general administrative. 

 Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa jumlah dewan direksi berpengaruh secara signifikan terhadap agency costs sedangkan struktur kepemilikan tidak berpengaruh secara signifikan terhadap agency costs dan didapatkan hasil juga bahwa ukuran perusahaan berpengaruh secara signifikan terhadap agency costs melalui pengukuran selling and general administrative (SG&A).

 

Kata Kunci : Board of Directors, Managerial Ownership, Institusional Ownership, Agency Costs.

THE EFFECT OF CORPORATE GOVERNANCE AND OWNERSHIP STRUCTURE TO AGENCY COSTS

 

By :

Ani Karina

0210230010

 

Lectures :

Didied P.Affandy, SE, MBA, Ak.

 

ABSTRACT

The purpose of this research is to test the effect of corporate governance which is measured by Board of Directors total and the effect of ownership structure against agency costs. This research is based on the previous research by Faisal (2005), which found that ownership structure is not significant effect to agency cost, but Board of Directors total have significant effect to agency cost.

This research focus on manufacturing companies which is listed in Bursa Efek Jakarta for period 2001-2004. The method which used is purposive random sampling and got 260 companies for period 2001-2004. The statistical method used in this research is the multiple regretion. Agency Cost measuring by asset turnover and selling and general administrative.

 The result of this research shows that Board of Directors total have significant effect to agency cost, but ownership structure is not significant effect to agency cost and got the other result that firm size have significant effect to agency cost by selling and general administrative measurements.

 

Keyword :    Board of Directors, Managerial Ownership, Institusional Ownership,

        Agency Costs.

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

            1.1.   Latar Belakang

Perusahaan yang go public di kelola dengan memisahkan antara fungsi kepemilikan dengan fungsi pengelolaan atau manajerial. Masalah corporate governance timbul karena terjadi pemisahan antara kepemilikan dan pengendalian perusahaan (Husnan, 2001). Dengan pemisahan ini, pemilik perusahaan akan memberikan kewenangan pada pengelola (manajer) untuk mengurus jalannya perusahaan seperti mengelola dana dan mengambil keputusan perusahaan lainnya untuk dan atas nama pemilik. Dengan kewenangan yang dimiliki ini, mungkin saja pengelola (manajer) tidak bertindak yang terbaik untuk kepentingan pemilik karena adanya perbedaan kepentingan (conflict of interest). Dengan informasi yang dimiliki, manajer bisa bertindak yang hanya menguntungkan dirinya sendiri, dengan mengorbankan kepentingan principal (pemilik). Hal ini mungkin terjadi karena manajer mempunyai informasi mengenai perusahaan, yang tidak dimiliki pemilik perusahaan (asymmetric information) (Gunarsih, 2003). (Richardson, 1998 ; DuCharme et al., 2000 dalam Hastuti, 2005) mengemukakan hal serupa bahwa dengan pemisahan ini maka akan menimbulkan dampak negatif yaitu keleluasaan manajer perusahaan untuk memaksimalkan laba. Hal ini akan mengarah pada proses memaksimalkan kepentingan manajemen sendiri dengan biaya yang harus ditanggung oleh pemilik perusahaan. 

 Masalah corporate governance dapat ditelusuri dari pengembangan agency theory yang mencoba menjelaskan bagaimana pihak-pihak yang terlibat dalam perusahaan (manajer, pemilik perusahaan dan kreditor) akan berperilaku, karena mereka pada dasarnya mempunyai kepentingan berbeda. 

Manajer mempunyai kewajiban untuk memaksimumkan kesejahteraan para pemegang saham, namun disisi lain manajer juga mempunyai kepentingan untuk memaksimumkan kesejahteraan mereka. Penyatuan kepentingan pihak-pihak ini seringkali menimbulkan masalah yang disebut dengan masalah keagenan (agency conflict). 

Teori keagenan (agency theory ) mengemukakan jika antar pihak principal (pemilik) dan agent (manajer) memiliki kepentingan yang berbeda, muncul konflik yang dinamakan konflik keagenan (agency conflict) (Richardson, 1998 ; DuCharme et al., 2000 dalam Hastuti, 2005). Hal senada diungkapkan oleh Jensen & Meckling (1976) dalam Ummah (2005) bahwa agency conflict muncul akibat adanya pemisahan antara kepemilikan dan pengendalian perusahaan. Perusahaan yang memisahkan fungsi pengelolaan dengan fungsi kepemilikan akan rentan terhadap agency conflict.

Agency conflict sendiri terbagi menjadi dua bentuk, yaitu : (1) agency conflict antara pemegang saham dan manajer. Penyebab konflik antara manajer dengan pemegang saham diantaranya adalah pembuatan keputusan yang berkaitan dengan aktifitas pencarian dana (financing decision) dan pembuatan keputusan yang berkaitan dengan bagaimana dana yang diperoleh tersebut diinvestasikan, (2) agency conflict antara pemegang saham dan kreditor. 

Biaya yang dikeluarkan oleh perusahaan untuk mengurangi masalah keagenan (agency conflict) tersebut dikenal sebagai agency costs (biaya keagenan) yang meliputi pengeluaran monitoring, bonding dan residual loss (Zulhawati, 2004). Brigham dan Daves (2004) dalam Ummah (2005) mendefinisikan agency costs sebagai biaya yang ditanggung oleh pemegang saham untuk mendorong manajer agar memaksimumkan harga saham jangka panjang daripada bertindak sesuai kepentingan mereka sendiri.

Terdapat beberapa alternatif yang dapat digunakan untuk mengurangi agency costs, antara lain : (1) mensejajarkan kepentingan manajemen dengan pemegang saham dengan mengikutsertakan manajer untuk memiliki saham perusahaan tersebut (insider ownership), (2) meningkatkan dividend payout ratio, (3) meningkatkan pendanaan dari utang, dan (4) meningkatkan kepemilikan institusional. Lebih lanjut Jensen & Meckling (1976) dalam Nirwana (2005) menunjukkan bahwa struktur kepemilikan, keputusan pendanaan dan kebijakan dividen dapat digunakan untuk mengurangi agency costs yang bersumber pada masalah keagenan (agency conflict).

Menurut Jensen dan Meckling (1976) dalam Faisal (2005) kepemilikan manajerial dan kepemilikan institusional adalah dua mekanisme corporate governance utama yang membantu mengendalikan masalah keagenan (agency conflict). Crutchley dan Hansen (1989), Bathala et al. (1994) dalam Faisal (2005)  menyimpulkan bahwa kepemilikan manajerial yang tinggi dapat digunakan untuk mengurangi masalah keagenan. Hal tersebut didasarkan pada logika bahwa peningkatan proporsi saham yang dimiliki manajer akan menurunkan kecenderungan manajer untuk melakukan tindakan mengkonsumsi perquisites yang berlebihan, dengan demikian akan menyatukan kepentingan antara manajer dengan pemegang saham.

Morck et al. (1988) dalam Faisal (2005) menyatakan bahwa hubungan positif antara kepemilikan manajerial dengan nilai perusahaan hanya terletak pada level 0%-5% sedangkan level 5%-25% bernilai negatif. McConnell dan Servaes (1990,1995) dalam Faisal (2005) menyatakan hal serupa bahwa terdapat hubungan positif antara kepemilikan manajerial dengan nilai perusahaan pada saat level kepemilikan 40%-50% dan bernilai negatif ketika melebihi level 50%. Morck et al. mengatakan pada level kepemilikan manajerial lebih besar dari 5%-25% manfaat privat yang diperoleh agen (manajer) melebihi cost yang dikeluarkan akibat kerugian dari keputusan-keputusan yang tidak memaksimalkan nilai perusahaan.

Hal senada ditemukan dalam penelitian yang dilakukan oleh Faisal (2005). Faisal (2005) mengatakan terdapat hubungan yang negatif antara kepemilikan manajerial dengan biaya keagenan (agency costs). Hal ini mengindikasikan bahwa hubungan kepemilikan manajerial dengan biaya keagenan (agency costs) gagal sebagai mekanisme untuk meningkatkan nilai perusahaan. Kesimpulan lain yang didapat melalui penelitian Faisal yaitu semakin tinggi kepemilikan manajerial justru meningkatkan diskresi manajerial. Faisal (2005) menunjukkan bahwa semakin tinggi kepemilikan manajerial semakin tinggi biaya keagenan (agency costs) yang diukur dengan beban operasi. 

Penelitian mengenai pengaruh kepemilikan institusional terhadap agency costs dilakukan oleh Crutchley et al. (1999). Crutchley menyatakan bahwa kepemilikan oleh institusional juga dapat menurunkan agency costs, karena dengan adanya monitoring yang efektif oleh pihak institusional menyebabkan penggunaan utang menurun. Hal ini karena peranan utang sebagai salah satu alat monitoring sudah diambil alih oleh kepemilikan institusional. Dengan demikian kepemilikan institusional dapat mengurangi agency cost of debt

Moh’d et al. (1998) dalam Nuridha (2006) menyatakan bahwa distribusi saham antara pemegang saham dari luar yaitu investor institusional dan shareholders dispersion dapat mengurangi agency costs. Adanya kepemilikan institusional seperti perusahaan asuransi, bank, perusahaan investasi dan kepemilikan oleh institusi lain akan mendorong peningkatan pengawasan yang lebih optimal terhadap kinerja manajemen.

Sebaliknya penelitian yang dilakukan oleh Faisal (2005) diperoleh hasil yang berbeda. Faisal (2005) menyatakan bahwa hubungan antara kepemilikan institusional dengan biaya keagenan (agency costs) adalah negatif. Masih berdasarkan hasil penelitian Faisal (2005) bahwa hal ini mengindikasikan kepemilikan institusional belum efektif sebagai alat memonitor manajemen dalam meningkatkan nilai perusahaan.  

Fama (1980) dalam Faisal (2005) menyatakan bahwa dewan direksi merupakan mekanisme pengendalian internal utama yang memonitor manajer. Tiga karakteristik yang mempengaruhi monitoring adalah ukuran dewan direksi, komposisi dewan direksi dan struktur kepemimpinan direksi (Jensen, 1993) dalam Faisal (2005).

Shaw (1981), Jewel dan Reitz (1981), Olson (1982), Galdstein (1984), Lipton dan Lorsch (1992) dan Jensen dan Meckling (1976) dalam Faisal (2005) menyatakan bahwa jumlah dewan direksi yang besar kurang efektif dalam memonitor manajemen. Hal tersebut didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh Yermacrk (1996) dan Eisenberg et al. (1998) dalam Faisal (2005) yang menyatakan bahwa jumlah dewan direksi yang kecil meningkatkan kinerja perusahaan. Menurut Yermack (1996) dalam Faisal (2005) ukuran dewan direksi yang besar akan mengganggu kepentingan pemegang saham. Singh et al. (2003) dalam Faisal (2005) menyatakan bahwa ukuran dewan direksi yang kecil secara positif dan  signifikan mempengaruhi efisiensi pemanfaatan aktiva namun tidak mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap pengurangan biaya keagenan yang diukur dengan beban operasi. Semakin besar ukuran dewan direksi semakin besar beban diskresi manajerial yang terjadi. Dengan demikian ukuran dewan direksi tidak menunjukkan biaya keagenan (agency costs).

Sebaliknya penelitian yang dilakukan oleh  Brickley dan James (1987) ; Byrd dan Hickman (1992) ; Lee et al. (1992) dalam Faisal (2005) menyatakan bahwa outside director dapat memberikan kontribusi terhadap nilai perusahaan melalui aktifitas evaluasi dan keputusan strategis serta pengurangan inefisiensi dan kinerja yang rendah (Weisbach, 1988 dalam Faisal, 2005). Dengan demikian maka dapat dinyatakan bahwa ukuran dan komposisi dewan direksi secara signifikan berpengaruh terhadap kinerja dengan adanya penurunan biaya keagenan (agency costs).  

Pernyataan tersebut didukung oleh hasil penelitian yang dilakukan oleh Faisal (2005) yang menyatakan bahwa ukuran dewan direksi berhubungan positif dengan biaya keagenan (agency costs). Melalui penelitiannya Faisal (2005) memberikan dukungan teori bahwa ukuran dewan direksi dapat dijadikan sebagai variabel yang mempengaruhi biaya keagenan (agency costs).

Meskipun terdapat hasil yang berbeda antara satu penelitian dengan penelitian yang lain mengenai hubungan antara struktur kepemilikan dengan biaya keagenan (agency costs) tetapi penelitian yang dilakukan oleh Ang et al. (1999) dan Singh et al. (2003) dalam Faisal (2005) memberikan bukti terhadap hubungan antara struktur kepemilikan dengan biaya keagenan yang diukur dari pemanfaatan aktiva dan beban operasi. Penelitian dilakukan melalui survei pada perusahaan-perusahaan kecil dengan menghubungkan ukuran absolut dan relatif dari biaya keagenan (agency costs). Hasil yang didapat menyatakan bahwa biaya keagenan (agency costs) pada perusahaan dengan manajemen yang berasal dari luar (outsider) relatif lebih tinggi dibandingkan perusahaan dengan manajemen sendiri (owner managed). Penelitian mereka juga menunjukkan bahwa efisiensi pemanfaatan aktiva dan beban operasi pada perusahaan kecil dipengaruhi oleh kepemilikan manajerial dalam perusahaan. Penelitian Singh et al (2003) dalam Faisal (2005) menganalisis hubungan antara struktur kepemilikan dengan biaya keagenan (agency costs) pada perusahaan-perusahaan besar yang sudah go public. Hasil penelitian Singh et al. (2003) dalam Faisal (2005) mendukung penelitian Ang et al. (1999) dalam Faisal (2005) yang menyatakan bahwa semakin tinggi kepemilikan manajerial secara positif dan signifikan mempengaruhi efisiensi pemanfaatan aktiva perusahaan. 

 Penelitian ini merupakan replikasi dari penelitian yang dilakukan oleh Faisal (2005). Di dalam penelitiannya Faisal (2005) menggunakan sampel penelitian sebanyak 33 perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta dari tahun 1999 sampai dengan tahun 2001. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepemilikan manajerial berhubungan negatif dengan biaya keagenan (agency costs) yang berarti bahwa kepemilikan manajerial belum dapat berfungsi sepenuhnya sebagai mekanisme untuk meningkatkan efisiensi pemanfaatan aktiva perusahaan dan belum dapat menekan diskresi manajerial. Demikian juga dengan kepemilikan institusional yang berhubungan negatif dengan biaya keagenan (agency costs) yang berarti bahwa kepemilikan institusional belum efektif sebagai alat untuk memonitor manajemen dalam meningkatkan nilai perusahaan. Akan tetapi ukuran dewan direksi mampu menunjukkan hubungan yang positif dengan biaya keagenan (agency costs) yang berarti bahwa ukuran dewan direksi dapat dijadikan sebagai variabel yang mempengaruhi biaya keagenan (agency costs). 

Perbedaan penelitian ini dengan penelitian yang telah dilakukan oleh Faisal (2005) yaitu :

1. Tahun yang diamati, pada peneltian ini mengambil tahun 2001 sampai  dengan tahun 2004. Peneliti mempunyai beberapa alasan menggunakan tahun 2001 sampai dengan tahun 2004 yaitu : (1) untuk menghindari periode krisis moneter di Indonesia, dan (2) beberapa riset yang telah ada menunjukkan bahwa periode setelah krisis moneter perekonomian Indonesia belum menunjukkan gejala membaik.

2. Pada penelitian ini, peneliti akan memfokuskan pada perusahaan manufaktur  dengan tujuan untuk menghindari adanya bias yang disebabkan oleh perbedaan industri.

3. Pada penelitian ini, peneliti menghilangkan variabel risiko (RISK). Peneliti memiliki alasan tertentu untuk menghilangkan variabel risiko dikarenakan beberapa hasil penelitian sebelumnya menemukan bahwa tingkat risiko menunjukkan hubungan yang negatif dan tidak signifikan terhadap kepemilikan manajerial (Ismiyanti dan Hanafi, 2003).

 

  

1.2.  Rumusan Masalah

 Berdasarkan uraian diatas maka yang menjadi masalah dari penelitian ini dapat dirumuskan dalam pertanyaan sebagai berikut :

            1. Apakah  kepemilikan manajerial berpengaruh terhadap biaya keagenan (agency costs) ?

            2. Apakah kepemilikan institusional  berpengaruh terhadap biaya keagenan (agency costs) ?

            3. Apakah ukuran dewan direksi berpengaruh terhadap  biaya keagenan (agency costs) ?

 

1. 3.  Tujuan penelitian

 Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah : struktur kepemilikan (kepemilikan manajerial dan kepemilikan institusional) dan ukuran dewan direksi  mempengaruhi biaya keagenan (agency cost) yang diukur dengan perputaran aktiva (asset utilization) dan beban operasi (operating expense).

            1.4.  Motivasi Penelitian

            1. Penelitian ini dilakukan karena adanya hasil-hasil yang tidak konsisten dari penelitian-penelitian sebelumnya mengenai pengaruh struktur kepemilikan terhadap biaya keagenan (agency costs). Sehingga isu mengenai pengaruh struktur kepemilikan terhadap biaya keagenan masih menjadi topik yang menarik untuk diteliti.

            2. Faktor-faktor yang mempengaruhi biaya keagenan (agency costs) perlu terus diteliti agar dapat memberikan petunjuk dan dasar pertimbangan bagi para stakeholder untuk mengambil berbagai keputusan bisnis.

 

 

            1.5.  Manfaat Penelitian

 Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi :

1. Investor dan masyarakat

Dapat memberikan gambaran mengenai pengaruh struktur kepemilikan terhadap biaya keagenan (agency costs) pada   perusahaan-perusahaan manufaktur yang go public di Indonesia. Sehingga investor maupun masyarakat dapat membuat keputusan investasi yang tepat.

2. Dunia penelitian dan akademis

Dapat menambah literatur mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi biaya keagenan (agency costs) pada perusahaan manufaktur di Indonesia. Selain itu, penelitian ini diharapkan dapat memacu penelitian yang lebih baik mengenai pengaruh struktur kepemilikan terhadap biaya keagenan (agency costs) pada masa yang akan datang.

3. Peneliti

Menambah pengetahuan mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi biaya keagenan (agency costs) pada perusahaan-perusahaan publik di Indonesia, khususnya perusahaan yang termasuk dalam sektor manufaktur.

 

Perumusan Strategi Pada PT Karya Niaga Bersama Malang

BAB I

PENDAHULUAN

 

 

              1.1. Latar Belakang

Industri rokok di Indonesia mempunyai peranan penting dalam kegiatan ekonomi masyarakat dan negara. Sebagai negara berkembang dimana rokok merupakan konsumsi bagi sebagian besar masyarakat yaitu sekitar 60% dari jumlah penduduk Indonesia, industri rokok memiliki potensi yang cukup besar untuk berkembang. Perkembangan industri rokok di Indonesia tentu saja membawa pengaruh yang cukup positif dalam beberapa segi khususnya dunia ekonomi. Sebab dengan adanya industri rokok sedikitnya 6 juta tenaga kerja berhasil diserap oleh sekitar 3000 perusahaan rokok di seluruh Indonesia.

Indonesia yang sebagian besar pendapatan dalam negerinya berasal dari sektor pajak, sangat diuntungkan dengan berkembangnya industri rokok. Hal ini disebabkan pemerintah mengenakan tarif yang cukup tinggi bagi cukai rokok. Dalam beberapa tahun terakhir penerimaan negara dari cukai rokok menunjukkan peningkatan. Pada tahun 2003 pendapatan cukai sebesar Rp 26,3 Triliun sedangkan pada tahun 2005 mencapai Rp 32,6 Triliun. Selain masalah penerimaan cukai, regulasi tentang industri rokok diarahkan pada usaha penyerapan tenaga kerja dalam jumlah besar. Oleh karena itu industri rokok sangat berjasa dalam mengurangi tingkat pengangguran dan menggairahkan kegiatan ekonomi masyarakat serta negara. Sebagai industri manufaktur tentu saja industri rokok juga menyokong kegiatan industri bahan baku, dimana dalam hal ini yang paling diuntungkan dengan adanya industri rokok adalah industri perkebunan.

Industri rokok meski memiliki pengaruh positif seperti penjelasan di atas, pada saat ini dan juga masa mendatang memiliki tekanan atau acaman yang cukup kuat dan dapat berpengaruh negatif terhadap perkembangan industri rokok. Rokok sebagai produk utama perusahaan rokok diyakini memiliki ekses terhadap kesehatan manusia. Alasan inilah yang menggerakkan pemerintah dan lembaga swadaya masyarakat (LSM) baik dari dalam maupun luar negeri gencar melakukan kampanye anti rokok. Kampanye yang diimplementasikan dalam beberapa bentuk seperti regulasi promosi atau periklanan bagi industri rokok, regulasi kawasan bebas rokok seperti yang telah diterapkan di Jakarta dan kota-kota lain di luar negeri, penetapan cukai rokok yang sangat besar, dan beberapa kegiatan-kegiatan penyadaran anti rokok lainnya yang dilakukan oleh LSM.

Gerakan kampanye anti rokok jelas berpengaruh negatif terhadap perkembangan industri rokok. Gerakan ini seolah-olah membatasi dan menghambat gerak industri rokok untuk berkembang. Hal ini belum lagi ditambah dengan munculnya sadar kesehatan dan bahaya rokok pada masyarakat. Dan yang paling memukul kalangan perusahaan rokok adalah tidak sehatnya persaingan dalam industri rokok itu sendiri. Lemahnya pengawasan industri dan penegakan hukum menyebabkan munculnya industri rokok rumah tangga tanpa ijin resmi dan cukai. Hal ini menyebabkan harga jual rokok illegal tersebut jauh dibawah harga jual rokok berpita cukai. Di tengah kondisi perekonomian yang sulit saat ini, banyak konsumen yang lebih memilih rokok tanpa cukai tersebut dengan alasan harga jual yang jauh lebih murah.

Tekanan pada industri rokok yang semakin berat tersebut memaksa perusahaan untuk lebih pandai menyiasati kondisi yang ada. Hal ini pula yang sedang dialami oleh P.T Karya Niaga Bersama Malang (KNBM), perusahaan yang memproduksi rokok merk Grendel ini dituntut untuk mampu merespon dan mengantisipasi segala perubahan yang terjadi di lingkungan perusahaan.

Setiap perusahaan termasuk P.T Karya Niaga Bersama Malang tentunya memiliki tujuan yang hendak dicapai. Untuk itu diperlukan suatu bentuk manajemen pengambilan keputusan untuk mengantisipasi kondisi yang ada di lingkungan internal ataupun eksternal. Salah satu antisipasi tersebut dapat melalui serangkaian keputusan strategik yang tepat agar tindakan operasional dapat lebih terarah. Keputusan tersebut yang pada akhirnya akan menentukan sejauh mana PT. KNBM dapat mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

Keputusan strategik akan berjalan efektif bila manajemen PT. KNBM telah melaksanakan suatu perumusan strategik. Perumusan strategik sebagai suatu proses memerlukan sebuah umpan balik terhadap segala tindakan dan keputusan yang telah diambil selama ini. Dengan demikian perumusan strategik diharapkan dapat menjawab segala permasalahan yang dihadapi oleh PT. KNBM terutama yang akan terjadi di masa mendatang.

Besarnya peran dan manfaat dari perumusan strategik menuntut manajemen untuk menetapkan misi, tujuan, dan strategi dalam rangka untuk mewujudkan arah dan orientasi PT. KNBM. Berdasarkan uraian masalah tersebut, maka penelitian ini layak untuk dilakukan dengan judul adalah Perumusan Strategi Pada PT Karya Niaga Bersama Malang. 

 

1.2. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas maka dapat disimpulkan bahwa analisis internal dan eksternal dapat memberikan suatu pengaruh pada pengambilan keputusan strategik organisasional. Sehingga  P.T Karya Niaga Bersama Malang dituntut untuk memilih strategi yang tepat bagi tumbuh dan berkembangnya P.T Karya Niaga Bersama dengan memperhatikan misi dan tujuan awal. Sehubungan dengan itu, maka masalah yang hendak diangkat dalam penelitian ini adalah: “Bagaimana perumusan strategi dalam menentukan perkembangan P.T Karya Niaga Bersama Malang di masa depan?”

 

1.3. Tujuan Penelitian

Tujuan yang ingin dicapai dari diadakannya penelitian ini adalah untuk:

1. Mengetahui kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman yang dimiliki perusahaan berdasarkan analisis lingkungan.

2. Mengetahui posisi perusahaan dalam industri untuk menentukan alternatif strategi perusahaan.

3. Menentukan strategi yang efektif guna mencapai sasaran jangka panjang dan jangka pendek serta pelembagaannya di dalam organisasi P.T Karya Niaga Bersama.

 

1.4. Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan bermanfaat bagi banyak pihak, yakni:  Secara akademis:

      1) Sebagai sarana untuk mengaplikasikan ilmu yang telah didapat dengan memberi masukan terhadap masalah yang dihadapi oleh perusahaan.

      2) Mengembangkan ilmu manajemen strategi melalui terjun secara langsung di masyarakat.

      3) Dapat digunakan sebagai bahan informasi ilmiah. 

 

b.   Secara praktis:

1)  Perusahaan diharapkan mengetahui tentang ancaman, peluang, kekuatan, dan kelemahan yang dimilikinya dan mengambil kebijakan yang tepat untuk kelangsungan hidup usahanya.

2) Perusahaan dapat melakukan analisa lingkungan secara simultan untuk mencari peluang yang menguntungkan dengan menerapkan konsep manajemen strategik.

 

PENGARUH BRAND AWARENESS, BRAND PERSONALITY, DAN BRAND CULTURE TERHADAP PEMBENTUKAN BRAND IMAGE PADA ANGGOTA AKTIF AIESEC LOCAL COMMITTEE UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG

ABSTRAKSI

PENGARUH BRAND AWARENESS, BRAND PERSONALITY, DAN BRAND CULTURE TERHADAP PEMBENTUKAN BRAND IMAGE PADA ANGGOTA AKTIF AIESEC LOCAL COMMITTEE UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG

Oleh: Amilia Safitri     

Dosen Pembimbing: Nanang Suryadi, SE,.MSi

 

Penelitian ini dilatar belakangi oleh kondisi image dari AIESEC Local Committee Universitas Brawijaya yang berbeda di benak eksternal stakeholders nya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui dan menemukan pengaruh Brand Awareness, Brand Personality, dan Brand Culture terhadap pembentukan dari Brand Image baik secara simultan (bersama-sama) ataupun secara parsial.

Dengan menggunakan alat analisis regresi linier berganda, variabel brand awareness, brand personality, dan brand culture sebagai independent variable. Sedangkan dependent variable adalah brand image.

Penelitian ini bersifat explanatory research dengan menggunakan pendekatan atau metode penelitian survei, artinya adalah penelitian yang mengambil sampel dari suatu populasi dan menggunakan kuesioner sebagai alat pengumpulan data. Populasi dalam penelitian ini adalah anggota aktif AIESEC Local Committee Universitas Brawijaya Malang yang jumlahnya 59 orang.

Berdasarkan hasil perhitungan regresi linier berganda, diketahui bahwa variabel brand awareness, brand personality, dan brand culture berpengaruh secara serentak terhadap pembentukan dari brand image. Namun secara parsial hanya brand culture yang berpengaruh terhadap pembentukan brand image. Hal tersebut ditunjukan dengan nilai koefisien beta yang di standarisasikan yaitu 0.485. Dari perhitungan adjusted R square yaitu sebesar 0.136. Hal ini berarti 13.6% dari terbentuknya brand image bisa dijelaskan oleh ketiga variabel brand awareness, brand personality, dan brand culture, sedangkan selebihnya 86.4% dijelaskan oleh variabel-variabel lain di luar model.

Dari hasil penelitian ini, diharapkan pengurus AIESEC Local Committee Universitas Brawijaya Malang untuk melakukan assesment process dan pelatihan lebih lanjut lagi dalam hal brand awareness, brand personality dan brand culture nya.

Kata Kunci: brand awareness, brand personality, brand culture, dan brand image.

 

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Penelitian

Pemasaran termasuk salah satu kegiatan operasional yang penting dalam suatu perusahaan. Pemasaran diartikan sebagai ”sistem keseluruhan dari kegiatan usaha yang ditujukan untuk merencanakan, menentukan harga, mempromosikan, dan mendistribusikan barang dan jasa yang dapat memuaskan kebutuhan kepada pembeli yang ada maupun pembeli potential” (Swastha,1996:10). Organisasi baik yang bersifat for – profit ataupun non-for-profit dihadapkan pada kegiatan yang sama dalam hal pemasaran. Dalam organisasi atau perusahaan yang bersifat for – profit kegiatan pemasaran mencakup suatu proses dari pencarian informasi kebutuhan konsumen sampai pada jalinan hubungan pertukaran barang atau jasa yang pada akhirnya diharapkan pencapaian kepuasan baik dipihak konsumen maupun pihak produsen. Sedangkan pada organisasi non-for- profit kegiatan pemasaran mencakup penawaran program yang dimiliki organisasi tersebut sampai pencapaian kepuasan dari stakeholders yang dimiliki sekarang sehingga dapat menarik stakeholders potential yang akan memberikan dukungan terhadap program organisasi non-for profit tersebut. Tetapi seiring dengan persaingan yang ketat menuntut organisasi untuk menciptakan keunggulan kompetitif, disinilah pentingnya merek, karena dalam kondisi yang kompetitif, merek akan membantu pihak eksternal perusahaan dalam membedakan antara produk dan jasa satu dengan yang lainnya.

Menurut penuturan Aaker (1991) merek adalah nama dan atau simbol yang bersifat membedakan (seperti sebuah logo, cap, atau kemasan) untuk mengidentifikasikan barang atau jasa dari seorang penjual atau kelompok penjual tertentu, serta membedakannya dari barang atau jasa yang dihasilkan para pesaing. Pada akhirnya, merek memberikan tanda mengenai sumber produk serta melindungi konsumen maupun produsen dari para pesaing yang berusaha memberikan produk – produk yang tampak identik. 

Terdapat beberapa manfaat dari merek yang kuat yaitu, dapat membangun loyalitas dan loyalitas akan mendorong bisnis berulang kembali, merek yang kuat memungkinkan tercapainya harga premium dan akhirnya memberikan laba yang tinggi, sebuah merek yang sangat mapan dapat memberikan kredibilitas untuk sebuah produk baru, merek yang kuat akan membantu perusahaan dalam melakukan perluasan pasar, dalam menghadapi persaingan yang ketat merek yang kuat merupakan suatu pembeda yang jelas, bernilai, dan berkesinambungan, menjadi ujung tombak bagi daya saing perusahaan dan sangat membantu dalam strategi pemasaran. Secara internal merek yang kuat memberikan kejernihan fokus internal dan eksekusi merek. Merek yang kuat umumnya memberikan pemahaman kepada para karyawan tentang posisi merek tersebut dan apa yang dibutuhkan untuk menopang reputasi atau janji yang diberikan merek itu. Merek yang kuat juga akan memberikan kejelasan arah strategi karena setiap anggota organisasi mengetahui posisinya dan bagaimana cara menghidupkannya di mata pelanggan. Manfaat lain yang diperoleh dari merek yang kuat yaitu memungkinkan perusahaan untuk menarik calon karyawan yang terbaik dan memberikan kepuasan bagi para karyawannya.

Perusahaan yang memiliki merek yang kuat dan pelanggan yang loyal cenderung membuat karyawan bangga terhadap pekerjaannya dan merasa puas. (Siswanto,2004:1-2)

Identitas dan citra perusahaan terbentuk oleh keseluruhan persepsi dari stakeholders yang sudah ada maupun yang potential seperti pelanggan, pemasok, karyawan, masyarakat umum, dan pemerintahan. Dari beberapa macam stakeholders tersebut karyawan merupakan salah satu stakeholders yang memegang peranan penting dalam suatu perusahan ataupun organisasi baik yang bersifat for-profit ataupun yang bersifat non – for – profit, karena karyawan ataupun individu di dalam perusahaan lah yang berinteraksi langsung dengan para pelanggan atau stakeholders yang lain, dimana mereka dapat langsung menilai citra perusahaan dari apa yang mereka rasakan atau yang telah mereka alami selama berinteraksi langsung dengan karyawan suatu perusahaan atau organisasi.

Citra perusahaan atau corporate image dapat dinilai sebagai nilai lebih perusahaan yang dapat dijadikan pelanggan atau pihak stakeholders sebagai faktor untuk pengambilan keputusan untuk memilih suatu barang dan jasa ketika semua standar minimum barang dan jasa antara yang satu dengan yang lainya sama. Secara umum pembentuk dari brand image adalah kelakuan yang dimiliki atau diimplementasikan pada suatu perusahaan. Brand image seharusnya merepresentasikan dan mengekspresikan brand personality. Ketika suatu perusahaan atau organisasi ingin mempunyai image yang bagus di mata external stakeholders nya, maka kewajiban perusahaanlah untuk melibatkan dan memberi pendidikan kepada seluruh individu dalam perusahaan atau organisasi untuk dapat bertanggung jawab dalam mengelola merek dan mengembangkan brand culture yang nantinya dapat memberikan janji yang ingin diberikan perusahaan atau organisasi kepada stakeholders nya. Sehingga untuk mendukung agar keseluruhan karyawan atau masing – masing individu dalam perusahaan atau organisasi dapat ikut berperan dalam proses pengembangan dan pengelolaan merek perusahaan, sangat diperlukan kesadaran dari mereka terhadap produk atau jasa atau janji – janji apa yang harus mereka tawarkan atau berikan kepada pelanggan ataupun stakeholders potential.

Sebagai salah satu organisasi yang bersifat non-for-profit dan dijalankan oleh mahasiswa, AIESEC telah bertahan selama kurang lebih 50 tahun, yaitu sejak tahun 1948. Secara berkelanjutan AIESEC terus menerus melakukan pengembangan internal quality yaitu identitas AIESEC, kualitas anggota AIESEC, dan keseluruhan AIESEC system (finance system, people system, exchange system).

AIESEC Local Committee Universitas Brawijaya (AIESEC LC UB) telah berdiri sejak tahun 1987. Dalam kurun waktu kurang lebih 19 tahun sudah seharusnya AIESEC LC UB memiliki image yang sama di benak para stakeholders-nya. Namun dari penelitian yang pernah di lakukan oleh departemen Public Relation sebelumnya menunjukan bahwa, stakeholders external AIESEC, seperti misalnya mahasiswa dan partners, memiliki image yang berbeda terhadap AIESEC. Beberapa dari mereka memiliki persepsi bahwa AIESEC adalah organisasi bahasa inggris, organisasi pertukaran pelajar, dan bahkan tidak sedikit yang tidak mengetahui apa itu AIESEC.

AIESEC secara berkelanjutan telah memberikan training yang bertujuan untuk mendidik anggotanya pada AIESEC identity beserta value-nya yang akan menjadi personality mereka sebagai bagian dari organisasi, dan memperdalam pemahaman anggota terhadap janji AIESEC kepada stakeholders. Anggota memiliki peranan yang penting terhadap image yang berkembang pada stakeholders external AIESEC, karena kualitas merekalah yang kita janjikan kepada stakeholders, dan kualitas dari merekalah yang dapat menarik stakeholders untuk bekerja sama dengan AIESEC.

Berdasarkan dari latar belakang penelitian, dapat disimpulkan bahwa terdapat 3 faktor pembentuk awal dari brand image yaitu kesadaran terhadap produk organisasi, persepsi terhadap budaya, dan kepribadian dari perusahaan. Oleh karena itu penelitian ini akan mengulas tentang brand image dan variabel – variabel pembentuknya, yaitu brand awareness, brand personality, dan brand culture. Berdasarkan dari hal tersebut maka peneliti mengambil judul ”Pengaruh Brand Awareness, Brand Personality, dan Brand Culture terhadap pembentukan Brand Image Pada Anggota AIESEC Local Committee Universitas Brawijaya Malang”.

Dan dengan penelitian ini diharapkan dapat diketahui bagaimana pengaruh ketiga variabel yang dianggap sebagai pembentuk awal Brand Image dapat membentuk Brand Image dari AIESEC Local Committee Universitas Brawijaya Malang (AIESEC LC UB).

1.2 Rumusan Masalah

Rumusan masalah dari penelitian ini adalah; Bagaimana pengaruh brand awareness, brand personality, dan brand culture terhadap pembentukan brand image secara simultan maupun parsial pada anggota aktif AIESEC Local Committee Universitas Brawijaya Malang?

1.3 Batasan Masalah

Penelitian ini dibatasi oleh faktor internal dari anggota aktif AIESEC Local Committee Universitas Brawijaya Malang, di mana faktor internal yang dimaksud adalah brand awareness, brand personality, dan brand culture. Faktor internal ini yang nantinya akan menjadi sumber munculnya image AIESEC di pihak eksternal.

1.4 Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian pada penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana pengaruh brand awareness, brand personality, dan brand culture terhadap pembentukan brand image dari AIESEC LC UB secara simultan maupun parsial.

1.5 Manfaat Penelitian

1.      Bagi penulis Penelitian ini memberikan kesempatan bagi penulis untuk menselaraskan ilmu yang telah diperoleh selama proses perkuliahan, mengembangkan pengetahuan penulis di bidang branding yang telah menjadi ketertarikan penulis, meningkatkan kompetensi diri, kecerdasan intelektual, dan emosional.

2.      Bagi AIESEC LC UB Merupakan sumbangan pemikiran dalam rangka meningkatkan kinerja AIESEC. Hasil dari penelitian ini dapat digunakan sebagai suatu gambaran dan informasi untuk mengembangkan citra AIESEC di mata stakeholders nya.

3.      Bagi pihak lain Hasil penelitian ini dapat dipakai sebagai bahan referensi untuk penelitian selanjutnya dan juga dapat sebagai bacaan yang bermanfaat bagi yang memerlukan.